facebooklikebutton.co
ARTIKEL

Kesamaan Nasib Para Mujaddid Dengan Para Nabi

Kata sunnah artinya cara, aturan atau hukum. Sunnatullah berarti hukum Allah yang berupa hukum alam, yang ditaati secara terpaksa, dan hukum syariat yang ditaati secara sukarela (3:83; 13:15). Sunnatullah seringkali digunakan dalam arti “cara Allah memperlakukan manusia (dalam hidup bermasyarakat)” (33:38; 33:60-62; dll).

Tak ada perubahan dan penyimpangan dalam Sunnah Allah (35:43). Demikian pula halnya dalam ciptaan Allah. Misalnya manusia, yang diciptakan menurut fitrah Allah, meski kebanyakan manusia tak mengetahuinya (30:30).

Menurut Sunnah Allah, kebahagiaan manusia dapat tercapai jika setiap aktivitasnya disesuaikan dan mengikuti hukum-hukum yang sesuai dengan fitrahnya, baik yang tersurat dalam Kitab Suci maupun yang tersirat di alam semesta (91:7-10). Hukum-hukum yang tersurat dalam Kitab Suci diwahyukan kepada para Nabi Utusan Allah (2: 213) dari berbagai bangsa di dunia (10:47).

Tak ada satu bangsa pun di dunia ini melainkan telah kedatangan Utusan sebagai Juru ingat (35:24). Mereka diutus tatkala manusia lupa akan tujuan hidup yang sebenarnya, sehingga ia tergelincir dalam kesesatan dan cenderung untuk memberontak, membangkang dan durhaka kepada Tuhan, dan senantiasa berbuat jahat dan lalim terhadap sesama manusia.

Untuk memperingatkan manusia yang sedang lupa agar kembali ke jalan yang benar, dan agar para pemberontak, pembangkang dan pendurhaka kepada Tuhan kembali tunduk, taat dan patuh kepada Tuhan, serta mereka-mereka yang senantiasa berbuat jahat dan lalim terhadap sesama berbalik berbuat baik dan saling menghormati, Allah membangkitkan para Utusan dari berbagai bangsa di dunia dengan membawa ajaran pokok yang sama, yakni mengabdi kepada Allah dan menjauhi perbuatan jahat (16:36).

Celakanya, sebagaimana dilukiskan dalam 36:30, kebanyakan manusia menertawakan para Nabi yang diutus kepada mereka, sehingga tak ada seorang nabi yang tak ditertawakan dan diperolok-olok oleh umatnya sendiri (26:5-6).

Nabi Nuh ditolak oleh kaum Sumeria di Mesopotamia, Nabi Hud ditentang oleh bangsa Ad di Arab Selatan, Nabi Shaleh dimusuhi oleh Tsamud di Hijr, Nabi Luth ditentang kaumnya di Sodom dan Gomorah, dll. Di antara mereka ada yang diajukan ke pengadilan dengan tuduhan palsu, bahkan ada juga yang dibunuh.

“Dan demikianlah bagi tiap-tiap Nabi Kami buat seorang musuh dari golongan orang-orang dosa; dan sudah cukuplah Tuhan dikau sebagai Yang memberi petunjuk dan Yang menolong” (25:31).

“Mengapa setiap kali datang Utusan kepada kamu dengan membawa barang yang tidak disukai oleh jiwa kamu, kamu menjadi besar kepala? Dan sebagian kamu dustakan, dan sebagian lagi kamu bunuh.” (2:87).

 

Nasib yang sama menimpa para mujaddid

Dengan berakhirnya kenabian pada diri Nabi Suci Muhammad saw (33:40) dan sempurnanya agama Allah dalam Islam (5:3), tidak ada jaminan bahwa umat Islam tak akan menderita sakit “jauh dari Tuhan dan bergelimang dalam dosa”. Karena itulah, Allah dan Rasul-Nya berjanji bahwa Dia akan membangkitkan Khalifah (24:55) atau Mujaddid pada permulaan tiap-tiap abad (HR Abi Daud).

