AkademikaArtikelEdisi Kemerdekaan

Begini Kata Soekarno Tentang Ahmadiyah Lahore

Sudah saya ajak pembaca-pembaca meninjau sikap umat-umat Islam di Turki, di Mesir, dan di Palestina. Marilah kini kita meninjau negeri India, dan Arabia.

Negeri India umat Islamnya adalah sangat kolot, sangat sempit ­penglihatan, sangat terikat kepada adat-adat dan tradisi. Kalau dibandingkan dengan Palestina, maka Palestina yang saya katakan kolot itu, masih adalah tampak lumayan sedikit.

Di Palestina, kekolotan adalah kekolotan Islam sahaja, tidak banyak dicampuri dengan racun-racun tahayul dan kemusyrikan. Di Palestina, agama Islam berjajaran dengan agama-agama Kristen dan Yahudi, yang dua-duanya pada hakekatnya berdasar kepada monotheisme, kepada ke-Esaan Tuhan. Tidak, ia di Palestina itu berdekatan dengan agama-agama tahayul dan agama musyrik.

Tetapi di India! India memanglah satu negeri yang lain daripada lain! Di India segala-gala barang sesuatu “bau agama”. Di India orang-orang jual kuweh di jalan-jalanan berteriak “roti Hindu! roti Hindu!”, atau “martabak Islam!” Sampai tukang cukur rambut pun, di India kadang-kadang menuliskan “Islam” atau “Hindu” di atas papannya.

Persaingan agama di Palestina “memfanatikkan” kaum Islam di Palestina, di India pem­fanatikan ini adalah lebih-lebih keras lagi. Islam di Palestina adalah hanya berhadapan dengan dua agama-agama lain, di India ia berhadapan dengan berpuluh-puluh firqah agama lain. Ia berhadapan dengan puluhan firqah agama Hindu, berhadapan dengan agama Sikh, berhadapan dengan agama Parsi, berhadapan dengan agama Budha di sana-sini, ber­hadapan dengan agama Kristen yang kini sudah mempunyai 3.000.000 penganut.

Ia (Islam di India, red) fanatik di dalam sikap-keluarnya, fanatik di dalam peng­hargaannya kepada agama-agama penyaing tahadi itu, tetapi sendiri tidak merasa, tidak insyaf bahwa banyak ketahayulan, kemusyrikan, keta’asuban agama-agama lain itu telah menular kepadanya.

Tidak ada negeri lain, yang Islamnya begitu banyak mengandung zat-zat ketahayulan, keta’asuban, kemusyrikan, kebid’ah-dlalalahan, seperti negeri India itu. Syaitan dan jin masih ditakutinya dan dicari persahabatannya, azimat-azimat dan tangkal-tangkal masih digemarinya, “keramat-keramat” dan “wali-wali” masih dicari-cari dan dimulia-muliakannya, kekuasaan pir-pir (semacam kyai, red) dan ulama-­ulama masih tak ada ubahnya daripada zaman purbakala.

Zat-zat agama Hindu dan Parsi dan Sikh yang menular ke dalam tubuh rohani umat Islam di India itu, sebagai tahadi saya katakan, tidak mengurangkan kefanatikan kaum Islam itu. Sebaliknya! Kefanatikan mereka adalah satu kefanatikan defensif, satu kefanatikan yang menerima serangan. Tiap-tiap kefanatikan defensif adalah lebih keras dari kefa­natikan lain-lain, lebih keras dari kefanatikan ofensif, yakni daripada kefanatikan yang menyerang.

Agama Islam di India adalah duduk di dalam posisi yang defensif. Tujuh puluh milyun orang Islam berhadapan dengan dua ratus sembilan puluh milyun orang agama lain!

Maka umat Islam di sana lantas menjalankan kesalahan yang seringkali dijalankan oleh sesuatu bangsa yang menghadapi agama lain. Satu kesalahan, yang lebih nyata salah menurut bukti sejarah. Bukan mereka menerima serangan-serangan musuh itu dengan senjata satu-­satunya yang benar: yaitu menunjukkan “geestelijke superioriteit”, kelebihan Islam daripada agama-agama lain itu; bukan mereka “meng­hisap” orang-orang agama lain itu seperti di zamannya Nabi atau zaman­nya Islam-muda, tetapi mereka lantas mengurung diri di dalam defensif kejiwaan, di dalam tutupan `aqli dan rohani.

Pintu, jendela, semua lobang-lobang dari mereka punya rumah ‘aqli dan rohani itu mereka tutup dan kunci rapat-rapat, malahan mereka kelililingi pula rumah itu dengan tembok kenegatifan yang maha-tinggi. “Musuh datang!” Semua lobang-lobang yang tertutup itu tidaklah mengasih jalan kepada hawa­ segar masuk ke dalam mereka punya rumah, tidak memberi jalan-keluar kepada hawa-hawa busuk yang tersimpan di dalamnya.

