Artikel

Al-Qur’an Sebagai Asas Utama Bagi Gerakan Ahmadiyah

person holding a quran

Sejak adanya manusia di bumi, Allah senantiasa mencukupi kebutuhan mereka, baik kebutuhan jasmani maupun kebutuhan rohani. Kebutuhan rohani manusia diberikan Allah melaluli perantaraan Utusan-Nya. Undang-undang Allah yang diwahyukan kepada para Utusan itu disebut KITAB SUCI.

Tiap-tiap umat atau bangsa di dunia, pasti sudah pernah kedatangan Utusan Allah. Allah berfirman sebagaimana termaktub di dalam Al-Qur’an: “Dan tak ada suatu ummat, melainkan sudah datang di dalamnya seorang juru ingat” (QS 35:24)           

Al-Qur’an memang tidak menyebut nama sekalian Utusan Allah, sebagaimana terang da-lam sabda-Nya: “Dan dengan sesungguhnya Kami telah mengutus sebelum engkau para Utusan. Di antara mereka ada yang Kami ceritakan kepada engkau, dan ada pula yang tidak Kami ceriakan kepada engkau” (QS 40:78)

Para Utusan Allah itu membawa Kitab Suci untuk memimpin umatnya masing-masing. Akan tetapi Kitab Suci itu sekarang tidak suci lagi, sebab sudah kecampuran perbuatan tangan manusia, sebagaimana diisyaratkan dalam Al-Qur’an berikut ini:

“Maka apakah kamu mengharap bahwa mereka percaya kepada kamu, dan suatu golongan di antara mereka sungguh-sungguh telah mendengar sabda Allah, kemudian mengubahnya setelah mereka memahaminya, dan mereka tahu (akan hal itu)” (QS 2:75).

“Maka celakalah orang-orang yang menulis kitab dengan tangan mereka, kemudian berkata: Ini dari Allah; agar dengan itu mereka dapat memperoleh harga yang rendah. Maka celakalah mereka karena apa yang telah tangan mereka tuliskan, dan celakalah mereka karena apa yang mereka perbuat” (QS 2:79).

Sebelum Nabi Suci, para Nabi itu hanya diutus untuk memimpin satu umat saja. Misalnya Nabi ‘Isa, yang hanya diutus untuk memimpin Bani Israil saja.

Akan tetapi setelah umat manusia di dunia mulai menjadi satu, kitab-kitab suci yang telah ada sebelumnya itu tak mencukupi lagi sebagai pimpinan bagi sekalian umat manusia. Oleh sebab itu, Allah mengutus Nabi Suci Muhammad saw. supaya memimpin sekalian umat dengan Al-Qur’an sebagai petunjuk.

Sebab, Al-Qur’an adalah Kitab Suci yang sempurna, yang menyempurnakan kitab suci yang sudah-sudah, yang tidak lagi suci akibat kecampuran tangan manusia. Kecuali itu, Al-Qur’an dijaga oleh Allah sendiri, sebagaimana terang dalam Firman-Nya:

“Sesungguhnya Kami telah menurunkan peringatan (Al-Qur’an), dan sesungguhnya  Kami adalah penjaganya” (QS 15:9).

Di antara kitab-kitab suci di dunia, Al-Qur’an-lah satu-satunya Kitab Suci yang masih asli teksnya. Jangankan ayat-ayatnya, huruf-hurufnya pun masih asli seperti ayat-ayat dan huruf-huruf yang terdapat di zaman Nabi Suci empat belas abad yang lampau. Bahkan sampai Hari Kiamat, Al-Qur’an akan tetap murni, karena dijaga oleh Allah sendiri.

Tidak hanya kemurnian teksnya saja yang dijaga, Ruh Al-Qur’an pun tetap dijaga keampuhannya oleh Allah sendiri. Ruh Al-Qur’an tetap akan memberi kehidupan kepada manusia.

Berkali-kali  Al-Qur’an mengibaratkan dirinya sebagai air yang memberikan kehidupan kepada bumi yang mati: “Dan di antara tanda-tanda-Nya, engkau akan melihat bumi tak bergerak. Akan tetapi setelah Kami turunkan air di atasnya, bumi itu bergerak dan mengembang. Sesungguhnya  Dia Yang memberi kehidupan kepada bumi, Dialah Yang memberi kehidupan pada orang yang mati” (QS 41:39).

Memang Al-Qur’an memiliki kekuatan rohani yang paling ampuh, yang akhirnya  akan menaklukkan seluruh dunia. Hal keampuhan kekuatan ruhani Al-Qur’an ini telah dibuktikan oleh sejarah.

Perubahan yang dilaksanakan oleh Al-Qur’an benar-benar tak ada taranya dalam sejarah dunia. Al-Qur’an menjumpai bangsa Arab sebagai penyembah berhala, batu, kayu, dan tumpukan pasir. Namun dalam jangka waktu seperempat abad, penyembahan kepada Allah Yang Maha-esa menguasai seluruh jazirah.

