facebooklikebutton.co
TOKOH

Raja Pena Islam dari Lahore: Biografi Singkat Maulana Muhammad Ali

“Boleh dikata tak ada orang yang pelayanannya lebih besar dan lebih bernilai dalam menyongsong kebangkitan Islam kembali selain Maulana Muhammad Ali, dari Lahore.” — Muhammad Marmaduke Pickthall, Penerjemah Al-Qur’an ke dalam bahasa Inggris.

“Barangkali tak ada Muslim, yang ada sekarang ini atau pun yang sudah berlalu, yang telah melakukan lebih dari apa yang dilakukan oleh Maulana Muhammad Ali dalam menampilkan keindahan ajaran Islam. Melalui berbagai karya tulisnya, kecil kemungkinan para pelaku studi agama di dunia ini akan menemukan alasan untuk gagal belajar tentang Islam.” — W.J. Milburn, American Author.

 

Pengantar

Di abad ke-14 Hijriah, banyak manusia hebat bernama Muhammad Ali lahir di dunia Islam. Sebut saja Maulana Muhammad Ali Jauhar, seorang orator, patriot dan politisi. Juga Muhammad Ali Jinnah, pendiri negara bangsa Pakistan. Atau petinju tersohor sepanjang masa, Cassius Marcellus Clay Jr., yang belakangan berganti nama menjadi Muhammad Ali.

Tetapi Maulana Muhammad Ali dari Lahore, boleh jadi akan tercatat dalam sejarah umat manusia sebagai yang terhebat dari semuanya. Sebab, karya literaturnya telah mengubah dan membentuk masa depan intelektual umat manusia.

Dialah penulis Muslim pertama yang menerjemahkan dan menafsirkan Al-Quran ke dalam bahasa Inggris. Karya terjemah dan tafsirnya dianggap banyak orang sebagai yang terbaik, yang paling otentik, dan sangat instrumental di dalam menerangi alam pikir intelektual Barat tentang Islam.

The Nation of Islam, gerakan kaum muslimin di Amerika Serikat, adalah saksi hidup sekaligus bukti nyata dari kerja kerasnya. Terjemah & Tafsir Al-Quran buah karyanya, yang dipersembahkan oleh Fard Muhammad kepada Elijah Muhammad, di kemudian hari mengubah sejarah kehidupan ratusan ribu orang di Amerika.

Melalui karya-karya literatur keislamannya, Muhammad Ali menguraikan keindahan ajaran Al-Qur’an dan karakter Nabi Suci Muhammad saw. dengan cara yang sempurna. Melalui karya-karyanya, Dunia Barat mau tak mau harus mengakui Al-Quran dan Muhammad sebagai kekuatan spiritual terbesar dan tokoh terbesar yang pernah ada dalam sejarah umat manusia.

Boleh dikata, buah karya Maulana Muhammad Ali adalah referensi utama tentang Islam di Barat pada sebagian besar abad ini.

Pengabdian Maulana Muhammad Ali terhadap Islam dibuktikan oleh adanya kenyataan bahwa selama lebih dari lima puluh tahun hidupnya ia menulis ribuan halaman literasi keislaman, dan tak ada satu pun yang bisa menandingi karya-karya itu pada masanya.

Ini membuat Muhammad Ali menjadi penulis literatur keislaman yang paling menonjol dan paling berhasil di abad ini, jauh melampaui tokoh lain pada masanya.

Muhammad Ali wafat pada 13 Oktober 1951. Dan sebagai apresiasi atas jasa-jasanya yang tak ternilai dalam pelayanan Islam, sketsa biografi singkat tentang putra Islam terbaik ini ditulis.

 

Kisah Masa Kecil dan Pendidikannya

Muhammad Ali lahir pada kira-kira musim dingin tahun 1876 di Murar, sebuah desa kecil di Negara Bagian Kapurthala, India. Dia adalah anak kelima dari Hafiz Fath Din, kepala desa Murar kala itu.

Ia sangat mencintai Al-Qur’an. Maka meski di usia pra-sekolah ia tak diajari baca tulis Al-Qur’an, tetapi ia berusaha membuktikan kecintaannya yang begitu dalam terhadap Kitab Suci itu dengan begitu disiplin mempelajarinya secara otodidak.

Di usianya yang belum genap lima tahun, ia disekolahkan di sebuah sekolah dasar di Dialpur, bersama dengan Aziz Bakhsh, kakak laki-laki yang empat atau lima tahun lebih tua darinya. Tiga tahun kemudian, keduanya melanjutkan sekolah menengah di Kapurthala, dan lulus pada tahun 1890.

Muhammad Ali terbilang anak brilian dan memiliki prestasi yang sangat baik di sekolahnya. Ia dikenal melalui kecintaannya pada kebajikan dan kebenaran, yang membuat para murid dan guru menaruh hormat kepadanya.

Setelah lulus sekolah menengah, ayahnya berhasrat untuk memberikan pendidikan yang lebih tinggi kepadanya. Dan dengan segala daya upaya, akhirnya sang ayah dapat mengumpulkan dana untuk mengirimkan kedua putranya itu ke Government College Lahore, di Lahore, Pakistan.

Muhammad Ali menempuh studi selama lima tahun di universitas ini. Ia berhasil lolos ujian masuk Fakultas Sastra pada tahun 1892, mencapai gelar Sarjana Muda (BA) di tahun 1894 dan mencapai gelar magister (MA) di tahun 1895.

