facebooklikebutton.co

Tag Archives: pendidikan

Pendidikan Agama yang Membebaskan

”Bu, Tuhan-nya orang Kristen itu kok kayaknya lebih ramah, lebih bersahabat dan lebih wellcome ya Bu. Kenapa ya? Kalo Gusti Alloh kita tuh kayaknya jauuuh banget, galak dan suka ngancem-ngancem….”

Oleh: Anis Farikhatin | Guru Pendidikan Agama Islam di SMA PIRI 1 Yogyakarta

Suatu ketika salah seorang siswa menyatakan kepada saya: ”Bu, Tuhan-nya orang Kristen itu kok kayaknya lebih ramah, lebih bersahabat dan lebih wellcome ya Bu. Kenapa ya? Kalo Gusti Alloh kita tuh kayaknya jauuuh banget, galak dan suka ngancem-ngancem.”

Saya diam sejenak karena terus terang saya belum siap menerima pertanyaan itu. Sayapun balik bertanya: Benarkah? Dari mana kamu bisa menyimpulkan itu?. Dia menjawab:” Saya diam diam kan sering juga memperhatikan ceramah rohani agama nasrani dan juga agama lain, kayaknya ga pernah ada ancaman; Tapi para da’i selain Aa’ Gym kayaknya serem deh.” Saya kejar terus dengan pertanyaan: apakah hal yang sama juga dirasakan juga oleh siswa lain. Sebagian mereka setuju dan sebagian besar menjawab tidak tahu. Continue reading “Pendidikan Agama yang Membebaskan” »

Kunjungan SMA Plus Al-Wahid ke SMA PIRI 1 Yogyakarta

Yogya – Dalam rangkaian study tour SMA Plus Al-Wahid ke Yogyakarta, pihak sekolah bersama dengan muballigh wilayah Priangan Timur ditemani Muballigh wilayah Yogyakarta, Mln. Shagir Ahmad berkunjung ke SMA Perguruan Islam Republik Indonesia (PIRI) 1 Yogyakarta pada hari Rabu (26/11/2014).
Rombongan menuju SMA milik Gerakan Ahmadiyah Indonesia ini ba’da Zuhur berangkat dari Masjid JAI Yogyakarta. Kita diterima dengan sangat baik oleh pihak SMA PIRI 1 yang dihadiri oleh Kepala Sekolah Drs. M. Ali Arie Susanto dengan staff lengkapnya.
Menurut Kepala Sekolah Al-Wahid, Cecep A. Santosa, SS kunjungan ini dalam rangka studi banding mengingat PIRI ini telah ada sejak tahun 1947. Banyak hal yang akan dapat diambil sebagai bekal di SMA Plus Al-Wahid mengingat banyaknya kesamaan antara kedua sekolah.
Ibu Anis, Humas dari SMA PIRI mengatakan bahwa kunci keberhasilan dari seorang guru adalah ketika mereka bisa dekat dengan muridnya seperti teman. Harus ada keikhlasan dalam diri seorang guru dalam memberikan pendidikan kepada siswanya. Dalam bahasa beliau ada 3 tingkatan “Ikhlas, diikhlase, diikhlas-ikhlase” dalam loghat Jawa yang kental.
Kepala Sekolah PIRI pun mengatakan memang ada banyak kendala yang dihadapi apalagi dengan persaingan yang cukup hebat dengan sekolah-sekolah negeri di Yogyakarta tetapi SMA PIRI tetap menjaga tradisi dan kekhasan yang dimilikinya. Ada yang menarik di SMA PIRI 1 yaitu adanya becak elektrik bertenaga surya yang merupakan hasil kreasi dari siswa-siswi PIRI sendiri.
Di akhir kunjungan SMA Plus Al-Wahid pun memberikan kenang-kenangan berupa jajanan khas sunda serta plakat yang sudah disiapkan sebelumnya. Diharapkan nanti SMA PIRI 1 Yogyakarta dan juga berkunjung ke SMA Plus Al-Wahid. (Syihab) | Sumber : http://ahmadiyyapriatim.blogspot.com

