Khutbah

Di Mana Letak Keadilan Allah? Ujian Iman Di Tengah Maraknya Kezaliman

a man sitting beside a bicycle

Mengawali khutbah jum’at ini, khatib mengajak kepada diri khatib pribadi dan jamaah sekalian untuk senantiasa meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah, sebagai bentuk syukur atas limpahan rahmat yang tak terhingga dari-Nya sehingga kita dapat melangkahkan kaki ke tempat yang penuh berkah ini.

Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan kepada suri tauladan kita, Rasulullah Muhammad Saw yang telah bersusah payah tanpa kenal lelah memperjuangkan kalimat tauhid sampai tegak di atas permukaan bumi ini.

Berkat diutusnya Rasulullah saw. kita bisa merasakan nikmatnya iman dan manisnya Islam di dalam hati sanubari kita. Karena itu, sebagai seorang muslim, kita harus berterima kasih kepada Rasulullah saw, yang telah menjadi perantara hadir dan tumbuhnya iman di dalam sanubari kita.

Dan kita harus bersyukur kepada Allah SWT, karena iman yang tetap hadir dan tumbuh di sanubari kita itu, yang hakikatnya menjadikan kita bisa tetap kuat menjalani berbagai cobaan dan ujian di dunia ini.

Apakah ujian dan cobaan orang beriman di dunia ini? Dalam kesempatan khutbah ini, saya akan menyampaikan salah satu gambaran dari ujian dan cobaan itu.

Hadirin Jama’ah Jum’at Rahimakumullah

Dalam kehidupan sehari-hari, selalu saja kita dipertontonkan pada sebuah realitas yang menguji keimanan kita.

Kita hidup di zaman ketika orang yang jujur justru sering tersingkir, orang miskin semakin terhimpit, sementara mereka yang korup, zalim, dan menyalahgunakan kekuasaan justru bisa hidup bergelimang kemewahan. Hukum terkadang terasa begitu tajam kepada mereka yang lemah, tetapi mendadak tumpul ketika berhadapan dengan mereka yang memiliki uang dan kekuasaan.

Kita melihat orang-orang yang berbuat zalim, menindas yang lemah, memakan harta yang bukan haknya, serta berbuat sewenang-wenang, justru hidup dengan aman sejahtera, bergelimang harta, dan tampak bahagia.

Pejabat korup hidup dengan penuh penghormatan, menghambur-hamburkan uang pajak rakyat demi proyek-proyek ambisius, proyek-proyek populis, yang digulirkan semata demi kepentingan kekuasaannya. Tidak sedikit aparat negara yang bejat membusungkan dada di balik seragam kebesarannya, belum lagi kaum superkaya yang mempertontonkan kemewahan di atas penderitaan masyarakat kebanyakan.

Kita melihat juga realitas hukum yang tampak diskriminatif: tajam ke bawah tumpul ke atas. Orang-orang jahat memonopoli ekonomi dan politik dengan kekuatan uangnya, dan lain sebagainya. Dan kesemuanya menjadi berita yang kita konsumsi sehari-hari dari layar televisi atau layar telepon genggam kita.

Pencurian barang kecil-kecil dan kasus remeh-temeh seringkali berakhir pada vonis penjara dengan begitu cepatnya, sementara kasus korupsi, kasus suap menyuap di antara pejabat dan penegak hukum, kasus pembalakan dan pembakaran lahan dan hutan, dan banyak kasus besar lainnya, seringkali berbelit-belit, bertele-tele dan hampir-hampir tak terlihat endingnya?

Aparat penegak hukum tampak sangat cepat bertindak saat kasus menjadi viral, tetapi membiarkan kasus-kasus besar yang melibatkan kekuasaan mengendap bertahun-tahun tanpa kejelasan.

Sementara itu, orang-orang yang lemah, kaum miskin kota, masyarakat desa yang sederhana, pedagang yang hanya memutar-mutar modal demi keuntungan tak seberapa, mahasiswa yang dicekik harga UKT, guru honorer yang gajinya kalah jauh dengan sopir MBG, buruh tani nelayan yang hidup seadanya, justru sering tertindas dan menderita di bawah kesewenang-wenangan, terpedaya dan tak berdaya di dalam berbagai aturan yang seringkali tidak berpihak pada keadilan sosial yang dicita-citakan para pendiri bangsa ini.

Mereka ditekan oleh kenaikan mata uang dolar, kenaikan harga BBM, kenaikan harga bahan kebutuhan pokok, kenaikan pajak usaha, pajak kendaraan, pajak bumi dan bangunan, dan lain sebagainya.