Jadi para Mujaddid itu dibangkitkan oleh Allah, sebagaimana para Nabi (2:213). Dan nahasnya, nasib mereka juga tidak jauh berbeda seperti para Nabi. Pada mulanya, orang yang menerimanya sedikit. Yang lebih banyak adalah yang menolak dan mendustakannya.

Akan tetapi ada suatu keajaiban, bahwa para Utusan Ilahi selalu mendapat perlindungan Ilahi, dan akhirnya memperoleh kemenangan. Sebaliknya, lawan-lawan mereka selalu mengalami kegagalan total, meski didukung oleh para penguasa yang kuat dan harta yang berlimpah. Pengikut para Utusan Ilahi dari hari ke hari terus bertambah, sebaliknya para penentang Utusan Ilahi bilangannya terus berkurang dan akhirnya lenyap dari muka bumi.

Sebagai contoh, Imam Hanafi (80H-150H/ 699-767M), yang sekarang dipuja-puja oleh jutaan orang di Turki, Anatolia, India, Transaksania, Syria, dll. Pada zamannya, ia dicaci maki, dikutuk dan akhirnya mati karena diracun semasa ia dalam penjara. Abdul-Rahman bin Mahdi menyebut menyebut beliau sebagai “orang yang paling buruk dalam Islam”, bahkan menyebutnya sebagai Dajjal” (Khatib Baghdadi 13:498).

Imam Maliki (94-179H/716-795 M) mati karena disiksa. Ia dinaikkan unta dan dipukuli serta dicaci maki. Sufyan Sauri mengejeknya sebagai “anak dari wanita budak” (Khatib Baghdadi 13:394). Tetapi kini pengikutnya tersebar di Hijaz, Tunisia, Maghribi, Andalusia, dll.

Imam Syafi’i (150-204 H/ 767-820M) dikejar-kejar, ditangkap di Yaman, dibelenggu, diangkut ke Baghdad dan dalam perjalanan dicaci maki. Imam Yahya bin Mu’in menganggap beliau sebagai pemalsu terhebat dan orang yang sangat tidak bisa dipercaya (Bayanul-‘Ilm). Tetapi sekarang pengikutnya tersebar luas di Indonesia, Brunei Darussalam, Malaysia, India, Pakistan, Syria, dll.

Imam Hambali (164 -214 H/ 780-855M), semasa hidupnya dipenjara bertahun-tahun, dikutuk dan dicaci maki. Kini ia diagungkan oleh jutaan umat Islam, dan ajarannya menjadi mazhab resmi di Saudi Arabia.

 

Nasib Hazrat Mirza Ghulam Ahmad

Nasib para Nabi zaman purba dan nasib para Mujaddid pasca Nabi Suci saw. juga dialami oleh Hazrat Mirza Ghulam Ahmad, Mujaddid zaman akhir ini. Sebabnya juga sama, yaitu karena beliau datang kepada umat dengan membawa apa yang tak mereka sukai dan karena kesombongan mereka. Apa yang tak mereka sukai dari Ghulam Ahmad adalah pengakuannya sebagai Masih Mau’ud dan Mahdi Ma’hud (Masih dan Mahdi yang dijanjikan).

Dalam buku bertajuk Barahinul-Ahmadiyyati ‘ala Haqiqati Kitabillahil-Qur’ani wan-nubuwwatil-Muhammadiyyah atau dipersingkat menjadi Barahini Ahmadiyah (1884), Ghulam Ahmad menguraikan keindahan dan kebenaran Islam dengan dalil-dalil yang kuat dan tak dapat dibantah. Selain itu, ia mengupas habis-habisan serangan agama-agama lain dengan bukti-bukti yang kuat.