Pendidikan Kesehatan dan Reproduksi di Tengah Tantangan dan Harapan

Sementara itu masyarakat dan para orang tua bersikap kurang peduli dan masih menganggap masalah kesehatan reproduksi dan seksualitas sebagai masalah yang tabu untuk dibicarakan. Tidak terkecuali para tokoh agama. Dalam masyarakat Islam menyelesaikan persoalan remaja lebih sering menggunakan pendekatan fiqih (hukum) yang menghakimi dari pada memberikan bimbingan, arahan yang bersifat dialogis solutif.

Oleh : Anis Farikhatin | Guru Pendidikan Agama Islam di SMA PIRI 1 Yogyakarta

Perkembangan tehnologi telah banyak memberikan kemudahan bagi manusia untuk memenuhi kebutuhannya. Tehnologi elektronik misalnya; telah mempermudah akses pada informasi tak terbatas. Akan tetapi di sisi lain memunculkan persoalan yang sangat komplek di segala lini kehidupan, terutama bagi remaja. Persoalan yang muncul bisa bersifat medis, psikologis, maupun sosial-ekonomi. Hal ini disebabkan karena banjir informasi yang mereka terima tanpa saringan tersebut tidak diikuti dengan kesiapan intelektual, mental dan spiritual yang memadai.

Salah satu akibat dari banjir informasi yang tidak dihadapi dengan segala kesiapan ini adalah pola pergaulan remaja yang cenderung semakin bebas seiring dengan sikap para orang tua dan masyarakat yang semakin permisif (longgar). Tak pelak lagi kebebasan pergaulan ini sering berujung pada kejahatan seksual. Gejala yang bisa dilihat adalah banyaknya kasus kehamilan yang tidak dikehendaki, maraknya tempat praktek pengguguran kehamilan (unsafe abortion) secara ilegal serta munculnya trauma akibat berbagai bentuk kekerasan seksual dan persoalan sosial-ekonomi yang muncul akibat berhenti sekolah. Continue reading “Pendidikan Kesehatan dan Reproduksi di Tengah Tantangan dan Harapan” »

Menjadi Sahabat Murid yang Rendah Hati

Untuk membentuk karakter siswa, seorang guru tidak cukup melakukan proses transformasi, tapi harus melalui proses transaksi nilai hingga intertransformasi. Dengan demikian guru hadir di kelas tidak sekedar fisiknya ataupun pikirannya, tetapi ia juga hadir dengan segala yang ada padanya; fikirannya, sikap, ucap serta perilakunya.

Oleh: Anis Farikhatin | Guru Pendidikan Agama Islam di SMA PIRI 1 Yogyakarta

Sebagai seorang guru tentu saja saya pernah merasakan saat menjadi murid. Berbagai pengalaman unik, mengharukan, membahagiakan sampai yang memalukan terekam kuat dalam ingatan sekaligus pelajaran berharga bagi saya. Akan tetapi sekaarang ini situasinya jauh berbeda dengan dulu waktu saya sekolah. Dulu keberadaan guru demikian dominan dan sentral. baik di masyarakat maupun di dalam kelas. Minimnya akses informasi karena keterbatasan tehnologi membuat guru merupakan sosok yang dianggap ”yang paling tahu”; oleh karenanya tempat banyak orang bertanya.

