facebooklikebutton.co
Artikel

Tugas Suci Kaum Ahmadi

Setiap warga Ahmadi memiliki tugas suci. Apakah tugas suci itu?

Makin seseorang berpengetahuan dan berpengalaman luas, jangkauan wawasan ke masa depan akan lebih jauh, lebih terperinci dan lebih bertanggung jawab. Dengan demikian, tugas suci seseorang juga bergantung dari pemahaman atau pengetahuan mengenai hidup dan kehidupan dari diri yang bersangkutan.

Agama seseorang atau pendidikan sejak awal di keluarga sangat berpengaruh dalam pemahaman mengenai tugas seseorang dalam menemukan jawaban dari pertanyaan: siapa saya dan apa tugas dan fungsi saya di alam semesta ini.

Atau pertanyaan, tepatkah peran saya dalam kondisi kini, dan bagaimanakah dengan yang akan datang nanti, dan seterusnya.

Yang mungkin sama sekali diabaikan pada zaman sekarang ini ialah pemeliharaan terhadap dasar pokok yang sebenarnya dari umat manusia, yaitu usaha pemeliharaan memperkembangkan jiwa manusia menuju ke arah kesempurnaannya.

Perkembangan kesempurnaan menuju Allah ialah agar supaya cinta atau taat kepada Allah menjadi alasan atau motif utama, atau motif yang terkuat bagi segala perbuatan dan berbagai usaha manusia di dalam segala lapangan kehidupan apa saja, dan di mana pun juga.

Innash-shalaati wanusuki wamahyaaya wamamaati lillaahi rabbil ‘aalamiin, “Sesungguhnya shalatku, pengorbananku, hidup dan matiku, semata untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (QS 6:163)

Mohon direnungkan bahwa mungkin tidak ada seorang pun di antara kita yang dapat mengemukakan suatu motif yang lebih suci, lebih luhur, lebih murni, atau bahkan lebih kuat untuk menegakkan dan memelihara kebahagiaan hidup dari seseorang, atau keluarga, hingga masyarakat, baik nasional maupun internasional, daripada cinta kita kepada Allah.

Apa sebabnya demikian?

Jelas bahwa sesungguhnya segala urusan dan usaha di lapangan duniawi, sebenarnya berpangkal dari hawa nafsu. Dengan demikian pemeliharaan dan usaha memperkembangkan fungsi-fungsi jiwa yang lebih tinggi dari hawa nafsu, apabila diremehkan, atau dilupakan, umat manusia pasti akan rusak binasa.

Itulah sebabnya maka di antara kita harus selalu ada bagian, golongan, divisi, jamaah atau sekumpulan orang yang bertugas khusus menyiarkan Islam atau Dinul Haq, dengan tugas utama mengundang kepada kebaikan, seperti dinyatakan oleh Allah, “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh berbuat benar, dan melarang berbuat salah.” (QS 3:104).

Dakwah atau Penyiaran Islam adalah tugas suci kita yang amat sangat penting, sehingga dalam waktu peperangan sekalipun, aktivitas itu tidak boleh diabaikan.

“Dan janganlah orang-orang mukmin pergi semuanya ke medan perang. Mengapakah tidak pula berangkat satu rombongan dari tiap-tiap golongan di antara mereka, agar mereka dapat mengusahakan diri untuk memperoleh pengetahuan agama, dan agar mereka dapat memberi ingat kepada kaum mereka setelah mereka kembali kepada mereka, agar mereka berhati-hati.” (QS 9:122)

Ayat ini menyatakan dengan jelas bahwa mempersiapkan tenaga-tenaga dakwah Islam sangat diperlukan. Hanyalah dengan usaha sungguh-sungguh dari para pendakwah itulah, kebenaran Islam dapat disebarluaskan.

Tujuan akhir dari aktivitas itu, yang ini tak boleh dilupakan, adalah taat kepada Allah. Sekalipun umat Islam sedang berjuang mati-matian dalam perang melawan pasukan musuh yang jauh lebih kuat, tugas suci ini tetap harus dilaksanakan!

Lalu apakah sudah cukup usaha menyiarkan Islam itu kita batasi dengan menuntut pengertian agama, kemudian menyiarkan apa yang kita peroleh dengan menerbitkan buku, brosur, majalah, mengadakan ceramah di mana-mana, mendirikan sekolah, mengutus mubaligh ke mana-mana, dan sebagainya?

Tidak. Sekali-kali tidak! Hendaklah diingat bahwa suatu jiwa tidak akan beriman jika tidak mendapatkan izin dari Allah SWT.

“Dan tiada suatu jiwa akan beriman kecuali dengan izin Allah. Dan Ia melemparkan kekotoran pada orang yang tak mau mengerti.” (QS 10:100).

“Dan barang gaib di langit dan di bumi adalah kepunyaan Allah, dan kepada-Nya semua perkara akan dikembalikan. Maka mengabdilah kepada-Nya, dan bertawakallah kepada-Nya. Dan Tuhan dikau tak lalai terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS 11:23).

Kedua ayat ini sudah cukup kiranya untuk dapat menginsyafkan kita semuanya, bahwa mempengaruhi jiwa umat manusia dengan amal saleh, penerbitan, ceramah, pendidikan dan pengajaran, agar supaya timbul minat dan adanya keinginan yang kuat untuk menjadi muslim atau ummmatan wasathan, dan menyelenggarakan segala urusan duniawi yang berdasarkan “Kedaulatan Tuhan,” pada hakekatnya bukan urusan manusia semata-mata, namun juga urusan Allah SWT. Dan karena itu, tugas suci ini juga diatur atau diproses dengan bantuan-Nya.

Kerja sama itu hanya mungkin terjadi apabila kita memegang disiplin yang teguh dalam Islam, dengan menjaga agar kita tidak mudah terpengaruh oleh ideologi atau hal-hal lain yang menyesatkan umat manusia, dan berusaha sekuat tenaga mendekati Allah, atau memperkuat tenaga batin kita dengan shalat, doa, amal saleh, dan memusatkan tenaga dan fikiran kepada pemenuhan kewajiban yang telah dibebankan Allah Ta’ala di atas bahu kita.

Proses kegiatan penyiaran Islam, yang merupakan tugas suci itu, musti kita laksanakan dengan istiqomah, dan kemudian segala hasilnya kita percayakan kepada Allah Ta’ala.

“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah jiwamu. Orang yang sesat tak dapat membahayakan kamu, jika kamu berada pada jalan yang benar.” (QS 5:105).

Hendaklah keteguhan jiwa itu kita pelihara sebaik-baiknya. Dengan tiada keteguhan jiwa, janganlah kita mengharapkan tugas akan berhasil. Karena tanpa keteguhan jiwa yang kokoh, tidak mungkin akan menimbulkan semangat yang tinggi, yang akan memberikan hasil yang nyata dalam tugas suci, gerakan penyiaran keindahan Islam.

“Dan janganlah kamu merasa lemah dan jangan pula merasa susah. Kamu sekalian akan menang, jika kamu sungguh-sungguh mukmin.” (QS 3:139)

“Wahai orang-orang yang beriman, bersabarlah dan tingkatkanlah kesabaranmu. Dan jagalah garis depan. Dan bertaqwalah kepada Allah agar kamu beruntung.” (QS 3:200)

 

Oleh: Dr. H. Nanang Rahmatullah Ibnu Iskandar Ismullah

Comment here