facebooklikebutton.co

Mengais Asa di Era Baru: Reportase Jalsah Salanah 2014 & Muktamar GAI Ke-17

Puji syukur sudah semestinya kita panjatkan ke hadirat Allah Ta’ala, atas terselenggaranya Pengajian Tahunan (Jalsah Salanah) Keluarga Besar Gerakan Ahmadiyah Indonesia (GAI) dan Yayasan Perguruan Islam Republik Indonesia (PIRI), bertempat di Kompleks PIRI Baciro, Yogyakarta pada 20-22 Desember 2014 silam. Kegiatan Jalsah itu juga berbarengan dengan Muktamar GAI yang ke-17, dengan agenda utama pemilihan kepengurusan baru di tingkat Pedoman Besar untuk periode 2014-2019.

Antusiasme warga GAI untuk mengikuti Jalsah yang lalu itu terbilang luar biasa. Meski secara formal agenda Jalsah baru dimulai pada Sabtu malam, tetapi peserta sudah berdatangan sejak sehari sebelumnya. Peserta dari Jakarta bahkan sudah hadir sejak Kamis malam.

Panitia penyelenggara sempat dibuat agak panik di hari pertama kegiatan, dengan mem-bludaknya jumlah peserta. Kepanikan itu disebabkan lebih karena fasilitas kepesertaan, seperti ruang tidur dan kelengkapannya, yang disediakan sesuai dengan jumlah peserta yang terdaftar sebelumnya, berdasarkan pemberitahuan dari tiap-tiap pengurus cabang. Sehingga ketika jumlah peserta bertambah hampir dua kali lipat dari perkiraan sebelumnya, panitia harus menyediakan tambahan fasilitas secara dadakan.

Namun, di sisi lain, kepanikan itu tak sebanding dengan kegembiraan yang dirasakan, karena banyaknya sanak saudara yang hadir dalam perhelatan tahunan itu. Tercatat lebih dari 600 peserta terdaftar, belum termasuk anak-anak yang tak terhitung jumlahnya.

Sabtu sore (20/12), ba’da shalat berjamaah Maghrib, peserta Jalsah berkhidmat dalam do’a, yang khusus diperuntukkan bagi segenap warga dan pinisepuh yang telah mendahului berpulang ke rahmatullah. Dua tahun belakangan (2013-2014), GAI memang cukup banyak kehilangan tokoh panutan, baik di tingkat Pedoman Besar maupun Cabang, seperti Bapak Fathurrahman Ahmadi (Bandung), Bapak Mardiyono, Ibu Sudiyono, Bapak Danang Legowo, Bapak Iwan Yusuf (Jogja), Bapak Rahmat Basuki (Jakarta), Bapak Yazid Burhani (Kediri), Bapak Kyai Muharto (Wonosobo), Bapak Rakoen Ahmadi (Purwokerto), dan lain-lain.

Ba’da Isya, dilangsungkan Upacara Pembukaan Jalsah, yang dipandu oleh Ibu Anis Farikhatin. Dalam acara pembukaan ini, Bapak Muslich Zainal Asikin, mewakili Ketua Umum PB GAI yang telah mangkat, memberikan sambutan sekaligus membuka secara resmi penyelenggaraan jalsah. Sesudahnya, peserta menyimak ceramah umum yang disampaikan oleh Ketua Majelis Amanah GAI, Bapak Nanang Rahmatullah. Upacara pembukaan berlangsung hingga sekitar pukul 23.00 wib.

Selama Jalsah, selain mendapatkan siraman ruhani yang dilaksanakan setiap habis berjamaah shalat Subuh dan Magrib, yang diisi oleh berbagai mubaligh dari Jakarta, Purbalingga, Purwokerto, Wonosobo dan Kediri, para peserta juga mendapatkan wawasan keorganisasian melalui dua kali forum sarasehan.

Sarasehan pertama berlangsung pada Minggu pagi (21/12) hingga menjelang waktu Dzuhur,  mengangkat tema “Membangun Organisasi GAI yang Efektif.” Acara yang dipandu oleh Bapak Arifin Budiharjo itu menampilkan empat orang pemrasaran, yakni Ibu Ida Rochani (PB GAI), Bapak Agung Budiyono (Ketua GAI cabang Purwokerto), Bapak Sulardi Notopertomo (Ketua GAI cabang Jakarta), dan Bapak Mutohir Alabas (Sekretaris GAI Cabang Kediri).

Sarasehan kedua berlangsung pada Minggu malam selepas Isya. Sarasehan kedua ini mengangkat tema “Strategi Membangun Generasi Muda Ahmadi”, dengan menampilkan tiga orang pemrasaran, yakni Bapak Muhammad Sardiman (Majelis Amanah Organisasi), Bapak Asadi Alfatah (Ketua GAI cabang Kediri), dan Bapak Marah Rusli Salim (GAI cabang Jakarta). Acara yang dipandu oleh Bapak Purwiyadi ini, berakhir sekitar pukul 22.30 wib. Kemudian dilanjutkan dengan pengumpulan dana spontanitas yang disambut dengan antusias oleh peserta Jalsah, dan dipandu dengan gaya santai Bapak Purwiyadi. Alhamdulillah, terkumpul dana sebesar Rp. 54.000.000,- dari sebanyak 134 donatur, baik perorangan, keluarga, maupun lembaga.

