facebooklikebutton.co

Meluruskan Kesalahpahaman (1)

Sebagian besar informasi tentang Ahmadiyah yang tersebar di publik (masyarakat) adalah tidak benar atau kurang lengkap/tidak utuh atau tidak diketahui  konteksnya sehingga banyak orang yang memperoleh kesan yang salah dan akibatnya menjadi anti Ahmadiyah.

Oleh: Fathurrahman Ahmadi Djajasugita | Ketua Umum PB GAI

KEPAHAMAN DAPAT  MENIMBULKAN KECINTAAN
KESALAHPAHAMAN DAPAT MENIMBULKAN  KEBENCIAN

Kami yakin, dan tentu kita sependapat bahwa kebenaran, sedikit demi sedikit pasti akan terbabar makin sempurna. Ini berarti bahwa:

Bagi yang menganggap bahwa Ahmadiyah itu sesat, visinya adalah bahwa Ahmadiyah akan menyadari kesalahannya, lalu kembali ke kebenaran.

Bagi Ahmadiyah, visinya adalah bahwa kesalahpahaman tentang Ahmadiyah akan lenyap. dan Kebenaran Ahmadiyah akan terbukti.

Untuk menanggapi yang terdapat di situs www.geocities.com tentang ‘Kebohongan Ahmadiyah’ diperlukan cukup banyak penjelasan, yang tak mungkin dimuat dalam sekali terbitan. Oleh karena itu, tanggapan akan dibuat secara bertahap, sedikit demi sedikit, Insya Allah makin lama makin lengkap.

Pada tahap satu ini untuk sementara akan dikemukakan kasus kesalahpahaman tentang masalah yang berkaitan dengan ‘Mubahalah dengan Maulwi Sanaaullah’ dan ‘Muhammadi Begum’.

Sebagian besar informasi tentang Ahmadiyah yang tersebar di publik (masyarakat) adalah tidak benar atau kurang lengkap/tidak utuh atau tidak diketahui  konteksnya sehingga banyak orang yang memperoleh kesan yang salah dan akibatnya menjadi anti Ahmadiyah.

Informasi tentang Ahmadiyah yang kurang benar itu kemungkinan besar memang dibuat dengan sengaja oleh pihak lawan HM Ghulam Ahmad, yang sangat benci terhadap HM Ghulam Ahmad. Betapa besar kebencian lawan HM Ghulam Ahmad terhadap beliau dapat ditelusuri dari sejarah/riwayat sebagai berikut.

Sebelum HM Ghulam Ahmad mendakwakan diri sebagai Al-Masih Yang Dijanjikan pada tahun 1890, jadi pendakwaannya masih sebagai mujaddid (pendakwaan sebagai mujaddid pada tahun 1882) para ulama memberikan dukungan positif atas apa-apa yang dilakukan oleh HM Ghulam Ahmad atas kemujaddidannya. Tetapi sejak beliau mengatakan bahwa Nabi Isa as. telah wafat dan Al-Masih Yang Dijanjikan yang ditunggu-tunggu kedatangannya oleh kaum muslim tak lain adalah beliau sendiri maka, sebagian besar umat beragama baik Islam maupun Nasrani menentangnya. Pimpinan penentangan ini adalah seorang ulama muslim, Maulwi Muhammad Hussain Batalwi, yang berkeyakinan bahwa Nabi Isa as. masih hidup di langit.

Muhammad Hussain Batalwi ini mengatakan:

“Sebab saya yang dahulu telah memajukan orang ini, maka sekarang saya pula yang akan menjatuhkannya. Yakni, dahulu karena pertolongan dan pujian dari saya orang ini mendapat kehormatan, maka sekarang saya pula yang akan menentangnya dengan gigih sampai orang ini dibenci dan dihina orang-orang.” (Ghulam Ahmad, Jihad tanpa kekerasan. Asep Burhanudin, hal. 41, Penerbit LKiS, merujuk pada Bashiruddin Mahmud Ahmad, Riwayat Hidup…hal. 26-30)

Para pembaca dapat menangkap atau merasakan nuansa atau mood hati, betapa bencinya Maulwi Muhammad Hussain Batalwi (dan orang-orang lain tentunya) terhadap HM Ghulam Ahmad. Untuk itu kami menghimbau kepada para pembaca agar bersabar dalam membaca tanggapan kami yang bertahap ini.

Beberapa kesalahpahaman antara lain:

1. KASUS Mubahalah DENGAN MAULWI   SANAAULLAH

Sebagian besar sumber tanggapan ini diambil dari buku ‘Tayo Lies’ oleh Maulana M.K. Hydal.