Dalam buku itu ia juga menjelaskan seterang-terangnya akan perlunya wahyu Ilahi. Menurutnya, wahyu Ilahi tidak hanya diturunkan pada zaman dahulu saja dan kepada para nabi saja, melainkan tetap turun di zaman yang akan datang. Beliau juga mengaku telah menerima wahyu Ilahi. Beliau menantang kepada siapa saja yang tidak percaya akan keterangan beliau supaya datang kepada beliau, agar dapat melihat dan mengalami sendiri kebenaran wahyu Ilahi.

Maulvi Muhammad Husain dari Batala, Seorang ulama besar pemimpin golongan Ahli Hadits, yang pada akhirnya menentang beliau, menulis komentar dalam majalah Isya’atus-Sunnah, Juni-September 1884, sbb:

“Sekarang akan kami utarakan pendapat kami tentang buku (Barahini Ahmadiyah) ini, secara singkat dan tidak berlebih-lebihan. Menurut pendapat kami, semenjak dahulu hingga sekarang, belum pernah dalam sejarah Islam dikeluarkan buku seperti ini. Entah di waktu yang akan datang. Penulis kitab ini memperlihatkan keteguhan dan keberaniannya dalam membela perkara Islam, baik dengan harta, perbuatan dan ucapan, yang jarang perbandingannya di antara kaum Muslimin zaman dahulu. Jika orang beranggapan bahwa keterangan kami berlebih-lebihan secara Timur, silahkan tunjukkan sebuah kitab lainnya yang dengan gigih membela Islam dari serangan lawan, teristimewa dari serangan Brahma Samaj dan Arya Samaj. Selain itu silahkan tunjukkan adakah orang lain seperti beliau yang selain berjasa dalam membela Islam dapat pula membuktikan adanya kekuatan ruhani Islam secara gagah berani mengajukan tantangan kepada orang-orang kafir dan musuh-musuh Islam yang tidak percaya akan wahyu Ilahi sebagai berikut: “Barang siapa ragu-ragu dengan kebenaran wahyu Ilahi, silahkan datang kepadaku dan dapat melihat dan mengalami sendiri kebenaran wahyu Ilahi itu.”[1]

Dalam buku tersebut, Ghulam Ahmad juga mendakwakan diri sebagai Mujaddid abad ke-14 Hijriah. Dakwah atau pengakuan beliau itu disambut baik oleh umat Islam India. Ini berarti mereka mengalami bahwa beliaulah satu-satunya orang yang tepat sebagai Mujaddid, karena nyatanya selain beliau tak ada orang lain yang mendeklarasikan diri sebagai Mujaddid abad 14 Hijriah.

Akan tetapi mulai tahun 1891, sejak beliau mengumumkan bahwa Nabi Isa Almasih bin Maryam dari Bani Isarel telah wafat dan tak akan datang lagi ke dunia; di samping beliau juga mendakwakan diri sebagai Almasih Isa ibnu Maryam yang dijanjikan oleh Nabi Suci saw., para ulama berbalik memusuhi beliau. Sebabnya, mereka meyakini bahwa Almasih Isa bin Maryam a.s. masih hidup di langit, dan nanti pada zaman akhir akan turun ke dunia. Beliau “akan melaksanakan perang Sabil sebagaimana Imam Mahdi, bala tentaranya adalah Sirrullah, yaitu malaikat dan jin Islam”.[2]

Jadi, menurut umat Islam non-Ahmadi, Almasih yang diharapkan datang itu adalah Nabi Isa bin Maryam a.s. yang dulu diutus kepada Bani Israel, bukan orang lain. Dan faktanya, HMGA “bukan anak Maryam” kata Kyai Arjanuddin Masruri.[3] Dengan kerangka berpikir pendewaan huruf ini tak akan mempertebal keimanan dan keyakinan serta kecintaan terhadap Islam, sebab landasannya hanya amaniy (lamunan) belaka (2:78), sebagaimana kaum Yahudi dan Kristen meyakini kedatangan Mesias[4] yang dijanjikan dalam Kitab Suci mereka. Sampai sekarang mereka masih tetap mengharapkan tokoh yang dijanjikan itu, karena mendustakan dakwa pengakuan Nabi Suci Muhammad saw. sebagai penggenap nubuat para Nabi terdahulu dan juga menolak dakwah HMGA sebagai Masih dan Mahdi.

