ARTIKELKhutbah Jumat

Meraih Kebahagiaan Sejati

Hidup bahagia adalah tujuan semua orang. Tak seorang pun di dunia ini yang tak menginginkan kebahagiaan.

Ada yang mengartikan bahwa bahagia sama dengan sukses, yaitu apabila tujuan dan cita-cita bisa terlaksana. Banyak orang bekerja keras, berlomba tanpa kenal waktu, dengan tujuan memperoleh kesuksesan. Banyak pula orang yang berambisi atas kesuksesan, dan menghalalkan segala cara untuk memperolehnya.

Ada orang yang bahagia karena jadi orang kaya berlimpah harta. Dia bekerja keras banting tulang tanpa kenal lelah, bahkan hingga melupakan ibadah, hanya karena fokus pada satu tujuan: bisa sukses usahanya dan memperoleh keuntungan besar. Orang semacam ini akan merasa bahagia, bangga dan terhormat, manakala sudah punya rumah megah, kendaraan mewah dan aset usaha yang melimpah.

Ada orang yang bahagia karena pangkat atau jabatan. Ada orang yang berkesempatan sekolah tinggi, tapi sekedar bertujuan untuk memperoleh pekerjaan dan kebanggan gelar. Ada pula orang yang tebar pesona dengan berbagi uang kepada masyarakat, untuk mendapatkan simpati demi memperoleh jabatan atau kedudukan, yang bahkan seringkali dilakukannya dengan cara licik atau intimidatif.

Dalam ukuran nafsu, keberhasilan tersebut dianggap suatu kehormatan dan kebahagiaan yang membanggakan. Apabila hal tersebut diperoleh seseorang yang tidak bertaqwa, maka bisa merubah seseorang jadi takabur. Kesuksesan tersebut akan berujung pada keserakahan dan kesombongan yang menimbulkan petaka.

Sebaliknya, jika kesuksesan diperoleh oleh orang yang beriman dan bertaqwa, maka akan menumbuhkan kesejahteraan dan kebahagiaan.

Dalam pandangan Allah, bahagia adalah kemuliaan. Dan kemuliaan yang tertinggi adalah ridla Allah karena perilaku taqwa. Inna akraamakum ‘indallaahi athqaakum, sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling taqwa di antaramu.

Kebahagiaan yang sejati adalah kebahagiaan batiniah yang bisa diperoleh dengan cara mempertebal iman dan berperilaku taqwa, seimbang antara kepentingan dunia dan kepentingan akhirat.

Wabtaghii fiimaa atakallaahu daaral aakhirah. Wa laa tansa nasiibaka minad-dunya. Wa ahsin kamaa ahsanallaaha ilayka. Wa laa tabghil fasada fil ardl. Innallaaha laa yuhibbul mufsidiin: Dan carilah bekal kebahagiaan di akhirat. Dan jangan melupakan bagian kebahagiaanmu di dunia. Dan berbuatlah baik, sebagaimana Allah berbuat baik kepadamu. Dan janganlah berbuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang yang berbuat kerusakan.”

Dari ayat tersebut, dapat dijabarkan bagaimana seharusnya cara manusia memperoleh kebahagiaan.

Petunjuk yang pertama jelas bahwa manusia diperintah oleh Allah Ta’ala agar semasa hidup di dunia ini betul-betul mempersiapkan bekal untuk kelanjutan hidup di akhirat. Dunia ibarat ladang tempat bertanam: siapa menanam kebaikan akan berbuah pahala dan siapa yang menanam keburukan akan berbuah dosa. Karena itu, dekatkan jiwa kita kepada keridlaan Allah dengan banyak dzikir dan shalatul-lail. Muliakan kedudukan kita di sisi Allah dengan berbagi rejeki atau sedekah jariyah untuk perjuangan agama.