Lawan-lawan Ahmadiyah keliru tentang kapan mulainya proses Mubahalah antara Hazrat Mirza Ghulam Ahmad dengan Maulwi Sanaaullah. Mereka mengira mulainya proses Mubahalah pada tahun 1907. Pada waktu HM Ghulam Ahmad mendakwakan diri sebagai Masih Yang Dijanjikan pada tahun 1890, para ulama membuat fatwa bahwa beliau kafir. Beberapa lawannya bahkan menantang beliau untuk mengadakan Mubahalah (Izaala Auhaam, hal. 637-638).

HM Ghulam Ahmad memperingatkan lawan-lawannya betapa beratnya tantangan seperti itu. Pada th. 1893 beliau meminta dengan sangat (mendesak) kepada lawan-lawannya agar berhenti menyatakan bahwa beliau kafir dan bila Mubahalah memang merupakan cara satu-satunya untuk menyelesaikan masalah, maka beliau siap untuk itu. Tetapi Maulwi yang melawan beliau menjauhkan diri. Ini dalam Anjaami Atham, hal. 65-66 (ini dalam tahun 1897) yang di dalamnya HM Ghulam Ahmad menuliskan daftar nama lawan-lawannya yang dapat melakukan Mubahalah. Nama Maulwi Sanaaullah ada dalam daftar tersebut. Kemudian pada th 1902 dalam Ijaazi Ahmadi, hal. 12 & 15, HM Ghulam memberikan bentuk (format) Mubahalah.

Maulwi Sanaaullah tetap diam sampai tanggal 17 Maret 1907, ketika HM Ghulam Ahmad sekali lagi mengingatkannya dalam surat kabar Al-Hakm tentang Mubahalah tersebut.  Maulwi Sanaaullah menjawab dalam surat kabar Ahli Hadis tanggal 29 Maret 1907 sbb.

“Datanglah di tempat mana yang kamu inginkan dan bersumpah dengan kami”
“Mirzaais! Bila kamu benar, maka datanglah dan bawa serta kelompokmu bersama denganmu”
“Dengan dasar yang sama di Amritsar (tempat tinggal Maulwi Sanaaullah), telah siap Sufi Abdul Ghaznawi untuk Mubahalah sekalian”
“Bawa serta mereka ke kami, yang dalam Anjaami Atham telah engkau undang pula untuk Mubahalah”

Pada tanggal 4 April 1907, HM Ghulam Ahmad menjawabnya dan dimuat di surat kabar Badr sbb.

“Tantangan Maulwi untuk melakukan Mubahalah telah diterima”

Tetapi, Maulwi Sanaaullah pada tanggal 12 April 1907 berkelit di surat kabarnya, Ahli Hadis, sbb.

“Saya akan datang untuk bersumpah, tapi kamu menyebutnya sebagai Mubahalah, meskipun Mubahalah adalah jika dua kelompok bersumpah satu terhadap yang lain” “Saya berkata saya akan bersumpah, saya tidak pernah berkata Mubahalah. Bersumpah adalah satu hal, Mubahalah adalah hal lain”

(Catatan: pembaca dapat melihat bahwa pernyataan tgl. 12 April 1907 ini Maulwi Sanaaullah hanya mengakui untuk bersumpah, jadi sudah berbeda dengan inti pernyataannya tgl. 29 Maret 1907).

HM Ghulam Ahmad setelah membaca surat kabar tanggal 13 April tersebut, pada waktu malam harinya memohon petunjuk kepada Allah SWT. Pada tanggal 14 April beliau menerima jawaban (dari Allah SWT.): “Saya akan menjawab panggilan dari seorang pemohon”.

Dengan itu, beliau lalu mengetahui bahwa Allah telah memberi ijin untuk meneruskan Mubahalah, sehingga pada tanggal 15 April 1907, sebagai upaya terakhir untuk meyakinkan Maulwi Sanaaullah tentang pendakwaannya, beliau melakukan do’a/salat dari pihak sendiri, sambil mengundang pihak Maulwi Sanaaullah untuk melakukan do’a/salat di pihaknya dan menyerahkan hasilnya kepada Allah.

Sejak tahun 1902, dalam Ijaazi Ahmadi, HM Ghulam Ahmad telah menulis sbb:

“Marilah kita berdua berdo’a/salat/memohon bahwa pembohong akan mati dalam waktu selagi yang benar masih hidup”

dan pada halaman 37 dalam buku ini beliau secara jelas menyatakan:

“Bila dia menerima tantangan ini yaitu bahwa pembohong akan mati di hadapan yang benar, maka pastilah dia akan mati lebih dulu”

Dengan situasi yang seperti itu, Maulwi Sanaaullah lalu mengundurkan diri. Maulwi Sanaaullah menjawab pada tanggal 24 April 1907 dalam Ahli Hadis bahwa:

Pertama: “Saya tidak pernah setuju berdo’a/salat yang seperti itu dan tanpa persetujuan (ijin, sepengetahuan) saya  mengenai berdoa/salat ini, diterbitkan”.