Hawa agama Islam di India adalah hawa gudang yang telah tertutup berabad-abad: “muf dan bedompt,” apek dan membuat sesak nafas. Maka lebih-lebih dari di Palestina, segala hal lantas sengaja dibuat lain daripada dunia musuh.

Persatuan India mau mengadakan bahasa-persatuan, mereka (umat Islam, red) tetap memegang kepada bahasa Urdu. Orang Hindu banyak yang sekolah Inggeris dan menjadi kaum terpelajar dan kaum pemimpin kantor dan perusahaan, mereka pada umumnya menjauhi sekolah-sekolah modern itu.

Orang Hindu membiarkan perempuannya kocar-kacir gelandangan ke mana-mana, mereka menutup mereka punya perempuan di dalam purdah yang mendirikan kita punya bulu.Orang Hindu bersikap nasional di dalam mereka punya politik, mereka sering menjadi rintangan dari pergerakan nasional itu.

Pendek-kata segala-galanya mau “lain”, segala-­galanya mau “anti”, segala-galanya mau ”cap sendiri”, zonder diselidiki lebih dalam, mana yang benar mana yang salah.

Memang sebenarnya beberapa keadaan di dalam dunia Hindu itu perlu “dilaini”, perlu dijauhi, karena memang salah, seperti misalnya kebejatan moril terhadap kepada kaum perempuan dan kebejatan moril di kalangan perempuan itu sendiri. Tetapi “melaini” dan “melaini” adalah dua.

Orang Islam di India, pada umumnya melaini orang Hindu itu dengan cara mundur, bukan dengan cara maju, bukan mengoreksi positif, tetapi mengolot, menguno, mengorthodox, menjumud, menutup diri, mengingkari zaman.

Mereka punya posisi sebagai minderheid yang defensif, yakni sebagai kaum sedikit yang menghadapi serangan kaum banyak itu, membuatlah mereka menjadi kaum yang selalu mengharap-­harap pertolongan kaum Islam di negeri-negeri lain. Mereka punya ideologi politik tetaplah kepada ideologi politik Pan-Islam, sedang negeri-negeri Islam yang lain di dalam zaman yang akhir-akhir ini karena desakan realiteit sudahlah masuk ke dalam fase ideologi nasional.

Turki mengurus diri sendiri secara nasional. Mesir mengurus diri sendiri secara nasional. Irak, Siria, Palestina, nasional. Arabia pun menjalankan politik yang nasional. Tetapi umat Islam di India masih tetap setia kepada cita­-cita Pan-Islamisme yang maha-tinggi itu.

Marhum Muhammad Ali, pemimpin Islam India yang kenamaan itu, menggambarkan tepat sikap­ rohani umat Islam di India yang mengharap-harap pertolongan dari dunia luaran itu, tatkala beliau berkata: “We feel strongly the need for a link with the rest of the Moslem world, like a poor relative, who brings gifts and wants to be recognized.”

Artinya: “Kita sangat sekali ingin mendapat yang lain, sebagai satu keluarga yang miskin, yang mem­bawa bingkisan-bingkisan, dan minta diakui sebagai saudara.”

Ya, Muhammad Ali cakap benar meraba-raba ideologi umat Islam di India itu. Betapa haibat kadang-kadang ia punya perjoangan dengan perasaan-perasaan umat India itu!

Pemerintah Inggris pun kadang­ kadang “kuwalahan” dengan kekolotan yang luar-batas itu, walaupun pada umumnya pemerintah itu cakap benar mengambil untung daripada­nya. Waktu pemerintah itu mau mengadakan Sarda Child Marriage Act, yang bermaksud melarang perkawinan anak perawan kecil, maka seluruh dunia kaum kolot di India menentanglah kepada undang-undang itu.

“Pengertian-Karet” yang bisa mengaturkan syari’at dengan zaman kemajuan, sebagai yang dimaksudkan oleh Sayid Amir Ali, sama sekali tidaklah ada pada mereka punya fikiran itu. Ya, ini pun gampang di­mengerti!

India bukan Mesir. Mesir bukan India! Seorang Sheikh di Kairo adalah berkata kepada Frances Woodsmall: “Mesir adalah di bawah kekuasaan Muslim, India di bawah kekuasaan asing. Satu perundang­-undangan sosial yang berdasarkan reinterpretasi Koran (Qur’an, red) oleh karenanya adalah lebih mungkin di Mesir daripada di India.”

Perundang-undangan sosial yang demikian itu sukar diadakan di India, karena di India pemerintahnya bukan pemerintah Islam, tapi pemerintah Kristen.

Tetapi, sebagaimana kekolotan kaum Islam di Palestina kini ditentang dengan cara bijaksana oleh kaum muda yang mau membawa Palestina ke lapang kemodernan, maka di India pun kekolotan itu ditentang oleh elemen­-elemen pembaharuan. Tidak ada satu hal yang tinggal beku, tidak ada satu ideologi yang tinggal tetap.