Sudah sengsara sedemikian rupa, mereka masih juga difitnah tidak punya mimpi untuk jadi orang kaya, tidak terpengaruh oleh kenaikan dolar, dan lain sebagainya. Giliran protes dikriminalisasi, dituduh ada yang bayar, dan lain sebagainya. Masya Allah subhanallah.

Hadirin Rahimakumullah

Melihat dan mengalami kenyataan semacam ini, muncul sebuah pertanyaan yang mengguncang batin: Jika Allah Maha Adil, mengapa kezaliman seolah-olah dibiarkan merajalela? Mengapa kesewenang-wenangan dan ketidakadilan itu begitu saja terjadi dan berlangsung terus menerus?

Nah karena itu, sekali lagi, sebagaimana saya sampaikan di awal khutbah, sebagai orang beriman, kita musti sampai pada titik sadar bahwa semua realitas atau kenyataan yang kita alami di dunia ini adalah ujian dan cobaan atas iman kita.

Di sinilah keimanan kita sedang diuji. Jangan sampai menyaksikan orang zalim berjaya membuat kita kehilangan keyakinan kepada keadilan Allah. Jangan sampai melihat orang jahat hidup bahagia membuat kita tergoda untuk meninggalkan kebaikan.

Tapi mengapa Allah menguji kita? Jawabnya semata-mata agar supaya Allah menyaksikan siapa di antara kita yang bisa bertahan tetap baik, tetap beriman, tetap bertakwa kepadaNya, di tengah-tengah situasi kondisi macam apa pun juga.

Allah SWT berfirman: “Mahaberkah Zat yang menguasai (segala) kerajaan dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu, yaitu yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dia Mahaperkasa lagi Maha Pengampun.” (QS Al Mulk 67:1-2).

Di ayat Qur’an lainnya, Allah berfirman dengan teks yang lebih agak panjang dan spesifik:

“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan begitu saja hanya karena mereka berkata, “Kami telah beriman,” sedangkan mereka tidak diuji? Sungguh Kami benar-benar telah menguji orang-orang sebelum mereka. Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui para pendusta. Ataukah orang-orang yang mengerjakan kejahatan itu mengira bahwa mereka akan luput dari (azab) Kami? (Alangkah) buruk apa yang mereka tetapkan itu!”

Hadirin rahimakumullah

Dari ayat terakhir yang saya baca di atas, yakni ayat ke-4 dari surat Al-Ankabut, Allah menyatakan secara jelas bahwa Dia tak sekali-kali akan membiarkan mereka yang berbuat jahat di dunia ini berlenggang kangkung tanpa konsekwensi apa pun.

Karenanya, bila kita mengimani Allah Maha Adil, maka yakinlah bahwa Allah pasti akan menegakkan keadilannya.  Bila kita mengimani Allah Maha Rahman Rahim, maka yakinlah bahwa Allah pasti dengan sifat Rahmannya akan menegakkan hukum setimpal bagi mereka yang berbuat zalim, dan dengan sifat Rahimnya akan mengaruniakan kasih sayangnya kepada mereka yang terzalimi.

Sebab dunia bukanlah pengadilan terakhir. Allah mungkin menangguhkan balasan, tetapi tidak pernah melupakan satu pun perbuatan manusia. Apa yang luput dari pengadilan dunia, tidak akan pernah luput dari pengadilan Allah!

Allah Ta’ala berfirman: “Siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah, dia akan melihat balasan atas perbuatannya. Dan siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah, dia juga akan melihat balasan atas perbuatannya itu.” (QS Al-Zalzalah 99:7-8)

Dan Allah juga menegaskan secara lebih meyakinkan dalam firmannya yang lain:

“Sungguh jika ada suatu perbuatan manusia sebesar biji sawi sekalipun, meskipun itu terhimpit di antara bebatuan, ataukah tersembunyi di antara luasnya langit dan bumi, niscaya Allah tetap akan menemukan, menampilkan dan memperhitungkannya, agar perbuatan itu mendapatkan balasan yang setimpal darinya. Karena sesungguhnya Allah itu Mahalembut lagi Mahateliti.” (Lihat QS Luqman 34:16).

Maka dari itu, dalam agama kita ini, kita diperkenalkan dengan adanya pahala dan dosa. Suatu konsep yang memberikan optimisme kepada kita bahwa Sunnah Allah yang kita sebut sebagai hukum kausalitas atau hukum sebab akibat itu pasti berlaku secara natural dan universal.

Yang artinya, setiap perbuatan manusia, sekecil apa pun, apakah itu baik apakah itu buruk, semua pasti ada konsekwensinya.

Sapa nandur bakal ngunduh, kata orang jawa. Melak cabe jadi cabe, melak bonteng jadi bonteng. Melak hade jadi hade, melak goreng jadi goreng, kata orang sunda. Siapa menanam kebaikan akan memetik kebaikan, dan siapa menanam keburukan akan memetik juga keburukan.

