facebooklikebutton.co
SENTUHAN RUHANI

Menyelamatkan Diri dari Dosa

Untuk menyelamatkan diri dari dosa, hendaklah ada rasa takut Ilahi (takut pada Allah) yang tertanam dalam hati. Apabila hal ini bisa terwujud, maka Allah Ta’ala akan memberikan taufik atau pertolongan.

Selain itu, cinta Ilahi (cinta pada Allah)  juga merupakan sarana untuk menyelamatkan diri dari dosa. Hal ini termasuk tingkat tinggi. Namun takut pada Allah adalah sarana yang umum untuk menyelamatkan diri dari dosa. Banyak pemuda karena takut pada Allah menjadi lurus hidupnya. Misalnya, tentang wabah (ta’un), para tabib atau dokter mengatakan bahwa dibanding orang tua, para pemuda lebih beresiko dengan wabah itu. Karena ada gejolak dalam darah mereka. Oleh sebab itu, hari-hari ini yang disebut sebagai hari kemurkaan Allah, hakikatnya merupakan hari kasih sayang Allah. Karena adanya wabah itu menyadarkan manusia dan membuat mereka tidak suka lagi pada kehidupan lalai dan berdosa. Berhubung orang-orang pada masa itu tidak berhenti dan bertobat dari kelalaian maupun dosa, maka Allah dengan kasih sayang-Nya memperlihatkan wabah.

Ingatlah sungguh-sungguh, sebagaimana para nabi telah memberitahukan, sekarang sedang datang hari yang penuh bahaya. Allah Ta’ala telah membuka hal ini padaku. Sekarang sedang datang hari siksaan. Oleh karena itu, bila sebelum turun azab, orang-orang berdoa, menjalankan salat dengan khusyuk dan khuduk, dalam salat mereka mohon dengan tulus dan rendah hati, dan hati mereka menjadi lunak, maka Allah Ta’ala akan menaruh belas kasihan pada mereka.

Tetapi bila manusia muncul rasa takutnya (pada Allah) pada waktu azab yang pedih sedang berlangsung, lalu apa yang membedakan keburukan dengan kebaikan? Karena sejahat-jahatnya manusia, ketika tertimpa azab dia akan tunduk dan takut pada Tuhan.

Pendek kata, seberapa pun ikatan hubungan dengan Allah Ta’ala yang kamu ciptakan sebelum turunnya azab, ia akan bermanfaat bagi kamu.

Sarana untuk menyelamatkan diri dari dosa, bisa juga dengan membaca nasihat kami yang tertulis dalam buku Kisyti Nuh atau Safinatu Nuh (Bahtera Nuh) sekali setiap hari.

(HM Ghulam Ahmad, Disarikan dari Malfuzat Ahmadiyyah, jld. 6, hlm. 344-345).

Comment here