facebooklikebutton.co
Artikel

Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad saw. Melalui Kasyaf

Setiap tahun, pada 27 Rajab, sebagian umat Islam di berbagai belahan dunia, biasanya merayakan peringatan Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad saw., yaitu sebuah peristiwa bersejarah dan pengalaman spiritual yang terjadi dalam kehidupan Nabi Muhammad saw.

Peristiwa Isra’ dan Mi’raj terjadi setelah tahun duka cita (‘amul huzn), yaitu tahun kewafatan Abu Thalib, paman Nabi Muhammad saw. dan Siti Khadijah, istri Nabi Muhammad saw.

Kira-kira setahun sebelum Nabi Muhammad saw. hijrah ke Madinah, beliau dan para pengikut beliau menghadapi tekanan dan kesulitan yang semakin besar di Mekah. Kondisinya sangat tidak kondusif.

Pada saat beliau dalam keadaan tak berdaya, dan seakan-akan berakhirlah sejarah Islam, Allah Ta’ala berkenan menunjukkan ayat-ayat-Nya (tanda-tanda-Nya) kepada beliau melalui peristiwa Isra’ dan Mi’raj (17:1).

Tatkala Allah menetapkan Nabi Muhammad saw. untuk melakukan perjalanan  secara spiritual (ruhaniah) pada waktu malam ke Masjidil Aqsha (Baitul Maqdis), Allah mengumpulkan semua Nabi sebelum beliau di sana. Kemudian mereka melakukan shalat berjamaah dengan diimami oleh Nabi Muhammad saw.

Peristiwa ini melambangkan bahwa syariat Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw. akan menang dan unggul di atas syariat atau ajaran agama semua nabi sebelum beliau. Ajaran Islam dari Nabi Muhammad saw. ditetapkan sebagai sumber petunjuk Allah yang sempurna dan otentik, serta menjadi rujukan bagi semua umat manusia.

Ketika Nabi Muhammad saw. memberitahukan perjalanan spiritualnya ke Masjidil Aqsha di Palestina (Yerusalem), ada sebagian orang, terutama kaum kafir Quraisy yang tidak percaya dan meminta beliau untuk menjelaskan secara detail tentang Masjidil Aqsha.

Pada saat itu, seluruh bagian Masjidil Aqsha diperlihatkan oleh Allah dalam kasyaf yang beliau alami, dan beliau menjawab permintaan orang-orang kafir Quraisy yang tidak percaya itu. Hal itu ditegaskan dalam hadits:

“Ketika kaum Quraisy tidak mempercayai aku, aku berdiri di Hijr, lalu Allah memperlihatkan Baitul Maqdis di depanku, dan aku mulai menjelaskannya kepada mereka tanda-tanda (Baitul Maqdis) yang mereka tanyakan kepadaku, sambil aku melihat padanya.” (Sahih al-Bukhari 3886).

Peristiwa Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad saw. termasuk pengalaman ruhani. Pengalaman ruhani itu bisa melalui ru’yah (mimpi), bisa juga melalui kasyaf.

Apa bedanya ru’yah dengan kasyaf? Dalam ru’yah (mimpi) manusia mengalami sesuatu dengan indra ruhaninya dalam keadaan tidur. Sedangkan dalam kasyaf manusia mengalami sesuatu dengan indra ruhaninya dalam keadaan terjaga.

Dalam kasyaf seseorang dapat melihat manifestasi Tuhan dan hal-hal yang berhubungan dengan alam lain dengan penglihatan ruhani, suatu kemampuan yang diberikan oleh Allah kepada para nabi dan wali.

Dalam Quran, surat Bani Israil, yang di dalamnya ada penjelasan tentang Isra’ Nabi Muhammad saw. (17:1), juga terdapat penjelasan tentang orang-orang kafir yang tidak akan beriman (percaya) kepada Nabi Muhammad saw., kecuali kalau beliau memenuhi salah satu dari enam alternatif permintaan mereka.