Dan karena itu pula, dalam Islam, kita diperkenalkan juga dengan konsep sorga dan neraka.

Surga diciptakan sebagai tempat ganjaran bagi hamba-Nya yang taat, sedangkan neraka sebagai tempat hukuman bagi mereka yang ingkar dan berbuat maksiat. Surga adalah wujud cinta dan rahmat Allah bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, sementara neraka adalah manifestasi dari keadilan dan murka Allah terhadap kezaliman serta kekufuran.

Surga dan neraka adalah tempat keadilan ditegakkan, di mana setiap amal kebaikan dan keburukan akan mendapatkan balasan yang setimpal, yang mungkin tidak bisa diselesaikan secara sempurna di dunia ini. 

Di dunia ini kita bisa pesimistis dengan hukum dan keadilan yang berlaku dalam kenyataan kehidupan kita. Tapi sebagai orang beriman, kita musti bersikap optimistis dengan hukum yang pasti akan ditegakkan oleh Allah seadil-adilnya di akhirat kelak.

Karena itu, adanya surga mendorong kita untuk terus berbuat kebajikan dan bertakwa, meskipun orang lain tidak melakukannya, atau bahkan melakukan yang sebaliknya.

Sedangkan adanya neraka menjadi peringatan agar kita selalu menjauhi keburukan dan dosa, meskipun orang lain yang melakukannya tampak hidup bahagia penuh suka cita, bergelimang harta dan kemewahan, serta berkuasa untuk secara sewenang-wenang mengatur hajat hidup orang kebanyakan, dan mengambil keuntungan dari kesengsaraan orang banyak.

Hadirin Rahimakumullah

Kezaliman, kebiadaban, penindasan, dan berbagai macam kejahatan lainnya, tidak hanya berlaku di zaman kita. Penguasa yang zalim, pejabat yang korup, kaum hedonis, dan manusia-manusia sejenis itu, semuanya ada di setiap zaman.

Orang-orang yang tertindas, yang teraniaya, yang menderita dan sengsara, juga bukan hanya ada di zaman kita.

Tapi jangan lupa, di setiap zaman juga pasti ada orang-orang suci, orang-orang tulus, para nabi, para zuhud, para dermawan, orang-orang baik yang mengabdi pada kemanusiaan, yang cinta akan kebenaran dan kebaikan.

Di setiap zaman, selalu ada manusia yang berperan sebagai Fir’aun ataukah Musa, banyak yang seperti Abu Jahal tapi juga tidak sedikit yang seperti Abu Bakar. Ada yang jadi pahlawan sungguhan seperti Superman, tapi ada juga yang pura-pura dan sok jadi pahlawan seperti Homelander!

Dan kesemuanya itu menjadi ibrah kehidupan, menjadi cerminan bagi kenyataan kehidupan kita saat sekarang ini. Akan menjadi siapa kita, tergantung kepada sosok atau tokoh mana kita bercermin, tergantung kepada sosok atau tokoh mana kita berteladan.

Kenyataan kehidupan kita hari ini, sangat bergantung pada sejarah dan peradaban manusia yang mana kita berkaca.

Hadirin rahimakumullah

Sekali lagi, keadilan mutlak boleh jadi tidak selalu terjadi di dunia yang fana ini. Tapi yakinlah bahwa keadilan yang terjadi di dunia bersifat sementara dan tidak sempurna. Sebab Balasan yang mutlak, adil, dan tanpa celah akan diberikan di pengadilan akhirat, di mana setiap perbuatan akan mendapat balasan yang setimpal.

Yakinlah bahwa Allah tidak membiarkan kezaliman, melainkan menangguhkannya sebagai ujian bagi kita semua.

Allah SWT berfirman: “Janganlah sekali-kali engkau mengira bahwa Allah lengah terhadap apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zalim. Sesungguhnya Dia menangguhkan mereka sampai hari ketika mata mereka terbelalak menyaksikan akibat dari apa yang mereka perbuat itu!” (QS Ibrahim 14:42).

Jadi, tetaplah menjadi orang baik, tetaplah berbuat kebaikan. Dan, jangan lupa shalat! Jika tidak, maka kita akan rugi dua kali. Sudah rugi di dunia karena terus terzalimi, di akhirat juga merugi karena potensial bersatu lagi dengan kaum zalimin di neraka Jahannam.

Semoga Allah senantiasa mengaruniakan ketabahan serta kesabaran kepada kita dalam menjalani berbagai ujian dan cobaan kehidupan yang kita alami di negeri konoha ini. Amin.[]

Oleh: Asgor Ali | Khutbah Jumat Masjid Margi Utami | 26 Juni 2026

Yuk Bagikan Artikel Ini!

Comment here