facebooklikebutton.co

Jong Islamieten Bond

JONG ISLAMIETEN BOND (JIB) adalah Organisasi nasional intelektual muda Islam yang didirikan di Jakarta pada tanggal 1 Januari 1925 oleh R. Samsurizal (Raden Sam), yang sekaligus sebagai Ketua yang pertama (1924-1926). Berturut-turut yang menjadi Ketua JIB adalah Wiwoho Purbohadijoyo (1926-1929), Kasman Singodimejo (1929-1936), M. Arifaini (1935-1936) dan Sunarya Mangunpuspito (1936-1942).

Atas perintah Pemerintah fasis Jepang semua organisasi dibekukan, termasuk JIB. Baru pasca kemerdekaan Indonesia, sekitar tahun 5 Mei 1947, JIB bangkit kembali dengan nama Pelajar Islam Indonesia (PII), dideklarasikan di Yogyakarta, dengan deklalatornya Yusdi Ghozali.

Asas dan tujuan JIB dapat dilihat dari pidato Raden Sam pada Koggres JIB pertama, yang antara lain menyatakan demikian:

“Allah SWT mewajibkan kami tidak hanya berjuang untuk bangsa dan negara kita, tetapi juga untuk umat Islam di seluruh dunia. Hanya, hendaknya di samping aliran-aliran Islam, kita selalu memberi tempat kepada aliran-aliran nasionalistis. Selain kewajiban yang utama ini, kami wajib berjuang untuk umat Islam seluruhnya, sebab kami orang Islam adalah hamba Allah SWT. dan kami hanya mengabdi kepada-Nya, Yang Maha-kuasa, Maha-arief, Maha-tahu, Raja alam semesta. Inilah prisip yang menjiwai JIB”.

Tentang politik pada akhir pidatonya, ia menyatakan:

“Pada kursus-kursus, ceramah-ceramah dan debat-debat yang kami selenggarakan, akan diusahakan sejauh mungkin meningkatkan pengertian tentang politik, terutama dari sudut pandang Islam. Tetapi JIB tidak akan ikut aksi politik. Pun anggota-anggota kami tidak akan terjun dalam politik atas nama organisasi. Tetapi tidak melarang para anggotanya yang secara sah dapat ikut dalam gelanggang politik, dengan harapan, mereka tidak berbuat berlebih-lebihan atau menonjol sebelum waktunya”. (Drs. H. Ridwan Saidi 1984; 31).

Nasionalis Religius
JIB amat signifikan dalam memperjuangkan Kemerdekaan RI, meskipun kini tak banyak dikenal oleh generasi muda. Banyak buku yang menerangkan eksistensinya tidak proporsional, antara lain dalam buku sejarah yaitu Sejarah Perjuangan Indonesia yang disusun oleh team yang bernama “Panitia Penyusun Biro Pemuda Departemen P.D.&K” dengan Menteri P.D.& K Prof. Dr. Prijono, pada halaman 47 dikatakan antara lain:

“Dalam perkembangan organisasi pemuda pada tingkat pertama ini juga berlangsung proses penggolongan berdasarkan aliran agama. Pemuda yang beragama Islam yang semula bergabung dalam Jong Java merasa dirinya lebih tepat kalau mendirikan organisasinya sendiri”.

Sedang menurut buku Sejarah Nasional Indonesia yang disusun oleh sebuah team: Sartono Kartodirjo, Marwati D. Pusponegoro dan Nugroho Notosusanto diterbitkan oleh Depdikbud (1975) jilid V pada halaman 195-196 antara lain ditulis sebagai berikut:

“Perkembangan gerakan politik ternyata juga menyeret Jong Java, sehingga masalah ini menjadi hangat dalam Konggres VII tahun 1924. Ada usul supaya Jong Java tetap tidak dijadikan perkumpulan politik tetapi kepada anggota yang sudah dewasa diberi kebebasan berpolitik … Usul ini ditolak, yang setuju berpolitik kemudian mendirikan JIB dengan Agama Islam sebagai dasar perjuangan.”

Menurut buku yang pertama, motif berdirinya JIB itu sektarianis sedang menurut buku yang kedua JIB adalah politis. Sebenarnya bukan itu motifnya. Dengan demikian JIB tidak sektarian dan non-politik, faktanya saat itu Jong Java anggotanya adalah pemuda Jawa terpelajar berpendidikan Barat, meski mereka mengaku Muslim acapkali meremehkan Islam, karena di sekolah, baik tingkat SLTP (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs disingkat MULO) maupun SLTA (Algemune Middelbare School disingkat AMS) tidak diberikan pelajaran Agama Islam. Bahkan guru-guru Belanda di muka kelas suka menyindir-nyindir dan memburuk-burukkan ajaran Islam, Nabi Suci Muhammad dan Quran Suci yang amat menyakitkan hati murid-murid Muslim. Di samping itu anggota-anggota Jong Java yang Kristen dan Katolik mengikuti kursus agama yang telah diselenggarakan.

