facebooklikebutton.co
SENTUHAN RUHANI

Tauhid dan Ibadah

 

Pengalaman menunjukkan, manusia umumnya mempunyai dosa meski barangkali hanya sedikit. Sebagian orang terlibat dalam dosa besar dan jelas. Sebagian yang lain terjebak dalam dosa tingkat sedang. Sebagian lainnya lagi terperangkap dalam dosa halus seperti pelit, riya’, dsb. Selama manusia belum terbebas dari semua itu, dia tidak bisa memperoleh cahayanya yang hilang.

Jalan yang mana yang semestinya ditempuh agar manusia bisa disebut benar-benar meyakini keesaan Allah (mengesakan Allah)? Dalam hal ini, kita perlu memperhatikan bahwa Allah Ta’ala telah memberikan bermacam-macam hukum atau peraturan kepada kita, yang wajib kita patuhi. Tetapi dari berbagai peraturan itu, ada beberapa peraturan yang dalam pelaksanaannya tidak bisa dijalankan oleh setiap orang.

Misalnya, ibadah haji hanya diwajibkan pada orang yang ada kemampuan, aman jalannya, ada persediaan yang cukup serta pengaturannya yang rasional untuk keluarga yang ditinggalkan. Apabila syarat-syarat yang diperlukan itu terpenuhi, maka orang itu bisa pergi untuk menunaikan ibadah haji. Begitu pula zakat, yang bisa dan wajib melaksanakannya adalah orang yang memiliki harta yang sudah mencapai nisabnya. Demikian juga dalam shalat pun ada syarat-syaratnya.

Namun ada satu hal yang tidak ada perubahan, yaitu “Laa ilaaha illallooh muhammadur rosuulullooh” (tidak ada Tuhan kecuali Allah, Muhammad saw. utusan Allah), adalah akar dan dasar semua perkara. Sedangkan seberapa pun perkara lainnya (berbagai ibadah), adalah yang menyempurnakannya. Tauhid tidak sempurna selama tidak ada pelaksanaan ibadah.

Orang yang mengikrarkan “Laa ilaaha illallooh muhammadur rosuulullooh”, dalam pengikrarannya dianggap tulus bila dia membuktikan dalam amal nyata bahwa sesungguhnya tidak ada yang diabdi (ma’bud), yang dicintai (mahbub), yang dicari atau dibutuhkan (mathlub), dan yang menjadi tujuan (maqshud) kecuali Allah Ta’ala.

Ketika keadaan ini terjadi, keadaan iman dan amal orang itu benar-benar menunjukkan dan membuktikan ikrar itu, maka waktu itu dia tidak bohong dalam ikrarnya di hadapan Allah Ta’ala. Karena semua keinginan pada materi telah terbakar, padanya terjadi kefanaan, dan dengan hati tulus dari lisannya keluar pernyataan “Laa ilaaha illallooh”. “Muhammadur rosuulullooh” merupakan bagian kedua kalimah thayyibah, hal itu hanyalah untuk menunjukkan contoh. Karena dengan diberikan contoh, setiap hal menjadi sangat mudah.

Para nabi datang hanya untuk menunjukkan contoh. Nabi Muhammad saw. adalah penghimpun contoh segala kesempurnaan, karena contoh semua nabi terhimpun pada beliau. Untuk itu, nama beliau yang diberkahi Muhammad, artinya yang terpuji. Nabi Muhammad saw. terpuji di bumi dan di langit.

Di dunia ini telah berlalu banyak orang baik, yang orang-orang dunia memandang dan menganggap mereka sangat hina. Tetapi mereka terhormat dan terpuji di langit,  karena mereka tulus di hadapan Allah Ta’ala.

Sebaliknya, ada beberapa orang, dunia memuji mereka, dan mereka dikatakan hebat dari segala sisi. Tetapi langit melaknat mereka. Allah, para malaikat-Nya, dan orang-orang yang dekat Allah mengutuk mereka, dan tidak ada yang memujinya.

Namun Nabi Muhammad saw. dipuji dan dihormati baik di bumi maupun di langit.

Nabi Musa as. bertemu dan berhubungan dengan jutaan umat. Tetapi sebagian dari mereka tidak bertabiat teguh, tulus, dan berbudi mulia. Keadaan mereka di malam hari mukmin, tapi di siang hari bisa murtad.

Para sahabat yang berhubungan dengan Rasulullah Muhammad saw., mereka tulus, takwa, dan jujur. Tidak ada bandingannya di kalangan umat nabi-nabi lainnya. Dalam hadis banyak pujian untuk mereka, sampai-sampai Nabi Muhammad saw. menyatakan Alloohu fii ashhaabii (Allah ada di sahabat-sahabatku). Begitu pula, dalam Quran Syarif ada pujian untuk mereka:

Walladziina yabiituuna lirabbihim sujjadan wa qiyaaman

“Dan orang-orang yang menghabiskan waktu malam dengan bersujud dan berdiri di hadapan Tuhan mereka.” (Al Furqan, 25:64).

 

(Disarikan dari Malfuzat Ahmadiyyah, jld. 3a, hlm. 52-53).

Comment here