Artikel

Lentera yang Kian Padam: Mengapa Kita Berhenti Mewarisi Api Perjuangan?

close up of a vintage lantern hanging on the background of a city

Ada ironi besar yang patut direnungkan oleh kita semua, setiap warga Gerakan Ahmadiyah: sebuah gerakan yang dilahirkan dengan semangat pembaharuan Islam, kini justru berisiko kehilangan gairah untuk menjalankan misi pembaharuan itu sendiri.

Gerakan pembaharuan yang lahir dengan cita-cita membangkitkan kembali kejayaan Islam melalui pemikiran keagamaan yang rasional dan kontekstual, dakwah yang damai dan santun, serta penyebaran pustaka atau literasi bermutu dalam berbagai bentuk literatur keagamaan yang diakui dunia.

Kini, Gerakan ini justru menghadapi tantangan berupa kemungkinan memudarnya gairah (keinginan) di kalangan penerusnya untuk mewarisi ghirah (semangat) pembaharuan itu.

Dalam linimasa Gerakan, kita memiliki warisan pemikiran yang kaya, tokoh-tokoh intelektual yang produktif, serta sejarah perjuangan yang panjang. Tetapi apakah semua itu masih menjadi sumber inspirasi untuk bergerak maju, atau perlahan hanya menjadi kebanggaan sejarah yang terus diceritakan tanpa kesungguhan untuk melanjutkannya?

Jangan sampai kita sibuk memelihara identitas sebagai pewaris gerakan pembaharuan sambil terus membangga-banggakan masa lalu, tetapi tidak benar-benar menjalankan tugas dan fungsi pembaharuan itu sendiri di masa kini.

Tulisan sederhana ini adalah kritik reflektif atas melemahnya gairah dakwah, merosotnya ketajaman intelektual, dan memudarnya semangat pembaharuan Islam di kalangan warga Gerakan Ahmadiyah. Sebuah otokritik yang perlu kita jawab secara jujur dan apa adanya!

Mewarisi Organisasi, tetapi Melupakan Misi

Hazrat Mirza Ghulam Ahmad mendirikan Gerakan Ahmadiyah dengan keyakinan bahwa Islam merupakan agama yang hidup, memiliki kekuatan rohani, dan mampu menjawab tantangan setiap zaman. Misi dari Gerakan yang didirikannya tidak dimaksudkan sekadar untuk membangun komunitas keagamaan baru, terlebih yang bersifat eksklusif, melainkan menghidupkan kembali nilai-nilai Islam melalui pemurnian akidah, pengembangan spiritualitas, dan penyebaran Islam secara santun dan damai.

Semangat itu kemudian diteruskan oleh Maulana Muhammad Ali melalui berbagai karya monumental, seperti The Holy Qur’an dan The Religion of Islam. Demikian halnya juga yang dilakukan oleh Khawaja Kamaluddin, Vidyarthi, Basharat Ahmad, dll. Jangan lupa pula dengan tokoh-tokoh Gerakan di Indonesia seperti Djojosoegito, Soedewo PK, Bachroen, Sabitoen, Ali Yasir, dll.

Mereka semua memperlihatkan bahwa perjuangan pembaharuan tidak cukup dilakukan melalui seruan dan slogan, tetapi membutuhkan kesungguhan intelektual, kedalaman ilmu, keberanian berpikir, dan produktivitas berkarya.

Di sinilah kita perlu bertanya: sudah sejauh mana warga Gerakan Ahmadiyah hari ini meneruskan semangat tersebut? Apakah kita masih memiliki gairah untuk membaca, mengkaji, menulis, berdiskusi, dan kemudian menyampaikan gagasan Islam dalam semangat pembaharuan itu kepada masyarakat luas? Ataukah kita mulai merasa cukup dengan menjalankan kegiatan rutin organisasi dan mempertahankan tradisi yang telah diwariskan?

Sebab, menjadi warga Gerakan Ahmadiyah tidak otomatis menjadikan kita sebagai seorang pembaharu. Pembaharuan harus dibuktikan melalui pikiran, sikap, karya, dan kontribusi nyata di tengah-tengah umat atau masyarakat.

Al-Qur’an Menghendaki Umat yang Bergerak dan Berpengetahuan

Sesungguhnya, semangat pembaharuan bukan semata-mata sebagai pemenuhan cita-cita Gerakan, melainkan juga tuntutan Al-Qur’an bagi setiap kita yang mengamininya. Allah berfirman: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” (QS Ar-Ra’d 13:11).

