facebooklikebutton.co
Artikel

Mengambil Teladan Dari Peristiwa Hijrah Rasulullah saw.

silhouette of people walking on sand dune

Hijrah Nabi Muhammad saw. dari Mekah ke Madinah adalah salah satu peristiwa penting dalam sejarah Islam. Hijrah yang dilakukan oleh Nabi Suci dan para sahabat, telah menyalakan cahaya harapan di hati umat Islam awal, yang patut ditiru oleh semua muslim pada setiap generasi.

Boleh dikata, Hijrah Nabi menjadi titik balik sejarah Islam. Karena sejak peristiwa hijrah itu, Islam kemudian bertumbuh dan berkembang pesat.

Tetapi tentu, pertumbuhan dan perkembangan Islam yang sedemikian itu, tidak hanya karena bertumpu pada peristiwa hijrah umat Islam secara fisik, melainkan karena mereka serius berhijrah dalam segala aspek dan dimensi.

Ketika Nabi Muhammad saw. hijrah dari Mekah ke Madinah, beliau tidak hanya berpindah tempat tinggal dari Mekah ke Madinah. Tetapi, beliau menyelenggarakan transformasi sosial dalam segala aspek di tempat tinggalnya yang baru itu.

Ada beberapa hal yang dilakukan oleh Nabi Muhammad saw. di masa pasca hijrah ke Madinah, antara lain:

  • Pertama-tama, Nabi Muhammad saw. mendirikan masjid di pusat kota Madinah, yang kini dikenal dengan Masjid Nabawi, sebagai pusat dakwah, dan berfungsi juga sebagai tempat bermusyawarah, baik dalam urusan keagamaan maupun urusan sosial-politik.
  • Nabi Suci mendirikan madrasah, antara lain Madrasah Suffah, yang berfungsi sebagai majelis ilmu atau lembaga pendidikan, dan secara khusus menjadi wadah kaderisasi umat yang terkelola secara baik. Madrasah Suffah ini mirip dengan Darul Arqam, yang didirikan oleh Nabi Suci di masa awal kenabian selagi beliau masih berada di Mekah.
  • Nabi Suci menjalinkan hubungan persaudaraan antara Muhajirin dengan Anshar. Jalinan persaudaraan di antara kedua golongan ini tidak didasari oleh hubungan darah atau biologis, melainkan didasari oleh iman. Dan persaudaraan atas dasar iman itu oleh Nabi dicanangkan sebagai persaudaraan yang lebih penting dan lebih mulia.
  • Nabi Suci menjalin hubungan persahabatan, hubungan baik antar berbagai kelompok masyarakat dan antar berbagai umat beragama yang tinggal di Madinah. Dalam keperluan itu, beliau membuatkan berbagai akta kesepakatan atau perjanjian, seperti misalnya perjanjian antara umat muslim dengan umat Yahudi, yang mengatur relasi damai di antara dua kelompok atau berbagai kelompok yang berbeda.

Menilik uraian di atas, peristiwa Hijrah Nabi mengajarkan pada kita bahwa ke mana pun kita pergi atau berpindah, sudah seharusnya kita membawa kebaikan di tempat itu.

Hijrah tidaklah semata-mata berarti berpindah dari satu tempat ke tempat lain yang lebih nyaman, sehingga seseorang seakan bisa bersantai dan berhenti berjuang. Sebaliknya, hijrah lebih bermakna sebagai upaya mencari lingkungan yang lebih baik dan menguntungkan, dalam usaha keras seseorang supaya bisa berjuang secara lebih berkelanjutan dan konstruktif.

Singkat kata, hijrah adalah proses transfer diri seorang insan dari satu situasi ke situasi lain yang lebih baik.

Di mana pun kita berada, bila keadaan tidak mendukung, kita bisa berpindah atau hijrah ke tempat lain dengan lingkungan yang kondusif. Tetapi, tujuan perpindahan itu harus terutama diniati agar supaya bisa menjalankan kehidupan yang sesuai dengan kehendak Allah, serta bisa melakukan ibadah dan ketaatan kepada-Nya dengan leluasa.

Hijrah, terlebih-lebih dalam rangka berjihad atau berjuang di jalan Allah, seperti berdakwah Islam, memerangi hawa nafsu, sifat-sifat buruk dan pikiran negatif, mencari ilmu dsb., memiliki fungsi yang sangat penting dalan kehidupan orang beriman.

Allah SWT sangat menghargai dan mengasihi orang beriman yang melakukan hijrah dan jihad di jalan Allah (lihat QS 2:218). Termasuk juga orang yang melakukan hijrah dengan niat untuk menegakkan kedaulatan Allah, yakni menegakkan tatanan dan aturan hidup yang telah digariskan oleh Allah dalam kehidupan pribadi, keluarga, dan masyarakat luas.

Allah Ta’ala berfirman, “Orang-orang yang beriman dan berhijrah dan berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwa mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang jaya. Tuhan mereka memberi kabar baik kepada mereka dengan rahmat dari-Nya dan keridhaan dan surga yang di dalamnya mereka memperoleh kenikmatan yang kekal.” (At-Taubah/Al-Bara’ah, 9:20-21).

 

Oleh: Drs. H. Yatimin AS

 

Comment here