Sebutan ”Mas Guru” merupakan simbol penghormatan bagi guru. Di kelas guru merupakan sumber informasi utama bagi murid muridnya dan sekaligus berperan sebagai subyek belajar. Dengan posisinya itu guru menjadi sangat berkuasa dalam memainkan otoritasnya, termasuk dalam menjatuhkan sangsi hukuman bagi anak didiknya. Saya ingat betul sosok guru SD saya kelas 4 yang suka mencubit lengan atas siswanya yang melanggar. Karena demikian sakitnya sampai ”kucingen” (mengerang erang kaya kucing kesakitan) dan bekasnya 2 minggu tidak hilang. Anehnya tak ada orang tua yang protes. Para orang tua itu begitu percaya pada guru, sehingga apapun yang dilakukan guru dilihatnya sebagai cara ”mendidik” untuk bisa mengubah anaknya menjadi lebih baik. Ketika nenek saya tahu ada kira kira 3 buah bekas cubitan itu di lengan, beliau berkomentar: ” Lha kamu bandel sih, makanya jika tidak ingin dihukum lagi, besok besok jangan bandel !” Continue reading “Menjadi Sahabat Murid yang Rendah Hati” »

Upaya Peningkatan Kualitas Pendidikan Agama

Dalam perspektif  andragogi, pendidikan  merupakan proses humanistic. Demikian pula  dengan proses belajar  dan pembelajaran tercakup pula dalam proses pemanusiaan manusia. Oleh karena itu kegiatan pendidikan dikembangkan sebagai proyeksi humanisasi. Dengan demikian dalam pemilihan metode, tidak hanya mempertimbangkan ketepatan metode tersebut  untuk tujuan materi ajar, tetapi juga moralitas pendekatan tersebut  dalam hubungannya dengan pemeransertaan  dalam proses  tersebut.

Oleh : Anis Farikhatin | Guru Pendidikan Agama Islam di SMA PIRI 1 Yogyakarta

Upaya meningkatkan Kualitas Pendidikan Agama Islam di SMA PIRI 1 Jogjakarta dimulai dengan melakukan survey. Dari hasil survey melalui pengamatan langsung di dalam  proses pembelajaran  terdapat kecenderungan  sebagai berikut: (1) mereka lebih banyak diam dan pasif, (2) mereka tidak banyak bertanya atau menjawab jika tidak ditunjuk, (3) mereka lebih suka mencatat, atau sebagian lagi mengantuk, (4) catatan yang mereka buat ternyata sulit dipahaminya ketika dilakukan fetback, (5) mereka tidak siap dengan pelajaran, terbukti banyak yang tidak membawa buku pegangan, atau tidak mengerjakan pekerjaan rumah, (6) ada yang sering tidak masuk menghindari pelajaran agama karena belum bisa tugas hafalan

Dari hasil wawancara dengan siswa, dan masukan dari teman sejawat  menunjukkan, bahwa (1) masih banyaknya siswa yang menerima pelajaran agama sebagai beban karena banyaknya tuntutan tugas dan hafalan  yang harus  diterimanya dari guru agamanya. Selain itu (2) para siswa merasa bahwa materi pelajaran yang di berikan di kelas kurang menyentuh kehidupan  nyata sehari hari yang dihadapi siswa, sehingga terkesan seolah olah agama itu hanya  sekedar bisa sholat dan membaca Qur”an, ditambah lagi rajin absen salat jamaah dhuhur di masjid sekoolah. (3) Pendekatan yang digunakan masih mekanistik dan berorientasi pada aspek kognitif, sedangkan aspek affektif belum mendapat porsi yang selayaknya. Hal tersebut juga tercermin pada model evaluasi yang dikembangkan yang lebih didominasi aspek kognitif.

Pada tahun 2006  pemerintah  mencanangkan secara resmi pelaksanaan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).  Penerapan model KTSP di sekolah merupakan upaya nyata pemerintah memberikan kesempatan dan peluang yang luas bagi guru untuk mengembangkan dan melaksanakan program pembelajarannya sesuai kebutuhan menuju peningkatan kualitas pendidikan, baik kualitas proses maupun kualitas hasil.

Dari segi proses, pembelajaran dikatakan berhasil dan berkualitas jika seluruhnya atau sebagian besar peserta didik terlibat secara aktif (partisipatif) baik secara fisik, mental, maupun social dalam proses pembelajaran, disamping menunjukkan kegairahan  dan semangat belajar yang tinggi, serta memiliki  rasa percaya diri. Dari segi hasil,  pendidikan agama dikatakan berhasil apabila terjadi perubahan sikap dan perilaku yang dilandasi oleh keimanan yang diyakininya.

