Kemenangan Islam yang dicita-citakan oleh Gerakan Ahmadiyah, sependek pengetahuan saya, tidak diukur dari banyaknya umat yang beribadah, megahnya bangunan masjid, atau lantangnya suara yang mengatasnamakan agama.
Kemenangan Islam yang dimaksud harus terlihat dari tumbuhnya ilmu pengetahuan, mulianya akhlak, tegaknya keadilan dan kebenaran, serta hadirnya umat yang mampu memberikan manfaat bagi seluruh umat manusia.
Dalam konteks inilah jihad literasi, sebagai jalam kemenangan Islam dalam perspektif Gerakan Ahmadiyah, menemukan maknanya yang mendalam.
Bagi warga Gerakan Ahmadiyah, literasi bukan sekadar kemampuan membaca dan menulis, melainkan bagian dari perjuangan mewujudkan visi atau cita-cita gerakan: Islam yang berilmu, berakal, berakhlak, serta relevan dengan persoalan zaman.
Jihad yang Dimulai dari Membaca
Kata jihad sering kali dipersempit maknanya menjadi perjuangan fisik atau perlawanan terhadap pihak yang dianggap sebagai musuh. Padahal, jihad dalam pengertian yang lebih luas mencakup kesungguhan mengerahkan kemampuan untuk menegakkan kebaikan, melawan kebodohan, memperbaiki diri, dan menghadirkan kemaslahatan bagi sesama.
Dalam perspektif tersebut, membaca, meneliti, menulis, berdiskusi, dan menyebarkan pengetahuan dapat menjadi bagian dari perjuangan yang bermakna.
Bukankah wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad saw. diawali dengan perintah Iqra, yang berarti bacalah? Perintah ini mengandung pesan mendasar bahwa kebangkitan umat harus dimulai dari kesediaan membuka pikiran, memahami kenyataan, dan menggali pengetahuan.
Al-Qur’an berulang kali mengajak manusia untuk berpikir, memperhatikan tanda-tanda kebesaran Allah, serta menggunakan akal untuk membedakan kebenaran dari kebatilan. Karena itu, seorang Muslim semestinya tidak merasa cukup dengan keyakinan yang diwariskan tanpa berusaha memperdalam pemahaman.
Jihad literasi adalah perjuangan melawan kemalasan berpikir, fanatisme buta, manipulasi informasi, dan kebiasaan menerima pendapat tanpa memeriksa kebenarannya.
Di tengah masyarakat yang dibanjiri informasi, tantangan umat Islam bukan lagi sekadar mendapatkan bahan bacaan, melainkan membangun kemampuan untuk memahami, memeriksa, dan menggunakannya secara bertanggung jawab.
Literasi dan Identitas Gerakan Ahmadiyah
Bagi Gerakan Ahmadiyah, jihad literasi memiliki hubungan erat dengan cita-cita kebangkitan Islam melalui ilmu pengetahuan, argumentasi yang rasional, dan keteladanan akhlak.
Kehadiran Mirza Ghulam Ahmad pada akhir abad ke-19 berlangsung ketika dunia Islam menghadapi tantangan kolonialisme, perkembangan ilmu pengetahuan modern, dan kritik terhadap agama. Dalam konteks tersebut, ia menekankan pentingnya membela Islam melalui penjelasan (bayyinah), argumentasi, serta pembuktian yang dipandangnya mampu menunjukkan keunggulan ajaran Islam.
Tradisi tersebut memberikan pelajaran penting: keyakinan keagamaan tidak seharusnya membuat seseorang takut terhadap pengetahuan, perbedaan pendapat, ataupun pertanyaan kritis. Sebaliknya, keyakinan semestinya mendorong seseorang untuk memperdalam ilmu dan memperkuat kemampuannya menjelaskan apa yang dipercayai atau diyakininya.
Warga Gerakan karena itu perlu menjadikan membaca Al-Qur’an, mempelajari literatur keislaman, mendalami sejarah, memahami perkembangan ilmu pengetahuan, dan mengikuti persoalan Masyarakat, sebagai bagian dari pembinaan dan pengembangan kualitas diri.
Namun, literasi yang sejati tidak berhenti pada kemampuan mengutip buku atau memenangkan perdebatan. Ia harus melahirkan kerendahan hati untuk mengakui keterbatasan, keberanian mengoreksi kesalahan, dan kesediaan mendengarkan pandangan yang berbeda.
