facebooklikebutton.co
TOKOH

Yatimin AS, Ketua Umum PB GAI 2019-2024

Sidang Muktamar Gerakan Ahmadiyah Indonesia (GAI) ke XVIII, yang diselenggarakan pada 20 Desember 2019 di Yogyakarta, menetapkan Drs. H. Yatimin AS sebagai Ketua Umum Pedoman Besar GAI periode 2019-2024. Yatimin ditetapkan sebagai Ketum PB GAI yang baru, setelah sebelumnya terpilih secara aklamasi dalam sidang Muktamar yang dihadiri hampir semua perwakilan pengurus Cabang GAI se-Indonesia.

Selang sebulan kemudian, Yatimin dikukuhkan dan dilantik sebagai Ketua Umum PB GAI dalam sidang Majelis Amanah GAI, yang terdiri dari 40 orang senior dari berbagai Cabang. Pengukuhan dilakukan dalam Sidang Majelis Amanah yang diselenggarakan pada Sabtu, 8 Februari 2020, bertempat di Aula Yayasan PIRI, Yogyakarta.

Sedari muda, Yatimin banyak berperan penting dalam kegiatan organisasi di lingkungan GAI. Ia merupakan salah satu kader terbaik yang pernah mengenyam pendidikan agama dalam perspektif Ahmadiyah langsung dari sumbernya di Lahore, Pakistan pada kurun waktu 1981-1983.

Sepulang dari Lahore, Yatimin banyak berkiprah dalam dakwah sebagai guru agama, penceramah, khatib, dan berbagai peran sosial keagamaan lainnya di masyarakat. Ia juga menghasilkan banyak karya tulis yang dimuat dalam berbagai media publikasi yang terbit di lingkungan GAI. Selain itu, ia juga menerjemahkan banyak karya tulis Imam Zaman, Hazrat Mirza Ghulam Ahmad, yang kebanyakan berbahasa Urdu.

Riwayat Hidup

Yatimin lahir di Desa Klagen, Kecamatan Karangmojo (sekarang berubah nama menjadi Kecamatan Barat), Kabupaten Magetan, Jawa Timur. Beliau menempuh pendidikan dasar hingga menengah pertama di desa kelahiran tercinta.

Sesudah menamatkan pendidikan dasar di SDN Klagen di tahun 1970, beliau meneruskan pendidikan menengah pertama di Pendidikan Guru Agama Negeri (PGAN) Klagen (lulus tahun 1974). Lalu melanjutkan pendidikan menengah atas di PGAN Madiun. Lulus dari PGAN Madiun tahun 1976, Yatimin kemudian hijrah ke Yogyakarta dan menjadi Guru Agama di Yayasan Perguruan Islam Republik Indonesia (PIRI), sebuah lembaga pendidikan di bawah naungan GAI.

Yatimin mengenal GAI untuk pertama kalinya melalui M. E. Marjito, ketua GAI Cabang Magetan, kala ia masih menempuh pendidikan di PGAN Madiun. Sesaat setelah lulus dari PGAN Madiun, sambil memberikan beberapa buku terbitan GAI, Marjito menginformasikan adanya penerimaan guru agama di Yayasan PIRI Yogyakarta. Yatimin pun tertarik dan kemudian berangkat ke Yogyakarta untuk mengikuti tes seleksi. Ia dinyatakan lulus dan diangkat sebagai guru agama tidak tetap di SD PIRI, yang terletak di Kompleks Baciro. Tak lama, ia dipindahtugaskan di SMP PIRI 2 Nitikan, meskipun tetap bertinggal di kompleks PIRI Baciro.

Pada tahun 1977, Yatimin melakukan bai’at sebagai tanda resmi menjadi anggota Gerakan Ahmadiyah, di bawah tangan Brigjen H. M. Bachroen, Ketua Umum PB GAI kala itu. Di tahun yang sama, ia mengikuti kursus bahasa Inggris tingkat Pre Elementary sampai Advance, di Continental Training Centre Laboratory of English Yogyakarta.