Permasalahan pembelajaran di SMA PIRI I Yogyakarta serta upaya pemecahannya teridentifikasi sebagai berikut:

Kondisi Awal Tindakan Hasil
1. Siswa kurang bergairah dalam kegiatan pembelajaran:

  • Materi pelajaran yang kognitif teoritis dan terpisah dari pengalaman siswa.
  • Metode pembelajaran yang mekanistik dan monoton
  • Pemanfaatan fasilitas pembelajaran kurang optimal.

2. Partisipasi siswa dalam kegiatan pembelajaran rendah:

  • Model pembelajaran ”banking concept” yang berpusat pada guru
  • Kurang melibatkan penge tahuan dan pengalaman siswa.

3. Siswa kurang percayaan diri dalam kegiatan pembelajaran

  • Iklim belajar kurang kondusif

Pendekatan lebih dominan teologis normatik, kurang diimbangi pendekatan cultural empiris  yang mengedepankan sisi

Desain Pembelajaran dengan:

  • Pendekatan: Andragogis-Konstruktivistik yang bertumpu pada 6 prinsip dasar kegiatan.

–  Perencanaan bersama

–  Ciptakan iklim belajar  yang

kondusif

–   Mengidentifikasikan dan

merumuskan kebutuhan dan

harapan bersama.

–   Pemotivasian melalui

pemberian pemahaman

kepada siswa akan pentingnya

mempelajari sebuah topik

–  Mengelola ”Belajar dari

Pengalaman”

–  Evaluasi bersama

  • Materi yang relevan dengan tingkat kebutuhan dan berwawasan multikultural
  • Strategi Experiental Learning Cyclus :

–  melakukan/mengalami-  mengungkapkan

–  menganalisis

–  menyimpulkan

–  menerapkan

  • Metode Partisipatif: Diskusi kelompok, Studi  Kasus dan Permainan Peran.
Meningkatnya:1.Kualitas  Proses pembelajaran dilihat dari:

  • Partisipasi siswa
  • gairah  dan motivasi belajar  siswa.
  • kepercayaan diri siswa

2. Kualitas hasil dilihat dari perubahan sikap dan perilaku siswa.

Hasil Temuan Awal Evaluasi  Proses Tindakan Evaluasi Hasil/Efek

Penetapan pendekatan andragogi  didasarkan pada asumsi: pertama, dari sisi peserta didik, pembelajaran ini dirancang untuk siswa SMA kelas XII dimana sesuai teori Peaget  mengenai perkembangan psikologi, seorang anak yang memasuki usia kurang lebih 12 tahun ke atas individu sudah dapat berfikir dalam bentuk dewasa yaitu dalam istilah dia ”sudah mencapai perkembangan pikir formal-operation. Dalam tingkatan perkembangan ini individu sudah dapat memecahkan segala persoalan secara logik, berfikir secara ilmiah, dapat memecahkan masalah-masalah verbal yang kompleks atau secara singkat sudah tercapai kematangan struktur kognitifnya. Dalam periode ini individu mulai mengembangkan pengertian akan diri (self) atau identitas (identitiy) yang dapat dikonsepsikan terpisah dari dunia luar di sekitarnya. Berbeda dengan anak-anak, di sini remaja (adolescence) tidak hanya dapat mengerti keadaan benda-benda di dekatnya tetapi juga kemungkinan keadaan benda-benda itu di juga.

