facebooklikebutton.co
TOKOH

Al-Hajj Muhammad Bachrun

Almarhum Bapak H. M. Bachrun adalah Ketua Umum GAI yang kedua sejak berdirinya GAI. Beliau lahir pada tanggal 12 Februari 1911 dan wafat pada tanggal 6 Mei 1979 jam 19.00 di Rumah Sakit Tentara Angkatan Darat Gatot Subroto, Jakarta dan dikebumikan di Taman Pahlawan Kalibata.

Sejak mudanya memang sudah berkecimpung dalam bidang agama Islam. Ilmu tersebut digalinya dari Pondok Pesantren Jamsaren Sala selama 7 tahun, yang dikenal dengan Mamba’ul Ulum. Maka dengan istilah sekarang, beliau berhak memiliki predikat Kyai. Tapi predikat tersebut tidak pernah dipakai, walaupun keahliannya bahkan melebihi mereka yang memasang dengan megahnya titel tersebut.

Jabatan terakhir sebelum masuk tentara ialah Manteri Malaria di daerah Banyumas. Pada pemerintahan Jepang, beliau masuk Pembela Tanah Air (PETA) sebagai Tjoe Dan Tjo dengan pangkat pertama Kapten.

Walaupun modal pendidikannya itu Kyai, tapi rupanya pada dirinya mengalir juga darah keprajuritan, yang telah dibuktikan kemampuannya pada menghadapi Clash I dan II di Jawa Tengah dan Jawa Barat.

Beliau mencapai karier cukup tinggi di Tentara. Pernah menjabat Panglima Divisi Diponegoro di Semarang, Jawa Tengah dan jabatan terakhir sampai pensiun ialah Kepala Corps Intendance AD (CIAD) di Jakarta. Pangkat terakhir adalah Brigadir Jenderal TNI.

Selama tugas di Jakarta, pernah mendapat tugas mendampingi Presiden Soekarno sebagai Ajudan selama menunaikan ibadah Haji di Tanah Suci.

Maka setelah menjalani pensiun itulah beliau sangat aktif dalam GAI. Walaupun sudah purnawirawan, beliau tidak tinggal diam. Tidak kurang dari 9 perusahaan beliau kelola, dan sebagian besar menjadi Komisaris Utama. Di antaranya PT Mantrust dan Ubekti.

Di samping mengelola sejumlah perusahaan yang cukup menyibukkan itu, beliau tidak kurang perhatian yang dicurahkan kepada GAI. Bahkan pada tahun-tahun terakhir sebelum wafat, boleh dikata semua waktu dipergunakan untuk kepentingan GAI. Majalah bulanan GAI, Warta Keluarga, adalah seluruhnya menjadi beban beliau, baik dalam bidang pengisian maupun biaya.

Banyak buku yang telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, di antaranya: Barahini Ahmadiyah, Dajjal dan Ya’juj wa Ma’juj, Rahasia Hidup, Safinatu Nuh dan lain-lain buku kecil. Buah-buah karya raksasa ialah menerjemahkan buku-buku standar Islamologi (Dinul Islam) dan Quran Jarwa Indonesia terjemahan dari The Holy Qur’an karangan Maulana Maulvi Muhammad Ali, M.A., L.LB. Sayang sekali beliau tidak sempat menyaksikan lahirnya Quran Jarwa Indonesia yang sangat tinggi nilainya itu, walaupun terjemahan sudah selesai seluruhnya, termasuk tafsir dan indeks.

 

Sumber: Kenang-Kenangan GAI Usia 50 Tahun (Golden Jubilee), hal. 101-102

Comment here