Tafsir The Holy Qur’an: Arabic Text with English Translation and Commentary karya Maulana Muhammad Ali (1874-1951), yang pertama kali diterbitkan lengkap pada tahun 1917, boleh diklaim sebagai salah satu karya tafsir paling berpengaruh di abad ke-20.
Meskipun penulisnya adalah tokoh Gerakan Ahmadiyah Lahore, tetapi karya ini telah lama melampaui batas kelompoknya dan terus dicetak, diterjemahkan ke berbagai bahasa termasuk Indonesia, Belanda, dan Arab, serta digunakan di universitas-universitas di berbagai dunia Barat maupun dunia Islam.
Mengapa tafsir yang sudah berumur lebih dari 100 tahun ini masih relevan untuk kajian tafsir modern? Berikut beberapa alasannya:
Pertama, Pelopor Tafsir Komprehensif dalam Bahasa Inggris oleh Seorang Muslim.
Sebab sebelum dia, terjemahan Al-Qur’an dalam bahasa Inggris sebagian besar didominasi oleh orientalis non-Muslim seperti George Sale, J.M. Rodwell, dan E.H. Palmer yang sering kali disertai catatan kaki yang bias dan merendahkan.
Maulana Muhammad Ali adalah salah satu Muslim pertama yang memberikan terjemahan lengkap disertai tafsir ayat-per-ayat dalam bahasa Inggris modern dengan standar akademik Barat. Ia menyediakan teks Arab, terjemahan Inggris yang fasih, serta catatan kaki yang sangat luas.
Bagi kajian tafsir modern yang bersifat global, karya ini menjadi jembatan penting yang membuka akses Al-Qur’an kepada dunia berbahasa Inggris dengan suara dari dalam Islam sendiri.
Dan hingga hari ini, terjemahannya masih dianggap sebagai salah satu terjemahan yang paling mudah dibaca dan akurat secara bahasa.
Kedua, Metodologi Rasional dan Kontekstual yang Mendahului Zamannya
Ciri paling kuat dari tafsir Maulana Muhammad Ali adalah pendekatannya yang sangat rasional, yang ia sebut sebagai upaya untuk mengembalikan spirit Mu’tazilah dan pemikiran Muhammad Abduh.
Dalam banyak ayat yang sering menjadi sasaran kritik orientalis, ia tidak mengambil pendekatan literal-mitologis, tetapi memberikan penafsiran yang rasional dan kontekstual.
Lihat saja dalam ia menafsirkan kisah-kisah mukjizat. Misalnya tentang tongkat Musa menjadi ular, atau burung-burung yang dihidupkan kembali oleh Ibrahim, ia cenderung menafsirkannya secara metaforis atau menganggapnya sebagai vision (ru’ya sholihah), sehingga tidak terjadi kesan adanya pelanggaran hukum alam secara fisik dalam peristiwa-peristiwa tersebut.
Demikian halnya dengan cara ia menafsirkan ayat-ayat tentang jin, sihir, dan mukjizat para Nabi. Ia berusaha menjelaskan kesemuanya dengan kerangka sebab-akibat yang logis.
Pendekatan ini sangat relevan dengan tantangan tafsir modern yang berhadapan dengan sains, modernisme, dan audiens yang skeptis. Ia menawarkan model bagaimana seorang mufasir dapat tetap setia pada teks sambil berdialog dengan rasionalitas modern tanpa harus menolak wahyu.
Ketiga, Jawaban Sistematis Terhadap Kritik Orientalis dan Misionaris
Tafsir Maulana Muhammad Ali ditulis dalam konteks di mana Islam sedang di bawah serangan intelektual kolonialisme di India. Maulana Muhammad Ali secara sadar menulis untuk dua audiens: Muslim yang mulai ragu dan non-Muslim yang menghakimi.
Setiap kali ada ayat yang sering dipelintir, seperti ayat-ayat tentang jihad, poligami, hukuman pidana, atau kedudukan wanita, ia memberikan catatan kaki yang panjang dengan latar belakang historis (asbabun nuzul) yang rinci, perbandingan dengan praktik dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, serta kutipan dari kamus bahasa Arab klasik seperti Lisan al-Arab dan Lane’s Lexicon untuk menunjukkan makna leksikal yang lebih luas.
Misalnya dalam QS. 2:190-193 tentang perang, Muhammad Ali dengan sangat tegas menekankan bahwa perang dalam Islam bersifat defensif, hanya diperbolehkan ketika umat Islam diserang dan diusir, dan harus berhenti ketika agresi berhenti.
Tafsir ini menjadi rujukan awal yang kuat bagi wacana Islam sebagai agama damai, jauh sebelum wacana Islamophobia modern.
Keempat, Penggunaan Sumber Klasik yang Kaya dan Tidak Sektarian.
Meskipun memiliki pandangan teologis sendiri, tetapi metode penafsiran Muhammad Ali tidak sektarian dalam penggunaan sumber.