Kedua: “Hal ini tidak diterbitkan dengan cara ilham, tapi lebih baik dikatakan bahwa ini bukanlah suatu ramalan dan ilham, tapi itu hanyalah suatu do’a/salat”

Ketiga: “Keluhanku pada anda (HM Ghulam Ahmad) bila saya mati, bukti (atau fakta) apa yang dapat diambil bagi orang-orang lain?”

Keempat: “Anda sangat cerdik, (untuk berdo’a agar mati karena wabah pes) setelah melihat bahwa sekarang ini wabah sedang menghebat di Punjab. Dan di Punjab, terutama di ibu kota Lahore yang sangat dekat dengan Amritsar (dimana Maulwi Sanaaullah tinggal)”.

Kelima: “Permohonan anda samasekali tidak menyelesaikan masalah, karena seorang muslim mati karena wabah, menurut hadis, dianggap sebagai mati syahid. Jadi, bagaimana permohonan dapat menunjukkan seseorang yang mati karena wabah pes sebagai pembohong?”

Keenam: “Anda juga cerdik, pada permulaan anda mohon kematian karena wabah pes atau kholera; tapi kemudian anda juga mengatakan malapetaka yang lain yang menyebabkan kematian”.

Akhirnya: Maulwi Sanaaullah menyimpulkan sbb.:

“Ringkasnya menurut permintaan anda, saya siap sedia mengambil sumpah bila anda mau memperlihatkan kepadaku hasil dari sumpah ini. dan tulisan ini (yaitu soal permohonan/do’a/salat) dari anda, SAYA MAUPUN SEBARANG ORANG LAIN YANG BIJAKSANA (BERAKAL) TIDAK AKAN MAU MENERIMANYA”

Jadi, dari jawaban Maulwi Sanaaullah pada tanggal 24 April 1907 tersebut, berarti dia menolak atau mengingkari kesediaannya untuk melakukan Mubahalah. Adalah dalam konteks ini bahwa hari berikutnya, tanggal 25 April 1907, HM Ghulam Ahmad mengumumkan bahwa “Permohonanku telah diterima”. Maulwi Sanaaullah telah terbukti sebagai pembohong. Karena pada tanggal 29 maret 1907 sebagaimana dirujuk sebelumnya, dia menulis:

“bersumpah dengan kami”
“bawa serta kelompokmu bersama denganmu”
“Bawa mereka kepada kami (nama-nama) mereka yang diundang di Anjaami Atham untuk Mubahalah”.

Kemudian pada tanggal 12 April 1907 dia berkata:

“Saya tidak pernah mengatakan Mubahalah”
“Mubahalah adalah bila dua kelompok bersumpah satu terhadap yang lain”.

Jelas sekali bahwa Maulwi Sanaaullah memaksudkan Mubahalah ketika dia menulis “bawa serta kelompokmu bersama denganmu” juga “Bawa mereka kepada kami (nama-nama) mereka yang diundang di Anjaami Atham untuk melakukan Mubahalah”.

Dalam perkembangan selanjutnya, mereka yang anti Ahmadiyah lalu tidak memunculkan lagi (menghapus) tulisan-tulisan dalam huruf tebal (jawaban Maulwi Sanaaullah tgl. 24 April 1907), sehingga para pembaca memperoleh kesan yang berbeda dengan peristiwa yang sebenarnya kalau peristiwanya ditulis secara utuh.

Jadi, kalau jawaban Maulwi Sanaaullah (yang ditulis dengan huruf tebal) pada tanggal 24 April 1907 dihapus,  seolah-olah Mubahalah tetap terlaksana, pada hal tidak ada Mubahalah samasekali dan kelihatan bahwa Maulwi Sanaaullah tadinya mau melakukan Mubahalah tapi akhirnya mundur, tidak mau berMubahalah.

