facebooklikebutton.co
Saturday, 18 August 2018

Ahmadiyah dan Fitnah Terhadap Soekarno

“Saya tidak tidak percaya bahwa Mirza Ghulam Ahmad seorang Nabi, dan belum percaya pula bahwa ia seorang mujaddid,” demikian tulis Soekarno

Oleh: Artawijaya | Sumber : www.hidayatullah.com

SUATU hari, tersiar kabar bahwa Ir. Soekarno yang sedang berada dalam pembuangan di Endeh, Flores, Nusa Tenggara Timur, masuk menjadi anggota Ahmadiyah. Tak hanya itu, Soekarno yang kemudian menjadi presiden pertama RI itu juga dikabarkan mendirikan cabang Ahmadiyah dan akan menjadi propagandis wilayah Celebes (Sulawesi). Kabar tentang Soekarno itu ditulis di surat kabar Pemandangan. Tentu saja banyak orang bertanya-tanya, benarkah Soekarno menjadi pengikut organisasi pengikut nabi palsu Mirza Ghulam Ahmad?

Atas tersiarnya kabar itu, maka Ustadz A. Hassan, guru utama Persatuan Islam (Persis) yang juga sahabat Soekarno, berkirim surat kepada tokoh nasional tersebut. A. Hassan yang pernah melakukan debat secara terbuka dengan Ahmadiyah di Batavia dan Bandung, terkejut dengan isu tersebut. Karenanya, ia berkirim surat ke Endeh, tempat Soekarno diasingkan. Soekarno yang terkejut dengan kabar miring itu kemudian menjawab lewat telegram bahwa kabar yang beredar tersebut adalah bohong.

Atas fitnah yang beredar itu, maka Soekarno kemudian mengirim surat pembaca kepada redaksi surat kabar Pemandangan. Berikut kutipan surat Soekarno, dengan ejaan yang sudah disesuaikan:

Endeh, 25 Novemver 1936

Yth. Tuan-tuan

Redaksi “Pemandangan” Jakarta

Beberapa hari yang lalu saya mendapat surat “vliegpost” ke Kupang, dari Kupang ke Endeh dengan kapal biasa, dari seorang kawan di Bandung, bahwa “Pemandangan” telah memuat satu entrefilet, bahwa saya telah mendirikan cabang Ahmadiyah dan akan menjadi propagandis Ahmadiyah di bagian Celebes.

Walaupun “Pemandangan” yang memuat kabar itu belum tiba di tangan saya, dus, belum saya baca sendiri—lantaran kapal dari Jawa tiga hari lagi baru datang, maka karena orang yang mengasih kabar kepada saya itu saya percaya, segeralah saya minta kepadanya membantah kabar dari tuan-tuan punya reporter itu.

Saya bukan anggota Ahmadiyah. Jadi mustahil saya mendirikan cabang Ahmaduyah atau menjadi propagandisnya, apalagi “buat bagian Celebes!” Sedang pelesir ke sebuah pulau yang jauhnya hanya beberapa mil saja dari Endeh tidak boleh!

Di Endeh memang saya lebih memperhatikan urusan agama daripada dulu. Di samping saya punya studie sociale wetenschappen, rajin jugalah saya membaca buku-buku agama. Tetapi saya punya keislaman tidaklah terikat satu golongan. Dari Persatuan Islam Bandung saya ada banyak mendapat penerangan, terutama persoon-nya Tuan A. Hassan, adalah sangat membantu kepada penerangan bagi saya itu. Kepada Tuan Hassan dan Persatuan Islam, saya di sini mengucapkan saya punya terima kasih, beribu-ribu terima kasih.

Kepada Ahmadiyah pun saya wajib berterima kasih.

Saya tidak tidak percaya bahwa Mirza Ghulam Ahmad seorang Nabi, dan belum percaya pula bahwa ia seorang mujaddid. Tapi ada buku-buku keluaran Ahmadiyah yang saya mendapat banyak faedah daripadanya: Moehammad the Prophet dari Muhammad Ali, Inleiding tot Studie van den Heileigen Qoeran, juga dari Muhammad Ali, Het Evangelie van den Daad dari Chawadja Kamaluddin, De Broonen van het Christendom dari idem, dan Islamic Review yang banyak memuat artikelen yang bagus.

Dan Tafsir Qur’an buatan Muhammad Ali, walaupun ada beberapa pasal yang saya tidak setujui di dalamnya, adalah banyak juga menolong kepada penerangan bagi saya. Memang umumnya saya mempelajari Islam itu, tidak dari satu sumber saja, tetapi banyak sumber yang saya datangi dan minum airnya.

Buku-buku Muhammadiyah, buku-buku Persatuan Islam, buku-buku Penyiaran Islam, buku-buku Ahmadiyah, buku-buku dari India dan Mesir, buku-buku dari Inggris dan Jerman, tafsir-tafsir bahasa Belanda dan Inggris, buku-buku dari lawan-lawan Islam ( Snouck Hurgronje, Becker, Dozy, Hartman, dls), buku-buku dari orang bukan Islam, tapi yang simpati dengan Islam, semua itu menjadi material bagi saya. Ada beberapa ratus yang saya pelajari itu. Inilah satu-satunya jalan yang memuaskan kepada saya di dalam saya punya studi itu.