Dalam masalah nilai-nilai remaja mulai mempertanyakan dan membanding-bandingkan. Nilai-nilai yang diharapkan selalu dibandingkan dengan nilai yang aktual. Secara singkat dapat dikatakan remaja adalah tingkatan kehidupan dimana proses semacam itu terjadi, dan ini berjalan terus sampai mencapai kematangan (dewasa). Dalam diri orang dewasa yang sudah tumbuh kematangan konsep dirinya, timbul kebutuhan psikologi yang mendalam yaitu keinginan dipandang dan diperlakukan orang lain sebagai pribadi utuh yang mengarahkan dirinya sendiri. Namun, tidak hanya orang dewasa tetapi juga pemuda atau remaja juga memiliki kebutuhan semacam itu. Dengan begitu jelaslah kiranya bahwa remaja seusia SMA juga memiliki kemampuan memikirkan dirinya sendiri, dan menyadari bahwa terdapat keadaan yang bertentangan antara nilai-nilai yang dianut dan tingkah laku orang lain.

Dalam perspektif  andragogi, pendidikan  merupakan proses humanistic. Demikian pula  dengan proses belajar  dan pembelajaran tercakup pula dalam proses pemanusiaan manusia. Oleh karena itu kegiatan pendidikan dikembangkan sebagai proyeksi humanisasi. Dengan demikian dalam pemilihan metode, tidak hanya mempertimbangkan ketepatan metode tersebut  untuk tujuan materi ajar, tetapi juga moralitas pendekatan tersebut  dalam hubungannya dengan pemeransertaan  dalam proses  tersebut.

Kedua, untuk memahami  pendidikan agama sebagai proses penyadaran manusia maka secara metodologis pelaksanaannya harus berlangsung secara demokratik, partisipatoris, dan dialogis yang  memungkinkan  terjadinya praksis dan proses aksi dari kegiatan pembelajaran tersebut. Kemampuan demikian memerlukan  pengkayaan pengalaman untuk  menghadapi dan  menyelesaikan  berbagai masalah kehidupan yang hanya mungkin diperoleh  dan berkembang  dalam iklim  belajar yang terbuka, dialogis dan demokratis. Oleh karenanya proses pembelajaran diarahkan  pada upaya mendorong siswa dan memberikan kesempatan kepadanya untuk memperoleh dan mengembangkan ketrampilan hidup (life skill) berdasarkan nilai nilai Islami melalui pengalaman. Pengalaman itulah yang pada akhirnya menjadi titik tolak proses belajar selanjutnya.

Ketiga, berkaitan dengan peran pendidikan agama  sebagai “wahana“ belajar hidup bagi siswa yang menempatkan realiatas kehidupan (pengalaman) sebagai basis pembelajaran yang diembannya, maka strategi ELC (daur belajar berdasarkan pengalaman) dengan metode partisipatif memberi kesempatan kepada siswa untuk terlibat secara aktif  melakukan latihan untuk berinteraksi, khususnya hubungan antar sesama melalui tindakan (action)  dimana  ilmu pengetahuan (dalam hubungannya dengan Pendidikan Agama Islam hádala aqidah-ahlak) tidak sekedar  diceramahkan, tetapi  diterjemahkan dan diwujudkan dalam bentuk tindakan (pengalaman). Strategi ELC mendorong siswa dan memberikan kesempatan kepadanya untuk memperoleh dan mengembangkan ketrampilan hidup (life skill) berdasarkan nilai nilai Islami melalui pengalaman.

Keempat, secara tehnis pemilihan  model pembelajaran didasarkan pada:   (1) ketersediaan waktu yang ada, dimana alokasi waktu untuk PAI adalah 6 jam per minggu, ditambah 2 jam untuk muatan lokal ditambah lagi dengan 2 jam extra kurikuler. Disamping itu masih ditambah lagi kegiatan pengajian kelas rutin setiap bulan di rumah salah satu siswa. Dengan demikian cukup leluasa bagi guru untuk melakukan kreatifitas mengembangkan strategi pembelajaran, (2) ketersediaan sarana yang ada seperti masjid sekolah, ruang Laboratorium Agama, Ruang Audio visual yang dilengkapi OHP, LCD, TV, VCD, cukup mendukung proses pembelajaran.[Sumber: https://forumgurumerdeka.wordpress.com]

Ajarkan Anak Cinta Pada Rasul

REPUBLIKA.CO.ID, Seorang pakar keluarga dari Singapura mengingatkan, ada tiga hal yang harus diajarkan pada anak Muslim. ”Ajarkan sayang Allah, Alquran, dan Rasul,” kata H Mansor Sukaimi.

