facebooklikebutton.co
ARTIKEL

Cara Menyelamatkan Diri Dari Dosa

Cara Menyelamatkan Diri dari Dosa

Tujuan utama diutusnya para Nabi adalah untuk mengenalkan manusia kepada Tuhan, dan menyelamatkan manusia dari kehidupan jahanam, yakni kehidupan kotor yang penuh dengan dosa. Demikian halnya juga dengan diutusnya para mujaddid.

Sebab, satu-satunya jalan bagi manusia untuk menyelamatkan diri dari dosa adalah keyakinan sepenuh hati akan adanya Tuhan, yang memberikan ganjaran sebagai balasan atas kebaikan dan memberikan siksaan sebagai balasan atas kejahatan. Tanpa adanya keyakinan yang sempurna tentang perkara ini, manusia tidak mungkin bisa terbebas dari kehidupan yang bergelimang dosa.

Ada dua macam atau level cara manusia meyakini keberadaan Tuhan. Pertama, keyakinan yang diperoleh atas dasar analogi dan teori. Dengan menyaksikan dan mengamati wujud, susunan dan cara kerja alam semesta, seorang yang berakal pasti dapat mengambil kesimpulan bahwa ada alam semesta ini ada yang menciptakan, mengatur dan memeliharanya.

Kedua, keyakinan akan adanya Tuhan berdasarkan wahyu. Orang yang benar-benar telah mendapat wahyu dan pernah berwawan sabda dengan Tuhan akan menyatakan dengan penuh keyakinan dan pasti bahwa Tuhan itu ada, karena dia benar-benar mengalami dan menyaksikan keberadaan-Nya.

Perbedaan kedua cara dalam meyakini keberadaan Tuhan itu bagaikan bumi dan langit. Tingkat keyakinan seseorang yang berfikir bahwa Tuhan itu ada, tidak bisa menyamai tingkat keyakinan orang yang benar-benar pernah berwawan sabda dengan-Nya.

Sebabnya, orang yang meyakini keberadaan Tuhan semata-mata dengan cara mengamati keadaan alam semesta, tidak lantas bisa menumbuhkan kesucian yang sungguh-sungguh dan mencapai taqwa yang sempurna.

Ilmu pengetahuan semata tidak  bisa menanamkan kekuatan dalam hati manusia untuk bertaqwa kepada Allah, dan menyelamatkan manusia dari dosa dan kegelapan yang ditimbulkan oleh perbuatan dosa itu.

Tetapi bagi orang yang langsung menyaksikan keagungan Tuhan Yang Maha Tinggi, dia akan beroleh cahaya dan kekuatan untuk berbuat baik dengan setulus hati. Dengan cahaya dan kekuatan itu pula ia dapat menyelamatkan diri dari dosa dan kegelapan.

Orang-orang yang pernah berwawan sabda dengan Allah akan semakin menjadi teguh iman dan taqwa mereka. Sehingga, mereka memiliki kemampuan untuk meninggalkan kejahatan dan menanggalkan nafsu rendah mereka. Mereka berlari menjauhi kehidupan setan (sataniyah) menuju kepada kehidupan malaikat (malakiyah), dan berjalan di atas kehendak dan petunjuk Allah Ta’ala. Dan setan pun tunduk dan takluk kepada orang yang berada di bawah naungan cahaya keagungan Tuhan.

Jadi sekali lagi, tujuan utama para nabi dan para mujaddid adalah menyeru manusia untuk bermakrifat dengan Allah, mengetahui dan mengenal Allah, sehingga ia selamat dari dosa dan hidup dalam kesucian.

Selama manusia tidak memiliki keyakinan yang sempurna akan keberadaan Tuhan, yang membenci manusia pendosa dan memberikan siksaan kepada mereka, maka manusia akan tetap hidup dalam gelimang dosa.

Orang yang yakin benar bahwa perbuatan dosa bisa menghancurkan martabatnya, dan yakin benar bahwa Tuhan akan memberikan siksaan bagi setiap perbuatan dosa, maka tentu ia akan menghindarkan diri dari berbuat dosa. Sebaliknya, selama manusia tidak benar-benar yakin akan keberadaan Tuhan, dan tidak menyadari bahwa perbuatan dosanya akan berakibat siksa baginya, maka mustahil dia dapat selamat dari perbuatan dosa.

Adalah fitrah manusia bahwa ia menyukai dan tertarik pada suatu perkara yang ia ketahui mempunyai manfaat dan pengaruh baik baginya, dan pasti ia akan segera berjalan cepat mendekati dan meraihnya. Sebaliknya, ia akan segera berlari menjauh dari suatu perkara yang ia ketahui akan sangat membahayakan dirinya.

Jika kita tahu dan yakin bahwa di dalam sebuah liang terdapat ular berbisa, maka adakah di antara kita yang mau memasukkan jari ke dalam liang itu? Atau adakah di antara kita yang sudi memakan makanan yang kita ketahui mengandung racun?

