Artikel

Tak ada Paksaan dalam Islam — KH. S. Ali Yasir

Dengan perantaraan nabi agung Muhammad shallallahu alaihi wasallam Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Tak ada paksaan dalam agama” (Qs 2:256).

Yang dimaksud “agama” di sini, sebagai terjemahan Ad-Diin, adalah agama Islam. Tiadanya paksaan dalam agama ini bukan hanya menyangkut pelaksanaan syariatnya, akan tapi juga berkenaan dengan masalah akidahnya.

Mengapa tidak ada paksaan? Karena, sebagaimana kita ketahui, Islam mengandung tiga ajaran penting. Pertama, keesaan Allah subhanahu wa ta’ala dan kemahamurahan-Nya.

Kedua, pemberian wahyu kepada manusia sejagat. Allah membangkitkan para nabi dari berbagai bangsa yang masing-masing telah dikaruniai kitab suci sebagai pedoman hidup. Ketiga adalah tanggung-jawab manusia atas segala perbuatannya di dunia yang ini mesti dipertanggungjawabkan di akhirat nanti.

Ketiga hal ini diakui kebenarannya oleh semua agama dari sekalian bangsa di dunia ini.

Dengan demikian maka, dibenarkannya ajaran itu oleh kesaksian akan benarnya ajaran itu, dibuktikan oleh manusia sejagat membuktikan seterang-terangnya bahwa kodrat manusia memberi kesaksian akan benarnya ajaran itu.

Oleh karena itulah, dalam Islam itu tidak ada paksaan. Karena orang pasti menerima tentang ketiga hal tadi. Dua yang pertama, ini menyangkut masalah akidah. Sedangkan yang ketiga, ini berkenaan langsung dengan pertanggungjawaban manusia berbuat di dunia ini, lebih banyak mengandung hubungan dengan sesama manusia.

Dia hidup bermasyarakat, ini harus bergaul dengan sesama manusia yang oleh Allah subhanahu wa ta’ala itu diperintahkan dengan kata-kata, “Dan berbuat baiklah kepada sesama makhluk sebagaimana Allah telah berbuat baik kepada kamu sekalian.” (Qs 28:77)

Satu hal yang perlu kita ketahui ialah perbuatan baik manusia meski sifatnya itu horizontal tidak terpisah dengan hal yang sifatnya vertikal, yakni Allah subhanahu wa ta’ala dengan demikian makin tinggi keimanan seseorang, sebenarnya ini juga semakin besar manifestasinya untuk berbuat baik kepada sesama manusia.

Oleh karena itulah, maka barang siapa yang melaksanakan ajaran Islam sebagaimana mestinya yang dikehendaki oleh Quran Suci dan dicontohkan oleh nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam, maka semua orang akan tertarik kepada Islam itu.

Maka diungkapkan dalam satu ayat yang menggambarkan keadaan orang-orang kafir zaman nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam yang sebenarnya itu juga tetap berlangsung sampai hari ini Allah menyatakan, “Alangkah baiknya sekiranya kita ini menjadi orang-orang Muslim juga” (Qs 15:2).

Inilah manifestasi seorang Muslim yang melaksanakan ajaran agamanya sebagaimana yang dikehendaki oleh Qur’an dan dicontohkan oleh Rasulullah, yang terutusnya beliau, merupakan rahmatan lil ‘alamin, sebagai rahmat untuk semua alam. Yang implementasi ajaran itu, yang dikumandangkan lewat azan 5 kali sehari semalam, ini sebenarnya menarik hati nurani manusia atau fitrah manusia.

Maka dari itu, dalam penyebarluasan Islam ini tidak diperlukan adanya paksaan atau pedang. Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menyebut berjuang atau jihad dengan pedang itu hanya merupakan jihad kecil atau jihad asghor karena tidak ada hubungannya sama sekali dengan penyebarluasan agama Islam yang sifatnya rahmatal lil alamin tersebut

Ini pengertian tentang tidak ada paksaan di dalam agama Mudah-mudahan, dengan keterangan ini bermanfaat buat kita semua dan semakin membuat kita lebih mawas diri sejauh mana penghayatan terhadap agama kita ini kita harus banyak melihat ke dalam melakukan muhasabah lebih banyak melibatkan hati nurani untuk penghayatan agama ini.

Jadi, jelas sekali bahwa laa ikraaha fid diin, yang dalam ayat seterusnya itu dinyatakan bahwa qod tabayyanar rusydu minal ghayyi, “Sungguh telah jelas, perbedaan antara yang benar dan yang salah.” (Qs 2:256)

Nah, yang dimaksud dengan yang benar itu adalah jalan atau petunjuk yang diberikan oleh agama Islam. Sedangkan yang salah, itu adalah jalan yang ditunjukkan atau dipengaruhi atau yang berasal dari setan yang sudah barang tentu itu menimbulkan kegelapan yang pada saat itu Allah subhanahu wa ta’ala berusaha menghilangkan kegelapan dengan cara membangkitkan para utusan-Nya di berbagai bangsa di dunia ini yang akhirnya mencapai kesempurnaan pada diri nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam.[]

Yuk Bagikan Artikel Ini!

Comment here