Ia menempuh masa kuliah dengan pencapaian karir studi yang sangat cemerlang. Ia memiliki kecakapan di bidang matematika, dan memperoleh gelar Sarjana Muda dengan nilai terbaik dalam mata kuliah itu. Ketika ia beroleh ijazah, salah seorang dosennya memujinya, “Dialah ahli matematika terbaik di universitas kita.”

Ia mengambil mata kuliah Bahasa Inggris untuk meraih gelar magister, dan menjadi lima orang berpredikat terbaik dari dua puluh tiga mahasiswa yang berhasil lulus.

Anehnya, semasa kuliah ia tidak pernah aktif dalam kegiatan literasi. Dia tidak pernah menulis apa pun untuk dipublikasikan, dan tidak pernah muncul berpidato di mimbar perguruan tinggi. Dia malah lebih aktif dalam olahraga atletik, dan menjadi pemain sepak bola terbaik selama kuliah. Boleh jadi ini rahasia mengapa di usia kepala tujuh sekalipun, ia masih terlihat bugar dan masih suka joging pada pagi buta.

Selama menyelesaikan masa studi magister, Muhammad Ali bergabung dengan Government Islamia College, Lahore, sebagai dosen matematika. Ketika itu usianya baru sembilan belas tahun. Setelah lulus, ia meneruskan profesinya sebagai dosen, sembari menempuh kuliah hukum di Punjab University. Ia berhasil lulus sebagai sarjana hukum pada strata satu, dua dan tiga di kampus ini.

Tahun 1897, ia beralih menjadi dosen di Oriental College, Lahore, dan mengabdikan diri di sana hingga tahun 1900 dengan gelar profesor. Ia lantas mengundurkan diri dari perguruan tinggi itu untuk memulai karir sebagai pengacara di Gurdaspur.

Tetapi tiga bulan berselang, ia memutuskan untuk memenuhi permintaan Hazrat Mirza Ghulam Ahmad, Pendiri Gerakan Ahmadiyah, menjadi redaktur majalah Review of Religions, yang di kemudian hari menghantarkannya menjadi orang yang berhasil melahirkan karya-karya akbar dalam literatur keislaman.

 

Bertemu dengan pendiri Gerakan Ahmadiyah

Pada tahun 1892, Hazrat Mirza Ghulam Ahmad, Pendiri Gerakan Ahmadiyah, melakukan lawatan ke Lahore. Muhammad Ali dan Aziz Bakhs tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Mereka pun berulangkali datang menemui ulama besar itu. Selama ini, mereka hanya mendengar keharuman nama ulama dari Qadian itu dari orang-orang di desa mereka di Murar. Desa Qadian sendiri terletak sekitar dua puluh mil arah utara Desa Murar.

Kini, mereka berkesempatan untuk bertemu dan mendengarkan langsung setiap apa yang dikatakan orang suci dari Qadian itu. Dalam pertemuan-pertemuan awal inilah mereka diberi kabar suka oleh Hazrat Mirza Ghulam Ahmad bahwa telah tiba waktunya Islam ditakdirkan untuk meraih kemenangan kembali di dunia ini.

Pertemuan-pertemuan awal ini tampaknya meninggalkan kesan mendalam di dalam benak Muhammad Ali, dan mengubah jalan hidupnya di kemudian hari.

Pada Maret 1897, Muhammad Ali untuk pertama kalinya mengunjungi Hazrat Mirza Ghulam Ahmad di Qadian, ditemani oleh Khawaja Kamaludin, yang kala itu juga menjadi dosen di Islamia College. Khawaja Kamaluddin telah lebih dulu bergabung dengan Gerakan Ahmadiyah. Dia ini juga yang di kemudian hari mendirikan Woking Muslim Mission and Literary Trust, organisasi dakwah islam pertama di Kota Woking, Inggris.

Muhammad Ali lantas berbai’at dan menyatakan diri bergabung dengan Gerakan Ahmadiyah, gerakan yang memiliki visi kebangkitan Islam ini. Ia mengaku beroleh hidayah dan pencerahan tentang Islam melalui pertemuan-pertemuannya dengan Hazrat Mirza Ghulam Ahmad.

“Imam Agung abad ini, Mirza Ghulam Ahmad dari Qadian, telah memberikan banyak sekali inspirasi bagiku di dalam mengerjakan karya tafsir ini. Aku telah mereguk sangat banyak air pengetahuan dari sumber yang dialirkan oleh Mujaddid Agung Pendiri Gerakan Ahmadiyah itu.” Demikian pengakuan Muhammad Ali, dalam kata pengantarnya untuk Terjemah dan Tafsir Al-Quran dalam bahasa Inggris.

Setelah bergabung dengan Gerakan Ahmadiyah, Muhammad Ali memutuskan tinggal di Lahore. Selama tiga tahun di Lahore itu, ia sering berkunjung ke Qadian untuk menerjemahkan berbagai maklumat Sang Mujaddid ke dalam bahasa Inggris. Ini menjadi awal mula karirnya dalam menulis.

