facebooklikebutton.co

Moehammad Bachroen

“Orang yang berusaha sekeras-kerasnya untuk bertemu dengan Allah, jiwanya berangsur-angsur menjadi peka, sehingga apabila mendengar nama Allah disebut, hatinya merasa “mak greg”, seperti pesawat radio, jika sudah pas dengan gelombang yang diinginkan ….” (Moehammad Bachroen, Juni 1978)

Moehammad Bachroen. Lahir di Purwokerto, 12 Februari 1911. Wafat pada hari Ahad tanggal 6 Mei 1979. Selama hampir sebelas tahun, Bachroen kecil menghabiskan waktu belianya di Pondok Pesantren Jamsaren, Solo, dan menamatkan sekolah di Madrasah Mamba’ul ’Ulum. Selepas mondok, beliau kembali ke kampung halamannya, Purwokerto, dan mengabdikan diri sebagai ustadz di sana.

Sejak tahun 1930, bersama sahabat karibnya, Moehammad Irshad, beliau aktif mendampingi Mirza Wali Ahmad Baig, yang mengisi pengajian rutin setiap Sabtu malam yang diselenggarakan di kediaman bapak Warnadi, Sokaraja. Dari Ahmad Baig inilah beliau mengenal Gerakan Ahmadiyah, memperdalam Islam dan mengasah keahliannya dalam berbahasa Inggris.

Tahun 1933, Mirza Wali Ahmad Baig pindah ke Jakarta untuk membantu bapak Soedewo mempersiapkan terbitnya Quran Suci bahasa Belanda. Bachroen muda pun kemudian menggantikan beliau menggembleng kader-kader GAI yang dipusatkan di Masjid As-Salam, Pejagalan, Purwokerto. Beliau juga aktif menulis artikel untuk Majalah “Muslim”, majalah berbahasa Jawa yang diterbitkan GAI Cabang Purwokerto. Seringkali beliau menggunakan nama samaran “Siti Radhiyah” dalam berbagai tulisannya.

Sejak usia muda, beliau menjadi pegawai pemerintah di Dinas Kesehatan Karesidenan Banyumas sebagai Manteri Malaria. Pekerjaan itu harus terhenti pada tahun 1942, dengan datangnya tentara Dai Nippon, Jepang di Indonesia. Di masa pendudukan Jepang ini, bersama Moehammad Irshad dan kawan-kawan lainnya, beliau masuk dinas militer tentara Pembela Tanah Air (PETA). Sejak saat itu, beliau mengabdikan diri untuk bangsa Indonesia di dinas militer. Berikut catatan karier beliau di dinas militer:

  • 1943-1945 : diangkat sebagai Gudanco Deidan dengan pangkat Kapten.
  • 1945 -1946 : diangkat sebagai Komandan Resimen 15 dengan pangkat Letnan Kolonel.
  • 1946-1948 : diangkat menjadi Komandan Resimen 16
  • 1948-1949 : diangkat sebagai Komandan STC Banyumas merangkap Komandan WKL.
  • 1950-1951 : diangkat sebagai Kepala Staf Territorium IV, pangkatnya naik menjadi Kolonel.
  • 1951-1956 : diangkat sebagai Panglima Territorium V Diponegoro, Semarang.
  • 1957-1958 : diangkat sebagai Direktur Corps Intendan Angkatan Darat (CIAD).
  • 1959 : Pensiun dari Dinas Militer dengan pangkat Brigadir Jendral, dengan tugas terakhir sebagai Hakim Perwira pada Pengadilan Tinggi Militer.

Meski sudah pensiun dari Dinas Militer, Bachroen tak berhenti mengabdi pada bangsa dan negara. Tahun 1960, beliau diangkat menjadi Sekretaris Militer Presiden Republik Indonesia, Ir. Sukarno. Selama menjabat, beliau mendampingi Presiden kala menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci Mekah. Pada tahun itu juga, beliau masuk dalam keanggotaan Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS), hingga tahun 1966.

Selepas berhenti menjadi anggota MPRS, beliau diangkat menjadi Ketua Umum GAI menggantikan bapak R. Ng. H. Minhadjoerahman Djojosoegito yang wafat pada 21 Juni 1966. Sejak tahun 1967, setiap bulan beliau rutin memberikan pengajaran agama di lingkungan Yayasan PIRI. Setiap Selasa memberikan pelajaran Bahasa Arab, setiap Rabu memberi pelajaran keahmadiyahan, dan Minggu pagi memimpin kajian Tafsir Qur’an.

Pada tanggal 20 Oktober 1977, beliau dianugerahi Bintang Gerilya oleh Pemerintah RI karena jasa-jasanya membela dan memperjuangkan Negara RI. Pemerintah Daerah Purwokerto mengabadikan nama beliau sebagai nama jalan di Kota Purwokerto, yakni “Jalan Brigjend H.M. Bachrun”, yang membentang dari bunderan Berkah sampai dengan Sinar Kasih, Mersi.

Bapak Bachroen (ketiga dari kiri) tengah memimpin sebuah forum dalam Jalsah Tahun 1970

Bapak Bachroen (ketiga dari kiri) tengah memimpin sebuah forum dalam Jalsah Tahun 1970

Warisan beliau yang cukup fenomenal adalah hasil karya terjemah beliau, yakni Qur’an Suci: Terjemah dan Tafsir Bahasa Indonesia, terjemah dari The Holy Qur’an karya Maulana Muhammad Ali. Beliau menerjemahkannya hingga hampir sepuluh tahun lamanya, sebagai amanat Muktamar GAI tahun 1958 di Yogyakarta. Sayang sekali, beliau tak sempat menyaksikan terbitnya Quran Suci yang sangat tinggi nilainya itu.

Setelah menderita sakit beberapa minggu sebelumnya, pada hari Ahad, 6 Mei 1979 pukul 18.30, beliau menghembuskan nafas terakhirnya. Beliau wafat sesudah cukup lama dirawat di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta. Beliau wafat dalam usia 68 tahun. Jenazah beliau disemayamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta.

Di samping karya terjemah Qur’an Suci, banyak juga buku-buku yang lahir dari tangan beliau, antara lain:

  1. Rahasia Hidup (terjemah dari The Gospel of Life karya Khawaja Kamaluddin)
  2. Peradaban Barat yang diletakkan oleh Sarjana Islam (terjemah dari The Arab Heritage of Western Civilization karya Rom Landau)
  3. Safinatu Nuh (terjemah dari Safinatu Nuh karya Hazrat Mizra Ghulam Ahmad)
  4. Barahini Ahmadiyah (terjemah karya Hazrat Mirza Ghulam Ahmad)
  5. Dajjal, Yakjuj wa Makjuj (terjemah dari Dajjal, Gog and Magog karya Maulana Muhammad Ali)
  6. Islamologi (Dinul-Islam) (terjemah dari The Religion of Islam karya Maulana Muhammad Ali)
  7. Kitab Hadits Pegangan (terjemah dari A Manual of Hadith karya Maulana Muhammad Ali).[bas]

Komentar

komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*