Tahun 1979, Yatimin meneruskan pendidikan formalnya di jenjang strata 1 di Fakultas Ilmu Pendidikan, jurusan Kurikulum & Teknologi Pendidikan, Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Muhammadiyah Yogyakarta (sekarang berubah menjadi Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta). Sejak masa kuliah, ia bertinggal di rumah Prof. Ahmad Muhammad Djojosoegito, di Bulaksumur blok G-12.

Sembari kuliah dan mengajar, ia banyak membaca buku-buku terbitan GAI dan PIRI, dan aktif dalam berbagai kegiatan organisasi, seperti mengikuti Sunday Morning Class yang diasuh oleh Brigjen. H. M. Bachroen, mengikuti pengajian AMAL, pengajian GAI cabang Yogyakarta, pengajian Ikatan Keluarga (IKAGA) PIRI, dan mendampingi K.H. S. Ali Yasir dan Dr. Ir. H. Iwan Yusuf Bambang Lelana, M.Sc. dalam rangka tabligh ke berbagai daerah, seperti Wonosobo, Kediri, Magelang, Solo, Madiun, Purwokerto, dan lainnya.

Akhir tahun 1980, bersama dengan Suyud Ahmad Syurayuda, salah seorang kader dari GAI Cabang Jakarta, Yatimin mendapat tugas dari PB GAI untuk mengikuti pendidikan Muslim Missionary di pusat Ahmadiyya Anjuman Isha’ati Islam Lahore (AAIIL), di kota Lahore, Pakistan. Untuk keperluan itu, ia meminta cuti kuliah dari IKIP Muhammadiyah. Baru sepulang dari Pakistan pada pertengahan tahun 1983, Yatimin menyelesaikan kuliahnya di IKIP Muhammadiyah hingga lulus di tahun 1989.

Karier, Dakwah & Peran Sosial

Karena keaktifannya dalam kegiatan organisasi dan dakwah, Yatimin mendapat berbagai kepercayaan menjabat berbagai posisi penting dalam Gerakan. Ia pernah mengemban amanah sebagai Sekretaris GAI cabang Yogyakarta, pengurus AMAL PB GAI, Sekretaris III PB GAI, dan Ketua Badan Urusan Tabligh dan Tarbiyah PB GAI. Ia juga pernah menjabat sebagai Wakil Pimpinan Redaksi Fathi Islam, majalah bulanan yang diterbitkan oleh PB GAI. Selain itu, sebagai Mubaligh PB GAI, ia berulang kali diutus untuk mengisi kegiatan keagamaan dan dakwah di berbagai cabang GAI seperti Wonosobo, Kediri, Banyumas, Magelang, selain di Yogyakarta sendiri.

Sementara itu, di lingkungan PIRI, kariernya terus beranjak, bermula sebagai guru Agama hingga menjadi Kepala Sekolah. Mula pertama diterima di PIRI tahun 1977, Yatimin diangkat sebagai guru agama di SD PIRI Baciro. Tahun 1980, ia dimutasi ke SMP PIRI 2 Kemetiran. Tahun 1983, dipindah tugaskan ke SMA PIRI 2 Pugeran.

Selanjutnya, pada tahun 1985, Yatimin dipercaya sebagai Wakil Kepala Sekolah Urusan Kurikulum dan Guru Agama di SMA PIRI 1 Baciro. Tahun 1991, berpindah ke SMA PIRI 3 Nitikan dengan jabatan yang sama. Tahun 1993 hingga 1994, ia mendapat tugas tambahan mengajar di SMA PIRI 2 Pugeran. Kemudian, dari 1994 hingga 1998, ia mendapat amanah untuk menjabat Kepala Sekolah SMP PIRI Ngaglik, Sleman. Di periode yang sama, ia juga dipercaya menjadi Pelaksana Harian Bidang Pendidikan Agama di tingkat Yayasan.

Di samping karier formalnya, Yatimin juga aktif berperan dalam berbagai aktivitas sosial maupun keagaamaan di lingkungan tempat tinggalnya. Ia pernah menjadi ketua RT di Jetisharjo, Crokrodiningratan, Jetis, Yogyakarta. Lalu pernah menjabat sebagai Ketua Takmir Masjid Baiturrahman, Simping, Tirtoadi, Mlati, Sleman. Ia juga pernah dipercaya menjadi ketua Lembaga Pendidikan dan Pengamalan Agama (LP2A) Desa Tirtoadi Kecamatan Mlati Kabupaten Sleman.