Dan wat betreft Ahmadiyah—walaupun beberapa pasal di dalam mereka punya visi saya tolak dengan yakin, toh pada umumnya saya setujui mereka punya rasionalisme, mereka punya kelebaran penglihatan (broadmindedness), mereka punya modernisme, mereka punya streven, seboleh-boleh yang di dalam Qur’an saja dulu, mereka punya systeematische aaneemlijk making van den Islam vijandigen, dls. Buku-buku seperti Het Evangelie van Daad  tidak saya asal menyebutnya “brilian”, berfaedah sekali bagi semua orang Islam.

Maka oleh karena itulah, saya walaupun ada beberapa pasal dari Ahamadiyah tidak saya setujui, dan malahan saya tolak, misalnya mereka punya “pengeramatan” kepada Mirza Ghulam Ahmad, dan mereka punya kecintaan kepada imprealisme Inggris! Toh, merasa wajib berterimakasih atas faedah-faedah dan penerangan-penerangan yang saya telah dapatkan dari mereka punya tulisan-tulisan yang rasionil, modern, broadmindedness, dan logisch itu.

Bagi bagian fikih, terutama sekali Persatuan Islam-lah yang menjadi saya punya penuntun. Memang Persatuan Islam (Persis, red) adalah sangat sekali tinggi duduknya di dalam saya punya simpati. Kalau umpanya  saya mesti menyebutkan cacat Persatuan Islam (Persis, red) maka saya akan katakan: Persatuan Islam itu ada mempunyai neiging kepada sektarianisme.

Alangkah baiknya kalau Persatuan Islam bisa mengenyahkan neiging yang kurang baik ini, kalau memang benar ada neiging itu!

Islam adalah satu agama yang luas, yang menuju kepada persatuan manusia. Agama Islam hanyalah bisa kita pelajari sedalam-dalamnya, kalau kita bisa membukakan semua pintu-pintu budi akal kita bagi semua pikiran-pikiran dan keyakinan-keyakinan yang berhubungan kepadanya, dan yang harus kita saring dengan saringnya Qur’an dan Sunnah Nabi s.a.w

Jikalau benar-benar kita saring kita punya keagamaan itu dengan saringan pusaka ini, dan tidak dengan saringan lain, walau dari imam manapun jua, maka dapatlah kita satu Islam yang tidak berkotoran bid’ah, yang tidak berisi takhayul sedikit juapun, yang tiada “keramat-keramatan”, yang tiada kolot dan mesum, yang tidak “handramautisme”, yang selamanya up to date, yang rasionil, yang gampang, yang cinta kemajuan kecerdasan dan broadminded, yang hidup, yang levend.

Ingatlah tuan-tuan redaktur yang terhormat, saya punya keterangan yang singkat berhubung dengan kabar kurang benar dari tuan punya reporter, bahwa saya sudah mendirikan cabang Ahmadiyah atau menjadi propagandis Ahmadiyah.

Moga-moga cukuplah keterangan yang singkat ini, buat mengasih tahu kepada siapa yang belum tahu, bahwa saya bukan seorang Ahmadi (pengikut Ahmadiyah, red). Tapi hanya seorang pelajar agama yang sudah nyata bukan kolot dan bukan pun seorang pengikut yang taklid saja.

Terima kasih, tuan-tuan redaktur!

Soekarno

Demikianlah surat pembaca yang dikirim oleh Soekarno sebagai hak jawab dari kabar miring tentang dirinya yang difitnah menjadi anggota Ahmadiyah. Surat hak jawab Soekarno ini dimuat ulang di Majalah Al-Lisaan, No.13, 9 Syawal 1355 H/ 23 Desember 1936 M. Majalah Al-Lisaan didirikan oleh A. Hassan dan diterbitkan di Bandung, Jawa Barat. Majalah ini gencar menyerang segala propaganda dusta yang sering disuarakan oleh Ahmadiyah.

Soal mengklaim tokoh yang dianggap masuk Ahmadiyah bukan kali ini saja dilakukan oleh para pengikut nabi palsu tersebut. Menurut A. Hassan, bahkan sebelumnya tokoh Syiria Amir Syakieb Arsalan pun diklaim masuk Ahmadiyah. Persoalannya, Amir Syakib Arsalan datang menghadiri undangan minum teh di rumah propagandis Ahmadiyah di Berlin. Setelah Syaikh Arsalan pulang, Ahmadiyah menebarkan isu bahwa tokoh yang dikenal sebagai penulis buku “Limaadza Taakharal Muslimuna wa limadza Taqaddama Ghairuhum” itu bergabung dalam organisasi mereka. Inilah klaim dusta yang seringkali mereka lakukan.

Penulis adalah editor Pustaka Al-Kautsar dan Dosen STID Moh. Natsir Jakarta

Komentar

komentar