Perjalanan dari Lahore ke Qadian pada masa itu tidaklah mudah. Jarak Lahore ke Qadian ada lebih dari seratus kilometer. Dari Lahore, Muhammad Ali naik kereta api hingga stasiun kereta api Batala, stasiun terdekat yang bisa ditempuh dari Lahore menuju Qadian. Dari stasiun ini, ia masih harus menempuh jalan tanah dan berbatu sepanjang lebih dari tujuh belas kilometer yang hanya bisa dilalui dengan berkendara Ekka (Dokar).

Akan tetapi seringkali Muhammad Ali pergi pulang menempuh jarak belasan kilometer itu hanya dengan berjalan kaki. Bahkan kadang ia melakukannya di tengah malam sekalipun. Sabtu sore ia berangkat ke Qadian dan kembali ke Lahore pada Minggu sore, karena harus bekerja di kampus di mana ia mengajar keesokan harinya.

Di tahun 1900, ketika ia memutuskan hendak mengawali karirnya sebagai pengacara, ia meminta nasihat dari Sang Guru. Tak dinyana, ia justru diminta untuk memulai pekerjaan menerbitkan majalah dalam bahasa Inggris, untuk mewartakan pesan Islam ke Eropa dan Amerika.

Tanpa berpikir panjang, Muhammad Ali pun menyanggupi permintaan itu, dan segera membenamkan angannya untuk bekerja sebagai pengacara.

Sejak itu Muhammad Ali semakin tekun mempelajari Islam dari Pendiri Gerakan Ahmadiyah, dan menghabiskan sisa hidupnya untuk meyakinkan dunia tentang keindahan Islam.

Edisi pertama majalah Review of Religions terbit pada Januari 1902. Dalam terbitan ini, terdapat maklumat mengenai tujuan dari diterbitkannya majalah ini, sebagai berikut:

“Ada dua tujuan utama kami menerbitkan majalah Review of Religions ini. Pertama, menarik perhatian dunia kepada kebenaran, dengan cara menyampaikan ajaran moral yang benar, menanamkan keyakinan yang benar, menyebarkan pengetahuan yang benar, dan akhirnya membuat manusia bertindak berdasarkan prinsip-prinsip kebenaran itu.

Kedua, mengajak umat manusia dengan daya tarik yang hebat, sehingga menciptakan kekuatan bagi mereka untuk bertindak berdasarkan prinsip ajaran kebenaran itu.”

Maklumat itu diakhiri dengan kalimat, “Kami akan membela kebenaran dan menentang setiap doktrin palsu atau ajaran sesat yang melanggar hak-hak Sang Pencipta dan atau ciptaan-Nya.”

Karena mengulas segala persoalan keagamaan yang tengah menjadi perbincangan hangat pada masa itu, dalam jangka waktu tiga tahun majalah ini memperoleh popularitas, tidak hanya di kalangan umat beragama di India saja, tetapi juga di Inggris dan Amerika.

Keunggulan majalah ini terletak pada argumentasi-argumentasi rasional menyangkut ajaran Islam, meskipun pada saat yang sama juga menimbulkan kontroversi bagi agama-agama lain, khususnya Kristen.

Hazrat Mirza Ghulam Ahmad juga berkeinginan untuk menerjemahkan Al-Quran ke dalam bahasa Inggris. Keinginan itu ia nyatakan dalam bukunya berjudul Izalah Auham, yang terbit tahun 1891. Akan tetapi keinginan itu belum kesampaian hingga wafatnya pada 26 Mei 1908 di Lahore.

Sesudah kewafatan Pendiri Gerakan Ahmadiyah, kepemimpinan Sadr Anjuman atau Kepemimpinan Pusat Gerakan Ahmadiyah, organisasi yang didirikan oleh Hazrat Mirza Ghulam Ahmad untuk memuluskan misi dakwah Islam itu, diamanatkan kepada Maulana Nuruddin, seorang ulama besar pada masanya.

Tahun 1909, tahun kedua setelah wafatnya Hazrat Mirza Ghulam Ahmad, Maulana Muhammad Ali ditunjuk oleh Nuruddin untuk mulai melakukan pekerjaan penerjemahan Al-Quran ke dalam bahasa Inggris. Nuruddin juga membantunya memeriksa sebagian besar tafsir yang dikerjakannya, dan membuat banyak usul saran yang amat berharga bagi karya besarnya itu.

Butuh waktu lebih dari delapan tahun bagi Muhammad Ali menyelesaikan tugasnya ini. Kerja kerasnya dalam karya terjemah dan tafsir ini tampak jelas dari kekayaan catatan kaki yang menyertainya. Ia mencurahkan waktu bertahun-tahun untuk mencari rujukan atas setiap penafsirannya melalui berbagai kitab hadits dan juga berbagai macam kamus besar Bahasa Arab.

Semua upaya itu ia lakukan semata untuk menyandarkan penafsirannya pada sumber referensi yang sahih, terlebih ketika penafsirannya berbeda atau bahkan bertolak belakang dengan penafsiran yang telah ada sebelumnya.

Ia bekerja selama hampir dua belas jam setiap hari. Kadang ia melakukannya dalam posisi berdiri dan menggunakan meja tinggi, demi untuk menjaga kondisi tubuhnya tetap bugar. Baru di tahun terakhir menjelang karya itu rampung, ia bekerja sepenuhnya dalam posisi duduk, dipaksa oleh kondisi kesehatannya yang menurun.