Al-Qur’an menyapu bersih segala macam kepercayaan takhayul, dan menggantinya dengan agama yang paling rasional yang pernah terlintas dalam gambaran dunia. Bangsa Arab yang terkenal sebagai bangsa ummi (bodoh), disulap oleh Al-Qur’an menjadi bangsa yang cinta ilmu pengetahuan, bahkan bangsa yang membawa obornya ilmu pengetahuan ke penjuru dunia yang dikenal di waktu itu.

Al-Qur’an tidak saja menyapu bersih segala macam kejahatan dan kebiadaban yang tanpa malu-malu lagi dikerjakan oleh bangsa Arab, melainkan meniupkan hasrat yang menyala-nyala untuk berbuat baik dan mulia kepada sesama makhluk. 

Al-Qur’an menyapu bersih kegemaran minuman keras dan judi. Al-Qur’an menyapu bersih segala diskriminasi atas dasar perbedaan warna kulit. Perbuatan mengubur hidup-hidup anak perempuan, mengawini ibu tiri dan kebebasan sex, diganti dengan persamaan derajat antara pria dan wanita, persamaan hak waris, dan menempatkan nilai yang setinggi-tingginya atas kesusilaan hubungan sex dan kesucian wanita.

Dan yang paling besar dari segala-galanya ialah keberhasilan Al-Qur’an mempersatukan unsur-unsur pertumpahan darah yang tak pernah ada henti-hentinya di tanah Arab, ditempa menjadi satu bangsa yang kuat.

Belum pernah ada agama yang menanamkan hidup baru kepada pemeluknya sedemikian luasnya. Hidup baru yang meliputi segala cabang kehidupan manusia, baik perorangan, keluarga, masyarakat, bangsa dan negara, baik di lapangan material, moral, intelektual maupun spiritual.

Al-Qur’an membawa perubahan manusia dari tingkat manusia biadab menjadi manusia yang paling tinggi peradabannya. Banyak tulisan para ahli sejarah bukan orang Islam, yang mengagumi perubahan yang dibawa oleh Al-Qur’an, yang tak ada taranya.

Itulah sebabnya maka Gerakan Ahmadiyah Indonesia terutama sekali menjadikan Al-Qur’an sebagai asas utama di dalam gerakannya. Dan Gerakan Ahmadiyah berusaha sekuat-kuatnya agar Al-Qur’an selekas-lekasnya dijadikan petunjuk bagi kehidupan manusia di dunia.

Pendapat orang bahwa Al-Qur’an itu mengutip dan mengambil kitab-kitab suci kuno, teristimewa dari Taurat dan Injil, ini tidak betul sama sekali.

Ambillah misalnya pokok-pokok agama yang dibahas dalam Al-Qur’an. Tidak satu kitab sucipun, baik Perjanjian Lama, Perjanjian Baru maupun kitab suci lain-lainnya, yang dapat menyamai kebesaran dan kemuliaan Kebenaran yang diterangkan dalam Al-Qur’an.

Bandingkanlah sejarah para Nabi yang diterangkan dalam Bibel dan yang diterangkan dalam Al-Qur’an, kita pasti akan berkesimpulan bahwa yang Al-Qur’an telah membetulkan kekeliruan-kekeliruan yang ada di dalam Bibel, seperti  halnya doktrin-doktrin keagamaan yang dibetulkan Al-Qur’an.

Di dalam Bibel, sebagai contoh, kita dapati bahwa para Nabi Allah itu berbuat dosa. Misalnya Nabi Ibrahim, yang diceritakan sebagai nabi yang suka berdusta. Nabi Luth disebut sebagai nabi yang berbuat serong dengan anak perempuannya sendiri. Nabi Harun dikatakan sebagai nabi yang membuat patung anak sapi untuk disembah. Nabi Dawud dikisahkan sebagai nabi yang berzina dengan istrinya Uriah. Dan Nabi Sulaiman disebut-sebut sebagai nabi yang menyembah berhala.

Al-Qur’an menolak mentah-mentah dan menyanggah pernyataan dan kisah-kisah di dalam Bibel itu. Al-Qur’an membersihkan para nabi itu dari segala tuduhan palsu.

Al-Qur’an adalah Sabda Allah yang diwahyukan kepada Nabi Suci Muhammad saw. yang dihadirkan untuk membetulkan atau mengoreksi kekeliruan kitab suci yang sudah-sudah dan menyempurnakan kitab-kitab suci terdahulu yang belum sempurna itu.[]

Dinukil dan diselia dari “Qanun Asasi Gerakan Ahmadiyah Indonesia”

Yuk Bagikan Artikel Ini!

Comment here

Translate »