facebooklikebutton.co
ARTIKELKLIPING

Tujuannya Seorang Muslim

“O, kamu orang-orang mukmin, turutlah (perintah-perintah) Allah dan turutlah (perintah-perintah) Utusan Allah dan turutlah (perintah-perintah) mereka yang berkuasa dari pada antaramu (Al-Quran 4:59)

“O, kamu orang-orang mukmin, ati-atilah (dalam menjalani wajibmu terhadap kepada) Allah dan hendaklah kamu bersama-sama orang-orang yang benar.” (Al-Quran 9:119)

 

Barang apakah yang kami boleh berbuat untuk keperluannya Islam dan keperluannya kaum Muslimin, itulah satu perkara yang tiap-tiap orang Islam, tua dan muda, harus menanyakan kepada dirinya sendiri. Dengan tidak mengecilkan harganya pekerjaan yang diperbuat oleh lain-lain orang, maka kami hendak melahirkan jawab kami sendiri di atas pertanyaan itu seboleh-boleh dengan singkatnya, terhadap kepada saudara-saudara kami orang Islam.

Sebelum mencoba memberi jawab di atas pertanyaan ini, maka sangat perlulah kita menyelidiki kesusahan-kesusahan terbesar yang meliputi Islam dalam pada kena percobaan yang sekarang ini. Adalah benar, perkara yang sangat nyata, yang pertama-tama menampak kepada kita tentang Islam pada dewasa ini, yaitu hal hilangnya kekuasaan politik di dunia. Tetapi apabila orang menyelidiki lebih dalam, maka niscaya akan nyatalah padanya, bahwa hal bertambah-tambah kurangnya kekuasaan Islam tentang urusan perkara dunia itu adalah disebabkan dari lainlain perkara, yang telah menimbulkan kebusukan umum dalam peri-keadilan umat Islam di seluruh dunia. Oleh karenanya maka si obat haruslah dipergunakan mengobati pokoknya penyakit. Begitulah maka satu hukum Allah yang tidak berubah selama-lamanya ada dinyatakan di dalam Quran yang suci:

Innallaaha laa yughayyiru maa biqaumin hatta idzaa yughayyiru maa bi anfusihim.

“Sesungguhnya Allah tidak mengubah peri-keadaannya satu umat, sebelum mereka mengubah peri-keadaan mereka sendiri.” (Al-Quran 13:2)

Kaum Muslimin sudah pernah menjadi tuannya dunia, tetapi peri-keadaan mereka sekarang ini adalah sebaliknya. Oleh karenanya maka perubahan peri-keadaan mereka yang sekarang ini adalah satu tanda yang nyata, bahwa mereka itu juga telah mengubah dirinya sendiri; tegasnya, mereka telah meninggalkan azas-azas tinggi yang dulu telah menyebabkan mereka jadi berkuasa di dunia. Perubahan batinlah yang datang pertama-tama, sedang perubahan lahir di dalam peri-keadaan politik mereka itu tidak lain hanyalah kesudahannya perubahan batin itu belaka.

Dengan sebenar-benarnya, dulu adalah begitu besar kekuasaan yang dilakukan oleh orang Islam di dunia, sehingga tiada ada kekuatan dari luar yang bisa menyebabkan kejatuhan derajat mereka, apabila kerusakan itu tidak kejadian dari sebelah dalam. Dan begitu besar kejatuhannya derajat itu terjadi dari sebab-sebab batin, begitu benar juga pembakitan pula akan bisa kejadian lagi daripada perubahan batin adanya.

Inilah perkara pertama-tama yang harus kita peringatkan. Bekerja bersama-sama dengan rakyat ini, atau berpisah-pisahan, kerja dengan rakyat itu, semua itu tidak bisa menimbulkan sesuatu kebaikan bagi kaum Muslimin, apabila mereka tidak berlebih-lebih memikirkan dirinya daripada mencinta atau membenci lain-lain orang – apabila mereka tidak berusaha lebih besar untuk memperbaiki peri-keadaannya kaum Muslimin, dengan membelakangkan segala perkara yang lain-lainnya. Mereka ampunya usaha terutama sekali haruslah berarah mengubah pergaulan hidup Islam bersama.

