facebooklikebutton.co
AHMADIYAH ISSUETOKOH

Wahid Hasyim dan Djojosoegito

Orang mengatakan bahwa darah keturunan itu, baik melalui darah keturunan laki-laki, maupun melalui jalan keturunan perempuan, baik secara menurun ke bawah, maupun telah bersimpang siur dengan anggota kekeluargaan lain, pada suatu masa darah itu akan menjelmakan juga pembawaan keturunannya. Seorang yang dalam jasadnya mengalir darah raja, walaupun sudah turun-temurun jauh dari hubungannya, pada suatu masa ia akan menunjukkan pembawaan keturunannya, baik dalam bentuk jabatan raja, ataupun dalam salah satu jabatan lain yang ada hubungannya dengan pemerintahan. Begitu juga dengan keturunan keluarga priyai, petani, saudagar, guru atau alim ulama. Demikian konon keyakinan orang dalam teori darah. Pepatah Melayu memperingatkan hal ini dengan: Harimah tidak membuang belangnya.

Jika hal ini kita lihat dalam hubungan antara Djojosugito dan Wahid Hasyim, barangkali orang lalu berkata, bahwa falsafah darah itu ada benarnya, sama-sama berjuang dalam agama, yang seorang sebagai pemuka Ahmadiyah Aliran Lahore, yang seorang lagi berjuang dalam Nahdlatul Ulama, karena kedua-duanya berasal dari alim ulama.

Siapa yang tidak kenal Djojosugito? Atau dengan nama yang lengkap R. Ng. H. Minhadjurrahman Djojosugito? Sejak Gerakan Ahmadiyah Indonesia aliran Lahore berdiri di Indonesia dalam tahun 1928 dialah satu-satunya tenaga penggerak, dialah yang mula-mula berusaha mendirikan dan terus melayaninya sampai hari ini sebagai ketuanya dengan segala macam suka dan dukanya.

Sebagai alasan yang menggerakkan hatinya untuk mendirikan gerakan itu di Indonesia, diterangkan sebagai berikut. Mari kita mendengah sejarah itu dari Pak Djojo sendiri demikian:

“Mulai kecil diasuh dan dibimbing oleh ibu dan ayah saya dalam hidup beragama dan oleh paman saya, misalnya: K. Imam Barmawi, K. Zainal Muchtaram dan oleh kiyai-kiyai lainnya, misalnya: K. Djumali, Thahir, Na’im dan lain-lainnya. Hidup saya di pondok pesantren beberapa lamanya, rupanya pengaruhnya tak ada akan hilang-hilangnya. Terbukanya mata akan dunia Islam, terutama mula-mula saya dapat dari Kiyai Ahmad Hisjamzaini, Kiyai H. Ahmad Dahlan (Pendiri dan Pemimpin Muhammadiyah). Apalagi setelah saya menerjunkan diri ke dalam Muhammadiyah tidak kurang 8 tahun.

Tahun 1921/1922 sudah mulai saya dengar Ahmadiyah. Dengan kedatangan mualligh Ahmadiyah (Maulana Ahmad dan Mirza Wali Ahmad Baig), mulailah saya mendapat pengertian tentang Ahmadiyah (1923-1937). Yang amat menarik hati kami ialah keberaniannya membuka HAQ keinginan Islam dan Rasulullah di negeri-negeri Kristen, yang selama ini selalu menindah dan memusuhi Ilam dan Muslimin serta Nabinya, karaena tidak menginsafi keindahannya. Kesempatan sekarang kami pergunakan untuk bersyukur kepada Allah atas keikhlasan beliau-beliau ini semua, yang akibatnya bisa membentuk jalan hidup kami, turut menyiarkan dan membela Islam dan Nabinya.

Alhamdulillah, setelah mengatasi pelbagai macam kesulitan dan penderitaan, maka pada akhir tahun 1928 dapatlah kami mendirikan Gerakan Ahmadiyah Indonesia aliran Lahore.” (Suratnya Jogjakarta, tgl 8 Desember 1956).

Bagaimana hubungan keluarganya dengan Wahid Hasyim?