 

Berpisah dengan Jemaat Qadian

Sepeninggal Hazrat Mirza Ghulam Ahmad, Gerakan Ahmadiyah melewati banyak kesukaran, baik yang timbul dari dalam maupun dari luar gerakan. Tetapi Muhammad Ali selalu tegak berdiri melawan semua kekuatan yang hendak mengancam dan melemahkan semangat dan misi gerakan itu.

Di masa ketika Maulana Muhammad Ali tengah mengerjakan karya besarnya itu, terjadi perselisihan di dalam tubuh Gerakan Ahmadiyah. Ini adalah bagian cerita yang menyedihkan, tetapi tak terhindarkan.

Kala itu, berbagai klaim dan statemen Hazrat Mirza Ghulam Ahmad, Pendiri Gerakan Ahmadiyah, telah disalahpahami dan disalahtafsirkan baik oleh kawan maupun lawan. Sejumlah pengikutnya yang fanatik bahkan telah mendakunya sebagai seorang nabi, dan menganggap semua orang yang tidak menerima klaim itu sebagai non muslim. Kelompok ini kini lebih dikenal sebagai Jemaat Qadian.

Pada April 1914, tak lama sesudah wafatnya Maulana Nuruddin, Muhammad Ali hijrah ke Lahore, memisahkan diri dari Jemaat Qadian yang dianggapnya telah menyimpang dari ajaran Hazrat Mirza Ghulam Ahmad.

Di Lahore, ia dan kawan-kawan yang memiliki kesamaan visi dan pandangan kemudian membentuk gerakan baru di bawah panji Ahmadiyah Anjuman Isha’ati Islam (Gerakan Ahmadiyah untuk Syiar Islam).

Boleh dikata, keyakinan akan keberakhiran kenabian pada diri Nabi Suci Muhammad saw. (khatamun-nubuwwat) tidak pernah secara eksplisit dibahas sebelumnya di dalam Gerakan Ahmadiyah. Karena hal itu dianggap sebagai suatu perkara yang sudah final. Akan tetapi, pasca terjadinya peristiwa perpecahan itu, tema ini menjadi perhatian besar bagi Maulana Muhammad Ali untuk waktu yang cukup panjang.

Berbagai tulisannya terkait dengan tema ini di kemudian hari, khususnya dalam bukunya An-Nabuwwah fil Islam, memperlihatkan perhatian besarnya akan perkara ini. Dan tampaknya, tidak pernah ada orang di abad-abad yang lalu, yang begitu detail dan kompleks dalam membahas dan membela konsepsi finalitas kenabian pada diri Nabi Muhammad saw. Boleh dikata, tak ada yang dapat menandingi Muhammad Ali dalam karya-karyanya terkait dengan tema ini.

Hal lain yang ia tekankan dalam berbagai karyanya adalah bahwa siapa pun yang menyatakan Kalimah Syahadat adalah seorang Muslim, dan tidak ada yang berhak menghukuminya sebagai kafir atau murtad. Menurutnya, kebiasaan saling mengafirkan di antara sesama muslim (takfirul muslimin) akan melemahkan misi persatuan Islam dan memecah belah kaum muslimin.

Praktek saling kafir-mengafirkan ini menjadi kebiasaan para Mullah (ulama ortodoks) yang dikecam oleh Hazrat Mirza Ghulam Ahmad di masa ia masih hidup.  Karenanya, ketika praktek semacam itu juga dilakukan oleh para pengikutnya yang fanatik di kemudian hari, serta merta Muhammad Ali dan Khawaja Kamaluddin menentangnya. Bagi keduanya, praktek itu sangat jauh dari apa yang telah diajarkan oleh Pendiri Gerakan Ahmadiyah itu.

Boleh dikata, Muhammad Ali memulai gerakannya di Lahore dari nol. Belum ada dana cukup dan organisasi yang mapan untuk kembali menyelenggarakan dakwah Islam, sebagaimana yang telah dilakukan sebelumnya. Hanya ada sekelompok orang yang berkomitmen untuk menjalankan tugas penyiaran Islam sebagaimana telah diamanatkan oleh Pendiri Gerakan Ahmadiyah kepada mereka.

Sebagai pimpinan dalam gerakan dengan panji yang baru itu, Maulana Muhammad Ali memiliki tugas dan kewajiban yang berlipat ganda. Di samping itu, ia juga harus melanjutkan karya literasinya.

Puji syukur, terjemah dan tafsir Al-Quran dalam bahasa Inggris buah karyanya bisa diterbitkan pada tahun 1913. Bahkan tujuh tahun kemudian, ia juga berhasil menerjemahkan dan menerbitkan terjemah dan tafsir Al-Quran dalam bahasa Urdu.

 

Sanjungan atas karya tulisnya

Muhammad Ali adalah seorang penulis yang produktif. Ia menulis sejumlah besar buku bertemakan ajaran dan sejarah Islam, dan telah menyumbangkan tidak kurang dari tujuh ribu halaman literatur keislaman dalam bahasa Inggris dan sekitar sepuluh ribu halaman dalam bahasa Urdu.

