ArtikelKristianologi Qurani

Al-Qur’an Kitab Yang Kekal

close up shot of prayer beads on a book

Al-Qur’an adalah sebuah Kitab yang selalu dibaca atau tetap dibaca. Dalam kenyataan, di antara kitab suci di dunia hanya Al-Qur’an sajalah yang sejak diwahyukan sampai sekarang, dan boleh jadi seterusnya, terus dibaca atau tetap selalu dibaca dalam bahasa aslinya, bukan terjemahan atau gubahannya.

Teristimewa lagi surat Al-fatihah, Ummul Kitab yang terdiri dari tujuh ayat itu. Sebagaimana dinubuatkan oleh Allah dalam firman-Nya, “Dan sesungguhnya telah kami berikan kepada engkau tujuh (ayat) yang selalu diulang dan Qur’an yang agung.” (QS 15:87).

Yang dimaksud tujuh ayat yang selalu diulang dalam ayat di atas adalah tujuh ayat dari Surat Al-Fatihah. Tujuh ayat ini harus dibaca oleh tiap-tiap orang Islam pada tiap-tiap rakaat salat, baik salat maktubah maupun salat nafilah, dan masih ditambah lagi surat-surat pendek (al-Mufashshal) atau penggalan ayat-ayat Qur’an lainnya.

Jadi, setiap kaum Muslimin mengulang bacaan tujuh ayat dari surat Al-Fatihah minimal 17 kali setiap hari. Dengan demikian, pada realitasnya, setiap waktu milyaran orang di seluruh dunia membaca Surat Al-Fatihah, baik secara keras (jahr) maupun secara pelan atau rahasia (sirr) di muka bumi ini.

Dalam waktu yang sama, jika di satu daerah membaca Surat Al-Fatihah dalam salat Isya’, maka di daerah lain ada yang membacanya dalam shalat Shubuh. Di daerah lain lagi, ada yang membacanya dalam salat Dzuhur, salat ‘Ashar, dan seterusnya. Selain itu, jutaan orang lainnya membaca Al-Fatihah dalam salat Nafilah mereka, seperti Rawatib, Tahajjud, Dhuha, dan sebagainya.

Realitas bahwa Al-Quran adalah Kitab Suci yang selalu dibaca ini, adalah penggenapan nubuat atau ramalan Nabi Yohanes yang terdokumentasikan di dalam Kitab Perjanjian Baru, yang berbunyi sebagai berikut:

“Dan aku melihat seorang Malaikat lain terbang di tengah-tengah langit dan padanya ada Injil yang Kekal untuk diberitakannya kepada mereka yang diam di atas bumi dan kepada semua bangsa dan suku dan bahasa dan kaum, dan ia berseru dengan suara nyaring. “Takutlah akan Allah dan muliakanlah Dia, karena telah tiba saat penghakimanNya, dan sembahlah Dia yang telah menjadikan langit dan bumi dan laut dan semua mata air.” (Wahyu 14:6-7)

Umat Kristen menafsirkan bahwa Injil yang kekal yang dimaksud dalam ayat itu adalah Injil-nya Yesus Kristus. Tafsiran ini jelas keliru, sebab:

  1. Pada waktu kasyaf tersebut diterima oleh Yohanes di Pulau Patmos pada tahun 95 M, Injil Yesus telah diturunkan ke bumi dari langit.
  2. Injil Yesus tidak kekal. Sebab sepeninggal Yesus dari Palestina, tepatnya dua dekade pasca penyalibannya di tahun 33 M, Injil itu telah berubah dari aslinya, baik secara tekstual maupun secara konseptual. Pada tahun 95 M, “Injil dari Yesus” telah terkontaminasi dan berubah jati dirinya menjadi “Injil tentang Yesus,” yang saat itu telah beredar puluhan buah kitab.
  3. Injil Yesus tidak diperuntukkan kepada semua bangsa di dunia. Yesus berpesan agar Injilnya hanya disampaikan kepada domba-domba Israel yang tersesat. Sehingga yang beredar dan disebarluaskan ke seluruh dunia bukanlah Injil dari Yesus, melainkan “Injil tentang Yesus,” buah karya Markus, Lukas, Matius, Yohanes, dan sebagainya.
  4. Pesan pokok Injil yang Kekal ialah mempertuhankan Dia yang telah menciptakan langit dan bumi serta laut dan semua mata air, yaitu Allah SWT. Tetapi “Injil tentang Yesus” pesan pokoknya adalah tentang Ketuhanan Yesus dengan segala rangkaian dogma yang menyertainya, seperti halnya dosa waris, penebusan dosa, dan sebagainya.

 

Nubuat Yohanes mengenai “Injil Yang Kekal” itu menjadi tepat jika diterapkan kepada Al-Qur’an, dengan alasan:

  1. Kata Injil yang artinya kabar baik, bahasa Arabnya adalah busyrâ. Sebutan ini ternyata salah satu nama sifat Al-Qur’an yang diwahyukan Jibril atau Roh Kudus, yang pembawanya pun disebut Basyîr atau Mubasysyir.
  2. Pada waktu Yohanes menerima kasyaf itu Al-Qur’an masih berada di langit, belum diturunkan ke bumi. Al-Qur’an diturunkan ke bumi 500 tahunan kemudian.
  3. Al-Qur’an bersifat kekal, baik secara tekstual maupun konseptual. Kekekalan Al-Qur’an terjadi karena di-lindungi sendiri oleh Allah SWT (15:9; 41:41-42; 56:77-80; 85:21-22)
  4. Al-Qur’an adalah satu-satunya Kitab Suci yang men-dakwahkan diri untuk semua bangsa di dunia, baik secara etnis atau rasis maupun secara teologis.
  5. Al-Qur’an adalah sebuah Kitab Suci yang risalah pokok-nya adalah mengabdi kepada Allah, Tuhan Yang Maha Esa tanpa sekutu, Pencipta Langit, Bumi, Laut, dan segenap mata air.

Kekekalan Al-Qur’an secara tekstual mencakup pula pembacaan teksnya dalam bahasa Arab yang terang. Ini merupakan salah satu kemukjizatan Al-Qur’an yang juga bersifat kekal.[]

 

Oleh: Simon Ali Yasir

Comment here