Kiyai Ropingi, Penghulu di Magetan, berputera beberapa orang di antaranya:

  1. Kiyai Muhammad Ilyas di Sewulan Madiun
  2. Kiyai Hasan Mustaram, Penghulu Naib di Slagreng, Magetan.

K.M. Ilyas Sewulan itu beranak dua orang, seorang bernama Nyai Napikah, yang kemudian kawin dengan K. Hasyim Asy’ari Tebuireng dan melahirkan K.H.A. Wahid Hasyim, bekas Menteri Agama yang kita peringati sekarang ini, dan seorang lagi bernama K. Qalyubi Penghulu Surabaya, dengan anaknya K.H. Muh. Ilyah, Menteri Agama sekarang ini.

K. Hasan Mustaram, beranak seorang wanita, yang kemudian kawin dengan K. Mangunarso, Penghulu Naib di Sawit, Boyolali, Surakarta. Dari perkawinan ini lahirlah R. Ng. Hadji Minhadjurrahman Djojosugito, ketua Gerakan Ahmadiyah Indonesia Aliran Lahore tersebut di atas.

Mengenai GERAKAN AHMADIYAH ini dapat kita terangkan sebagai berikut.

Gerakan Ahmadiyah ini didirikan oleh Mirza Ghulam Ahmad (1835-1908) dalam bulan Maret 1889, tatkala ia berumur 54 tahun. Ia berasal dari salahs atu keluarga bangsawan keturunan Mongol dari Punjab yang pindah ke India dari Samarkand, kabarnya mungkin sekali dalam masa atau sekitar masa pemerintahan Babar.

Salah seorang moyangnya yang pertama yang datang di India adalah Mirza Hadi Beg, yang menurut keterangan Sir Lepel Griffin dalam kitabnya “Punjab Chiefs” pada masa hidupnya ditunjukkan menjadi qadi yang daerangnya tidak kurang dari 70 desa sekitar Qadian, yang didirikan olehnya dengan nama Islampur Qazi. Sampai tujuh keturunannya moyang Mirza Ghulam Ahmad ini menjadi pegawai negeri dan dihormati oleh pemerintah Inggris; jatuhnya tatkala golongan Sikh mendapat kekuasaan.

Kantor penguurus besar gerakan ini didirikan oleh Mirza Ghulam Ahmad tersebut di Qadian, sebuah kota yang kecil di Punjab (India), letaknya kira-kira 11 mil dari sebelah timur laut Batala, yang dihubungkan oleh jalan kereta api. Pada waktu ia meninggal dunia dalam bulan Mei 1908, pengikutnya sudah berjumlah ratusan ribu orang yang bertebaran di seluruh tanah Arab, Afghanistan dan sebagainya.

Sesudah Mirza Ghulam Ahmad meninggal dunia, yang menjadi Khalifah yang pertama dalam aliran mazhab ini dipilih Hzrat Maulawi Nuruddin, keuta suci dari gerakan itu. Dan dalam bulan Maret 1914 dengan takdir Tuhan Khalifah yang pertama ini meninggal dunia. Lalu diangkatlah untuk menjadi Khalifah yang kedua ananda dari Mirza Ghulam Ahmad sendiri, yaitu Hazrat Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad.

Khalifah yang kedua ini lahir pada tanggal 12 Januari 1889, dan meneruskan usaha ayahnya yang mendirikan gerakan Ahmadiyah itu dengan segala kegiatan dan kecakapannya. Ia diangkat menjadi kepada gerakan Ahmadiyah sebelum berumur 25 tahun sesudah meninggalnya Maulawi Nuruddin, Khalifah yang pertama tersebut di atas. Kemudian yang dialami oleh pergerakan Ahmadiyah ini kelihatan pesat sekali. Di bawah pimpinannya banyak misi-misi yang dikirimkan ke sana-sini dan cabang-cabang Ahmadiyah banyak tambah dalam negara-negara seluruh muka bumi ini. Ribuan bahkan puluhan ribu dari bermacam-macam bangsa di dunia ini masuk menggabungkan diri pada Ahmadiyah itu.