Panta rei! Aliran panta rei ini dengan lambat laun mencuci segala kekolotan dan kejumudan kaum Muslimin di India itu. Sekarang belum, tetapi di kelak kemudian hari pasti.

Saya tidak akan membicarakan di sini pergerakan-pergerakan politik di kalangan umat Islam India itu (seperti misalnya All-India Moslem League, atau sayap Islam dari Indian National Congress), yang lapang­ pekerjaannya terutama sekali terletak di bagian politik, tetapi yang tokh barang tentu sekali ada pengaruh pula di atas lapangan syari’at dan pengertian agama.

Tetapi saya sebutkan di sini beberapa pergerakan Muslim India yang semata-mata bercorak agama dan yang nyata-nyata menjadi elemen-elemen pembaharuan di atas lapangan “Moslem out­look” itu. Pergerakan-pergerakan muda inilah yang nyata menjadi gelombang-gelombangnya aliran panta rei yang mencuci “outlook” itu dengan lambat-laun.

Orang boleh mufakat, atau tidak mufakat, boleh mengutuk atau tidak mengutuk pergerakan-pergerakan muda ini, tetapi orang tidak dapat membantah kenyataan, bahwa pergerakan-pergerakan ini banyak berjasa mengoreksi keagamaan umat Islam di India, mem­bersihkan kotoran-kotoran faham di dalam dunia Islam di India, melibe­ralkan “outlook”-nya sebagian kaum kolot di India sejak bertahun-tahun.

Pertama “Pergerakan Aligarh”, kedua “Pergerakan Ahmadiyah”. Pergerakan Aligarh yang berpusat di Aligarh, dan pergerakan Ahmadiyah yang berpusat di Lahore.

Nama yang orang berikan kepada bapak Per­gerakan Aligarh itu, Sir Ahmed Khan, adalah jitu sekali buat menggambarkan “outlook”-nya pergerakan itu. Orang namakan Sir Ahmed Khan “The Apostle of Reconciliation”, “De apostel der Verzoening”, “Dutanya perdamaian”. Perdamaian antara kemajuan dan agama Islam, perdamaian antara kemoderenan dan syari’at. Reconciliation, verzoening, perdamaian, … dan bukan tabrakan!

Heran­kah kita, kalau kita melihat cara-bekerjanya kaum Aligarh penuh dengan reconciliation pula? Secara “halus”, secara “bijaksana”, secara … “perdamaian”? Perdamaian, dan bukan membongkar men­tah-mentahan faham-faham yang salah, bukan mengadakan pengertian yang baharu, bukan reinterpretasi yang baru, yang berkata: “inilah interpretasi yang benar, yang lain adalah salah”.

Lain sekali dengan metode pergerakan yang kedua, yakni Pergerakan Ahmadiyah. Ahmadiyah tidak percaya bahwa bisa ada perdamaian antara salah dan benar. Bukan reconciliation-lah ia punya semboyan, ia punya semboyan ialah reinterpretasi. “Interpretasi yang dulu adalah salah, marilah kita buang interpretasi yang salah itu, marilah kita rnencari interpretasi yang baru.”

Ahmadiyah adalah besar pengaruhnya, juga di luar India. Ia bercabang di mana-mana ia menyebarkan banyak per­pustakaannya ke mana-mana. Sampai di Eropah dan Amerika orang baca ia punya buku-buku, sampai di sana ia sebarkan ia punya propagandis-­propagandis.

Corak ia punya sistim adalah mempropagandakan Islam dengan cara apologetis, yakni mempropagandakan Islam dengan mempertahankan Islam itu terhadap serangan-serangan dunia Nasrani: mempropagandakan Islam dengan membuktikan kebenaran Islam di hadapan kritiknya dunia Nasrani.

Ya, Ahmadiyah tentu ada cacat­-cacatnya. Dulu, pernah saya terangkan di dalam surat-kabar “Peman­dangan” apa sebab misalnya saya tidak mau masuk Ahmadiyah.

Tetapi satu hal adalah nyata sebagai satu batu-karang yang menembus air laut: Ahmadiyah adalah salah satu faktor penting di dalam pembaharuan pengertian Islam di India, dan satu faktor penting pula di dalam pro­paganda Islam di benua Eropah khususnya, di kalangan kaum intelektuil seluruh dunia umumnya.

Buat jasa ini, cacat-cacatnya saya tidak bicarakan di sini, ia pantas menerima salut penghormatan dan pantas menerima terima kasih. Salut penghormatan dan terima kasih itu, marilah kita ucapkan kepadanya di sini dengan cara yang tulus dan ikhlas!

 

————————–
Dinukil dari artikel karya Soekarno bertajuk “Me-“muda”-kan Pengertian Islam“, terbit di Majalah “Panji Islam”, tahun 1940

Comment here