Hal ini perlu diketahui betul, karena mereka yang anti Ahmadiyah, setelah menghapus jawaban Maulwi Sanaaullah tanggal 24 April 1907 tersebut lalu mengatakan: “Setelah melakukan Mubahalah, setahun kemudian (pada tahun 1908) HM Ghulam Ahmad meninggal”. Sungguh suatu rekayasa pembohongan yang hebat dari pihak yang anti Ahmadiyah. Ahmadiyah dapat mengerti bila ada orang-orang yang membaca riwayat masalah Mubahalah tersebut tanpa tulisan-tulisan yang dicetak huruf tebal (karena sudah dihapus), sehingga lalu memandang HM Ghulam Ahmad sebagai pembohong. Tetapi Ahmadiyah tidak dapat mengerti orang yang menghapus tulisan yang dicetak dengan huruf tebal tersebut untuk menipu para pembacanya. Jelas orang itu orang yang suka memfitnah, bukan orang yang jujur.

2. KASUS MUHAMMADI BEGUM

Sebagian besar sumber tanggapan berasal dari Buletin Ahmadiyah Seri 04 Tahun 2002. Ramalan HM Ghulam Ahmad tentang Muhammadi Begum, berasal dari bhs. Inggris di situs www.muslim.org.

Informasi yang disebarkan oleh mereka yang anti Ahmadiyah adalah bahwa:

  1. HM Ghulam Ahmad mencoba untuk mengawini seorang wanita yang bernama Muhammadi Begum dengan cara mengancam saudara-saudara wanita ini, melalui ramalannya bahwa mereka akan mengalami kehancuran, apabila mereka tidak menyetujui perkawinan tersebut.
  2. Dalam hal apapun, ramalan bahwa Muhammadi Begum dikawinkan dengan HM Ghulam Ahmad terbukti salah.

Demikianlah informasi yang disebarkan kepada publik oleh mereka yang anti Ahmadiyah. Sebagaimana pada kasus Mubahalah antara HM Ghulam Ahmad dengan Maulwi Sanaaullah, yang sudah diuraikan pada butir 1, mereka yang anti Ahmadiyah tidak menyajikan informasi yang lengkap sehingga publik memperoleh kesan yang salah. Demikian juga dalam kasus Muhammadi Begum ini, mereka tidak memberikan informasi yang lengkap, terutama tentang latar belakang masalah dan konteksnya.

Dalam komentar ini, akan disajikan tambahan informasi (tidak semuanya, karena cukup panjang) yang relevan terhadap masalah tersebut sehingga diharapkan akan memberikan pemahaman yang lebih baik.

Siapa Muhammadi Begum?
Muhammadi Begum adalah wanita, anak dari saudara sepupu HM Ghulam Ahmad (melalui ayahnya). Jadi, keluarga Muhammadi Begum merupakan keluarga dekat dengan HM Ghulam Ahmad. Keluarga Muhammadi Begum beragama Hindu dan sangat membenci Islam.

Ketika HM Ghulam Ahmad mengumumkan bahwa dirinya adalah orang yang diutus Allah, orang-orang tersebut menyorakinya dan menantangnya agar beliau menunjukkan tanda-tanda bahwa memang Allahlah yang mengutusnya.

Mereka yang anti Islam tersebut menulis buku yang sangat menghina Islam (Allah dan Rasul-Nya). Sewaktu HM Ghulam Ahmad membaca buku tersebut lalu mengatakan:

“Ketika buku tersebut sampai di tangan saya, kemudian saya membacanya. Di situ terdapat bahasa yang kasar yang sangat menghina Allah dan Rasul-Nya, seperti akan mengoyak hati orang-orang beriman…..Menurut saya, kata-kata tersebut menghina kekuasaan Tuhan. Kemudian saya mengunci diri di kamar dengan merendahkan hati saya mohon kepada Allah yang menguasai langit dan bumi, saya berdoa: Ya Allah. Ya Allah, tolonglah hamba-Mu ini dan rendahkanlah musuh-Mu” (A’inah Kamaalat Islam, hal. 569).

Doa HM Ghulam Ahmad tersebut dijawab oleh Allah dan Allah SWT. mewahyukan kepadanya:

“Kami telah melihat kejahatan dan pelanggaran, dan hal ini akan mengakibatkan hukuman yang berat kepada mereka. Para wanita mereka akan menjadi janda dan anaknya menjadi anak yatim. Rumah-rumah mereka akan Kuhancurkan sehingga mereka akan merasakan buah dari perbuatan mereka. Mereka akan menerima pembalasan tersebut tidak sekaligus, melainkan secara perlahan sehingga mereka kembali kepada kebenaran dan menjadi sadar akan perbuatannya tersebut” (Ibid, halaman 569-570)

Firman tersebut disampaikan oleh HM Ghulam Ahmad kepada mereka, tetapi mereka tetap tidak mau insaf. Apa yang dilakukan oleh HM Ghulam Ahmad tersebut merupakan manifestasi dari ayat Qur’an:

“Dan berilah peringatan kepada saudara-saudara dekatmu”   (Q.26:214)

Sampai dengan tahap ini belum ada informasi tentang masalah adanya perkawinan antara Muhammadi Begum dengan HM Ghulam Ahmad.

