facebooklikebutton.co

Jati Diri

Gerakan Ahmadiyah Indonesia, dalam jati dirinya sebagai pelayan Islam, berkeyakinan pada prinsip bahwa:

  1. Islam adalah agama yang hidup. Karena itu, semua pengikutnya yang sempurna, dengan ridha Allah Ta’ala, dapat berhubungan secara langsung denganNya.
  2. Islam adalah agama kesatuan. Karena itu, semua umat Islam adalah saudara dan tak seorangpun dapat disebut kafir karena berbeda pendapat, selama ia berpegang teguh kepada kalimat syahadat: Laa Ilaaha Illallaah Muhammadar-Rasuulullaah (Tak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Utusan Allah).
  3. Agama Islam berpandangan liberal. Karena itu, Islam mengakui kesatuan umat manusia dan menerima semua Nabi yang dibangkitkan di antara semua bangsa di dunia.
  4. Islam adalah agama yang unggul dan tak bisa diungguli. Karena itu, prinsip-prinsip ajarannya secara bertahap akan diterima dan memperoleh kemajuan di dunia
  5. Islam adalah agama yang rasional. Karena itu, ajaran pokok (ushul) maupun cabang-cabang (furu’) Islam, pasti dan akan senantiasa selaras dengan nalar dan fitrah manusia.
  6. Pintu Ijtihad tetap terbuka untuk selama-lamanya.
  7. Kitab Suci Al-Qur’an mendapat tempat yang pertama dan utama dalam kehidupan, dan merupakan sumber hukum Islam yang asli dan tak dapat diganti. Hadits datang sesudah itu dan berada di bawah Al-Qur’an. Sesudah itu datang Fiqih (yurisprudensi) dan Ijtihad para Imam, yang kedua-duanya berada di bawah Qur’an Suci dan Hadits Nabi saw.
  8. Kitab Suci Al-Qur’an adalah sumber petunjuk bagi umat manusia sepanjang zaman. Karena itu, tak ada satu ayat Al-Qur’an pun yang pernah dihapus atau akan dihapus.
  9. Kitab Suci Al-Qur’an memiliki daya rohani yang besar. Karena itu tidak dan tak akan pernah memerlukan “pedang” untuk menyiarkannya.
  10. Kitab Suci Al-Qur’an adalah kumpulan semua kebenaran rohani dan agama, dan memancarkan sinar kepadanya. Karena itu, Al-Qur’an tidak hanya mendorong ke arah kemajuan di bidang agama saja, tetapi juga memberikan dalil-dalil dalam memperjuangkannya.
  11. Nabi Suci Muhammad saw. memiliki sifat-sifat kesempurnaan semua Nabi terdahulu. Karena itu umat manusia tidak memerlukan datangnya Nabi lagi.
  12. Nabi Suci Muhammad saw. adalah penutup para Nabi. Karena itu, sesudah beliau tidak akan datang lagi, baik Nabi lama ataupun Nabi baru. Adapun para Mujaddid (pembaharu), yang akan dibangkitkan pada tiap-tiap permulaan abad, adalah bertugas melakukan koreksi atas kesalahan-kesalahan umat Islam dan memberi bimbingan ke jalan yang benar.

Atas dasar prinsip-prinsip keyakinan di atas, maka Gerakan Ahmadiyah Indonesia menganut prinsip-prinsip sikap:

  1. Menghormati para pendiri agama dari berbagai bangsa dan kitab-kitab sucinya.
  2. Menghormati semua sahabat Rasulullah saw., semua Imam (dari madzab manapun), para Wali dan para Mujaddid.
  3. Beranggapan bahwa semua madzhab dalam Islam adalah sebagai ranting-ranting pohon yang beraneka macam. Perbedaan-perbedaan kecil bisa saja timbul, tetapi semua sependapat tentang Qur’an Suci dan Nabi Muhammad saw.
  4. Tunduk kepada syari’at dan adat istiadat Islam. Menjauhi semua adat dan kebiasaan yang buruk dan menerima kekuasaan Al-Qur’an secara kaaffah.
  5. Cinta kasih kepada siapapun, pemeluk agama apapun, dari negara, bangsa atau umat apapun juga.
  6. Beranggapan bahwa setiap orang Islam adalah saudara dan berusaha sedapat mungkin untuk menolongnya.
  7. Kebaktian kepada agama Islam dikerjakan bersama Imam dan Mujaddid pada abadnya dan di bawah pimpinannya. Berjuang untuk memperbaharui organisasi dan membuang kesalahan-kesalahan dengan semangat dan jiwa agama yang benar.
  8. Membela agama Islam, semua Kitab Suci dan Utusan Allah dari segala serangan.
  9. Beranggapan bahwa dirinya sebagai duta di jalan Tuhan Yang Maha Esa dalam hal menyebarluaskan Islam. Menyampaikan wahyu Tuhan dan pesan Islam kepada seluruh bangsa di dunia.
  10. Membelanjakan sebagian dari waktu dan miliknya untuk mempertahankan dan menyiarkan Islam.
  11. Dengan senang hati menghadapi segala macam kesulitan, kesalahpahaman dan penghinaan demi dan untuk agama Allah.
  12. Menjunjung tinggi agama melebihi dunia. Cinta kasih kepada Tuhan dan Utusan-Nya. Mendahulukan pelayanan kepada agama Islam dan rela berkorban untuk umat manusia pada umumnya dan Nabi Suci Muhammad saw. pada khususnya, daripada urusan duniawi.