Tokoh

Brigjen Moch. Bachrun: Nasionalis yang Religius

“Orang yang berusaha sekeras-kerasnya untuk bertemu dengan Allah, jiwanya berangsur-angsur menjadi peka, sehingga apabila mendengar nama Allah disebut, hatinya merasa “mak greg”, seperti pesawat radio, jika sudah pas dengan gelombang yang diinginkan ….” (H. M. Bachrun, Juni 1978)

Brigadir Jendral Haji Mochammad Bachrun adalah Ketua Umum Pedoman Besar yang kedua sejak berdirinya Gerakan Ahmadiyah Indonesia (GAI). Beliau menggantikan ketua umum sebelumnya, Raden Ngabehi Haji Minhadjurrahman Djojosoegito.

Moch. Bachrun Lahir di Purwokerto, 12 Februari 1911, dan wafat pada hari Ahad tanggal 6 Mei 1979 jam 19.00 di Rumah Sakit Tentara Angkatan Darat Gatot Subroto, Jakarta. Jenazah beliau lantas dikebumikan di Taman Pahlawan Kalibata.

Beliau menghabiskan waktu kanak-kanak hingga remajanya sebagai santri. Selama hampir 11 tahun, Moch. Bachrun nyantri di Pondok Pesantren Mambaul Ulum, Surakarta. Pondok tertua di Surakarta ini lebih dikenal dengan sebutan Pondok Jamsaren, karena didirikan oleh Kyai Jamsari asal Banyumas sejak 1750.

Setelah menamatkan sekolah di Madrasah Mamba’ul ’Ulum, Bachrun kembali ke kampung halamannya di Purwokerto, dan mengabdikan diri sebagai ustadz di sana. Beliau kemudian menikah dan memiliki 7 anak. Istrinya adalah anak dari Ibu Djojosoeparto, kakak kandung Minhadjurrahman Djojosoegito.

Sejak tahun 1930, bersama sahabat karibnya, Moch. Irshad, beliau aktif berguru kepada Mirza Wali Ahmad Baig, dalam pengajian rutin setiap Sabtu malam yang diselenggarakan di kediaman bapak Warnadi, Sokaraja. Dari Ahmad Baig inilah beliau mengenal Gerakan Ahmadiyah, memperdalam Islam, dan mengasah keahliannya dalam berbahasa Inggris.

Tahun 1933, Mirza Wali Ahmad Baig pindah ke Jakarta dalam rangka membantu bapak Soedewo P.K. mempersiapkan terbitnya Quran Suci berbahasa Belanda. Bachrun muda pun kemudian menggantikan beliau menggembleng kader-kader GAI yang dipusatkan di Masjid As-Salam, Pejagalan, Purwokerto.

Moch. Bachrun juga aktif menulis artikel untuk Majalah “Muslim,” majalah berbahasa Jawa yang diterbitkan GAI Cabang Purwokerto. Seringkali beliau menggunakan nama samaran “Siti Radhiyah” dalam berbagai tulisannya.

Beliau sempat pula menjadi pegawai pemerintah di Dinas Kesehatan Karesidenan Banyumas sebagai Manteri Malaria. Tetapi pekerjaan itu harus terhenti pada tahun 1942, dengan datangnya tentara Dai Nippon Jepang di Indonesia.

Di masa pendudukan Jepang inilah, bersama Moehammad Irshad dan kawan-kawan lainnya, beliau masuk dinas militer Tentara Pembela Tanah Air (PETA). Dan sejak saat itu, beliau mengabdikan diri untuk bangsa Indonesia di dinas militer.

Walaupun modal pendidikannya adalah pesantren, tetapi rupanya pada dirinya mengalir juga darah keprajuritan. Dan itu dibuktikan dengan kemampuannya di bidang ketentaraan, antara lain dalam perang gerilya di Jawa Tengah dan Jawa Barat.

Sekitar tahun 1950-an, Bachrun yang kala itu berpangkat Letnan Kolonel, memimpin gerakan penumpasan DI/TII di daerah Brebes, Tegal, Pekalongan. Sebelumnya, gerakan penumpasan DI/TII itu bernama operasi kilat Gerakan Banteng Negara, dibentuk pada Januari 1950 dan dipimpin oleh Letkol. Sarbini.

Letkol Mochammad Bachroen (kedua dari kiri) bergambar bersama dengan Panglima Divisi Kol. Gatot Soebroto setelah Perang Gerilya klas ke-II selesai, dalam rangka konsolidasi Divisi Diponegoro bertempat di Purwokerto, atas perintah Panglima Besar Jendral Soedirman. Dari kiri: Letkol Slamet Riyadi, Letkol Soeharto, Letkol Suadi Suromiharjo, Letkol M. Sarbini, Kol. Gatot Soebroto, Letkol Moch. Bachroen, dan Letkol Achmad Yani.

Berikut catatan karier beliau di dinas militer:

  • 1943-1945 : diangkat sebagai Tju Dan Tjo Daini Deidan dengan pangkat Kapten.
  • 1945 -1946 : diangkat sebagai Komandan Resimen 15 dengan pangkat Letnan Kolonel.
  • 1946-1948 : diangkat menjadi Komandan Resimen 16
  • 1948-1949 : diangkat sebagai Komandan STC Banyumas merangkap Komandan Wehrkreise (WK) I.
  • 1950-1951 : diangkat sebagai Kepala Staf Teritorium IV, pangkatnya naik menjadi Kolonel.
  • 1951-1956 : diangkat sebagai Panglima Teritorium IV Diponegoro, Semarang.
  • 1957-1958 : diangkat sebagai Direktur Corps Intendans Angkatan Darat (CIAD).
  • 1959 : Pensiun dari Dinas Militer dengan pangkat Brigadir Jendral, dengan tugas terakhir sebagai Hakim Perwira pada Pengadilan Tinggi Militer.