Salah satu alternatif permintaan orang-orang kafir kepada Nabi Muhammad saw. itu, adalah agar beliau naik ke langit (secara fisik) dan menurunkan satu kitab dari langit yang bisa mereka baca. Nabi Muhammad saw. menjawab beberapa alternatif permintaan mereka dengan mengatakan, “Maha Suci Tuhanku! Bukankah aku ini hanya manusia biasa yang menjadi Rasul?” (17:90-93).

Intinya, Nabi Muhammad saw. menolak dengan tegas beberapa alternatif permintaan kaum kafir. Karena semua itu di luar kuasa dan peran beliau sebagai manusia biasa yang menjadi Rasul.

Menurut Kitab Suci, kenaikan manusia ke langit secara jasmaniah, seperti yang diminta kaum kafir itu bertentangan dengan sunatullah. Karena seorang manusia biasa meskipun sebagai Utusan Allah tidak diberi kuasa dan kemampuan untuk melakukan keajaiban seperti itu.

Seandainya Nabi Muhammad saw. naik ke langit secara jasmaniah dalam peristiwa mi’raj, tentu beliau tidak akan memberikan jawaban kepada kaum kafir dengan ucapan, “Maha Suci Tuhanku! Bukankah aku ini hanya manusia biasa yang menjadi Rasul?”

Peristiwa Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad saw. selain menunjukkan kedekatan dan kecintaan Allah yang tiada tara pada Nabi Muhammad saw., juga terutama untuk memperlihatkan ketinggian ruhani Nabi Muhammad saw. Beliau terangkat pada puncak kehormatan tertinggi, terangkat pada posisi yang tidak pernah dan tidak akan pernah dicapai oleh siapa pun hingga Kiamat.

Dalam peristiwa mi’raj, setelah Nabi Muhammad saw. melewati langit pertama hingga ketujuh, beliau sampai di Sidratul Muntaha. Di sini beliau bisa berhubungan dekat dengan Allah dan melakukan percakapan langsung dengan-Nya.

Mungkin timbul pertanyaan, apakah manusia dapat melihat Allah dengan mata jasmaninya?

Kita mengacu pada percakapan yang terjadi antara Nabi Musa as. dengan Allah, ketika Nabi Musa as. mendesak untuk melihat-Nya. Disebutkan dalam Quran, Al-A’raf, 7:143, intinya:

Musa as. memohon agar Allah memperlihatkan diri, supaya dia bisa melihat-Nya. Allah berfirman bahwa Musa as. tidak dapat melihat-Nya. Tetapi Allah nenyuruh Musa as. untuk melihat gunung. Jika gunung itu tetap tegak di tempatnya, tentu Musa as. akan melihat Allah.

Tatkala Allah menampakkan diri pada gunung, gunung itu menjadi berkeping-keping. Musa as. jatuh pingsan. Setelah sadar dia berkata: “Maha Suci Engkau (Allah).” Musa kembali kepada Allah dengan bertobat, dan beriman kepada Allah.

Ternyata mata jasmani manusia tidak dapat melihat Allah. Dalam peristiwa mi’raj Nabi Muhammad saw. melihat Allah bukan dengan mata jasmani, tetapi dengan  mata ruhani.

Mata manusia tidak bisa melihat matahari dengan cahayanya yang menyala dan terang sekali. Tetapi jika matahari dengan sinarnya itu dipantulkan melalui  cermin atau air yang jernih, maka mata telanjang pun dapat melihatnya (bayangannya).

Jadi mata manusia yang tidak dapat melihat sesuatu secara langsung, ia dapat melihatnya melalui media (perantara) yang dapat menunjukkannya dalam rupa bayangannya.

Begitu pula dalam hal melihat Allah, kasyaf berfungsi sebagai medianya. Dalam kasyaf, manusia dapat melihat-Nya (melihat sinyal keberadaan-Nya) dengan mata rohaninya.

Demikianlah Rasulullah saw. melaksanakan Isra Mi’raj dalam keadaan kasyaf.

 

Oleh: Yatimin AS

Comment here