Pada tahun 1936, dalam ulasannya tentang buku The Religion of Islam, Marmaduke Pickthall, seorang mualaf Inggris dan penerjemah Al-Qur’an, menulis:

“Boleh dikata tak ada orang yang hidup lebih lama atau lebih bernilai dalam pelayanannya untuk kebangkitan Islam selain Maulana Muhammad Ali, dari Lahore. Berbagai literatur yang ditulisnya, seperti halnya literatur yang ditulis Khawaja Kamaluddin, telah menjadikan Gerakan Ahmadiyah sebagai gerakan di dalam Islam yang masyhur dan dihormati.

Menurut hemat kami, buku ini adalah karya terbaiknya. Buku ini berisi gambaran tentang Islam dari seorang yang alim dalam ilmu hadits. Fikirannya tampak dipenuhi rasa malu atas dekadensi umat Islam selama lima abad terakhir, tetapi hatinya dipenuhi harapan akan kebangkitan Islam, yang tanda-tandanya saat sekarang ini sudah mulai terlihat di berbagai belahan dunia.

Tanpa menyimpang seujung rambut pun dengan kaidah umum dalam soal ibadah dan muamalah, Muhammad Ali menampilkan wajah moderasi Islam dalam berbagai persoalan yang memerlukan ijtihad, sehingga hukum atau aturan dan praktek keagamaan Islam bisa berselaras dengan tuntutan zaman, sepanjang tidak bertentangan dengan nash Al-Quran dan Al-Hadits.

Buku semacam ini sangat diperlukan di saat seperti sekarang ini. Saat dimana banyak negara-negara berpenduduk muslim tampak bersemangat menyambut reformasi dan revivalisme Islam, tetapi salah kaprah karena miskinnya ilmu yang dibutuhkan.

Buku ini kami rekomendasikan sebagai stimulus dalam alam pemikiran Islam. Meminjam istilah lama, buku ini adalah “buku yang mendidik” (edifying book).”

Sebagaimana karya Terjemah dan Tafsir Al-Quran miliknya, The Religion of Islam adalah karya Maulana Muhammad Ali yang “tidak boleh tak ada” (indispensable). Begitu kata Muhammad Iqbal, seorang penyair populer, kepada para mahasiswa Islam suatu ketika.

Karya monumentalnya itu membahas sumber, prinsip, hukum dan peraturan Islam secara komprehensif. Beberapa bagian dari karyanya ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Turki dan Arab. Bukunya yang lain, seperti Living Thoughts of the Prophet Muhammad, New World Order, A Manual of Hadith dan karya Terjemah dan Tafsir Sahih al-Bukhari dalam bahasa Urdu, juga diapreasiasi oleh banyak kalangan.

Ketika kalangan terpelajar Muslim disilaukan oleh kejayaan peradaban Barat, tulisan-tulisan Muhammad Ali justru menunjukkan letak kesalahan mereka atas pandangan itu.

Sejak sebelum Muhammad Ali Jauhar, Pemimpin Gerakan Khilafat, menerbitkan majalah Comrade, tulisan-tulisan Muhammad Ali telah membangunkan dan menyadarkan umat Islam akan potensi keindahan Islam.

Karena itu, ketika Muhammad Ali Jauhar menerima copy terjemah dan tafsir Al-Quran karya Maulana Muhammad Ali, ia tampak begitu gembira, dan seolah ingin meneriakkan kegembiraannya itu dari atas rumah setiap orang Eropa. Baginya, karya terjemah dalam bahasa Inggris itu sangat cermat dan tepat guna di dalam rangka membantu manusia yang tengah meraba-raba dalam kegelapan, dan menyelamatkan mereka dari bahaya yang mengancam.

Muhammad Ali Jinnah, Pendiri negara Pakistan, seringkali menyatakan kebanggaannya ketika membaca karya Terjemah Al-Quran dalam bahasa Inggris yang ditulis oleh orang yang memiliki nama yang sama dengannya. Ia mengoleksi berbagai karya tulis Muhammad Ali di perpustakaannya, dan seringkali menjadikannya sebagai referensi kapan pun ia hendak berpidato di hadapan kaum muslimin di India dalam berbagai acara keagamaan.

Liaquat Ali Khan, Perdana Menteri pertama Pakistan (wafat 1951) juga pengagum berat karya-karya Maulana Muhammad Ali. Dia sangat tertarik dengan berbagai literatur karya Muhammad Ali, dan menyumbangkan sejumlah besar dana untuk menghadiahkan literatur itu ke berbagai perpustakaan di dunia atas namanya.

 

Apresiasi Tokoh Dunia

Di bulan Februari 1951, Konferensi Muslim Sedunia diselenggarakan di Karachi. Delegasi muslim dari beberapa negara hadir. Pasca Konferensi, banyak dari mereka yang datang melawat ke Lahore, dan menjenguk Maulana Muhammad Ali yang tinggal di bungalownya di Muslim Town.

Pemimpin delegasi Turki, Omar Raza Doghral, ??seorang sastrawan besar sekaligus anggota Parlemen Turki, menuliskan pertemuannya dengan Muhammad Ali kala itu dalam The Islamic Review edisi Mei 1952 yang terbit di Woking, Inggris.

Dia sangat terkesan dengan apa yang dia lihat dan dengar dari Maulana Muhammad Ali. Pesan utama yang ia tangkap dari pertemuan itu adalah keharusan menyebarkan Islam ke seluruh dunia sesegera mungkin. Dalam pertemuan itu Doghral juga menginformasikan kepada Muhammad Ali bahwa banyak dari bukunya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Turki.