Perkara kedua yang harus kami peringatkan kepada orang ramai kaum Muslimin, ialah: sedangnya dalam urusan politik orang-orang Islam bertakluk kepada pelbagai hal-ihwal dalam rupa-rupa negeri, menjadi tuan yang tak berwatas kekuasaannya dalam negeri yang satu, tetapi dalam negeri yang lain ada di bawah pemerintahan asing, di satu tempat yang lain terlalu kecil sekali bilangannya, pun peri-keadilan mereka yang sebenar-benarnya bersamaanlah adanya di segenap dunia. Bersamalah sikapnya: tidak memperduli-dulikan dan tidak merasa-rasakan, bersamaanlah pula: tidak suka berbuat dan sikap mereka seperti orang yang tidak berkehidupan.

Inilah menunjukkan dengan seterang-terangnya bahwa kekuasaan memerintah sendiri di sesuatu negeri yang teristimewa, tiadalah bisa menimbulkan abad emas bagi Islam. Kita haruslah menghendaki perkara yang lebih tinggi daripada itu. Sungguh pun memerintah negeri sendiri (Swaraj) itu ada satu langkah dalam mencapai sesuatu cita-cita yang tinggi, tetapi itulah bukan cita-citanya.

Walau kiranya Swaraj akan bisa mengangkat derajat kita dalam urusan politik atau menyebabkan kita bersamaan derajat dengan orang-orang yang tidak Islam, pun Swaraj masih juga tidak bisa menjadi maksudnya kehidupan kita sebagai satu bangsa.

Kewajibannya kaum muslimin dalam dunia ini bukan saja cuma memperbaiki dirinya sendiri, tetapi kewajiban kaum Muslimin yaitu: memperbaiki segenap peri-kemanusiaan, membawa umat daripada kegelapan sampai kepada penerangan, menyiarkan barang yang benar (hak), mengenyahkan segala perbedaan warna kulit dan perbedaan kebangsaan, menjadikan satu persaudaraan umum di segenap dunia, dan akhirnya menimbulkan satu perhubungan yang benar antara Tuhan dengan manusia.

Begitulah maka di dalam Quran yang suci ada tersebut begini:

Wa kadzaalika ja’alnaakum ummatan wasathan, li takuunuu syuhadaa’a ‘alan-naasi wa yakuunur-rasuula ‘alaikum syahiidaa.

“Dan begitulah kita telah menjadikan kamu satu bangsa yang berderajat tinggi, agar supaya kamu boleh menjadi pembawa persaksian di antara manusia dan (supaya) Nabi boleh menjadi seorang pembawa persaksian padamu.” (2:143)

Kuntum khaira ummatin ukhrijat lin-naasi ta’muruuna bil-ma’ruufi wa tan-hauna ‘anil-munkari wa tu’minuuna billaahi.

“Kamu adalah yang terutama daripada bangsa-bangsa yang telah dijadikan untuk (keselamatan) manusia; kamu memerintahkan barang apa yang benar dan melarang barang yang salah dan percaya kepada Allah.” (3:109)

Islam membawa pekerjaan keselamatan kepada dunia, sebagaimana ada dinyatakan juga oleh namanya, dan kita bukanlah orang Islam yang sejati, apabila kita tidak menyiarkan pekerjaan itu sampai di penjuru-penjuru dunia yang terjauh sekalipun. Nabi adalah seorang pembawa persaksian kepada kita dan menunjukkan kepada kita pekerjaan kebenaran itu, dan dengan hal yang demikian itu kita pun dituntut akan menjadi pembawa persaksian yang serupa itu juga kepada lain-lain orang, dan menunjukkan pekerjaan kebenaran kepada mereka.

Inilah maksud kita dan cita-cita kita. Kalau kita cuma bersenang hati saja dengan pekerjaan kita yang berkurangan daripada pekerjaan ini, itulah artinya kita menghilang-hilangkan kesempatan yang telah diberikan kepada kita, itulah artinya tidak setia kepada diri kita sendiri kepada Islam.

Begitulah Tuhan bersabda di dalam Quran yang suci:

Innal insaana lafii khusrin, illalladziina aamanuu wa ‘amilush-shaalihaati wa tawaashau bil-haqqi wa tawaashau bish-shabri

“Sesungguh-sungguhnyalah, manusia ada di dalam kerugian, kecuali mereka yang percaya dan berbuat kebajikan dan memerintahkan barang yang hak satu sama lain dan memerintahkan kesabaran, satu sama lain.” (103)

Kalau kita cuma menerima barang yang hak meskipun sudah kita lakukannya juga, belumlah kita menjadi orang yang beruntung, apabila kita tidak menyuruh lain-lain orang akan berbuat seperti kita itu juga. Barang yang hak itu bukannya satu perkara, yang kita cuma harus menerimanya saja, tetapi kita harus menyiarkannya juga kepada lain-lain orang.

