Kolom

Resonansi Mental

Manusia memancarkan gelombang-gelombang pikiran yang dapat dideteksi  dengan sebuah EEG atau electro-encephalograph. Seperti gelombang pada umumnya, gelombang pikiran manusia mempunyai frekwensi-frekwensi tertentu.  Adapun rangsangan oleh gelombang berlangsung dengan resonansi.

Resonansi ialah ikut bergetar karena frekwensi yang sama. Contohnya banyak sekali.

Orang melewati jembatan gantung yang terbuat dari tali-temali dengan irama langkah yang sama dengan frekwensi jembatan, jembatan akan berayun yang menakutkan, membuat orang otomatis mengubah langkahnya. Sepasukan tentara yang melewati jembatan, tidak boleh berbaris teratur, sebab jika kebetulan irama langkah barisan  sama dengan frekwensi jembatan, jembatan dapat hancur.

Kapal terbang yang terbang sama cepat dengan suara akan meledak hancur oleh resonansi. Lebih cepat dari suara malahan aman, yaitu supersonik atau hipersonik telah mengatasi barier suara. Pesawat TV atau radio yang frekwensinya telah diatur sama dengan pemancar mengalami resonansi berupa tayangan dan bunyian yang sama dengan yang disiarkan pemancar.

Ruang yang sedang kita tempati penuh dan ramai dengan gelombang elektromagnet. Pesawat radio dapat menangkap siaran pemancar sedunia. Juga pesawat TV dapat menangkap tayangan semua pemancar, jika perlu dengan pertolongan satelit perantara dan antena parabola. Menangkapnya gelombang dengan resonansi, frekwensi pesawat penerima diatur sama dengan pemancar.

Demikian juga dimanapun penuh dan ramai dengan gelombang pikiran manusia dari segala macam arah, termasuk dari jin dan syaitan. Padahal gelombang pikiran manusia  kini berupa POLUSI TOTAL dengan merajalelanya tawur, kroyok, KKN, narkoba, kekerasan, membunuh dan lain-lain kejahiliahan.

Intensitas gelombang teramat kuat, sehingga daya induksinya kuat sekali, maka dari itu orang menamakan keadaan sekarang  “JAMAN EDAN”. Krisis cinta kasih, krisis akhlak, krisis keadilan dan krisis iman dewasa ini membuat manusia mudah sekali diresonansi oleh “Jaman Edan”.

Bahkan jaman edan meresonansi semesta alam dengan kuat sekali untuk turunnya bencana-bencana alam yang dahsyat, “Musibah apapun yang dialami manusia, itu karena perbuatan tangannya” (QS 42:30).

Namun ada gelombang-gelombang yang berasal dari Tuhan, dinamakan AYAT-AYAT TUHAN yang teramat sakti, sebagaimana yang telah dibuktikan oleh prestasi-prestasi para Nabi dan Waliyullah.

Nabi Besar Muhammad SAW telah mereformasi bangsa Arab yang jahiliah menjadi bangsa penakluk dunia dalam waktu yang singkat. Dalam millennium baru sekarang ini, ayat-ayat Tuhan menunggu umat yang bersedia untuk diresonansi guna menegakkan FATHI ISLAM atau Kemenangan Islam, yaitu terulangnya kembali kejayaan Islam seperti zaman dahulu.

Ayat-ayat Tuhan memenuhi seluruh semesta alam, sebab Tuhan ALLAH-US SOMAD. Ayat-ayat Tuhan mengevolusi seluruh semesta alam, sebab Tuhan ROBBUL-ALAMIN. Ayat-ayat Tuhan turun dengan tiada henti-hentinya, sebab Tuhan tak pernah capai (QS 46:33) dan tak pernah istirahat (QS 50:38).

Ayat-ayat Tuhan adalah simfoni raksasa yang telah direkam sebagai Al-Qur’anul Karim yang meresonansi seluruh jagad raya, jika diringkas adalah ke-tujuh ayat Ummul-Kitab Al-Fatihah. Artinya ada tujuh frekwensi dasar, sedang frekwensi-frekwensi yang lain disuperposisi pada ketujuh frekwensi dasar.

Ketujuh frekwensi tersebut  meresonansi manusia pada tujuh macam manifestasi, yaitu  evolusi, cinta kasih, kebijaksanaan, keadilan, peradaban, inteligensi dan ilmu pengetahuan serta teknologi, idealisme dan harmoni.