Ramalan Tentang Perkawinan Muhammadi Begum (Anak perempuan Mirza Ahmad Beg, saudara sepupu HM Ghulam Ahmad).

Mungkin karena keluarga Muhammadi Begum tidak insaf dan untuk menyelesaikan masalah ini, Tuhan lalu memberi wahyu kepada HM Ghulam Ahmad, beliau menulis dalam bukunya yang terkenal A’inah Kamalat Islam sbb.

“Tuhan yang Mahatinggi berfirman bahwa saya sebaiknya mengawini anak perempuan tertua Ahmad Beg dan memberitahukan hal ini kepadanya. Jika mereka menerimanya dengan tulus, ramah, dan gembira, perkawinan tersebut akan membawa mereka pada berkah-Nya. Sebaliknya, jika mereka menolak melaksanakannya, anak perempuan tertua Ahmad Beg tersebut akan mengalami kesedihan sampai akhir hayatnya, dan laki-laki yang menikahinya akan meninggal dalam waktu dua setengah tahun; sedangkan ayahnya, Ahmad Beg, akan meninggal dalam jangka waktu tiga tahun sejak tanggal perkawinan anak perempuannya tersebut.  ….. Allah Yang Mahatinggi akan menghapus semua hambatan, apabila perkawinan ini dilaksanakan maka orang-orang kafir akan menjadi Islam dan orang yang sesat akan kembali pada jalan yang benar.” (halaman 286)

Dari tulisan tersebut terlihat bahwa yang menyuruh HM Ghulam Ahmad menikah dengan Muhammadi Begum adalah Allah sendiri. Allah jugalah yang memberitahukan konsekuensinya bahwa bila perkawinan tidak dilaksanakan, maka Ahmad Beg dan laki-laki (bukan HM Ghulam Ahmad) yang menikah dengan Muhammadi Begum akan meninggal dalam selang waktu tertentu. HM Ghulam Ahmad sudah menyatakan bahwa beliau dari Allah. Peminangan HM Ghulam Ahmad tersebut tidak menyebabkan keluarga Muhammadi Begum menjadi insaf, tetapi malah menganggap itu sebagai satu kesempatan untuk menjatuhkan (membuat malu) HM Ghulam Ahmad dengan cara menolaknya. Kalau Muhammadi Begum menikah dengan laki-laki lain dan mereka tetap hidup berarti itu akan membuktikan bahwa HM Ghulam Ahmad sebagai penipu! (Bagi keluarga Muhammadi Begum, memang sukar untuk menerima lamaran itu karena dalam agama Hindu, perkawinan antar keluarga memang dilarang).

Dalam riwayat Islam, Nabi Suci saw. mengawini wanita dari keluarga yang memusuhi Islam akan menyebabkan keluarga tersebut masuk Islam. Misalnya, kasus Abu Sofyan yang memusuhi Nabi Suci, setelah Nabi Suci saw. menikah dengan Umm Habiba (anak Abu Sofyan), maka keluarga Abu Sofyan masuk Islam.  Demikian pula dengan keluarga Hazrat Sauda, yang menjadi Islam ketika dia menikah dengan Nabi Suci.

TUJUAN RAMALAN
Tujuan ramalan paling baik dibaca dari tulisan HM Ghulam Ahmad sendiri sbb.:

“Orang-orang dari keluarga saya maupun dari kerabat yang lain semuanya, baik laki-laki maupun perempuan menganggap saya sebagai penipu karena saya menerima wahyu Allah. Mereka tidaklah mencintai agama Islam dan mereka dengan mudah mengabaikan perintah Qur’an Suci, semudah seseorang mengambil ranting kecil dan membuangnya. Mereka menganggap inovasi, adat istiadat, dan konsep harga diri beribu kali lebih baik daripada perintah Allah dan Rasul-Nya. Oleh karena itu, untuk kemaslahatan mereka, karena permintaan mereka sendiri dan karena kepentingan mereka sendiri Allah mengungkapkan ramalan seperti yang ditulis dalam pengumuman ini sehingga mereka akan menyadari bahwa Allah benar-benar ada dan segala sesuatu selain diri-Nya tidaklah penting.