Al-Qur’an juga mengingatkan pentingnya membangun kelompok yang secara sadar mengajak manusia kepada kebaikan sebagaimana disebutkan dalam QS Ali Imran [3]:104. Sementara QS At-Taubah [9]:122 menegaskan pentingnya sekelompok orang memperdalam pengetahuan agama (tafaqquh fid-diin) agar mampu memberikan pengajaran dan peringatan kepada masyarakat.

Ayat-ayat di atas mengandung pesan mendalam bahwa perubahan tidak akan datang dengan sendirinya. Kemajuan suatu masyarakat menuntut kesediaan kita untuk melakukan perubahan dari dalam: memperbaiki cara berpikir, meningkatkan kualitas pengetahuan, mengembangkan kemampuan, dan membangun kesadaran kolektif.

Jika warga Gerakan Ahmadiyah menghendaki kebangkitan Islam, tetapi tidak bersedia membangun budaya intelektual, membekali diri dengan pengayaan literasi, memperluas wawasan dan jaringan, serta memperbaiki kualitas dakwah, maka harapan tersebut hanya akan menjadi angan-angan.

Sebabnya, pembaharuan Islam membutuhkan manusia-manusia yang memiliki kedalaman ilmu, bukan sekadar semangat keberagamaan. Kita membutuhkan lebih banyak pembaca, penulis, peneliti, pendidik, pemikir, dan pendakwah yang mampu menerjemahkan nilai-nilai Islam ke dalam persoalan kehidupan kekinian.

Menghidupkan Kembali Jihad Literasi dan Keberanian Berpikir

Gerakan Ahmadiyah perlu melakukan evaluasi secara terbuka: berapa banyak karya intelektual baru yang telah dihasilkan? Seberapa luas literatur Islam yang telah diterjemahkan dan disebarluaskan?

Lalu seberapa besar kontribusi para anggotanya dalam diskursus keislaman, pendidikan, kebudayaan, dan persoalan kebangsaan? Dan sejauh mana generasi muda dipersiapkan menjadi pemikir dan penggerak pembaharuan di masa depan?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting karena ukuran keberhasilan gerakan pembaharuan tidak cukup dilihat dari keberlangsungan organisasi, jumlah kegiatan, atau banyaknya anggota yang hadir dalam sebuah acara.

Salah satu warisan terpenting Gerakan Ahmadiyah adalah tradisi intelektual dan literasi. Para pendahulu telah memberikan teladan bahwa perjuangan Islam harus dilakukan melalui pena, buku, penerjemahan, pengkajian, dan penyebaran gagasan.

Para tokoh pendahulu Gerakan ini, yang namanya antara lain disebutkan di atas, tidak hanya berperan sebagai pemimpin organisasi. Tetapi mereka juga menghasilkan karya-karya yang menjadi rujukan penting dalam kajian Islam di masa kita sekarang ini.

Produktivitas intelektual mereka memperlihatkan bahwa dakwah tidak boleh berhenti pada ceramah dan pertemuan keagamaan. Dakwah juga harus hadir dalam bentuk pemikiran yang dapat dibaca, diuji, diperdebatkan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Allah berfirman dalam QS Al-‘Alaq [96]: 1–5 tentang perintah membaca, belajar, dan pengajaran melalui pena. Ini menunjukkan betapa pentingnya ilmu pengetahuan dalam membangun peradaban manusia. Kita membutuhkan jihad literasi: gerakan sadar untuk membangun tradisi membaca, menulis, menerjemahkan, mengkaji, dan menyebarkan pengetahuan.

Karena itu, warga Gerakan Ahmadiyah harus kembali menjadikan membaca dan menulis sebagai bagian dari perjuangan keagamaan. Jangan sampai perpustakaan sepi, buku-buku hanya menjadi pajangan, majalah kehilangan pembaca, dan diskusi intelektual dianggap sebagai kegiatan yang tidak terlalu penting.

Kalaupun kesemuanya beralih ke dalam dunia maya, maka tentu publikasi dalam bentuk digital juga harus terus didorong dan dikembangkan. Semangat membaca dan menulis juga harus seiring sejalan dengan massifitas produksi karya tulis digital itu.

Dan justu di era digital inilah, kesempatan untuk menyebarkan pemikiran Islam semakin terbuka. Media sosial, situs web, jurnal, podcast, dan berbagai platform digital dapat menjadi sarana dakwah yang sangat efektif. Tetapi peluang emas itu hanya akan bermakna apabila diisi dengan gagasan bermutu, argumentasi yang kuat, dan karya yang mencerahkan.

