Kolom

Hukum Tuhan

half moon and silhouette of trees

Hukum yang dibuat oleh manusia tidak sama untuk negara yang satu dan negara yang lain, umat yang satu dan umat yang lain, dan setiap kali dapat berubah menurut keadaan dan kemajuan manusia.

Hukum buatan manusia dapat dihindari atau diakali. Lain dengan Hukum Tuhan yang berlaku dari awal sampai akhir zaman dan tak pernah berubah, yaitu hukum SEBAB AKIBAT bagi seluruh ciptaan Tuhan, yang berlaku PASTI, dan tak dapat dihindari atau diakali.

Setiap sebab pasti ada akibatnya dan yang proporsional. Dari seluruh ciptaan Tuhan hanya manusialah yang diberi oleh Tuhan kemampuan untuk MEMILIH jalan hidupnya, artinya mengalami sebab dan akibat dalam hidupnya yang adalah pilihannya sendiri. Pilihan tersebut dengan pasti ada akibatnya yang sesuai, berupa evolusi atau stagnasi, Sorga atau Neraka, “tidak takut, tidak susah” atau sebaliknya “stres, frustrasi, trauma, gelisah, khawatir” dalam eksistensi dan nasib dirinya dunia akhirat serta evolusi dirinya lahir batin, semuanya menurut pilihannya sendiri.

Hukum Tuhan selengkapnya dimuat dalam Kitab Suci terakhir, yaitu Al-Qur’anul Karim, dengan contoh-contoh kejadian yang sebab akibat dalam sejarah kehidupan umat yang dahulu-dahulu, dan banyak peristiwa alam sebagai ibarat yang sebab akibat.

Kiranya semua manusia ingin hidup yang SORGA sekarang maupun di akhirat nanti, maka Qur’an memberi petunjuk dengan kepastian yang mutlak berlakunya hukum sebab akibat yang memberi Sorga bahkan dunia akhirat (QS 2:25).

Jika manusia mendambakan KESEMPURNAAN, maka dengan pasti manusia diberi kekuatan-kekuatan yang tak terbatas oleh Tuhan, untuk dapat manusia kembali kepada FITRAH-nya dan Tuhan menuntunnya di jalan yang benar menuju kepada kesempurnaan (QS 91:1-9).

Semuanya adalah serba pasti, namun kerendahan hati manusia membuatnya untuk setiap saat berucap “Insya Allah” dan setiap saat berada dalam ASLAMA. Pengalaman-pengalaman yang membuat manusia merasa dirinya dituntun, dilindungi, ditata evolusinya lahir batin oleh Tuhan membuatnya berhati-hati untuk tidak menjadi takabur, sehingga tak henti-hentinya membuatnya ber-ISTIGHFAR, dan jika merasakan SALAM yang mengharukan di hati meskipun hanya sesaat membuatnya ber-TAKBIR berkali-kali.

Manusia diberi oleh Tuhan KECERDASAN, yang mampu untuk mengingat, menganalisa, membuktikan, menilai, membuat kesimpulan, akhirnya untuk mengerti KEBENARAN (QS 3:3), mengerti Hukum Tuhan.

Ternyata kecerdasan dapat diprestasikan oleh PIKIR, KALBU dan NAFS atau jiwa, sehingga manusia membedakan ada Kecerdasan Intelektual, Kecerdasan Emosional dan Kecerdasan Spiritual.

Diperlukan tumbuhnya KESADARAN atas adanya ketiga sumber kecerdasan. Tinggal dimana letak kesadaran manusia. Berawal di pikir, yang manusia maunya dapat andalkan untuk menyelesaikan apapun. Lebih tinggi lagi di pikir dan kalbu, manusia mulai mengerti bahwa emosi-emosi amat menentukan kesehatan, keselamatan, kebahagiaannya.

Tertinggi di pikir, hati dan nafs, manusia mulai terobsesi untuk menumbuhkan nafsnya dengan pertolongan Tuhan (QS 91:7-9), dan ingin merasakan bahwa Tuhan Mahadekat, lebih dekat dari urat leher (QS 50:16).

Karenanya manusia mulai “dengan sekuat tenaga” MENCARI TUHAN (QS 84:6), insya Allah dengan tuntunan Tuhan (QS 4:175).

 

Penulis : Mardiyono

Comment here