Saya mengharapkan mereka beranggapan tanda-tanda terdahulu sudah cukup dan mereka tidak menyalahkan saya apabila mereka sedikit mempunyai keimanan dan hati nurani. Seluruh keinginan saya telah dipenuhi oleh Allah. ….Jadi, masalah perkawinan yang diajukan di sini semata-mata hanyalah suatu tanda sehingga Allah dapat menunjukkan kekuasaan-Nya kepada keluarga yang menolak ajaran-Nya. Apabila mereka menerima, Allah akan memberikan rahmat-Nya dan mengesampingkan bencana yang telah dekat dengan mereka. Akan tetapi, apabila mereka menolak, Allah akan menurunkan hukuman dalam rangka memperingatkan mereka” (Pengumuman bulan Juli 1888; Majmu’a Ishtiharat, edisi 1986, jilid 1, 156-159)

PERNIKAHAN MUHAMMADI BEGUM DENGAN SULTAN MUHAMMAD

Seperti sudah dikemukakan sebelumnya bahwa ini merupakan kesempatan bagi keluarga untuk menjatuhkan atau membuat malu HM Ghulam Ahmad. Apabila ramalan tidak terpenuhi, HM Ghulam Ahmad pasti akan menjadi bahan tertawaan umum. Sekalipun demikian tidaklah mudah untuk mencarikan suami bagi Muhammadi Begum karena, banyak orang yang takut akan berlakunya ramalan tersebut karena, menurut ramalan, orang yang menikahi Muhammadi Begum akan meninggal dalam waktu (selang) dua tahun. Proses ini berlangsung selama lima tahun baru diperoleh calon suami Muhammadi Begum yaitu Sultan Muhammad.

Akhirnya, tanggal 7 April 1892 akan dilangsungkan  pernikahan dan akan dilakukan  secara rahasia (diam-diam) di tempat lain, tetapi HM Ghulam Ahmad mengetahuinya melewati wahyu-Nya:

“Mereka membohongi dan mencemoohkan tanda-tanda ramalan tersebut. Akan tetapi, Allah mencukupimu melawan mereka dan mengembalikan gadis tersebut kepadamu”

AHMAD BEG MENINGGAL SESUAI DENGAN RAMALAN

Ahmad Beg, setelah tiga bulan perkawinan, mengalami kemalangan yang sangat berat karena, pada waktu itu anak laki-laki dan kedua saudara perempuannya meninggal dunia. Kemudian, dia sendiri terserang penyakit yang menyebabkannya gila. Akhirnya, pada tanggal 30 September 1892, hanya 5 bulan 24 hari setelah perkawinan tersebut, Ahmad Beg yang malang meninggal dunia setelah mengalami penderitaan.

PENYESALAN

Meninggalnya Ahmad Beg, yang membuktikan benarnya ramalan yang disebutkan oleh HM Ghulam Ahmad, membuat para keluarga dan Sultan Muhammad insyaf dan memohon ampun kepada Allah dan benar-benar menyesali kesalahan mereka pada masa lalu. Mereka juga menulis surat kepada HM Ghulam Ahmad agar beliau mendoakan mereka. Dengan demikian tujuan ramalan yang sebenarnya telah terpenuhi. Orang-orang tersebut telah kembali kepada jalan Islam.

Pada bulan September 1894 ketika masa dua setengah tahun telah berlalu, rentang masa yang menurut ramalan bahwa siapapun yang mengawini Muhammadi Begum akan meninggal, HM Ghulam Ahmad menulis dalam pengumumannya:

“Lihatlah bukti-bukti ini (yaitu penyesalan mereka, maka) saya menjadi yakin bahwa waktu kematian Sultan Muhammad tidaklah terwujud, karena di antara tanda-tanda yang mengungkapkan ketakutan dan peringatan selalu merupakan takdir yang dapat dihindari. Sultan Muhammad dan keluarganya mengaku bersalah dan berdosa sehingga, meskipun saya telah menyampaikan dengan sangat jelas melalui orang-orang lain dan melalui surat yang berisi bahwa ramalan ini adalah dari Allah dan mereka tidak boleh mengabaikannya, tetapi (pada waktu itu) mereka juga sangat keras kepala dan tidak menerimanya, bahkan mereka mencemooh dan mereka tetap melaksanakan perkawinan. ……Akan tetapi, kematian Ahmad Beg mengguncang mereka. Oleh sebab itulah mereka mengirimiku surat permohonan maaf dan penyesalan. Karena mereka merasa takut yang amat sangat, Allah menunda waktu hukuman, yaitu waktu (hukuman) ketika (bila) orang-orang tersebut kembali mengingkari Allah, sombong, dan mengabaikan-Nya. Waktu hukuman adalah takdir yang dapat diubah dan dapat ditunda pada waktu yang lain, apabila mereka bertobat kepada Allah, sebagaimana yang ditunjukkan oleh Qur’an” (Pengumuman tanggal 6 September 1894; Majmu’ah Istiharat, edisi 1896, jilid II, 243)

Adalah suatu kenyataan pula bahwa dalam pengumuman ini HM Ghulam Ahmad mengatakan terutama dalam kasus bila mereka tetap tidak menyesal, sbb.