Bagi kaum Muslim Ahmadi, menerima pengakuan beliau benar-benar mempertebal keimanan dan keyakinan serta kecintaan terhadap Islam, Quran Suci dan Nabi Suci Muhammad saw. Sebab nubuat tentang datangnya Almasih, Isa bin Maryam telah tergenapi. Keimanan dan keyakinan serta kecintaan itulah yang menggerakkan hati setiap orang untuk berjuang, jihad kabir, membela dan menyiarkan Islam dengan mengorbankan harta, jiwa dan raga di jalan Allah.

Untuk menumbuhkembangkan keimanan dan keyakinan yang mampu menggerakkan hati, untuk berjihad kabir dan berjihad akbar, jika seseorang memiliki bubungan batin atau rohani dengan HMGA sebagai Mujaddid, Masih dan Mahdi. Sebab, dibangkitkannya beliau sebagai Mujaddid, Masih dan Mahdi hanyalah untuk memenangkan Islam semata, sebagaimana beliau nyatakan sbb: “kemenangan rohani Islam akan tercapai dengan bukti yang mutlak dan hujjah yang gemilang, ditakdirkan lantaran hamba Nabi yang lemah ini, baik sementara hidupnya maupun sesudah matinya. Meskipun Islam memperoleh kemenangan sejak permulaan karena kuatnya menarik hati, pikiran manusia dan karena dari permulaan musuh-musuhnya menemui hinaan dan kekalahan, tetapi kemenangan Islam atas pelbagai golongan dan bangsa-bangsa tergantung pada datangnya zaman terbukanya jalan perhubungan yang akan menjadikan seluruh dunia semacam Negara kesatuan.”

Lebih lanjut beliau tegaskan : “Jadi Allah berkehendak, dengan mengangkat kami dalam abad ini, dengan memberi beratus-ratus tanda samawi (langit) dan ilham tentang luar biasa, mengenai waktu yang akan datang, serta ilmu kenyataan yang dalam dan dengan memberi kami ilmu bukti-bukti yang pasti beratus-ratus untuk meluaskan dan menyiarkan pengertian yang benar tentang pelajaran Quran Suci kepada bangsa-bangsa dan semua negara”.[5]

Kaum Muslim non-Ahmadi yang menolak dan mendustakan pengakuan beliau sebagai Masih dan Mahdi yang dijanjikan terbagi menjadi dua golongan. Pertama, mereka yang menolak dakwaan pengakuan beliau, karena yang dijanjikan datang pada zaman akhir menurut anggapan mereka adalah Nabi Isa bin Maryam a.s. dari Bani Israil yang sekarang masih hidup di langit itu.[6] Quraish Shihab menganjurkan jika benar beliau datang, seluruh umat Islam berkewajiban menyambut dan mendukungnya, dan pada saat kehadirannya itu pasti banyak hal yang akan beliau luruskan”.[7]

Kedua, mereka yang menolak dakwah pengakuan beliau karena menganggap bahwa hadits-Hadits tentang Masih dan Mahdi bukan Hadits Mutawatir, maka tak dapat dijadikan dalil akidah, bahkan ada yang menganggap Hadits Dha’if.

Golongan pertama selain mendukung dogma gereja juga terjebak dalam dogma yang tak akan menjadi kenyataan sampai hari Kiamat. Mereka seperti halnya kaum Yahudi dan Kristen atau Hindu dan Buddha, yang karena menolak Nabi Suci Muhammad saw yang telah dinubuatkan dalam Kitab Suci mereka (3:81), mereka terjebak dalam harapan kosong tentang Juru Selamat Dunia yang sampai sekarang belum tergenapi dan tak akan tergenapi, karena mereka salah menafsirkan nubuat dalam Kitab Suci mereka sendiri. Hal ini sejatinya mendustakan Kitab Suci mereka sendiri (5:68).