Kalau orang memikir-mikir sedikit saja, maka bisalah nyata kebenaran yang disebutkan oleh Quran Suci itu.

Orang pun akan tetap tinggal di dalam kerugian, selama ia tidak menyiarkan barang yang hak itu kepada lain-lain orang. Adakah sebabnya begitu? Sebab di dunia tidak ada barang yang tinggal tetap selama-lamanya. Apabila kamu tidak bergerak maju, maka tak boleh tidak kamu akan mundur. Hidup itu adalah satu perlawanan maju ke muka. Pada kalanya perlawanan itu berhenti, maka datanglah kemunduran dan kerusakan. Inilah pengajaran yang dinyatakan dalam ayat di atas.

Tidak ada gunanya bicara dari hal kebaikannya umat Islam, apabila tidak dicukupi syaratnya perbaikan yang pertama-tama dan benderanya hak tidak dikibarkan setinggi-tingginya.

Apabila sekarang hati kita tergerak oleh rasa hendak menaklukkan dunia dengan lantaran pekerjaan keselamatan sebagai yang diperintahkan oleh Quran kita yang suci, maka niscayalah dengan segera kita akan melihatkan orang Islam menjadi kepala lagi memimpin bangsa-bangsa di segenap dunia. Perbaikan kita, perubahan perikatan hidup Muslim hanyalah bisa kejadian dengan lantaran menyiar-nyiarkan barang yang benar (hak) sebagai yang telah diberikan kepada kita di dalam Quran yang suci itu.

Pemberitaan kami yang tersebut di atas ini adalah nyata benarnya dalam beberapa perkara. Pada dewasa ini dalam dunia adalah sunyi keterangan-keterangan yang jelas dan benar tentang Islam. Berabad-abad lamanya di Eropa telah timbul sebanyak-banyaknya kekeliruan faham tentang Islam; maka fihak Muslimin wajiblah melakukan perlawanan yang kuat dan tak ada berhentinya buat melenyapkan kekeliruan faham yang demikian itu.

Sebagai satu umat, maka orang-orang Muslim tiadalah boleh menyabarkan terpandang rendah oleh lain-lain golongan manusia di muka bumi, dan makin tinggi anggapan lain-lain orang yang ditujukan kepada orang Islam, maka makin kecillah kesempatannya mereka itu akan dilakukannya dengan cara yang tidak baik. Begitulah maka kebutuhan yang terbesar kepentingannya bagi orang-orang Muslim, baik dalam keperluan agama maupun dalam keperluan politik, yaitu penyiaran (propaganda) Islam, dan selama kebutuhan ini tidak dipenuhinya, maka kemajuan kita dari dalam tiadalah selama-lamanya akan menimbulkan hasil yang berharga.

Keragu-raguan yang tersembunyi di dalam hatinya beberapa orang Muslim tentang perkara ini, adalah disebabkan daripada ketiadaannya perasaan-perasaan akan kekuatan batin Islam dan persaan akan hasil-hasil yang timbul daripada kekuatan batin itu untuk kemajuan lahir bagi orang-orang Islam.

Quran yang suci menyebutkan Islam sebagai kekuatan batin yang terbesar yang pernah ada di dalam dunia, dan oleh karenanya maka Quran yang suci menyebutkan azas-azas Islam itu sebagai tersedia akan menjadi azas-azas yang terkuasa di dalam dunia:

Huwal-ladzii arsala rasuulahu bil hudaa wa diinil-haqqi li yudzhirahuu ‘alad-diini kullihi wa kafaa billaahi syahiidaa

“Dialah yang telah mengirim UtusanNya dengan pimpinan dan agama yang benar, supaya Dia boleh meninggikan agama yang benar itu di atasnya segala agama.” (48:28).

Dan apakah yang dipertunjukkan oleh riwayat? Islam adalah agama yang terakhir di dunia. Dia punya pengajaran-pengajaran datanglah ketika segala agama yang lain-lainnya sudah berdiri dengan kuat-kuat dan minta dihormat oleh rupa-rupa bangsa di dunia. Begitu besarlah kekuatan batin Islam, sehingga tidak ada lain agama berkuasa mempertegahkan dia.