“Akan tetapi, inti dari ramalan bahwa wanita ini akan menikah denganku, merupakan takdir yang absolut yang tidak dapat diubah, jadi setelah hari-hari ini, ketika Allah melihat bahwa orang-orang tersebut hatinya mengeras, dan mereka tidak dapat mengambil hikmah dari apa yang mereka alami, maka Dia akan memenuhi ramalan dari firman-Nya” (Ibid, halaman 43)

Jadi, ramalan dapat dihindari (berubah/tidak terpenuhi) bila orang juga berubah sikapnya (menyesali perbuatannya dan bertobat).

Sultan Muhammad tidak jadi meninggal karena dia sangat menyesal dan bertobat. Dengan demikian HM Ghulam Ahmad juga tidak jadi menikah dengan Muhammadi Begum. Inilah yang menyebabkan lawan-lawan HM Ghulam Ahmad tetap mencemoohkan bahwa ramalannya tidak terbukti.
Sehubungan dengan ini ada ramalan yang berkaitan dengan hal tersebut, sbb.

“Saya melihat bayangan wanita itu (nenek Muhammadi Begum), yang mempunyai tanda-tanda habis menangis di wajahnya. Saya mengatakan, ‘Wahai Nyonya! Menyesalah, menyesal atas bencana dan malapetaka akan menimpa anak cucumu dan Anda sendiri. Dia akan mati’, dengan demikian hanya tertinggal anjing yang menggonggong”

Jadi, penjelasan HM Ghulam Ahmad bahwa ramalan dapat berubah (tidak terjadi) karena yang bersangkutan berubah sikap, rupa-rupanya tidak dapat diterima oleh lawan-lawan beliau, sehingga mereka (yang tertinggal) tetap menggonggong kepadanya dan tetap mencemoohkan bahwa ramalannya tidak terbukti.

TANTANGAN KEPADA LAWAN-LAWANNYA

HM Ghulam Ahmad menjelaskan bahwa ramalan atau janji dari Allah itu bersyarat (conditional), kalau syaratnya tidak terpenuhi, ramalan dapat tidak berlaku.  Seperti kasus Sultan Muhammad, dia tidak jadi meninggal sesuai ramalan karena dia berubah sikapnya. Dia menyesal dan mengakui dosa-dosanya dan bertobat. Seperti dalam riwayat Nabi Suci saw. dalam perang Badar, meskipun sudah dijanjikan oleh Allah bahwa akan menang tetapi, beliau berdoa sbb.:

“Ya Allah, apabila Engkau menghancurkan tentara ini (kaum muslimin), maka tidak ada seorangpun yang tertinggal di dunia untuk memuja-Mu”.

Nabi Muhammad saw. takut apabila janji (akan kemenangan) akan terpenuhi dengan kondisi tersembunyi tertentu yang tidak dapat terpenuhi” (Haqiqat-ul Wahy 132-134).

Oleh karena itu HM Ghulam Ahmad dalam pengumuman tahun 1896 menantang mereka (lawan-lawannya) untuk membujuk Sultan Muhammad agar membuat pernyataan bahwa dia (Sultan Muhammad) tidak menyesal. HM Ghulam Ahmad menulis sbb.:

“….Bujuklah Sultan Muhammad agar ia mengumumkan suatu tuduhan bahwa hal yang aku katakan adalah salah. Kemudian, apabila dia dapat bertahan hidup dalam batas waktu apapun seperti yang ditunjukkan oleh Allah, saya akan menuduh diri saya sendiri sebagai pembohong. …. Penting untuk diketahui bahwa ancaman kematian dapat ditahan atas dirinya sampai datang waktunya ketika dia menjadi keras hati. Apabila kalian menginginkan kejadian ini datang dengan cepat, pergilah kepadanya bujuklah dan buatlah dia sebagai penyangkal kebenaran, maka lihatlah peristiwa yang dapat kalian saksikan terhadap kekuatan Allah.”

Setelah tantangan ini, HM Ghulam Ahmad masih hidup selama 12 tahun lagi dan lawan-lawan HM Ghulam Ahmad tidak henti-hentinya membujuk Sultan Muhammad. Akan tetapi, Sultan Muhammad benar-benar menyesal atas tindakan yang dilakukannya. 