Golongan kedua menolak dakwa beliau sejatinya mendustakan para perawi Hadits dan juga para musnad atau nara sumber Hadits, termasuk para sahabat, bahkan bisa juga mendustakan Nabi Suci yang telah menjanjikan kedatangan Masih dan Mahdi. Jadi mereka mengulang kembali kesalahan umat beragama terdahulu.

Kedua golongan tersebut sejak zaman beliau sampai sekarang terus melancarkan perlawanan dengan berbagai macam cara. Bukan hanya mencaci maki, mengutuk dan mengafirkan melainkan juga memfitnah.

Sekalipun demikian, karena beliau datang dari Allah, maka semua perlawanan mereka itu tak membekas sedikit pun, dan Allah selalu menganugerahi kemenangan-kemenangan, sesuai dengan janji-Nya. Jauh sebelum dikenal dunia, beliau telah menulis:

“Allah Yang Maha-luar biasa itu memberitahukan kepada saya berulang kali, bahwa Dia akan menganugerahkan kepada saya kekayaan yang besar dan akan memasukkan kecintaan terhadap saya dalam hati manusia, dan akan membuat Jemaat saya ini tersebar luas di seluruh dunia serta akan membuatnya unggul di seluruh golongan lain dan orang-orang Jemaat saya akan diberi ilmu dan pengetahuan demikian bagusnya. Bahwa melalui kebenaran mereka dan melalui dalil-dalil dan tanda-tanda mereka, mereka dan membatalkan lainnya. Setiap bangsa akan minum dari mata air ini dan jemaat ini akan tumbuh dan berkembang baik sehingga akhirnya akan meliputi seluruh dunia. Banyak rintangan yang akan dihadapi dan banyak cobaan-cobaan akan datang. Tetapi Tuhan akan singkirkan semua dari jalan mereka dan akan disempurnakan-Nya. Dia punya janji dan Tuhan mengatakan kepada saya: “Aku akan dilimpahkan barokah-barokah yang satu menyusul lainnya atas engkau demikian banyaknya, bahwa nanti raja-raja (kepala negara) akan mencari barokah dari pakaian engkau”. Oleh karena itu wahai setiap orang yang mendengarnya, ingatlah kata-kata ini dan simpanlah nubuat-bubuat ini baik-baik dalam peti-peti engkau, karena ini adalah kata-kata Tuhan yang pada suatu hari pasti genap dan sempurna”.[8]

Ramalan beliau tersebut dari hari ke hari makin nyata kebenarannya. Sekarang Gerakan Ahmadiyah telah tersebar hampir di setiap negeri di dunia. Gerakan Ahmadiyah terdapat di negara-negara Asia (India, Sailan, sekitar teluk Persia, Irak, Iran, Turki, Cina, Taiwan, Jepang, Malaysia, Indonesia, kepulauan Fiji, Filipina, Siam, dan sebagainya), dan Negara-negara Afrika (seperti di Mesir, Nigeria, Gambia, Tunisia, Ghana, Sierra Lone, Kenya Uganda, Afrika Timur, Afrika Barat dan Selatan, Mauritius), terdapat di Negara-negara Eropa dan Amerika, (Inggris, Belanda, Jerman, Swiss, Skandinafia, Perancis, Albania, Canada, Amerika Sertikat, Trinidad, Suriname, Australia, dan sebagainya.

Sebaliknya gerakan-gerakan penentang Ahmadiyah-yang sifatnya hanya lokal,[9] banyak mengalami kemunduran, bahkan mati seiring dengan kematian pemimpinnya, seperti yang telah dilukiskan Ilahi dalam firman-Nya.