Agama Yahudi, Kristen, Zaratustra, Buddha, Kong Hu Cu, Hindu, semuanya telah memberi urunan berjuta-juta orang pemeluknya masuk kepada Islam, sedang daripada agama-agama yang lain-lainnya itu tidak ada yang berkuasa mengambil pemeluk Islam yang berarti jumlah bilangannya. Berabad-abad lamanya kekristenan telah bekerja dengan sebesar-besarnya sumber kekuatan akan memberi pukulan kepada Islam, tetapi tiadalah berkuasa mengambil kembali mereka yang olehnya telah diberikan urunan kepada Islam itu.

Begitu besarlah kekuatan batin Islam sehingga dalam masa kekuatannya lahir telah menjadi susut, azas-azasnya pun mendapat perkuatan juga di negeri Barat, yang hari pertaklukannya oleh Islam rupanya sudah terbit sesudahnya ada kegelapan malam yang lamanya ada seribu tiga ratus tahun itu. Islam telah datang di dunia buat menaklukkan, telah bekerja terus menaklukkan dan akan senantiasa bekerja menaklukkan juga.

Di kelak kemudian hari, matahari akan terbit dari Barat, begitulah disabdakan oleh Nabi kita yang suci. Ternyatalah yang dimaksudkan dengan matahari yaitu “matahari Islam” yang mula-mula pertama terbit di Timur dan telah memenuhi negeri-negeri Timur dengan cahayanya yang gilang gemilang. Negeri Barat pun lebih dulu telah menerima cahaya batin, sebagai juga kelak kemudian hari menerima cahaya lahir, dan cahaya batin itu telah memancari negeri Barat ialah kebetulan pada kalanya Islam sudah kehilangan sebanyak-banyak dari kekuasaannya perkara dunia. Inilah hanya satu tanda bahwa Islam akan menjadi penakluk kebatinan, baik dalam masanya ia mendapat kemenangan atau pun dalam masanya mendapat kekalahan perkara dunia.

Bahwasanya Islam akan memperoleh kemenangan-kemenangan yang sangat ajaibnya, maka tanda yang menunjukkan hal itu sekarang sudah menampak dengan adanya kemanusiaan yang sangat besar dalam urusan agama pada abad ini, yaitu Hazrat Mirza Ghulam Ahmad dari Qadian, Mujaddid (pengubah kembali) dalam abad ke 14 dalam perhitungan tahun Hijrah.

Tiga puluh tahun yang lalu ia telah memperingatkan dunia akan kekuatan batin dalam Islam yang ajaib – kekuatan yang berkuasa menundukkan segenap dunia kepada Islam, meskipun juga dalam masanya Islam ada di dalam kesusahan, walau pun juga pada kalanya kekuasaan politik Islam bertakluk kepada musuh-musuhnya yang terbesar. Ia pun bicara dengan kekuatan yang datang dari Langit, sehingga hilangnya kekuasaan Muslim itu tidak lain menjadi tandanya kemenangan-kemenangan besar yang akan didapat oleh Islam dalam kalangan kebatinan.

Dia punya suara adalah suaranya seorang yang berteriak di dalam hutan rimba belantara, sampai datang saatnya segenap Hindia Muslim menjadi bangun lantaran dari satu tamparan besar karena kemurtadan beribu-ribu orang Islam (bangsa Malkana Rajput – penyalin) berpaling kepada satu bangsa (Hindu – penyalin) yang hingga kini telah memberi urunan lebih dari enam puluh milliun jiwa manusia kepada kekuasaan batin Islam.

Sesudahnya lewat sepertiga abad penuh, maka pada akhir kemudiannya orang-orang Muslim dengan sangat menyesal hatinya lalu sadar, bahwa kelalaian mereka akan kekuatan batin Islam itulah yang telah menyebabkan timbulnya kesusahan mereka yang terbesar, yang belum pernah dikenal oleh umat Islam di dalam riwayat mereka.[]

___________

Dinukil dari Da’watoel-‘Amal (Pengajakan Bekerja) oleh Maulana Muhammad Ali, Presiden Ahmadiyah Anjuman Isha’ati Islam, Lahore (Hindustan). Disalin oleh Oemar Said Tjokroaminoto, Presiden Central Sarikat Islam Yogyakarta (Jawa). Diterbitkan oleh Mirza Wali Ahmad Baig, Muballighul-Islam, Utusan Pergerakan Ahmadiyah, Yogyakarta (Jawa). Tanpa Tahun Terbit.

Comment here