Meski sudah pensiun dari Dinas Militer, Bachroen tak berhenti mengabdi pada bangsa dan negara. Tahun 1960, beliau diangkat menjadi Sekretaris Militer Presiden Republik Indonesia, Ir. Sukarno. Selama menjabat, beliau mendampingi Presiden kala menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci Mekah. Pada tahun itu juga, beliau masuk dalam keanggotaan Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS), hingga tahun 1966.

Kolonel Mohammad Bachroen (paling kanan) saat mendampingi Presiden Soekarno berziarah ke makam Ki Ronggowarsito di Klaten, Jawa Tengah. Ki Ronggowarsito adalah pujangga Sastra Jawa era Kasunanan Surakarta abad ke-19. Foto diambil sekitar tahun 1956. Saat itu, Moch. Bachroen menjabat sebagai Panglima Teritorium IV Diponegoro. Beliau menjabat Panglima TT IV Diponegoro antara 1952-1956, menggantikan Panglima sebelumnya, Kol. Gatot Soebroto.

Selepas berhenti menjadi anggota MPRS, beliau terpilih sebagai Ketua Umum Pedoman Besar Gerakan Ahmadiyah Indonesia (GAI) menggantikan bapak R. Ng. H. Minhadjoerahman Djojosoegito.

Sejak tahun 1967, beliau rutin setiap bulan memberikan pengajaran agama di lingkungan sekolah-sekolah Yayasan Perguruan Islam Republik Indonesia (PIRI), amal usaha GAI di bidang pendidikan. Setiap Selasa memberikan pelajaran Bahasa Arab, setiap Rabu memberi pelajaran keahmadiyahan, dan Minggu pagi memimpin kajian Tafsir Qur’an.

H. Moch. Bachroen (ketiga dari kiri) tengah memimpin sebuah forum dalam penyelenggaraan Jalsah Salanah (Pengajian Tahunan) Gerakan Ahmadiyah Indonesia (GAI) pada sekitar tahun 1970. Dari kiri: ……, Letkol (Purn) H. Soetjopto S.H. (Sekjen PB GAI), H. M. Bachroen (Ketua Umum PB GAI), dan Soedewo P.K. (Penerjemah De Heliege Qoer’an)

Warisan beliau yang cukup fenomenal adalah hasil karya terjemah beliau, yakni Qur’an Suci: Terjemah dan Tafsir Bahasa Indonesia, terjemah dari The Holy Qur’an karya Maulana Muhammad Ali. Beliau menerjemahkannya hingga hampir sepuluh tahun lamanya, sebagai amanat Muktamar GAI tahun 1958 di Yogyakarta. Sayang sekali, beliau tak sempat menyaksikan hasil cetak karyanya itu, yang terbit untuk pertama kali di akhir tahun 1979.

Di samping karya terjemah Qur’an Suci, banyak juga buku-buku yang lahir dari tangan beliau, antara lain:

  1. Rahasia Hidup (terjemah dari The Gospel of Life karya Khawaja Kamaluddin)
  2. Peradaban Barat yang diletakkan oleh Sarjana Islam (terjemah dari The Arab Heritage of Western Civilization karya Rom Landau)
  3. Safinatu Nuh (terjemah dari Safinatu Nuh karya Hazrat Mizra Ghulam Ahmad)
  4. Barahini Ahmadiyah (terjemah karya Hazrat Mirza Ghulam Ahmad)
  5. Dajjal, Yakjuj wa Makjuj (terjemah dari Dajjal, Gog and Magog karya Maulana Muhammad Ali)
  6. Islamologi (Dinul-Islam) (terjemah dari The Religion of Islam karya Maulana Muhammad Ali)
  7. Kitab Hadits Pegangan (terjemah dari A Manual of Hadith karya Maulana Muhammad Ali).

Brigjend (Purn) Haji Moch. Bachroen (duduk berkacamata hitam) berfoto bersama kader Mubaligh GAI sekitar tahun 1975. Di samping kanannya adalah Ibu Koestirin Djojosoegito, Ketua Yayasan PIRI kala itu.

Pada tanggal 20 Oktober 1977, di usianya yang ke 63 tahun, Moch. Bachrun dianugerahi Bintang Gerilya oleh Pemerintah Republik Indonesia karena jasa-jasanya membela dan memperjuangkan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bintang gerilya itu disematkan oleh Panglima Komando Wilayah Pertahanan (Pangkowilhan) II Letjen TNI Widodo, di ruang serbaguna Makowilhan II Jl. Reksobayan Yogyakarta.

Sejak pertengahan bulan April tahun 1979, beliau menderita sakit. Hingga akhirnya, beliau menghembuskan nafas terakhirnya pada Ahad, 6 Mei 1979 pukul 18.30, sesudah dirawat lebih dari dua pekan di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta.

Brigjend (Purn) Haji Moch. Bachroen wafat dalam usia 68 tahun. Jenazah beliau disemayamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta. Nama beliau kemudian diabadikan sebagai nama ruas jalan nasional yang terbentang di wilayah Rawalo, Banyumas, Jawa Tengah, yakni “Jalan Brigjend H.M. Bachroen.”

Penulis: Asgor Ali

Yuk Bagikan Artikel Ini!

Comment here

Translate »