Delegasi Muslim Ceylon [Sri Lanka] yang ikut hadir menyatakan keinginannya untuk bisa segera menerjemahkan dan menerbitkan Al-Qur’an karya Muhammad Ali ke dalam bahasa Tamil.

Sementara itu, delegasi dari Thailand, Ibrahim Qureshi, menunjukkan buku-buku Maulana Muhammad Ali yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Thailand. Demikian pula delegasi dari China, yang menunjukkan terjemahan bahasa Mandarin dari buku-buku karangannya.

Pada 27 April 1951, Duta Besar Mesir, Abdul Wahab Azzam (yang di kemudian hari menjadi Sekretaris Jenderal Liga Arab), datang mengunjunginya. Ia lantas menghadiahkan salinan buku The Religion of Islam kepadanya, dan memberinya izin untuk menerjemahkan buku itu ke dalam bahasa Arab.

Seorang jurnalis perempuan dari Turki, Miss Kuterman, juga datang ke Lahore khusus untuk menemui Maulana Muhammad Ali. Dia mencium tangannya sambil menyatakan bahwa terjemahan bahasa Inggris dari Al-Qur’an yang ditulis oleh Muhammad Ali telah membuka matanya akan keindahan Islam.

Muhammad Ali juga menerima surat dari Habiba Shoban Bekan, seorang perempuan terkemuka dari Beirut, Lebanon, yang mengabarkan bahwa buku Muhammad and Christ yang diakuinya telah mengubah hidupnya, telah ia terjemahkan ke dalam bahasa Arab, dan telah didistribusikan ke berbagai kalangan.

Pada tahun 1951, ketika Liaquat Ali Khan, Perdana Menteri Pakistan, tengah melakukan perjalanan ke Amerika Serikat, ia menerima pesan telegraf dari William Aherberg, Sekretaris Bagian Agama Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York.

Dalam telegraf itu, Aherberg memintanya untuk menyampaikan saran kepada Maulana Muhammad Ali untuk datang dan membuka perwakilan Ahmadiyah Anjuman Ishaati Islam Lahore di Pusat Perserikatan Bangsa-Bangsa. Ia menjanjikan adanya berbagai fasilitas seperti pers internasional, radio, dll. Gerakan Ahmadiyah Lahore diberi pilihan untuk menjadi bagian dari delegasi Pakistan untuk UNO, atau berdiri secara independen.

Sekitar pertengahan Agustus 1951, melalui Pemerintah Pakistan, Muhammad Ali diminta oleh seorang tokoh orientalis dari Belanda, Professor Kraemer, untuk bersedia menjadi anggota dewan penyunting untuk buku Encyclopaedia of Islam yang akan ia terbitkan. Meski kondisi kesehatannya kala itu sedang tidak benar-benar baik, pekerjaan yang ia anggap besar dan mulia itu tetap diterimanya.

 

Penampilan dan Gaya Bicara

Muhammad Ali adalah seorang pribadi, penulis, dan juru dakwah yang menjadi motor penggerak di balik semua aktivitas Gerakan Ahmadiyah Lahore.

Meskipun tidak jadi menjadi pengacara atau hakim, tetapi Maulana Muhammad Ali selalu berbicara berdasarkan data dan fakta. Tidak pernah sekalipun ia bertindak atas dasar emosionalitas dalam menyikapi suatu persoalan. Sikapnya ini seolah menjadi prinsip panduan bagi Gerakan Ahmadiyah Lahore, yang selama bertahun-tahun menghindari sikap ekstrim selayaknya Jemaat Qadian.

Rahasia kesuksesannya terletak pada imannya yang tak tergoyahkan kepada Allah, yang juga membuatnya istiqomah dalam mempelajari Al-Quran, Hadits Nabi, dan berbagai nasihat dari Pendiri Gerakan Ahmadiyah. Tak kalah pentingnya adalah shalat-shalat yang ia lakukan dengan khusyu’.

Agak sulit menggambarkan pribadinya secara utuh sebagaimana adanya. Mungkin hanya mereka yang pernah melihat dan tinggal bersamanya yang dapat merasakan dan mengenangkan kepribadiannya.

Muhammad Ali adalah pribadi yang sederhana dan tak pandai bersolek. Ia menumpahkan seluruh kemampuannya dalam hal menulis dengan penuh dedikasi dan disiplin. Tetapi manakala menjadi seorang pembicara, ia hanya mengatakan sesuatu seperlunya.

Muhammad Ali selalu berbicara dengan lemah lembut, dan sangat jarang menggerakkan tangan saat berbicara. Ia berbicara santai di atas mimbar dengan menggunakan kata-kata yang mudah dicerna, tetapi hampir tanpa gaya. Ia selalu berbicara secara datar, tidak pernah berteriak-teriak selayaknya seorang orator.

Ia sangat berhati-hati dan teliti dalam mengutip Al-Qur’an atau pun Hadits, tetapi tidak demikian halnya ketika ia mengutip sebuah syair atau puisi. Ia tampak tidak terlalu peduli jika baris atau baitnya keliru, berubah urutan kata-katanya, atau keliru rimanya.

Muhammad Ali lebih sering mengenakan sherwani (mantel panjang) dan shalwar putih (sejenis baju koko panjang). Ia lebih sering menggunakan sorban di kepalanya, hanya kadang-kadang saja menggunakan fez (peci berbulu). Begitulah kurang lebih gaya berpakaiannya sepanjang hidupnya.