“Dia menurunkan air dari awan, lalu mengalirkan anak sungai menurut ukurannya, dan air bah itu menghanyutkan benih yang menggelembung. Dan dari apa yang mereka lebur dalam api untuk dijadikan perhiasan atau perkakas keluar pula benih seperti itu. Demikianlah Allah memperbandingkan kebenaran dan kepalsuan. Adapun tentang buih, ini lenyap seperti barang yang tak ada harganya, ini tinggal di bumi”. Demikianlah Allah membuat perumpamaan” (13:17).

Gerakan Ahmadiyah bukanlah yang digambarkan sebagai buih, tetapi yang digambarkan sebagai air yang menyapu bersih buih di permukaan, dan juga sebagai emas dan perak yang jika dilebur dalam api terlepaslah kotorannya dengan meninggalkan logam murni yang dibuat perhiasan berharga bagi manusia.[]

 

Dinukil dari naskah mentah “Gerakan Pembaruan dalam Islam” Oleh K.H. S. Ali Yasir.

[1] Barahini-Ahmadiyah (pengantar oleh Inayat Ali Khan, p.4) terjemahan bahasa Inggris oleh Mirza Ma’sum Baig, murid setia HMGA. Terjemahan bahasa Indonesia oleh Idris L. Latjuha dan H.M. Bachrun. Juga dimuat dalam Tafsir Qanun Asasi Gerakan Ahmadiyah Indonesia (GAI) p.58-59.

[2] lihat buku Munculnya Dajjal dan Imam Mahdi di Akhir Zaman, 2004:45

[3] Turunnya Isa, Imam Mahdi dan Risikonya, 1985:26.

[4] Kata mesias bentuk Aram dari Mesyiha (Ibrani) artinya yang diurapi, yang diberkati. Ada dua macam Mesias yang dinubuatkan, yaitu: Mesias yang menderita (Yesaya 53:1-12) dan Mesias yang memerintah (Yesaya 9:6-7). Keduanya telah digenapi, Mesias yang menderita adalah Almasih Isa bin Maryam, ditolak oleh umat Yahudi sampai sekarang; sedang Mesias yang memerintah adalah Nabi Suci Muhammad saw yang ditolak oleh umat Yahudi dan Krsten, maka kedua umat itu sampai sekarang masih mengharapkan kedatangannya.

[5] Barahini Ahmadiyah, p:498-502

[6] Keyakinan ini termaktub dalam Jawahirul-Kalamiyah karya Tahir Al-jaza’iri yang terjemahan Belanda (1948) menjadi sumber rujukan Dogmatika Masa Kini karya Dr.G.C. van Nifrik dan Ds.B.J. Bolland (1958). Dapat pula dibaca dalam Moetiara Th.IX, edisi Februari 1940, p.82 yang dikeluarkan oleh Pimp. Muhammadiyah; buku Ahkamul-Fuqaha, tanya jawab no. 34-35 yang dikeluarkan oleh NU, brosur Risalah Mirzaiyah, p.45-46 dikeluarkan oleh Persatuan Islam (Persis); dll.

[7] Membumikan” Al-Quran, Fungsi dan Peran Wahyu Dalam kehidupan Masyarakat, 1992:373

[8] Kitab Tadakhiratusy-Syahadatain, 1903

[9] Oleh karena itu jumlah golongan umat Islam di dunia banyak sekali, tetapi mereka terpecah tak dapat bersatu atau dipersatukan, kecuali dalam menghadapi satu golongan yang disebut Aljama’ah, sebagaimana dinubuatkan oleh Nabi Suci bahwa umat Islam akan terpecah belah menjadi 73 golongan, semuanya masuk Neraka kecuali satu, yaitu Aljama’ah “ (HR Ibnu Majah). Tujuh puluh dua golongan mengafirkan Aljama’ah, yakni segolongan umat yang mengikuti Imam Zamannya, dasarnya bukan Quran Suci dan Hadits Nabi, tetapi Ijma’ Majami’, yaitu kesepakatan dari berbagai kesepakatan di dunia. Pada zaman akhir Aljamaah itu adalah Muslim Ahmadi.

Comment here