Pendapat Uncle M, begitu Mansor Sukaimi biasa disapa para muridnya di Singapura dan Malaysia, sebenarnya mengutip dari sebuah sebuah hadis. Dan, ketiga hal itu, menurut dia, sesungguhnya memang diperlukan anak-anak yang tumbuh menjadi Muslim dewasa.

Mengajarkan anak mencintai Nabi Muhammad SAW, bukan hanya sebagai penanaman salah satu rukun iman. Namun, menurut Mansor, juga menanamkan keteladanan. Yakni, menanamkan budi pekerti mulia. Karena itu, Mansor melihat ketiga cinta Allah, Alquran, dan Rasulullah SAW sulit untuk dipisah-pisahkan. ”Memanglah sayang Allah SWT, sayang Alquran, dan sayang Rasulullah SAW perlu dijadikan tunjak kehidupan seharian kita,” katanya dalam wawancara lewat e-mail.

Tak mudah memang menanamkan cinta pada tokoh yang terpisah berabad-abad jauhnya. Namun, jangan pernah surut berupaya. Praktisi pendidikan dari kota gudeg, Dra Anis Farikhatin melihat empat konsep dasar dalam mendidik anak untuk mencintai Allah dan Rasul. Yakni, dipraktikkan, dicontohkan, dibiasakan, dan yang terakhir, didoakan dan dimotivasi.

Menurut Anis, ibu merupakan sekolah pertama bagi anak-anak. Yakni, di mana untuk menjalaninya seorang ibu itu seharusnya pinter (cerdas), pener(bisa aplikaskan ilmu dengan metode yang tepat), dan kober (mempunyai cukup waktu mendidik anak). Secara tradisional, keempat konsep itu banyak dilakukan para ibu. Persoalannya, kata dia, dengan berubahnya struktur dan pola interaksi di dalam keluarga semenjak para ibu bekerja di luar rumah.

Namun, kini pun dengan kerja sama peran antara ibu dan ayah, penanaman nilai-nilai mulia itu secara bersama. Pendekatannya, kata Anis, melalui keberagaman anak. Dengan demikian, anak bisa lebih mudah tertarik.

Sebagai perbandingan, pelatih di Pusat Dakwah dan Pendidikan Silaturrahim Pencinta Anak (SPA) ini becermin pada pengalamannya semasa kecil. ”Berangkat dengan diri saya, dulu agama itu sekadar formal. Orang mengenalkan agama di sekitar kita dengan normatif, berupa larangan dan perintah, bukan agama sebagai rahmatan lil alamin,” katanya, ”Sehingga seakan-akan agama itu bagi anak menjadi beban dan ancaman.”

Menurut Anis, dalam mengajarkan anak untuk mencintai Rasul/Nabi Muhammad SAW pada awalnya melalui cerita-cerita/dongeng tentang pribadi Rasul, kejadian-kejadian luar biasa yang pernah dialami Rasul, dan sebagainya. Hal ini disampaikan sejak anak masih kecil, misalnya pada saat anak menjelang tidur.

Agar lebih mengena ke hati, Mansor menyarankan, cerita-cerita yang disampaikan tak sekadar data. Tapi, cerita yang dapat menggugah perasaan cinta anak. Misalnya, tentang beratnya perjuangan dan pengorbanan Nabi Muhammad SAW. Dan, jangan lupa pula, tentang ”Betapa rasa cinta Rasulullah SAW terhadap umatnya,” kata pendiri Nury Institute of Family and Children Development di Singapura ini. Termasuk, betapa besarnya cinta Rasul pada umat yang hidup sepeninggalnya.