Muhammad Ali biasa memulai ceramah, pidato atau khotbahnya dalam posisi berdiri tegak sambil membaca ayat-ayat Al-Quran dengan suara yang lemah lembut. Tangan kirinya memegang tangan kanannya dan disedekapkan sedikit di bawah perutnya. Cara berdiri semacam itu seolah menjadi kebiasaannya.

Saat khotbah atau pidato, terkadang ia menggerakkan wajahnya ke samping kanan atau ke kiri. Ketika ingin menekankan beberapa hal, ia akan tampak lebih antusias, mengeraskan suaranya, dan mengangkat tangan kirinya dengan telapak tangan dihadapkan ke arah jamaah, dan membiarkan tangan itu bergerak bebas.

Kadang untuk menarik perhatian ia meletakkan satu tangannya di atas pinggul dan mengacung-acungkan jari telunjuknya yang lain. Kadang ia juga menekan-nekan telapak tangan atau meremas jari-jemarinya, saat menyampaikan hal-hal yang perlu penekanan.

Ia selalu mengakhiri pidato atau khotbahnya dengan bacaan doa yang seolah sengaja ia keraskan, membaca istighfar beberapa kali, lalu kembali duduk dengan cara yang anggun. Begitulah cara Muhammad Ali berbicara di depan publik.

 

Masa Akhir Hayat

Saat usia senja menghampiri, kesehatannya mulai tertanggu. Tetapi Muhammad Ali justru tampak semakin menyibukkan diri bekerja dan menulis.

Pada September 1950 di Karachi, ia mengalami serangan jantung. Ia mengalami sakit parah karena penggumpalan darah di pembuluh coronernya (coronary thrombosis). Selama hampir empat puluh hari ia berjuang antara hidup dan mati. Puji syukur, ia perlahan pulih.

Pada 10 Desember 1950, ia kembali ke Lahore dengan menggunakan kereta malam. Sahabat-sahabatnya menjemputnya di Stasiun Kereta Api Lahore dan membawakannya kursi roda. Ia turun dari kereta dengan susah payah, tetapi tetap tersenyum dan berjabat tangan dengan semua yang hadir menjemputnya.

Esok harinya ia kembali bekerja, seolah tak menghiraukan nasehat dokter agar ia beristirahat yang cukup. Bahkan, karena tak bisa berlama-lama duduk, ia meminta tempat tidurnya dipindahkan ke ruang kerjanya.

Di atas tempat tidur itu ia berbaring sambil mengoreksi naskah pra-cetak dari edisi terbaru terjemah & tafsir Al-Quran dalam bahasa Inggris yang ia kerjakan. Ia juga membalas berbagai surat yang masuk, dan tetap memberikan arahan kepada Pengurus Gerakan Ahmadiyah.

Ia juga tetap menerima tamu, mendengarkan apa yang mereka sampaikan, tetapi hanya membalas seperlunya. Ia memang disarankan oleh dokter untuk tak banyak berbicara, karena paru-parunya yang melemah akibat sakit berkepanjangan.

Iklim dan suasana di Lahore tampaknya membuat nyaman Muhammad Ali, hingga kesehatannya pun beranjak membaik. Tak butuh waktu lama, ia sudah bisa berjalan secara perlahan dan mengerjakan lebih banyak hal.

Menjelang Jalsah, ia mendiktekan dua pidato panjang, yang nantinya dibacakan pada forum Jalsah di akhir Desember itu. Dalam pidato itu, ia menekankan perlunya membuka misi di Hong Kong, Turki, dan Mesir.

Pada Maret 1951, ia sudah mulai bisa bekerja secara penuh. Ketika kawan-kawannya memintanya untuk tak terlalu memaksakan diri, ia hanya tersenyum dan berkata bahwa dia tidak bisa hidup tanpa berkarya.

Ia bahkan mengatakan kalau usianya terasa akan semakin pendek jika tak bekerja dan berkarya. Dengan menulis, ia justru merasa hidupnya penuh semangat. Karena itulah seolah-olah dia tak memedulikan apa yang dikatakan oleh dokter dan kawan-kawannya mengenai kesehatannya.

Dia ingin melihat naskah pra-cetak Al-Qur’an yang datang dari Inggris. Bahkan ia masih memikirkan agenda-agenda lain yang ingin diselesaikannya sesegera mungkin. Dia berkeinginan melakukan perjalanan ke Eropa, Amerika dan Timur Tengah, dan juga menunaikan ibadah haji.

Kita bisa baca harapan-harapannya itu dalam kutipan suratnya kepada S. M. Tufail, sekretarisnya, berikut ini:

“Aku memutuskan untuk berangkat di bulan Juni tahun ini. Tetapi ada dua kesulitan yang aku hadapi. Pertama, naskah ketikan (terjemah Al-Quran) masih ada di tangan Dr. Ahmad Hasan, dan belum selesai diperiksa secara keseluruhan. Kedua, mereka juga sudah mulai mengirimiku naskah pra-cetak yang membuat pekerjaanku bertambah-tambah.

