Pustaka

Buku Sentuhan Ruhani Imam Zaman Jilid Dua

  • Judul Buku : Sentuhan Ruhani Imam Zaman Jilid II
  • Penyusun : Yatimin AS
  • Penerbit : Darul Kutubil Islamiyah Yogyakarta
  • Terbit Tahun 2020
  • 242 Halaman

Boleh jadi zaman ini merupakan salah satu manifestasi keadaan yang dilukiskan oleh Qur’an Surat Al-Zilzal. Kerasnya benturan dua kutub peradaban yang dibangun dari asas yang sama, yakni materialisme, menyebabkan goncangan kejiwaan yang dahsyat bagi banyak orang, sehingga menjadi resah dan gelisah, kehilangan imunitas batin dan tidak tahu apa yang harus diperbuat.

Nasihat orang-orang salih dalam kondisi sedemikian itu, seperti halnya dengan apa yang ada di dalam buku ini, pasti akan sangat besar faedahnya. Nasihat-nasihat itu akan menuntun manusia menemukan alternatif solusi bagi berbagai permasalahan yang dihadapinya. Alternatif solusi yang dimaksud adalah spiritualitas agama, yang dalam perjalanan sejarah umat manusia berulang kali sukses menyelamatkannya dari jurang ke-hancuran.

Sayangnya, agama belakangan ini seolah telah kehi-langan spiritualitasnya. Yang tersisa darinya tinggallah formalitas dan simbol-simbol lahiriah belaka. Alih-alih sebagai solusi, yang sering terjadi justru agama menjadi sumber, atau bagian dari, masalah itu sendiri.

Kondisi faktual ini meniscayakan adanya ide-ide pembaruan, dalam arti mengembalikan spiritulitas agama sebagaimana di era permulaan ketika ia berkembang, oleh orang yang memang diberi kemampuan dan otoritas untuk itu. Pasti tidak sembarang orang bisa melakukannya, kendati mungkin banyak orang memiliki kapasitas keilmuan yang memadai. Dan pasti, hanya orang yang kehadirannya telah dijanjikan oleh Allah, melalui lisan yang mulia Nabi Suci Muhammad saw. sajalah, yang bisa melakukannya.

Berakhirnya era kenabian pada diri Nabi Suci Muhammad Saw. tidak memustahilkan datangnya orang yang akan meneruskan tugas-tugas kenabian, untuk membimbing umat menurut tuntunan wahyu Ilahi. Dan hanya orang yang memiliki keataatan yang sempurna kepada Nabi Suci sajalah, yang mampu mewarisi tugas-tugas kenabian itu.

Al-Qur’an adalah firman dari Dzat Yang Maha Suci, sehingga hanya orang yang disucikan hatinyalah yang mampu menangkap pesannya. Dan dialah yang akan mendapat otoritas untuk mengaktualisasikan kembali ajaran Qur’an Suci, dan memformulasikannya kembali ke dalam kalimat-kalimat yang membumi, yang relevan dengan konteks zaman, sehingga mampu menjawab tantangan dan perkembangan keadaan.

Isi buku ini, sebagaimana isi buku di seri pertama, adalah salah satu cerminan bagaimana Sang Mujaddid membuktikan otoritasnya, dalam mengaktualisasikan nilai-nilai substansial Al-Qur’an, dalam rupa pesan-pesan moral spiritual kepada setiap yang membacanya, di dalam menghadapi beragam keadaan dan problematika kehidupan.

Comment here