Lain daripada seorang yang cakap berbicara, muballigh yang ulung dalam gerakannya, terutama dalam bahasa Urdu, ia adalah seorang yang sangat pandai menulis. Kitab-kitabnya, baik yang tertulis dalam bahasa Urdu maupun yang sudah disalin ke dalam bahasa Inggris, tersiar ke seluruh bumi dengan bermacam-macam pokok pembicaraan yang penting-penting. Di samping kitab-kitab yang ditulisnya itu, yang disalin orang ke dalam bahasa asing, ia membuat juga terjemahan Quran dengan tafsir-tafsir menurut paham gerakannya.

Beberapa kitabnya yang sudah disalin ke dalam bahasa Inggris, yang kita sebutkan yang terpenting: The New World Order of Islam, The Economic Structure of Islam Society, A Present to the Prins of Wales, An Introduction to the Study of the Holy Quran, Life and Teaching of the Prophet Muhammad, The Ahmadiyya Movement in Islam dan Ahmadiyya or the True Islam, yang diterbitkan oleh The American Fazl Mosque, Washington D.C. dalam tahun 1951, yang menceriterakan uraiannya mengenai gerakan Ahmadiyah Qadian dalam Religious Conferences di Amerika.

Pada waktu ini gerakan Ahmadiyah ini terserak di seluruh dunia. Pemeluk-pemeluknya berjumlah tidak kurang dari setengah miliun, sebagian besar terdapat di India dan di Pakistan. Hampir tiap propinsi di India ada anggota Ahmadiyah ini, begitu juga pada beberapa tempat di Afganistan, di antara penduduk yang berbahasa Pastho dan Persi. Di sebelah selatan dan timur India, pemeluk-pemeluknya terdapat di Ceylan, Birma, kerajaan-kerajaan Malaya dan pada umumnya Tanah Semenanjung. Banyak majalah-majalahnya yang diterbitkan dalam bahasa Inggris dan dalam bahasa Melayu.

Di Tiongkok tidak terdapat missie yang tetap, tetapi dalam sebuah kitab The Muslim World, yang dicetak di Instanbul dalam bahasa Turki dan yang ditulis oleh seorang pelancong yang ternama, Syaikh Abdul Rasyid Ibrahim, seorang terpelajar yang berasal dari Qazan dan anggota parlemen Rusia, diterangkan bahwa di sana pun terdapat anggota-anggotanya, meskipun hubungannya dengan Pengurus Besar gerakan Ahmadiyah itu di Qadian belum ada.

Juga di Philipina terdapat gerakan ini, dan pada waktu yang akhir ini juga di Indonesia, yang masuk melalui Aceh, Minangkabau dan terus ke Jawa. Baik di Aceh maupun di Minangkabau gerakan ini mendapat tantangan yang hebat, di antaranya kita masih teringat, bagaimana Alm. Dr. H. A. Karim Amrullah, bapa dari Hamka, menulis sekian banyak risalah-risalah yang tajam-tajam terhadap gerakan ini; sebuah di antaranya ialah Al-Qaulus Sahih, yang diterbitkan baik dengan huruf Arab maupun dengan huruf Latin.

Reaksi di Jawa terutama timbul di bawah pimpinan gerakan Persatuan Islam. Perdebatan di Jakarta antara gerakan Ahmadiyah ini dengan salah seorang guru dari Persatuan Islam itu, tuan A. Hassan, yang berhari-hari lamanya, tidak dapat dilupakan oleh umat Islam di Indonesia. Untuk menghadapi lebih lanjut gerakan ini, dimana-mana berdiri Komite Pembela Islam, dengan organnya “Majalah Pembela Islam”.

Perlu kita catat di sini bahwa MIAI, Majelis Islam A’la Indonesia, yang menjadi federasi dari perkumpulan-perkumpulan Islam di seluruh Indonesia, memutuskan dalam kongresnya di Surabaya tahun 1941 tidak dapat menerima Gerakan Ahmadiyah Qadian ini menjadi anggotanya berhubung dengan i’tikad kenabian sebagai sudah diuraikan di atas.[1]

Di daerah-daerah yang terletak di sebelah barat dan utara Pakistan, pemeluk gerakan ini terdapat di Bokhara, Iran, Irak, Saudi Arabia dan Syria. Mengenai Afrika diterangkan bahwa cabang-cabangnya terdapat di Mesir, Zanzibar, Natal, Sierra Leone, Gold Coast, Nigeria dan Marocco, dan juga di pulau Mauritius. Di Mauritius terbit majalah dalam bahasa Prancis.

