75 Tahun PIRIArtikel

Pejabat Sok Kuasa: Percobaan Ilahi Yang Ketiga di PIRI

Dengan kembalinya Pengurus Lama menunaikan tugas, tidak membuat semua anggota PIRI tersenyum manis. Ada juga sekelompok kecil yang kurang setuju. Sebagian dari guru-guru dan tata usaha SMEP PIRI Bersubsidi, penjelmaan dari SGB PIRI Bersubsidi, yang mulai tahun ajaran 1957/1958 tidak menerima murid baru untuk kelas 1, dan digantinya menerima murid untuk kelas 1 SMEP PIRI, dipimpin oleh seorang guru yang memegang peranan, kelihatan tidak senang dengan kembalinya Pengurus lama.

Setelah diselidiki, ternyata bahwa ketidaksenangannya mereka itu sedikit banyak ada sangkut pautnya dengan peristiwa lampau. Setelah dinasehati Inspeksi Daerah Semarang di Bagian Subsidi Jakarta, yang sejak memeriksa seluruh PIRI mereka menyadari akan kesalahannya, menyadari juga adanya bahaya yang akan menimpa dirinya.

Didahului oleh pemimpin mereka menangis-nangis minta maaf atas segala perbuatan yang salah, dan berjanji tak akan berbuat demikian lagi. Janji mana tidak hanya diucapkan dengan lisan, tetapi ditulis juga di atas kertas segel. Kami pengurus dapat merasakan apa yang mereka rasakan pada waktu itu, karena memang rapat hubungannya dengan nasib mereka beserta keluarganya.

Bagi Pengurus sendiri, sebagai seorang muslim, seharusnya menerima permintaan maaf itu, dari siapa saja, yang sungguh-sungguh menyesal akan perbuatan yang salah dan sanggup perbaiki sendiri.

Sejak itu kelihatan benar Guru SMEP PIRI yang memegang peranan itu sungguh-sungguh membantu pengurus dalam menyiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan untuk peralihan subsidi SGB ke SMEP PIRI bersubsidi.

Ruang-ruang yang dapat dipinjam dari SGA PIRI untuk bahan-bahan pengusulan peralihan itu dibuat gambarnya. Dengan janji, sewaktu-sewaktu dibutuhkan SGA sendiri, sanggup mengembalikannya.

Begitu rajinnya Guru SMEP PIRI tersebut membantu pengurus, sampai pekerjaan yang belum selesai dibawanya pulang ke rumah, diselesaikan di rumahnya. Kami menaruh kepercayaan besar terhadap Guru SMEP PIRI itu. Hampir semua yang diusulkan kami terima dengan tidak menaruh syak wasangka sedikit pun. Tatkala ia minta diusulkan sebagai guru negeri diperbantukan pun segera kami setujui.

Kami sebagai manusia biasa memang tidak tahu, bahwa dibelakang senyum yang manis itu terletak duri yang tajam. Ia akhirnya menjadi guru negeri diperbantukan di SMEP PIRI bersubsidi Yogyakarta.

Tahun ajaran 1959/1960 adalah tahun yang terakhir dari adanya SGB PIRI bersubsidi, dan SMEP PIRI pun telah digenapkan sampai kelas III. Pada akhir tahun itu SGB PIRI mengadakan ujian akhir yang penghabisan.

Pendopo Brontokusuman telah direncanakan oleh pemerintah untuk museum perjuangan. Untuk memindahkan SGB PIRI dari Brontokusuman, kita membutuhkan ruangan. Atas pertolongan Kepala DPU yg membangun Museum Perjuangan itu, PIRI dibuatkan bangunan darurat, bertempat di komplek PIRI Baciro.

Untuk memindahkan SGB PIRI setelah bangunan daruratnya selesai dibangun, alat-alat perlengkapan SGB dari Brontokusuman kita pindahkan ke Baciro. Kebetulan, ruangan-ruangan SGA yang dipinjam SMEP, dibutuhkan sendiri oleh SGA PIRI, karena itu dimintakanlah untuk ditempati SGA PIRI sendiri.

Rupa-rupanya guru yang dicalonkan sebagai Pimpinan SMEP PIRI itu mengingkari janji, tidak mau melepaskan ruangan SGA itu. Malahan, seluruh SGA menempati ruang darurat kepunyaan SGB.

Karena calon pimpinan SMEP itu telah menjadi Guru Negeri Diperbantukan, rupa-rupanya dia merasa kedudukannya kuat. Maka dihasutnya guru, pegawai plus murid-murid dan POMG-nya sekalian untuk mempertahankan ruangan itu, dengan janji SMEP PIRI akan dinegerikan.

Ketegangan antara SMEP PIRI di satu pihak dan SGA PIRI di lain pihak tak dapat dihindarkan lagi, dan perundingan pun menemui jalan buntu. Maka akhirnya kita kembalikan Guru Negeri itu kepada Pemerintah.

Murid-murid SMEP PIRI  kelas II dan III mengikuti jejak pimpinannya. Begitu pula guru-guru, pegawai dan POMG-nya, mereka di belakang calon pimpinan SMEP PIRI itu, karena sangat percaya kepada calon pimpinan SMEP-Negeri.

Akhirnya Inspeksi Pendidikan Ekonomi tidak dapat menerima usul Penegrian SMEP PIRI oleh guru-guru dan POMG, sehingga anak-anak kelas II dan III yang terlanjur mengikuti jejak calon pimpinan itu, terpaksa ditampung ke SMEP yang masih swasta penuh. Guru-gurunya dipindahkan dari SMEP PIRI. SMEP PIRI lalu diberi pimpinan  baru oleh Pemerintah, terhitung mulai 1 Agustus 1964.

Introspeksi

Jika kita tinjau secara mendalam dan kita lihat dengan kaca mata Islam, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa kehebohan yang timbul di PIRI itu terjadi karena empat hal. Pertama, kurangnya keinsafan para pelaku kehebohan itu kepada agama Islam. Kedua, kurangnya kesadaran mereka terhadap pembaharuan yang dilaksanakan Mujaddid Abad ke-14 H. Ketiga, kurangnya keinsafan mereka akan cita-cita PIRI mendirikan sekolah. Dan yang keempat, kurangnya kecintaan mereka kepada PIRI.

Hal ini tidak mengherankan, karena umumnya pada saat itu kebanyakan yang masuk ke dalam PIRI itu tidak membawa cita-cita yang luhur seperti yang digariskan oleh Islam, tetapi hanya biasa saja.

Maka dari itu GAI aliran Lahore, yang mempunyai tugas menyiarkan Islam dan mempertahankan Islam, memberikan penerangan agama kepada keluarga PIRI, tahap demi tahap, yang dihayati oleh Bapak Djojosugito sebulan sekali, dengan pimpinan ceramah Bapak Suroto, Kepala SMA PIRI.

Kita, Pengurus PIRI, selalu mengajak Guru-guru dan Pegawai untuk mendatangi ceramah-ceramah agama Islam yang diberikan oleh GAI aliran Lahore, dengan maksud agar supaya mereka ada keinsafan terhadap agama Islam, dan mau memperbarui sifat Islam yang ada di dalam hati sanubarinya, sehingga terbabarlah di dalam hidupnya, dapat membimbing anak didik kita menuju ke arah pembaharuan yang dilaksanakan oleh Mujaddid abad ke-14 H.[]

 

Sumber Artikel : Buku Seperempat Abad PIRI, 1947-1972
Penyunting : Asgor Ali

Comment here