Niat hati ingin berangkat setelah Hari Raya ini, tapi rasanya hal itu tidak mungkin bisa terwujud. Andaikata aku memaksakan diri, tidak cukup waktu yang tersisa. Jadi, aku memutuskan untuk berangkat ke Inggris pada bulan April mendatang. Jika Allah mengizinkan, aku ingin sekali mengunjungi negeri itu untuk menunjukkan kepada masyarakat di sana gambaran Islam yang sebenarnya. Semoga Allah berkenan atas upayaku ini.

Setelah tinggal beberapa lama di Woking, aku juga ingin pergi ke Berlin dan kemudian ke Istanbul … dan mungkin singgah barang sebentar di Mesir dalam perjalanan pulang. Jika Tuhan mengizinkan, aku juga ingin menunaikan haji, ibadah yang aku impikan selama ini. Sesudahnya, aku ingin pulang melewati Damaskus, Baghdad dan Basrah.”

Semua urusan untuk mewujudkan niatan itu di sudah dipersiapkan. Tiket perjalanan pun sudah dipesan. Tetapi, ketika di bulan Maret dokter memeriksa kesehatannya, mereka pun melarangnya untuk melakukan perjalanan itu.

Pada awal April 1951, Muhammad Ali mengalami serangan jantung untuk yang kedua kalinya. Ia kembali dirawat oleh para dokter yang berjuang keras siang dan malam untuk kesembuhannya.

Sementara itu, naskah pra-cetak Al-Qur’an terus berdatangan dari Inggris. Hal ini membuatnya semakin risau. Dia ingin melihat naskah itu dicetak sesegera mungkin, dan mengoreksi sendiri setiap detailnya.

Ia mencintai karya-karyanya seperti mencintai anak sendiri. Dia seolah tidak puas bila belum mengoreksi sendiri naskah itu untuk terakhir kalinya, meski para dokter tak henti-henti mengingatkannya untuk tak bekerja secara berlebihan. Tetapi puji syukur, Allah berkenan memberinya kesembuhan lagi.

Karena merasa kondisinya sudah semakin baik, Muhammad Ali berangkat ke Karachi. Ini terjadi pada tanggal 31 Mei 1951. Kawan-kawan, kerabat dan mereka yang mengantarkannya ke stasiun kereta, melihatnya pergi ke Karachi untuk terakhir kalinya.

Kala itu wajahnya tampak pucat dan lelah. Ketika kereta mulai bersiul dan bergerak, ia bangkit dari kursi, kaki dan tangannya tampak gemetar. Ia melambaikan tangan dan mengucapkan selamat tinggal kepada semua yang hadir mengantarnya. Kereta api pun melaju, memudar dalam kabut, seolah hendak mengambil jiwa suci yang disayang dan dekat dengan banyak hati itu.

Selama tiga bulan di Karachi, ia menyelesaikan tugas mengoreksi naskah pra-cetak Al-Qur’an, kecuali indeksnya, dan membuat perubahan kecil di sana-sini. Ia juga masih sempat mengirimkan berbagai instruksi ke kantor Anjuman di Lahore. Dalam kondisinya yang semakin lemah, pekerjaan-pekerjaan ini menjadi tampak berat baginya untuk dilakukan. Tetapi ia terus bekerja, menulis dan berkarya, seolah tak bisa hidup tanpa itu semua.

Tetapi pada kenyataannya, pena yang selama lima puluh tahun terus bergerak lincah di genggaman tangannya untuk menggoreskan keindahan ajaran Islam itu akhirnya harus berhenti juga.

Di hari Sabtu, 13 Oktober 1951, jelang masuk waktu dzuhur, Muhammad Ali menghembuskan nafasnya yang terakhir. Jenazahnya kemudian dibawa ke Lahore untuk dimakamkan di hari itu juga.

Padahal, beberapa hari sebelumnya, Muhammad Ali telah memesan tiket kereta api untuk kembali ke Lahore di tanggal 15 Oktober. Tetapi nyatanya ia harus kembali ke Lahore dua hari lebih awal dari yang dijadwalkan, dalam peti mati.

Jenazah Muhammad Ali tiba di Stasiun Kereta Api Lahore sekitar jam 8 malam. Hampir seribuan orang menjemput jenazahnya, dan mereka bergantian mengangkat peti jenazah itu keluar dari kereta, dalam linangan air mata.

Jenazah Muhammad Ali dishalatkan di masjid di kompleks markas Gerakan Ahmadiyah Lahore. Shalat jenazah dipimpin oleh Maulana Aziz Bakhsh, kakak laki-lakinya. Mendekati jam 10 malam, jenazahnya perlahan dikebumikan di Pemakaman Miani Sahib, Lahore.

Bunga wangi berwarna-warni bertaburan di kuburnya, diiring isak tangis dan doa dari para sahabat setianya. Satu persatu mereka undur diri. Berjalan perlahan dengan wajah bergelayut mendung.

Malam itu bulan tampak pucat pasi, memancarkan cahaya redup di atas pusara Si Raja Pena.

“Wahai jiwa yang tenang, kembalilah ke haribaan Tuhanmu dengan perasaan puas, amat memuaskan di hati.”[]

 

Oleh: Basyarat Asgor Ali

Tulisan ini adalah saduran dari artikel biografi berjudul “Muhammad Ali, The Greatest of All” yang disusun oleh Masud Akhtar and Zafar I. Abdullah yang tayang di situs www.aaiil.org (https://aaiil.org/text/biog/biog/mali.shtml).

Comment here