Ciri suatu bangsa ialah kepribadian tertentu yang khas, dengan kata lain frekwensi dasar tertentu. Maka dari itu ada bangsa yang menyolok berprestasi dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, ada yang dalam kesenian, ada yang dalam esoterik.

Kristal mempunyai frekwensi yang teramat konstan, maka dipakai dalam pemancar dan untuk membuat jam-presisi. Batu akik itu kristal, sehingga mempunyai daya resonansi pada orang yang memakainya di cincin, dan menurut frekwensinya dibedakan ada akik kesugihan, akik kewarasan, akik keselamatan, akik kewanitaan.

Ada tiga ciptaan Tuhan yang identik, yaitu Alam Semesta, Manusia Fitrah dan Qur’an. Alam Semesta dalam bentuk makhluk ialah Manusia yang FITRAH. Alam Semesta dalam bentuk wahyu ialah Al-Qur’anul Karim. Alam Semesta, Manusia Fitrah dan Qur’an Karim frekwensi-frekwensinya sama, sehingga saling meresonansi.

Jika Nabi SAW terdesak dalam suatu peperangan, seluruh semesta alam goncang, terjadilah “goro-goro”, para malaikat turun dari langit untuk membantu Nabi (QS 3:123,124; 8:12). Konon riwayatnya, jika Nabi SAW sedang menempuh perjalanan di padang pasir, ada awan diatas yang mengikuti perjalanan, melindungi Nabi dari panas teriknya matahari.

Demikian juga Qur’an Karim telah meresonansi Nabi SAW dan para sahabat sebagai WORLDPOWER menguasai apa yang dinamakan dunia pada waktu itu dalam segala bidang, khususnya ilmu pengetahuan, ketata negaran, kehidupan sosial, akhlakul karimah, peradaban, kebudayan.

“Sibghotallohi” (QS 2:138), yaitu “Warna Allah (buatlah milikmu)”. Sama dengan  “Frekwensi Tuhan buatlah milikmu”, sebab warna itu frekwensi, pelangi berfrekwensi rata-rata 600 juta megahertz, yaitu gelombang tunggal (~) sebanyak 600 trilyun per detik.

Pesawat TV diresonansi oleh suatu pemancar memberi tayangan yang disiarkan oleh pemancar. Maka diresonansi oleh Tuhan digambarkan dengan suatu Hadis Qudsi “Mendengar dengan telinga Tuhan, melihat dengan mata Tuhan, memegang dengan tangan Tuhan, melangkah dengan kaki Tuhan” (Bukhari, Abi Hurairah).

Kiranya manusia juga teramat ingin untuk dapat “Berpikir dengan inteligensi Tuhan, berbicara dengan lidah Tuhan, menulis dengan pena Tuhan, beramal dengan cinta kasih Tuhan, berkreasi dengan kun fayakun Tuhan”.

Sewaktu SALAT insya Allah manusia teresonansi oleh doa-doa yang diucapkan. Ayat-ayat Tuhan dan Sifat-sifat Tuhan berintensitas dahsyat, namun manusia tak bakal teresonansi, jika gagal dalam “Sibghotallohi”, tidak “sefrekwensi” dengan Tuhan.

Allah Maha Dekat, “Lebih dekat dari urat leher” (QS 50:16), tetapi ada hadis Rasul yang kesimpulannya ”Manusia yang TIDAK FITRAH lagi bakal berwatak Yahudi, Nasrani, Majusi” (Bukhori), membuat Tuhan Maha Jauh, tak terdeteksi. Sama dengan pemancar yang kuat, meskipun berada di seberang jalan, tetapi tak tertangkap siarannya, sebab pesawat di rumah frekwensinya belum diatur sama.  

Berdikir ASMA’UL HUSNA, umpama “Ya Rahman, ya Rahim”, insya Allah frekwensi SIFAT-SIFAT TUHAN dapat direkam di kalbu untuk kemudian Insya Allah dapat dimanifestasikan sebagai amalan-amalan yang berkah, rahmat, keajaiban, keindahan, karomah, mujizat. Namun kalbu haruslah sudah disucikan, dibersihkan dari frekwensi-frekwensi jaman edan, yaitu insya Allah dengan ASLAMA DAN ISTIGHFAR.[]

Penulis : Mardiyono

Comment here