Ini bisa dilihat dari rujukannya yang luas kepada banyak kitab Tafsir klasik seperti At-Thabari, Al-Qurtubi, Ar-Razi, Ibnu Katsir. Ia juga merujuk berbagai kitab Hadis seperti Bukhari, Muslim, dan ia sering melakukan kritik matan hadis jika bertentangan dengan Al-Qur’an
Muhammad Ali juga hampir selalu merujuk Leksikografi atau kamus Arab klasik, juga pada kitab-kitab Sejarah Islam awal untuk memperkuat argument di dalam banyak persoalan yang memerlukan penjelasan panjang dalam tafsirnya.
Yang membuatnya modern adalah sikap kritisnya. Ia tidak menerima semua riwayat Israiliyat secara membabi buta. Jika sebuah riwayat dari tafsir klasik bertentangan dengan akal sehat, dengan Al-Qur’an itu sendiri, atau dengan fakta sejarah yang lebih kuat, ia akan menolaknya dengan argumentasi.
Ini adalah cikal bakal dari metode naqd al-matn atau kritik konten yang kini menjadi sentral dalam studi hadis dan tafsir kontemporer.
Kelima, Penekanan pada Dimensi Sosial, Etis, dan Kemajuan Umat
Berbeda dengan banyak tafsir klasik yang fokus pada hukum fikih dan teologi, Maulana Muhammad Ali sangat menekankan pesan sosial dan moral Al-Qur’an yang relevan untuk pembangunan masyarakat modern.
Setidak-tidaknya ada tiga isu yang cukup signifikan dalam soal ini:
- Sikap anti perbudakan. Dalam hal ini, Maulana Muhammad Ali menafsirkan ayat-ayat tentang perbudakan sebagai langkah bertahap menuju penghapusan total.
- Kecenderungan pada emansipasi wanita. Misalnya, ia menafsirkan Quran Surat 4:34 tentang qawwamun bukan sebagai superioritas mutlak laki-laki, tetapi sebagai tanggung jawab finansial. Ia juga menekankan bahwa kata “pemukulan” (wadlribuuhunna) dalam ayat yang sama harus dipahami sebagai tindakan simbolis terakhir yang hampir tidak pernah boleh dilakukan, dengan merujuk pada praktik Nabi yang tidak pernah memukul istri.
- Keberpihakan pada kaum mustadz’afin (kaum ekonomi lemah). Ia menafsirkan larangan riba, misalnya, sebagai larangan terhadap sistem eksploitatif yang menindas, bukan sekadar bunga bank secara teknis. Hal ini juga menjadi potensi bagi terbukanya ruang diskusi di dalam isu ekonomi Islam modern.
Keenam, Objektivitas Akademik yang Diakui Lawan Sekalipun
Salah satu bukti relevansinya adalah pengakuan dari pihak di luar kelompoknya. Meskipun banyak ulama Sunni menolak teologi Ahmadiyah Lahore, tetapi banyak dari mereka yang tetap mengakui kualitas akademik tafsir Maulana Muhammad Ali.
Marinus Willems, seorang sarjana Belanda, dan banyak profesor studi Islam di Barat seperti W. Montgomery Watt, menyebut karya Maulana Muhammad Ali sebagai terjemahan dan tafsir Muslim terbaik dalam bahasa Inggris untuk zamannya.
Di Indonesia sendiri, Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar beberapa kali merujuk dan mengutip terjemahan Maulana Muhammad Ali sebagai perbandingan, meskipun dengan catatan kritis.
Ini menunjukkan bahwa sebuah karya tafsir bisa dipisahkan antara kualitas metodologisnya dengan afiliasi teologis penulisnya, sebuah prinsip penting dalam kajian akademik modern yang objektif.
Penutup
Relevansi tafsir Maulana Muhammad Ali dengan dunia tafsir kontemporer seperti dalam uraian di atas, tidak serta merta menjadikan kita harus menerima semua kesimpulannya secara taken for granted.
Seperti kitab tafsir lainnya, boleh dikata karya Maulana Muhammad Ali ini juga memiliki kelemahan. Antara lain misalnya soal kecenderungan rasionalnya, yang kadang terlalu memaksa hingga terkesan apologetik.
Namun, sebagai model, ia mengajarkan tiga hal penting untuk mufasir kekinian. Pertama, bagaimana menulis tafsir untuk audiens global, bukan hanya lokal.
Kedua, bagaimana mempertahankan keimanan sambil tetap terbuka pada akal dan sains. Ketiga, bagaimana menjawab tuduhan terhadap Islam bukan dengan emosi, melainkan dengan riset bahasa, sejarah, dan perbandingan agama yang mendalam.
Oleh karena itu, bagi dunia tafsir modern, membaca Maulana Muhammad Ali bukan untuk mencari kebenaran final, melainkan untuk mempelajari sebuah metode: sebuah upaya awal yang serius untuk membawa Al-Qur’an berdialog dengan dunia modern. Dan upaya itu hingga hari ini belum kehilangan relevansinya.[]

Comment here