Di Eropa gerakan ini terutama terdapat di Inggris dan Prancis. Tetapi kemudian karena kegiatan propaganda muballigh-muballighnya, terutama penerbitan-penerbitan risalahnya, missie itu meluas ke Spanyol, India, negeri Belanda, Jerman dan Switserland.

Di Amerika gerakan ini berdiri baru kira-kira 3 tahun yang lampau, tetapi kemajuannya pesat sekali, sehingga pemeluknya sudah beratus-ratus ribu, terutama dari bangsa Amerika sendiri yang ingin memeluk agama Islam. Tidak kurang dari 20 cabang di Amerika ini. Mula-mula terbit majalah triwulan di Chicago, yang banyak membawa hasil bagi kemajuan gerakan itu, bernama The Muslim Sunrise. Kira-kira tahun 1950 pengurus gerakan di Chicago itu dipindahkan ke Washington dalam sebuah masjid The American Fazl Mosque, Washington D.C. Gerakan ni juga menjalar sampai ke Trinidad, Brazil, dan Costa Rica di Amerika Selatan. Menurut berita juga di Australia sudah mulai ada gerakan ini.

Akhirnya kita catat bahwa muballigh-muballigh dari gerakan Ahmadiyah itu banyak yang cakap-cakap dan lancar berbicara dalam bahasa Inggris, di antaranya dapat kita sebutkan Sir Muhammad Zafrullah Khan, Menteri Luar Negeri Pakistan, yang tidak asing lagi bagi dunai Islam Internasional.

Gerakan Ahmadiyah yang kita bicarakan di atas ini adalah gerakan Ahmadiyah yang dinamakan Aliran Qadian. Tetapi ada gerakan Ahmadiyah Lahore, yang juga sangat aktif di seluruh dunia dan yang ada juga cabangnya di Indonesia ini.

GERAKAN AHMADIYAH LAHORE ini berlainan dengan gerakan Ahmadiyah Qadian. Perbedaannya dapat dibaca orang dalam sebuah risalah yang bernama “Asas-asas dan Pekerjaan Gerakan Ahmadiyah Indonesia (Centrum Lahore)”, yang disusun oleh sdr. Soedewo dalam tahun 1937, pengarang Terjemah Quran bahasa Belanda dan kitab-kitab lain yang sudah dikenal dalam kalangan intelek di Indonesia. Terjemah Quran bahasa Jawa sedang dikerjakan oleh Djojosoegito tersebut.

Terutama gerakan Lahore ini mendasarkan keyakinannya, bahwa Mirza Ghulam Ahmad itu hanyalah seorang Mujaddid, keyakinan yang masih dekat dengan paham Ahlus Sunnah berhubung dengan kemungkinan bahwa tiap-tiap 100 tahun Tuhan mengutuskan seorang Mujaddid, pembaharu agama ke dunia ini. Tetapi ada golongan Islam yang juga masih menentang keterangan-keterangan tersebut.

Gerakan Ahmadiyah yang pusat pimpinannya ada di Lahore, didirikan pada tahun 1914 dengan nama AHmadiyya Anjumah Isha’ati Islam di bawah pimpinan Maulana Muhammad Ali, M.A., LL.B., sebagai sangkalan ajaran-ajaran baru dari Gerakan Ahmadiyah yang berpusat di Qadian. Ajaran-ajaran baru yang oleh Gerakan Ahmadiyah Lahore dipandang salah, karena membinasakan persatuan dan solidaritet umat Islam itu pokoknya ialah bahwa Hazrat Mirza Ghulam Ahmad, pendiri Gerakan Ahmadiyah, ialah seorang nabi dan barangsiapa tidak percaya akan hal itu adalah kafir.