Jangan sampai warga Gerakan Ahmadiyah menjadi konsumen informasi yang pasif di satu sisi, dan kehilangan kapasitas untuk menjadi produsen pengetahuan di sisi yang lain.

Mengembalikan Gerakan kepada Misi Besarnya

Indonesia hari ini menghadapi berbagai persoalan serius: krisis keteladanan, ketimpangan ekonomi, intoleransi, politisasi agama, rendahnya literasi, serta berbagai persoalan tata kelola negara. Dalam situasi seperti ini, Gerakan Ahmadiyah seharusnya memiliki ruang yang sangat luas dan terbuka untuk berperan dan berkontribusi nyata.

Islam yang rasional, damai, toleran, menghargai ilmu pengetahuan, dan menjunjung tinggi kemanusiaan, yang menjadi ciri khas Gerakan ini, adalah perspektif yang perlu kita terus internalisasikan kepada umat atau masyarakat.

Allah berfirman dalam QS. An-Nahl [16]: 125: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang lebih baik.”

Karena itu, warga Gerakan Ahmadiyah tidak boleh hanya sibuk berkeluh kesah dengan persoalan internal organisasi, sementara persoalan umat dan bangsa yang lebih besar berlangsung di hadapan mata.

Kita juga tidak boleh merasa cukup hanya karena masih menyandang identitas sebagai warga Gerakan Ahmadiyah. Identitas tanpa pengabdian adalah kebanggaan kosong. Mengaku sebagai pewaris misi pembaharuan, tetapi tidak memiliki keberanian berpikir, menulis, berdakwah, dan memperjuangkan kehidupan umat, merupakan bentuk pengkhianatan terhadap cita-cita perjuangan itu sendiri.

Warga Gerakan Ahmadiyah tidak boleh merasa cukup dengan kebesaran sejarah dan reputasi para pendahulunya. Sejarah besar justru melahirkan tanggung jawab besar bagi generasi penerusnya. Seperti kata Paman Ben pada Peter Parker: “With great power, comes great responsibility.”

Jangan sampai kita bangga dengan sejarah besar, tetapi tidak mampu melahirkan karya besar. Jangan sampai nama pembaharuan terus dikumandangkan, sementara keberanian melakukan pembaharuan justru menghilang dari kehidupan.

Gerakan Ahmadiyah tidak membutuhkan generasi penerus yang sekadar setia mengenang pendirinya, tetapi generasi yang sanggup meneruskan keberanian intelektual, ketajaman pemikiran, keluasan wawasan, dan semangat pengabdiannya.

Kita tidak membutuhkan generasi yang hanya pandai mengutip pemikiran para pendiri gerakan, tetapi tidak mampu menghasilkan pemikiran baru. Kita juga tidak membutuhkan organisasi yang hanya mempertahankan rutinitas, tetapi kehilangan keberanian untuk menjawab tantangan zaman.

Pembaharuan Islam harus terasa manfaatnya, bukan hanya terdengar dalam slogan-slogan organisasi. Sudah saatnya semangat pembaharuan dihidupkan kembali melalui gerakan intelektual, jihad literasi, dakwah rasional, keberanian melakukan otokritik, dan berujung pada pengabdian nyata di tengah-tengah umat.

Sebab, ukuran kesetiaan kepada cita-cita pendiri bukanlah seberapa sering kita mengenang nama dan atau membanggakan karya-karya mereka, melainkan seberapa sungguh-sungguh kita melanjutkan perjuangan mereka.

Jangan sampai kita menjadi generasi yang mewarisi nama besar, tetapi gagal mewarisi semangat perjuangannya. Jangan sampai kita terus berbicara tentang pembaharuan Islam, sementara dalam kehidupan sendiri justru terjebak dalam kejumudan atau stagnasi.

Dan barangkali, pertanyaan paling penting yang harus kita ajukan kepada diri sendiri hari ini adalah: Jika para pendiri Gerakan Ahmadiyah melihat keadaan kita sekarang, apakah mereka akan bangga dengan apa yang telah kita kerjakan, atau justru bertanya mengapa semangat pembaharuan yang dahulu mereka perjuangkan kini begitu redup di tangan para penerusnya?

Oleh: Asgor Ali

Yuk Bagikan Artikel Ini!

Comment here