Di samping itu, Yatimin aktif sebagai khatib dan imam shalat Jumat, shalat ‘Idul Fitri dan shalat ‘Idul Adha di berbagai masjid dan wilayah di Yogyakarta khususnya. Ia juga aktif mengisi pengajian di berbagai Majelis Taklim di wilayah Tirtoadi dan sekitarnya.

Sejak tahun 1999 hingga sekarang, Yatimin juga menjadi ketua sekaligus pengelola Yayasan MINNA, yayasan yang ia dirikan bersama istri, dengan menyelenggarakan kegiatan kursus bahasa Inggris dan studi Islam dalam bahasa Inggris.

Karya Tulis dan Terjemah

Selain aktivitas dakwah dalam bentuk ceramah, khutbah dan kegiatan sosial keagamaan lainnya, Yatimin juga terbilang produktif dalam menulis karya dan menerjemahkan berbagai buku maupun artikel dari Bahasa Inggris maupun Urdu. Karya tulisnya menghiasi berbagai majalah yang diterbitkan PB GAI maupun Darul Kutubil Islamiyah (DKI), seperti Fathi Islam, Warta Keluarga GAI, Buletin AMAL, dan lain sebagainya.

Sudah cukup banyak karya Imamuzzaman, Hazrat Mirza Ghulam Ahmad, yang beliau terjemahkan, khususnya yang berbahasa Urdu, antara lain Al-Washiyyat (terjemahan dari Risalah Al-Washiyyat, terbit tahun 1994), Enam Tingkatan Perkembangan Rohani dan Jasmani (terjemahan dari Barahin-i Ahmadiyyah, jilid V, terbit tahun 1999), dan Sentuhan Ruhani (terjemahan dari artikel-artikel pilihan dalam Kitab Malfuzat Ahmadiyyah, terbit tahun 2019).

Selain karya Imamuzzaman, ia juga menerjemahkan buku-buku berbahasa Urdu dan Inggris karya tokoh-tokoh AAIIL, seperti Pangkal Perpecahan Ahmadiyah (terjemahan dari Ikhtilaf-i Silsilah-i Ahmadiyyah, karya Amir Aziz Al-Azhari bin Abdul Aziz, terbit tahun 2016) dan Islam, Perdamaian & Toleransi (terjemahan dari Islam, Peace and Tolerance, karya Zaid Aziz, M.Sc., Ph.D., terbit tahun 2018).

Kunjungan Ke Luar Negeri

Yatimin memiliki cukup banyak pengalaman berkunjung ke luar negeri, baik dalam kapasitasnya sebagai Mubaligh GAI maupun lainnya. Pengalaman pertama ke luar negeri adalah ketika ia mendapat tugas dari PB GAI untuk mengikuti Pendidikan Muslim Missionary di lembaga Idarah Ta’limul Qur’an, yang diselenggarakan oleh AAIIL di Lahore, Pakistan selama hampir tiga tahun, sejak Desember 1980 hingga Mei 1983. Ia memperoleh kesempatan berharga itu setelah sebelumnya terpilih sebagai kader terbaik dalam kegiatan Kursus Muballigh dan Upgrading Guru Agama, yang diselenggarakan oleh PB GAI bekerja sama dengan Yayasan PIRI selama 13 bulan, sejak Maret 1979 hingga Mei 1980.

Pada Desember 1992, ia berkunjung ke Lahore, Pakistan untuk kali kedua, dalam rangka menghadiri Salanah Du’aiyyah (pertemuan atau pengajian tahunan) AAIIL, dilanjutkan memperdalam bahasa Urdu dan Inggris hingga Juni 1993.

Lalu dalam kapasitasnya sebagai mantan Kepala SMP PIRI Ngaglik, pada September hingga November 1999 Yatimin diminta berkunjung ke Victoria, Australia dalam rangka mengajar bahasa dan budaya Indonesia di Tallangatta Secondary College, yang menjadi Sister School SMP PIRI Ngaglik kala itu, dan beberapa sekolah di sekitarnya.