Gerakan Ahmadiyah Lahore berkeyakinan bahwa agama sudah disempurnakan Allah, karena itu agama Islam adalah agama terakhir dan Nabi Muhammad saw. adalah Nabi terakhir, tidak akan ada datang nabi lagi, baik nabi baru maupun nabi lama. Hazrat Mirza Ghulam Ahmad tiada lain melainkan seorang mujaddid (pembaru) abad ke 14 Hijriyah atau seorang muhaddath, sebagaimana halnya mujaddid-mujaddid yang dijanjikan Rasulullah saw. akan timbul pada permulaan tiap-tiap abad.

Gerakan Ahmadiyah Lahore ialah suatu gerakan untuk menyiarkan dan membela Islam di seluruh dunia. Untuk memperkenalkan dunia dengan ajaran-ajaran Islam yang sebenarnya itu didirikannya di negara-negara Kristen (Eropa dan Amerika), Afrika dan Asia. Missi-missi Islam, misalnya di London (Woking; imam masjidnya yang pertama Al-Hajj Khawaja Kamaluddin; majalah bulanannya Islamic Review); di Berlin (imam masjidnya Maulwi Sadruddin, kemudian Dr. S.M. Abdullah, M.Sc., Ph.D; majalah bulanannya Moslemische Revue), di Amsterdam (S.M. Tufail, M.A.), di Indonesia (Mirza Wali Ahmad Baig). Perwakilan-perwakilannya terdapat misalnya di Pakistan Timur, India, Burma, Assam, San Fransisco USA, Amerika Selatan dan Iraq.

Di antara kitab-kitab dan brosur-brosur yang banyak diterbitkan dan disiarkan oleh Gerakan Ahmadiyah Lahore, yang terpenting ialah: terjemah Quran Suci dengan tafsir dalam bahasa Inggris (1918), Urdu (1929), Jerman (1940), Tamil, Sindhi, Gurmuchi, Bengali dan Itali; buku-buku tentang hadits, misalnya Fazlul-Bari, terjemah Sahih Bukhari dengan tafsir dalam bahasa Urdu (1932), Manual of Hadits; sembilan macam sejarah Nabi Muhammad saw. yang sebuah diterjemahkan dalam 17 bahasa; sejarah Khulafaur-Rasyidin dalam bahasa Inggris; buku tentang sejarah Islam yang dibandingkan dengan agama-agama lain. Brosur-brosur tentang Islam terdapat dalam 30 bahasa. Majalah-majalah yang diterbitkan di Lahore ialah Paigham Sulh, Muslim Revival, The Light, Young Islam.

Di Indonesia didirikan oleh Djojosugito Gerakan Ahmadiyah Indonesia aliran Lahore (rechtsperson 1930) sebagai cabang dari Gerakan Ahmadiyah Lahore. Di antara buku-buku dan brosur-brosur yang telah diterbitkan, yang besar ialah De Heliege Quran, terjemah Quran Suci dengan tafsir dalam bahasa Belanda (1935), De Religie van den Islam, yang menerangkan sumber-sumber, azas-azas dan undang-undang Islam (1938), Muhammad de Profeet, sejarah Rasulullah saw., De Leerstellingen van den Islam, Falsafah Islamiyah, Wedharing Sabda Kawasa. Terjemah Quran Suci dengan tafsir dalam bahawa Jawa (Quran Jarwa Jawi) sedang dikerjakan dan tafsir dalam bahasa Indonesia sedang diperiksa kembali. Majalah-majalah yang diterbitkan ialah As-Salam (di zaman Belanda), Muslim, Risalah Ahmadiyah dan An-Nur.[]

 

Dinukil dari buku Sedjarah Hidup K.H.A. Wahid Hasyim dan Karangan Tersiar, hlm 127-134, disusun Oleh H. Aboebakar, Kepala Bagian “D” Kem. Agama, Menurut Keputusan Menteri Agama Tgl 23 Maret 1954 No. 4/1954, Diterbitkan oleh Panitya Buku Peringatan Alm. K.H.A. Wahid Hasyim, Jakarta, 1957.

 

[1] Buku Peringatan MIAI 1937-1941, hal. 19

Comment here