Selain itu, Anis yang juga dosen Pendidikan Guru Taman Kanak-kanak Islam ini, pembiasaan akan akhlak mulia Nabi yang kelak berguna sebagai bekl anak bisa dimulai sejak kecil. Caranya, katanya, melalui pembiasaan mengikuti kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad seperti: makan, mengenakan baju, sepatu dan sebagainya dengan tangan kanan, berbicara dengan lembut, berperilaku sopan santun, bisa mengendalikan amarah, dan lain-lain.

Hal itu tentu saja tidak hanya disampaikan sekali-dua kali, melainkan setiap hari. Orang tua juga harus memberi contoh dan mempraktikkan tentang kebiasaan-kebiasaan yang baik dari Rasul, baik dari perilaku, maupun perbuatannya. ”Sehingga mencintai Rasul itu bukan sekadar diungkapkan, melainkan juga dipraktikkan dengan sikap dan perbuatan yang mencontoh Rasul, sehingga anak-anak kita akan menjadi anak yang saleh/salehah, bahagia dunia dan akhirat, sikap dan perilakunya baik, doanya didengar oleh Allah,”tutur Anis.[]

Menyoal Peran Afektif Pendidikan Agama

Harus diakui memang, seiring dengan laju perkembangan zaman, dunia pendidikan (tak terkecuali pendidikan Agama) dinilai sering terlambat merespons persoalan kekinian yang menjadi kebutuhan anak didik. Padahal agama baru akan bernilai fungsional jika ia mampu berdialog/bernegosiasi dengan realitas kehidupan.

Oleh : Anis Farikhatin | Guru Pendidikan Agama Islam di SMA PIRI 1 Yogyakarta

Pendidikan dalam arti sekolah sampai hari ini masih dipandang sebagai media yang paling berkompeten dan berpretensi untuk meng-install kepribadian anak bangsa menuju masa depan yang lebih baik. Hal itu dikarenakan sekolah merupakan salah satu lembaga pendidikan yang paling terorganisir dan mudah dikontrol. Terlebih lagi dengan keberadaan Pendidikan Agama sebagai salah satu mata pelajaran di sekolah. Masyarakat sangat berharap Pendidikan Agama mampu membekali sekaligus menjadi benteng moral dari pengaruh negatif kehidupan modern yang hedonis-materialistis di tengah perkembangan masyarakat yang cenderung individual-permisif.

Persoalannya adalah ketika Pendidikan Agama mulai kehilangan orientasi sehingga terjadi ketidaksebandingan antara harapan ideal Pendidikan Agama yang mengedepankan pembentukan moral (fungsi afektif di mana agama sebagai laku) dengan praktek Pendidikan Agama di sekolah yang masih mementingkan prestasi akademik (fungsi kognitif di mana agama sebagai ilmu). Titik kritisnya terjadi pada saat munculnya kebijakan dari Kementrian Agama untuk men-standarnasional-kan Ujian Tulis Pendidikan Agama dua tahun terakhir ini. Jika tidak bijak mensikapinya, Pendidikan Agama akan semakin jauh dari harapan karena guru dan murid akan lebih terfokus (baca: terhantui) pada materi kognitif yang justru akan semakin membebani baik sekolah, guru maupun muridnya. Bagi guru yang mampu mensikapinya dengan arif akan terasa lebih santai karena guru tidak akan terbebani oleh kekhawatiran nilai kognitif siswanya yang rendah karena memang kemampuan kognitif siswa tidak selalu paralel dengan tingkatan moralitasnya. Setidaknya hal ini dibuktikan oleh  banyaknya kasus, seperti Gayus Tambunan yang secara kognitif cerdas karena dia lulusan salah satu sekolah terbaik di Indonesia, tetapi secara moral tidaklah demikian. Continue reading “Menyoal Peran Afektif Pendidikan Agama” »