Sebab, orang yang benar-benar berilmu tidak hanya memiliki banyak jawaban, tetapi juga memahami bagaimana mengajukan pernyataan dan pertanyaan yang tepat, serta membedakan antara keyakinan pribadi, fakta, serta prasangka.
Kemenangan Islam Bukan Sekadar Kemenangan Simbolik
Apa sebenarnya makna kemenangan Islam?
Pertanyaan ini penting karena umat beragama terkadang terjebak pada ukuran-ukuran simbolik. Banyaknya pengikut dianggap sebagai bukti keberhasilan, sementara kualitas pendidikan, kejujuran dalam kehidupan publik, dan kepedulian terhadap kelompok yang menderita justru kurang mendapatkan perhatian.
Padahal, kemenangan Islam semestinya tercermin dalam perubahan nyata kehidupan manusia.
Islam menang ketika kebodohan dikalahkan oleh ilmu, kemiskinan diperangi melalui pemberdayaan, korupsi dilawan dengan integritas, dan kebencian digantikan oleh kasih sayang. Islam menang ketika umatnya mampu menjadi teladan dalam kejujuran, keadilan, kedisiplinan, dan penghormatan terhadap martabat manusia.
Dalam visi tersebut, jihad literasi merupakan salah satu jalan strategis untuk membangun kemenangan Islam.
Masyarakat yang melek literasi (literate) akan lebih mampu memahami persoalan secara menyeluruh, menilai kebijakan publik secara kritis, serta membedakan kritik yang berlandaskan fakta dari propaganda yang sengaja membangkitkan kebencian.
Sebaliknya, masyarakat yang miskin literasi lebih mudah dipengaruhi kabar bohong, sentimen kelompok, dan narasi yang memanipulasi agama untuk kepentingan tertentu.
Karena itu, warga Ahmadiyah perlu memaknai kemenangan Islam bukan sebagai dominasi atas kelompok lain, melainkan sebagai keberhasilan menghadirkan nilai-nilai Islam yang membawa kebaikan bagi seluruh manusia.
Kemenangan seperti ini tidak dibangun dengan merendahkan keyakinan orang lain, tetapi melalui kekuatan ilmu, kemuliaan akhlak, dan manfaat nyata bagi masyarakat.
Jihad Literasi dalam Konteks Indonesia Hari Ini
Indonesia hari ini menghadapi berbagai persoalan yang membutuhkan keterlibatan warga negara yang kritis dan berpengetahuan. Ketimpangan ekonomi, persoalan pendidikan, korupsi, penyebaran disinformasi, serta perdebatan mengenai demokrasi dan kebebasan sipil menuntut masyarakat untuk tidak bersikap apatis.
Dalam situasi politik yang dinamis, literasi menjadi bekal penting agar warga tidak sekadar menjadi penonton atau konsumen propaganda. Warga yang memiliki kesadaran literasi mampu memeriksa kebijakan pemerintah secara kritis, memahami dampaknya terhadap masyarakat, dan menyampaikan kritik secara argumentatif.
Bagi warga Gerakan, sikap tersebut merupakan bagian dari tanggung jawab sebagai Muslim sekaligus sebagai warga negara Indonesia.
Kesetiaan kepada agama tidak harus menjadikan seseorang pasif terhadap persoalan kebangsaan. Sebaliknya, keyakinan kepada nilai-nilai kebenaran dan keadilan seharusnya mendorong keberanian untuk bersuara ketika melihat ketidakadilan, tanpa kehilangan kesantunan dan penghormatan terhadap sesama.
Di sinilah pentingnya membangun literasi politik dan kewargaan. Warga Ahmadiyah perlu memahami konstitusi, hak asasi manusia, prinsip demokrasi, kebijakan publik, serta mekanisme penyampaian aspirasi secara damai dan bertanggung jawab.
Sikap kritis terhadap kekuasaan bukan berarti membenci pemerintah. Demikian pula, mengingatkan penguasa bukan berarti memusuhi negara. Kritik yang didasarkan pada fakta dan kepentingan publik justru dapat menjadi bagian dari usaha memperbaiki kehidupan bersama.
Jihad literasi pada ujungnya dapat membekali umat dengan keberanian untuk mengatakan benar sebagai benar dan salah sebagai salah, sekaligus kesediaan menguji pendapat sendiri dengan standar kebenaran yang sama.