Jika di suatu wilayah tengah dilanda wabah kolera, maka tentu kita akan berlari menghindari wilayah itu, sebab kita beranggapan bahwa menginjakkan kaki di sana sama saja dengan menginjakkan kaki di atas bara api.

Tetapi dewasa ini kita menyaksikan banjir dosa terus mengalir melanda banyak orang. Dosa telah melanda manusia, dan setan telah menegakkan kedaulatannya. Bendungan yang menahan manusia dari perbuatan yang tak mengenal batas etika dan tak tahu malu telah jebol. Taufan dosa berhembus dengan dahsyat dari empat penjuru.

Kita bersedih dan kecewa menyaksikan keadaan akhlak dan ruhani kebanyakan orang di belahan dunia yang mengagung-agungkan nilai kebebasan itu. Darah dan kematian Yesus yang mereka yakini dapat menebus dosa manusia, ternyata tak berpengaruh dan tak merubah keadaan kehidupan mereka yang gelap dan bergelimang dosa.

Banjir dosa itu tak sebatas melanda dunia Kristen, tetapi juga melanda di dunia kaum muslim, padahal di tangan mereka ada Kitab Suci yang penuh dengan cahaya dan petunjuk. Mereka memang tidak meyakini apa yang diyakini kaum Kristen ihwal penebusan dosa, tapi mereka terlibat dalam dosa yang sama, yang dilakukan oleh kebanyakan para penganut kekristenan.

Sungguh, darah Yesus tidak dapat menyelamatkan manusia dari dosa. Tidak ada hubungan antara darah Yesus dengan penebusan dosa. Seseorang tidaklah mungkin bisa menyembuhkan sakit kepala orang lain dengan jalan membentur-benturkan kepalanya sendiri. Ia hanya bisa membantu menyembuhkan sakit kepala orang itu dengan memberikan obat kepadanya.

Yesus tidak menebus dosa manusia dengan cara mengalirkan darahnya dan mati di atas tiang salib. Dia membantu menyucikan manusia dari dosa dengan jalan memberikan obat berupa ajaran bahwa Allah memberikan ganjaran atas perbuatan baik dan memberikan siksaan atas perbuatan dosa.

Jadi, selama manusia tidak memiliki pengetahuan yang sempurna tentang eksistensi Allah, tidak mengetahui akan adanya siksaan atas perbuatan dosa yang mereka lakukan, dan tidak menyadari betapa bahayanya perbuatan dosa itu, maka ia tidak akan bisa selamat dari kejahatan.

Serigala lebih buas ketimbang anjing. Tetapi karena ketidaktahuan kita, bertemu Serigala kita anggap sama dengan bertemu anjing. Andai kita tahu Serigala itu lebih buas dan lebih beringas, maka kita pasti akan segera lari menjauh dan bersembunyi darinya.

Sikap kita juga pasti lain, jika bertemu bukan dengan serigala dan bukan pula dengan anjing, melainkan singa. Tentu kita akan lebih takut lagi, dan lebih cepat untuk menyelamatkan diri. Ini adalah gambaran yang bisa kita jadikan bahan renungan.

Tuhan sesungguhnya telah menanamkan dalam fitrah manusia, bahwa manusia amat senang dan tertarik pada perkara yang besar manfaatnya baginya, dan dengan perasaan benci ia akan berlari menjauh dari perkara yang akan merusaknya.

Emas dan perak adalah barang yang bermanfaat, sehingga betapa kita senang dan sayang terhadapnya. Bahkan untuk memperolehnya, kita rela bekerja dan berusaha keras menghadapi segala macam kesukaran. Andai ada orang yang membuang satu peti emas dan perak, dan kemudian justru mengisi peti itu dengan bongkahan tanah, tidakkah kita akan mengatainya sebagai orang yang gila?

Maka jika kita menyadari bahwa Tuhan membenci perbuatan buruk dan dosa, dan sebaliknya mencintai, memuliakan serta meninggikan derajat orang-orang yang berbuat baik, maka pastilah kita akan berlari ke arah kebaikan, dan menjauhkan diri dari kehidupan yang penuh dengan keburukan dan dosa.

Apabila kita benar-benar yakin akan keberadaan Allah, dan melihat Dia bagaikan matahari yang menyinari seluruh sudut bumi kita, maka sesungguhnya kehidupan rendah kita akan berakhir. Dengan demikian, akan bangkitlah kehidupan sorgawi, kehidupan yang dijalani para nabi dan orang-orang suci.

Yakinlah, rahmat Tuhan selalu dilimpahkan kepada orang-orang yang tunduk patuh kepada-Nya. Orang-orang suci datang ke haribaan Tuhan dengan membawa hadiah kebaikan dan kesucian. Mereka akan menjauhkan diri dari kehidupan yang penuh dosa. Sebab mereka tahu bahwa kehidupan semacam itu adalah penyebab dari semakin jauhnya jarak antara dia dengan Tuhannya.[]

 

Ditulis Oleh : Yatimin AS, Lahore, 20 Januari 1982 | Sumber: Majalah Fathi Islam, tanpa tahun

Penyuting :  Asgor Ali

Comment here