PENGHORMATAN SULTAN MUHAMMAD KEPADA HM GHULAM AHMAD

Telah dipastikan bahwa Sultan Muhammad tidak hanya menyesal pada hal-hal buruk yang telah dilakukannya, tetapi juga keyakinannya terhadap kebenaran Masih yang Dijanjikan semakin tinggi. Hal ini dapat dilihat dalam pernyataannya yang diterbitkan beberapa tahun setelah HM Ghulam Ahmad wafat, sbb.:

“Ayah mertua saya, Mirza Ahmad Beg, pada kenyataannya meninggal sesuai dengan ramalan. Akan tetapi, Allah Yang Mahatinggi, juga Allah Yang maha Pemurah mendengarkan hambanya dan memberkati mereka. ….dari lubuk hati yang paling dalam bahwa ramalan yang dikaitkan dengan pernikahan tidak meninggalkan suatu keraguan apapun dalam pikiran saya. Dalam hal bai’at, saya bersumpah akan kebenaran dan saya menyatakan keyakinan saya kepada HM Ghulam Ahmad lebih daripada mereka yang pernah berbai’at. Menurut saya Anda dapat mengambil kesimpulan dari kenyataan bahwa sewaktu ramalan itu diperbincangkan, orang-orang Aria pimpinan Lekh ram, dan orang-orang Kristen, pimpinan Atham, masing-masing menawariku seratus ribu rupe apabila aku menuntut HM Ghulam Ahmad. Aku pastilah akan menjadi orang kaya apabila aku menerima tawaran mereka. Akan tetapi, aku meyakini kebenaran HM Ghulam Ahmad sehingga aku menolak melakukannya.” (Al-Fazl, 9 Juni 1921)

Ada surat (dalam bahasa urdu) yang ditulisnya dengan penanya sendiri, yang ditulis setelah lima tahun Hazrat Mirza wafat. Berikut adalah terjemahannya.

Ambala Cantonment
21 Maret 1913

Yth. Saudaraku,
Suratmu sudah kuterima. Terima kasih untuk kenang-kenangannya. Selama akhir hayat Hazrat Mirza almarhum, saya selalu memikirkannya dan masaih memikirkannya, beliau adalah orang tulus dan saleh, pelayan Islam, berhati mulia, dan orang yang selalu mengingat Allah. Saya tidak mempunyai rasa permusuhan apapun terhadap pengikutnya.
Sebaliknya saya menyesal tidak mendapat kehormatan bertemu dengan beliau semasa hidupnya karena berbagai alasan.

Sultan Muhammad

ANGGOTA KELUARGA MUHAMMADI BEGUM YANG BERIKRAR SEBAGAI PENGIKUT HM GHULAM AHMAD

Sejak saat itu, beberapa anggota keluarga Muhammadi Begum berbai’at untuk menjadi pengikut HM Ghulam Ahmad. Orang-orang tersebut adalah:

  1. Ibu Muhammadi Begum, Imar un Nisa, istri Ahmad Beg yang meninggal sesuai dengan ramalan.
  2. Mirza Muhammad Ishaq, anak laki-laki Sultan Muhammad dan Muhammadi Begum.
  3. Tiga saudara perempuan Muhammadi Begum (Imayat Begum, Mahmud Megum dan yang bungsu)
  4. Mirza Muhammad Ahsan Beg, menantu Ahmad Beg.
  5. Mirza Ahmad Beg, anak laki-laki Ahmad Beg.
  6. Mirza Mahmud Beg, cucu laki-laki Ahmad Beg.
  7. Anak laki-laki dan anak perempuan Mirza Nizam ud Din. Mirza Nizam ud Din adalah satu-satunya paman dari pihak ibu Muhammadi Begum dan lawan paling jahat (dan sepupu pertama) HM Ghulam Ahmad.
  8. Mirza Mahmud Beg, sebagai kepala keluarga yang disinggung oleh HM Ghulam Ahmad dalam Haqiqat-ul Wahy.

Orang-orang tersebut adalah bukti kebenaran ramalan. Mereka mengetahui lebih dari siapapun, apakah ramalan ini terlaksana atau tidak. Merekalah yang seharusnya mentertawakan atau memprotes ramalan tersebut dan merakalah yang seharusnya menentang HM Ghulam Ahmad. Akan tetapi, mereka menjadi pengikutnya, sedangkan para ulama yang menentang HM Ghulam Ahmad masih terus menyerang sehubungan dengan ramalan tersebut. Kenyataannya adalah banyak orang yang akhirnya menerima kebenaran HM Ghulam Ahmad dan kemudian menjadi pengikutnya.[] Lanjut ke bagian 2

 

 

Komentar

komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*