Kita tidak boleh hanya kritis terhadap kesalahan pihak lain, tetapi membenarkan kesalahan kelompok sendiri. Kita juga tidak boleh mudah menyebarkan tuduhan hanya karena informasi tersebut menguntungkan pandangan politik kita.
Dari Budaya Membaca Menuju Gerakan Pencerahan
Jihad literasi tidak akan berkembang jika hanya menjadi slogan dalam ceramah atau tulisan. Ia harus diwujudkan dalam kebiasaan dan gerakan yang terorganisir.
Setiap keluarga dapat membangun budaya membaca. Setiap cabang dan komunitas terkecil di masing-masing daerah dapat menyelenggarakan diskusi buku, kajian Al-Qur’an, forum sejarah, serta pembahasan isu sosial dan kebangsaan.
Generasi muda dapat didorong untuk menulis artikel, membuat konten edukatif, melakukan penelitian sederhana, dan mengembangkan kemampuan memeriksa fakta.
Literatur keagamaan perlu dibaca bersama pengetahuan umum, ilmu sosial, sejarah, sains, dan perkembangan teknologi. Dengan demikian, wawasan keislaman tidak terpisah dari pemahaman terhadap kenyataan kehidupan.
Media digital juga perlu dimanfaatkan sebagai ruang pencerahan. Warga Ahmadiyah dapat menghadirkan tulisan, video, dan diskusi yang menjelaskan Islam secara argumentatif, membangun dialog lintas kelompok, serta menawarkan solusi terhadap persoalan masyarakat.
Yang tidak kalah penting, budaya literasi harus dibangun tanpa rasa takut terhadap pertanyaan. Anak muda perlu diberi ruang untuk berpikir kritis, menyampaikan kegelisahan, dan mendiskusikan persoalan yang sulit tanpa buru-buru dicap kurang beriman.
Sebab, generasi yang hanya dilatih menghafal jawaban belum tentu siap menghadapi persoalan baru. Umat membutuhkan generasi yang memiliki keyakinan sekaligus kemampuan berpikir mandiri.
Menjadi Umat yang Mencerahkan
Pada akhirnya, jihad literasi adalah perjuangan panjang yang menuntut kesabaran. Hasilnya mungkin tidak segera terlihat. Satu buku yang dibaca hari ini belum tentu langsung mengubah masyarakat. Satu artikel yang ditulis hari ini mungkin hanya dibaca segelintir orang.
Namun, perubahan besar sering kali bermula dari kesadaran kecil yang dipelihara secara konsisten.
Bagi warga Gerakan Ahmadiyah, tantangannya adalah membuktikan bahwa kecintaan kepada Islam dapat melahirkan kecintaan kepada ilmu, bahwa kesetiaan kepada keyakinan dapat berjalan bersama keterbukaan pikiran, dan bahwa semangat dakwah dapat diwujudkan melalui karya yang mencerahkan.
Kita perlu bertanya kepada diri sendiri: sudah berapa banyak buku yang kita baca, pengetahuan yang kita bagikan, ketidakadilan yang kita pahami, dan persoalan masyarakat yang peru kita bantu segera selesaikan?
Jangan sampai kita berbicara tentang kemenangan Islam, tetapi membiarkan kebodohan tumbuh di lingkungan sendiri. Jangan sampai kita mengharapkan perubahan masyarakat, sementara kita sendiri tidak bersedia memperbaiki cara berpikir.
Kemenangan Islam harus dimulai dari kemenangan melawan kebodohan dalam diri sendiri.
Melalui jihad literasi, warga Ahmadiyah dapat mengambil bagian dalam membangun umat yang berilmu, masyarakat yang adil, dan Indonesia yang lebih manusiawi. Bukan dengan kebencian, bukan dengan pemaksaan, melainkan dengan kekuatan pengetahuan, keteguhan prinsip, dan keteladanan akhlak.
Sebab, Islam yang menang bukanlah Islam yang paling keras suaranya, melainkan Islam yang paling nyata manfaatnya bagi kehidupan.
Dan umat yang benar-benar siap menyongsong kemenangan bukanlah umat yang berhenti belajar setelah merasa benar, melainkan umat yang terus mencari ilmu agar semakin dekat kepada kebenaran.[]

Comment here