Di samping itu, peserta jalsah juga disuguhi acara spesial yang diprakarsai oleh para santriwan/santriwati Pondok Pesantren Minhajurrahman. Acara yang mempertunjukkan berbagai potensi minat dan bakat para santri itu berlangsung pada Minggu siang ba’da Dzuhur hingga menjelang waktu shalat ‘Ashar. Selama lebih kurang dua jam, para santri bergantian menampilkan kemampuan mereka. Selain dua orang yang berceramah dan dua orang lagi yang menyampaikan testimoni mengenai pengalaman kepesantrenan, ada juga tampilan apik dari group hadrah, teater, dan band.

Di tengah-tengah acara pengajian yang berlangsung selama dua hari itu, diselenggarakan juga Muktamar GAI yang ke-17, dalam rangka membentuk kepengurusan di tingkat Pedoman Besar untuk periode lima tahun ke depan. Rapat Muktamar berlangsung di ruang aula Yayasan PIRI, seusai upacara pembukaan Jalsah. Rapat ini dihadiri oleh perwakilan anggota GAI dari unsur Majelis Amanah, Pedoman Besar dan Pengurus Cabang. Rapat yang berlangsung hingga dini hari itu menelurkan keputusan dengan diangkatnya Bapak Muslich Zainal Asikin sebagai Ketua Umum PB GAI yang baru. Selain itu, Bapak Nanang R.I. Iskandar dikukuhkan kembali sebagai Ketua Majelis Amanah Organisasi untuk periode yang sama.

Dalam rapat itu dibentuk juga tim formatur yang bertugas menyusun struktur kepengurusan dan personalia PB GAI. Tim formatur terdiri dari Ketua Umum PB GAI yang baru plus lima orang terpilih, yakni Bapak Sulardi Notopertomo (Jakarta), Bapak Mutohir Alabas (Kediri), Bapak Suratman, Bapak Ali Arie Susanto, dan Bapak Mulyono (Yogyakarta).

Selain menetapkan Ketua Umum PB GAI dan Ketua MAO beserta jajaran kepengurusannya, Rangkaian Muktamar juga menghasilkan beberapa keputusan lain, antara lain memberikan amanat kepada Pengurus PB GAI yang baru untuk menunaikan tugas sebagai berikut:

  1. Penyempurnaan dan penyelarasan AD-ART hingga berupa Akte Notaris, selambat-lambatnya 1 April 2015.
  2. Revisi redaksional naskah Bai’at dan Janji Sepuluh, serta prosedur pelaksanaannya, selambat-lambatnya sudah ditetapkan pada Jalsah tahun 2015.
  3. Penyesuain Susunan Pengurus Pedoman Besar dengan AD-ART yang sudah ditetapkan.
  4. Melaksanakan Penyesuaian dan Pembentukan Badan dan Lembaga Kelengkapan Organisasi sesuai dengan AD-ART yang sudah ditetapkan.
  5. Melakukan sosialisasi tentang AD-ART yang sudah ditetapkan dan Hasil-hasil Muktamar.
  6. Menyelenggarakan Rapat Pleno PB diperluas selambat-lambatnya 31 Mei 2015.

Di samping itu, Muktamar XVII juga menetapkan Garis Besar Haluan Program Kerja GAI tahun 2014-2019, antara lain:

  1. Pembangunan dan pengembangan Program Pesantren dalam rangka kaderisasi.
  2. Konsolidasi organisasi berupa pemekaran jumlah cabang dalam rangka penguatan organisasi.
  3. Penerbitan Qur’an, Penerjemahan Buku dan penerbitannya.
  4. Penggalakan Program Orang Tua Asuh.
  5. Konsolidasi Organisasi dalam rangka pendataan anggota.

Rangkaian acara Jalsah dan Muktamar GAI berakhir pada Senin siang (22/12). Dalam Upacara Penutupan, Sekjen GAI yang terpilih untuk kedua kalinya di periode ini, Bapak M. Ali Arie Susanto, menyampaikan hasil keputusan Muktamar, sebagaimana tertulis sebagiannya di atas.

Menilik berbagai keputusan Muktamar itu, bolehlah kita, warga GAI seumumnya, bersama mengais asa di era baru ini, untuk perubahan ke arah yang lebih baik, setidaknya dimulai pada masa lima tahun mendatang. Tapi tentu saja, tugas kita bukanlah hanya menunggu perubahan itu datang menghampiri, melainkan harus ada kemauan untuk bergerak bersama meraih asa itu. Semoga Allah meridhai dan menguatkan langkah kita.[bas]

 

 

Komentar

komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*