facebooklikebutton.co

Temukan cahaya kebaikanmu

Related image

Allah Ta’ala berfirman bahwa setiap jiwa manusia telah dikaruniai benih tauhid yang tertanam dalam jiwanya. Namun bersama dengan itu, Dia juga berfirman bahwa benih itu tidak seluruhnya sama tumbuh. Bahkan gejolak nafsu sebagian manusia ada yang menang atas fitrahnya, sehingga benih tauhid itu menjadi terdesak dan terinjak. Akan tetapi, kemenangan kekuatan bahimiyyah (sifat kebinatangan) itu tidaklah berarti akan melenyapkan fitrah tauhid. Betapapun dan bagaimanapun keadaan seseorang yang menjadi budak hawa nafsu ammarah-nya, di dalam dirinya pastilah terdapat juga cahaya tauhid yang fitriah itu.

Seseorang yang terkena pengaruh hawa nafsunya, misalnya terlibat dalam perbuatan mencuri, membunuh, atau berzina, tetaplah memiliki cahaya kebaikan yang menyalahkan dan menentang tindakan yang berseberangan dengan dasar fitriahnya.

“Maka Ia ilhamkan kepadanya jalan keburukan dan jalan kebaikan” (QS Al-Syams 91:8).

Alah telah menurunkan ilham kepada setiap insan yang disebut cahaya hati (nurul qalb), yang mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Saat seseorang tengah melakukan pencurian atau perampokan, Allah tetap membisikkan suara di dalam hatinya bahwa perbuatan itu adalah kejahatan. Akan tetapi, tak sedikit pun dia menghiraukan suara hati itu. Karena cahaya hatinya sangat lemah, maka akalnya pun juga menjadi lemah. Sedangkan kekuatan sifat kebinatangan dan nafsu amarahnya bergejolak hebat dan memenangkan pertarungan.

Oleh karena itulah, di dunia ini dapat ditemukan juga orang-orang yang adat kehidupannya setiap hari seperti itu. Sebab, nafsu angkara juga adalah juga fitrah manusia yang tak bisa dilenyapkan. Siapakah yang kuasa menghilangkan apa yang telah ditetapkan Tuhan?

Akan tetapi,  Allah telah menentukan pula obatnya. Itulah yang disebut taubat dan istighfar. Allah tentu akan mengampuni manusia, apabila ia dengan rendah hati bertaubat di hadapanNya oleh karena perbuatannya yang seantiasa tersesat dan menyesatkan. Sesungguhnya taubat itu menyucikan kotoran-kotoran dosa. Taubat adalah penyucian dosa yang sesungguhnya, yang menjadi obat penyakit dosa.

“Dan barangsiapa berbuat aniaya dan lalim terhadap jiwanya, lalu memohon ampunan kepada Allah, niscaya ia akan menemukan Allah sebagai Yang Maha Pengampun, Yang Maha pengasih.” (QS An-Nisa 4:110).

(Ghulam Ahmad, Barahini Ahmadiyah, hlm 175-177)

Komentar

komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*