Oleh karena itu Samsurizal, yang dalam Konggres VI (1923) terpilih sebagai Ketua Jong Java, pada Konggres VII (1924) mengusulkan agar diselenggarakan kursus agama Islam bagi yang Muslim dan tidak keberatan dengan kursus agama lain, Kristen dan Katolik, yang selama ini telah berjalan. Ada yang setuju dan ada yang tidak setuju, karena Jong Java bukan organisasi agama, bahkan ada yang mengatakan agama tidak perlu.

Lewat voting usul Samsurizal ditolak. Karena penolakan itu, lahirlah JIB. Namun demikian JIB tidaklah sektarian dan bukan organisasi politik, tetapi organisasi intelektual muda Islam sifatnya nasional-religius pertama di Nusantara, berbeda dengan organisasi pemuda sebelumnya, yang semuanya bersifat lokal, misalnya Tri Koro Dharmo (1915) yang pada tahun 1918 berubah nama menjadi Jong Java, yang seiring dengan itu berdiri pulalah Jong Celebes, Jong Sumatran en Bond, Jong Ambon, dan lain-lain. Bahkan tanggal 20 Mei 1908, yang dimasyhurkan sebagai Hari Kebangkitan Nasional, berdiri Boedi Oetomo (BO), yang faktanya tidak lain adalah Perkumpulan Jawa, karena pengurus dan anggotanya hanya terdiri dari orang-orang Jawa saja.

Nasional-religiositas dan non sekterianitas JIB secara implisit nampak dalam asas dan tujuannya yang tercantum dalam anggaran dasar (statuten) pertamanya, yaitu “mempelajari agama Islam dan menganjurkan pengamalannya” dan “menumbuhkan simpati umat Islam dan pengikutnya, di samping toleransi positif terhadap orang-orang yang berlainan agama”. Secara eksplisit nampak pada organisasi kepanduannya “Nasional Indonesche Panvinderij” disingkat Natipij; didirikan pada tahun 1926, organisasi pandu pertama yang memakai namaIndonesia, suatu istilah yang belum lazim dipakai saat itu. Tokoh-tokoh Natipij antara lain Kasman Singodimejo dan Mohammad Roem yang terkenal dalam sejarah perjuangan Indonesia.

JIB dan Gerakan Ahmadiyah
Dalam rubrik tanya jawab Majalah Al-Lisan, halaman 17 tertulis sebagai berikut:

“Soeal: Perkumpulan JIB itu perkumpulan Ahmadiyah atau bukan? Djawab: JIB bukan Ahmadiyah, tetapi sebagian lid-lidnya atau bestuurnya ada yang menjadi Ahmadiyah”.

Pertanyaan itu muncul karena dalam beberapa Kongres JIB, Mirza Wali Ahmad Baig, mubaligh Ahmadiyah (Lahore), ikut hadir bahkan memberikan ceramah. Di samping itu, peran para tokoh pendahulu Gerakan Ahmadiyah dalam JIB sangat signifikan, karena mereka banyak menjadi pengurus dan anggota JIB. Dalam periode Raden Sam, tatkala JIB dideklarasikan, Muhammad Kusban telah duduk sebagai Pengurus Pusat JIB, sebagai komisaris, lalu pada bulan Juni 1925 dipercaya sebagai Seksi Usaha. Majalah An-Nur (Het Licht) berbahasa Belanda dan merupakan majalah cendekiawan Islam pertama, yang terbit sejak Maret 1925 banyak diisi oleh Soedewo Partoadi Kusumo, yang kemudian dikenal sebagai tokoh GAI yang produktif. Tokoh-tokoh pendiri Gerakan Ahmadiyah juga banyak yang menjadi anggota pandu Natipij, gerakan pandu yang berada di bawah naungan JIB.

H. Agus Salim yang dikenal sebagai Bapak Spiritual JIB antara lain menyatakan bahwa tafsir Maulvi Muhammad Ali itu adalah “suatu karangan, yang sepadan dengan pengetahuan dan pengertian kaum terpelajar zaman sekarang ini.”

Muhammad Natsir, salah satu anggota JIB yang di kemudian hari menjadi tokoh negeri ini, dalam bukunya Komt Tot Het Gebed (Marilah Salat) banyak mengutip karya Maulvi Sadruddin B.A. (hal 14), Maulvi Muhammad Ali (hal 16), Prof. Al-Hajj Chawaja Kamaluddin (hal 98), dan lain-lain. Ia bertutur: “Kalau ke rumah tuan A. Hasan, saya selalu menyatakan suatu persoalan. Lalu diskusi. Dari situ saya dikasih buku-buku. Seperti buku Tafsir The Holy Quran arya Muhammad Ali” (M. Natsir, “Politik Melalui Jalur Dakwah” TEMPO, 2 Desember 1989, p. 52).

Bung Karno, kandidat Ketua JIB yang dikalahkan oleh Wiwoho dalam Konggres JIB tahun 1926, menyatakan “Kepada Ahmadiyah pun saya wajib berterima kasih karena banyak faedah yang didapatkan”. Demikian pula Muhammad Roem, Yusuf Wibisono, Kasman Singodimejo, dan lain-lain tidaklah asing dengan Gerakan Ahmadiyah.[]

Komentar

komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*