Petunjuk yang kedua adalah semasa hidup di dunia ini, Allah memerintahkan agar kita tidak melupakan kebahagiaan di dunia. Silahkan mencari kehormatan dengan menyandang pangkat dan jabatan, tapi selayaknya semua itu diperoleh karena prestasi dan reputasi, serta keluhuran akal budi. Silahkan jadi orang kaya, asal hartanya diperoleh dengan cara yang baik, benar dan halal, serta ditasharufkan pada sosial keagamaan, bukan digunakan untuk foya-foya dan merusak mental. Silahkan mencari kesenangan, asal bukan kesenangan yang berbau kemaksiatan.

Petunjuk yang ketiga adalah bahwa manusia diwajibkan berbuat baik, punya sifat kepekaan sosial, ringan tangan dan ikhlas berkorban, saling tolong menolong dengan sesama, terlebih kepada yang lemah, sehingga keberadaannya memberi faedah kepada yang lain, bukan malah jadi masalah bagi orang lain. Hal ini selaras dengan sabda Nabi, “khairun-naasi anfa’uhum linnaasi wa ahsanahum khulq: sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain, dan yang baik akhlaknya.”

Petunjuk yang keempat adalah bahwa semasa hidup di dunia ini jangan pernah berbuat kerusakan, kemungkaran dan segala bentuk keburukan, karena akan berakibat merugikan diri sendiri dan orang lain. Sebisa mungkin dalam hidup ini kita hindari perbuatan yang menyimpang dari norma agama dan norma masyarakat.

Dalam pengertian agama, bahagia itu dimulai dari hidup di dunia dan berlanjut pada hidup di akhirat. Maka kesimpulan yang bisa diambil agar bisa mencapai hidup bahagia dunia akhirat adalah:

Pertama, usaha yang seimbang (balance). Baik kebutuhan urusan dunia dengan kebutuhan urusan akhirat harus sama-sama diupayakan, bukan memilih salah satu di antaranya. Selaras dengan sabda Nabi, “i’mal li dunyaaka ka annaka ta’iisyu ‘abadan, wa’mal li aakhiraatika ka annaka tamuutu ghadan: berusahalah kamu untuk duniamu, seakan kamu akan hidup selamanya. Dan berusahalah untuk akhiratmu, seakan kamu akan mati esok hari.”

Harta adalah pelengkap kebahagiaan hidup dan kehormatan di dunia, tapi bukanlah tujuan serta bukanlah segala-galanya. Harta harus diposisikan sebagai penunjang mencapai kehidupan akhirat. Ibadah, dan segala bentuk perjuangan, pasti memerlukan dukungan harta. Tapi semangat dan ikhlas berkorban jiwa raga pasti jauh lebih berharga.

Kedua, kebahagiaan sejati adalah kebahagiaan batin (inner life), kebahagiaan yang bersifat rohani. Bukan bahagia karena telah sukses memiliki pangkat jabatan dan melimpahnya harta, tapi kebahagiaan yang berkelanjutan hingga sampai ke akhirat nanti. Kebahagiaan semacam ini bisa diperoleh dengan cara pasrah jiwa raga kepada Allah Ta’ala, dengan jalan memperbanyak dzikir serta beramal saleh, karena ada harapan bahwa semua perbuatan baik yang kita lakukan akan mendapat balasan surga.

Itulah kunci kebahagiaan sejati: berpasrah diri kepada Allah dan senantiasa berbuat baik. “Balaa man aslama waj-hahuu lillaahi wa huwa muhsin, fa lahuu ajruhuu ‘inda rabbihii wa laa khaufun ‘alayhim wa laahum yahzanuun: Ya, barangsiapa sepenuhnya berserah diri kepada Allah dan berbuat baik, dia akan memperoleh pahala dari Tuhannya. Dan tak ada ketakutan akan menimpa mereka, dan mereka tak akan sedih.”

 

Ditulis ulang dari Naskah Khutbah Jumat, tanpa tanggal, oleh Mutohir Alabas

Comment here