Pada Desember 2013, ia kembali berkunjung ke Lahore, Pakistan untuk mengikuti Jalsah Salanah yang diselenggarakan AAIIL. Karena mendapat tugas menerjemahkan buku Ikhtilaf-i Silsilah-i Ahmadiyyah, ia bertinggal di sana sementara waktu, dan baru pulang ke tanah air pada akhir Januari 2014. Lantas, pada pertengahan tahun 2015, Yatimin diminta berkunjung ke Suriname selama sebulan untuk berbagi ilmu agama Islam di kantor pusat Surinaamse Islamitische Vereniging (SIV) di Paramaribo, dan beberapa cabang SIV di daerah-daerah sekitarnya.

Dan pada Agustus 2017, mendampingi sang istri, Yatimin berkunjung ke New Zealand untuk mengikuti konferensi Asosiasi Psikologi Sosial dan presentasi hasil penelitian di Massey University Auckland.

Kehidupan Rumah Tangga

Yatimin menikah dengan Tina Afiatin pada 20 Juli 1984. Sang istri adalah anak pertama Hj. Mufidatun BA, salah satu murid yang hampir tak pernah absen mengikuti Sunday Morning Class di era tahun 60-an, yang diasuh oleh Muh. Irsyad, salah satu tokoh senior GAI. Mufidatun juga pernah tinggal bersama keluarga Pendiri GAI, R. Ng. H. Minhadjurrahman Djojosoegito di Jetisharjo, Yogyakarta.

Sewaktu menikah, Yatimin masih berstatus mahasiswa di IKIP Muhammadiyah Yogyakarta dan bekerja sebagai Guru Agama di SMA PIRI 2 Pugeran, Yogyakarta. Sementara itu, sang istri baru menginjak masa kuliah semester tiga di Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM).

Yatimin mengenal Tina sebagai kader yang cukup aktif di GAI. Ia berbaiat pada tahun 1982 di bawah tangan ketua umum PB GAI kala itu, dr. H. Ahmad Muhammad Djojosoegito. Ia juga pernah menjadi sekretaris pengurus Angkatan Muda Ahmadiyah Lahore (AMAL) PB GAI dan menjadi Staf Redaksi Buletin AMAL. Mungkin karena itu, Yatimin jatuh hati kepadanya. Kini, Tina Afiatin menjabat sebagai Dosen, Guru Besar dan Ketua Senat Fakultas Psikologi UGM, dan menyandang gelar Profesor untuk bidang Psikologi.

Dari pernikahannya, Yatimin dikaruniai 3 orang anak: Sofia Nurvita, Hanif Akhtar, dan Nadia Mufida. Putri sulungnya kini menjabat sebagai kepala bidang pengembangan SDM, di Badan Kepegawaian dan Pengembangan SDM, Kabupaten Aceh Tamiang. Putra kedua menjadi dosen Fakultas Psikologi di Universitas Muhammadiyah Malang. Sementara putri ketiga saat ini tengah menapaki bangku kuliah di Fakultas Kedokteran Gigi, UGM.

Pada tahun 2005, Yatimin bersama sang istri dikaruniai kesempatan untuk dapat menunaikan ibadah haji ke tanah suci Makkah al-Mukaromah. Kebahagiaan keluarga bertambah saat keduanya memperoleh seorang cucu laki-laki dari putri pertamanya bernama Deva Fajar An-Nasir dan seorang lagi dari putra keduanya, bernama Ahmad Zidan Baraka.

Yatimin kini bertinggal bersama keluarga di Dusun Simping, Tirtoadi, Mlati, Kabupaten Sleman. Di rumah tinggalnya, ia bersama istri mendirikan dan mengembangkan Yayasan MINNA, sebuah Yayasan yang bergerak di bidang pendidikan, agama, dan sosial kemasyarakatan.

Semoga, dalam periode kepemimpinannya, Gerakan Ahmadiyah Indonesia dapat berkembang maju, mengikuti jejak-jejak peninggalan dan semangat jihad para pendiri GAI. Sehingga, kemenangan Islam sebagaimana dicita-citakan oleh Gerakan ini dapat kembali diraih. Amin.

 

Oleh: Basyarat Asgor Ali

Comment here