ArtikelEdisi Kemerdekaan

Kisah Soekarno dan Sang Guru dari Pakistan

Siapa sangka kalau Soekarno punya guru ngaji dari Pakistan. Seorang Ahmadiyah lagi! Dia adalah Mirza Wali Ahmad Baig.

Mirza Wali Ahmad Baig adalah mubaligh Ahmadiyah Anjuman Isya’at Islam Lahore (AAIIL) yang dikirim ke Jawa pada tahun 1924, dengan tujuan menangkal misionarisme Kristen di Indonesia. Ahmad Baig tinggal di Indonesia hingga tahun 1937.

Dakwahnya beroleh sukses besar. Umat Islam di Indonesia kemudian bangkit dari keterpurukan dan keputusasaan, dan mampu melawan serangan misionarisme Kristen pada masanya.

Ahmad Baig juga berhasil mengawal berdirinya organisasi Gerakan Ahmadiyah Lahore di Indonesia, yang kemudian berkembang dalam jumlah yang cukup besar di sana. Al-Qur’an dan berbagai literatur lain yang diterbitkan oleh AAIIL pun, banyak yang diterjemahkan dan diterbitkan dalam bahasa Belanda dan Indonesia.

Dr. Hamid Rahman, seorang anggota AAIIL di Amerika Serikat, menuturkan dua buah riwayat singkat yang menggambarkan hubungan antara Presiden Indonesia yang pertama itu dengan Mirza Wali Ahmad Baig.

Ahmad Baig menyatakan kalau ia telah mengenal baik Soekarno sejak berada di Indonesia. Pada saat itu, Soekarno adalah pemimpin perjuangan kemerdekaan Indonesia melawan Belanda. Soekarno juga banyak belajar kepadanya tentang Islam. Karenanya, Soekarno menganggap dia sebagai gurunya.

Dua peristiwa itu diriwayatkan sendiri oleh Mirza Wali Ahmad Baig kepada Hamid Rahman pada sekitar tahun 1969, ketika ia tengah belajar bahasa Jerman kepadanya di Karachi.

Peristiwa pertama terjadi tak lama sesudah terjadinya perpecahan antara India dan Pakistan, Mirza Wali Ahmad Baig kala itu terdampar di India. Dia ingin sekali kembali ke Pakistan. Tetapi ia kesulitan mendapatkan visa ke sana, karena hubungan antara India dan Pakistan tengah memburuk. Komisi Tinggi Pakistan pun telah berkali-kali menolak permohonan visanya.

Tepat ketika semua upaya Ahmad Baig untuk mendapatkan visa hampir gagal total, Soekarno, yang saat itu sudah menjadi Presiden Indonesia, dan bersekutu dengan Nehru dalam gerakan nonblok, datang berkunjung ke India.

Mirza Wali Ahmad Baig saat itu mendapat informasi kalau Soekarno akan melaksanakan shalat Jumat di Masjid Jami di Delhi. Ia pun pergi ke sana dan menunggunya di tangga masjid. Ketika Soekarno dan rombongan tiba, Ia pun memanggilnya dengan menggunakan bahasa Indonesia. Suara panggilan itu pun berhasil menarik perhatian Soekarno.

Soekarno pun segera mengenalinya, lalu datang menemui dan berbicara dengannya. Ahmad Baig lantas meminta Soekarno, untuk membantunya mendapatkan visa ke Pakistan. Seketika itu juga Soekarno langsung memberikan instruksi kepada staf kedutaan Indonesia di India untuk menyelesaikan persoalan ini dengan Komisi Tinggi Pakistan, dan memastikan gurunya itu mendapatkan visa yang diinginkan.

Singkat cerita, Ahmad Baig pun berhasil mendapatkan visa itu, dan bisa kembali ke Pakistan.

Peristiwa kedua terjadi ketika Soekarno berkunjung ke Pakistan, pada masa pemerintahan Ayub Khan. Peristiwa itu terjadi kira-kira pada masa perang India-Pakistan di awal tahun 1965, saat Indonesia mengirim bantuan kapal selamnya ke Pakistan, dalam rangka menjaga pantai Pakistan dan mencegah serangan laut dari India.

Sebelum berkunjung, Soekarno mengirim pesan kepada Pemerintah Pakistan untuk bisa dipertemukan dengan gurunya, Mirza Wali Ahmad Baig. Tentu saja, Pemerintah Pakistan sama sekali tidak mengetahui keberadaan Ahmad Baig. Karenanya, Pemerintah Pakistan pun meminta Badan Intelejen-nya untuk mencarinya. Akhirnya, mereka pun menemukan Ahmad Baig.

Pada hari kedatangan Soekarno, Badan Intelejen Pakistan membawa Mirza Wali Ahmad Baig ke bandara dengan mengendarai jip. Ia lantas diposisikan di barisan para pejabat tinggi yang akan menyambut Soekarno.

Turun dari pesawat, Soekarno didampingi Presiden Ayub Khan. Ia lantas menjabat tangan para pejabat tinggi Pakistan.

Soekarno menjabat tangan para petinggi negara Pakistan itu secara formal. Tetapi ketika tiba giliran Mirza Wali Ahmad Baig, ia menjabat tangannya, lantas membungkuk dan menyentuh kakinya. Rupa-rupanya, itu adalah tanda hormat orang Indonesia kepada gurunya.

Judul Asli: Indonesia’s First Presidents Respect for Ahmadiyya Missionary

Disadur oleh : Asgor Ali

Sumber Artikel : ahmadiyya.org

Yuk Bagikan Artikel Ini!

Comment here

Translate »