Akademika

Berhadapan Dengan Prasangka: Merespon Isu Sesat Ahmadiyah di SMA PIRI I Yogyakarta

Dalam relasi sosial, prasangka (prejudice) senantiasa hadir dan memiliki pengaruh yang signifikan dalam membangun hubungan antarkelompok. Sulit rasanya kita terbebas dari prasangka. Kompleksitas dunia saat ini tidak memungkinkan kita untuk memperlakukan setiap individu ataupun peristiwa sebagai suatu hal yang unik.

Yang kita lakukan kemudian adalah menyederhanakannya dengan membuat pra-anggapan yang membuat segala sesuatu menjadi kelihatan sederhana dan mudah dirumuskan melalui informasi dari berbagai sumber yang kita jumpai (Salim & Suhadi, 2007).

Jika rumusan tersebut tanpa dilandasi argumen, pengetahuan, ataupun pengalaman yang memadai, maka sesungguhnya kita sedang berada dalam wilayah prasangka. Jika prasangka tersebut mengenai masalah agama, maka akan berbahaya kalau tidak dikontrol dan dikelola dengan baik.

Prasangka agama selama ini menjadi persoalan sosial yang rumit ditengah pluralitas keagamaan di Indonesia. Terlebih lagi di tengah gejala menguatnya simbol dan identitas keagamaan serta semakin terbukanya kran demokrasi, prasangka mudah dimainkan.

Dalam situasi itu ada kebebasan untuk berekspresi di ruang publik, ada juga kontestasi berupa main klaim tentang mana yang paling mutlak, atau apa maupun siapa yang harus menang atas nama berbagai kepentingan. Dengan dukungan media informasi saat ini, prasangka dapat menggelinding dengan cepat lalu menggiring opini massa atau menjadi bola liar yang dapat bersinggungan dengan berbagai urusan.

Dengan demikian, stereotype dan stigma tanpa terasa menjelma dan mengaduk-aduk suasana yang semula adem ayem berubah menjadi ketegangan. Situasi seperti itulah yang terjadi di ruang publik sekolah bernama SMA Perguruan Islam Republik Indonesia (PIRI) I Yogyakarta.

Tulisan ini menguraikan tentang keberadaan SMA PIRI I dan hubungannya dengan kasus Ahmadiyah, dinamika keberagamaan di dalamnya, khususnya pasca fatwa MUI 2005 serta upaya Guru Pendidikan Agama Islam (GPAI) dalam merespons situasi melalui praktik pembelajaran agama.

Di sini penulis berefleksi dengan menempatkan diri sebagai seorang pengamat yang sekaligus adalah menjadi bagian dari apa yang sedang diamati. Oleh karena itu, sulit rasanya bagi penulis untuk sekedar memberikan penjelasan deskripsi semata, tanpa memberikan analisis secara berpihak pada komunitas yang menjadi subjek pembahasan ini.

  • Judul Artikel
    Berhadapan dengan Prasangka: Merespons Isu Sesat Ahmadiyah terhadap Sekolah PIRI I Yogyakarta
  • Penulis
    Dra. Anis Farikhatin, M.Pd | Guru SMA PIRI 1 Yogyakarta
  • Sumber
    Buku Mengelola Keragaman di Sekolah Gagasan dan Pengalaman Guru
  • Penerbit CRCS UGM | Februari 2016

Comment here