facebooklikebutton.co
ArtikelSpesial Ramadhan 1443 H

Tidak Cukup Hanya Beriman!

close up shot of person holding prayer beads

Kewajiban puasa sesungguhnya hanya berlaku bagi orang-orang yang beriman. Tujuannya agar orang-orang beriman itu juga bertaqwa (QS 2:183).

Kita banyak sekali menjumpai ayat Qur’an yang memasangkan kata iman dan taqwa, seolah-olah, atau memang demikian, iman itu berbeda dengan taqwa.

Iman saja rupanya belum cukup, tetapi masih harus ditambah dengan taqwa.

Ibadah puasa adalah salah satu yang bisa menjadikan orang-orang yang sudah beriman untuk juga bisa bertaqwa. Tentu, kalau puasanya sukses.

Menurut pemahaman saya hingga hari ini, iman berhubungan dengan perbuatan baik. Dalam arti kata, orang yang beriman adalah orang yang senantiasa berbuat baik.

Dalam Islam ada keyakinan-keyakinan pokok yang disebut Rukun Iman.

Bukti kalau kita beriman kepada Allah adalah kalau kita selalu berbuat baik, sebagaimana Allah juga selalu berbuat baik kepada apa pun dan siapa pun.

Dalam konteks inilah, kiranya, Nabi saw. bersabda, takhallaqu bi akhlaaqillaah, “Berbudi pekertilah kamu sebagaimana pekerti-pekerti Allah.”

Kalau Qur’an berulang-ulang menyatakan bahwa kita adalah khalifah Allah, mungkin dengan maksud agar kita dapat selalu mewujudkan sifat-sifat Ketuhanan di dalam batin kita, dan mengaktualisasikannya di dalam praktek kehidupan kita.

Beriman kepada Malaikat demikian halnya juga. Mengimani malaikat mengandung konsekwensi keharusan kita untuk selalu taat kepada perintah Allah, sebagaimana halnya malaikat yang kita imani tak pernah membangkang kepada-Nya.

Konsekwensi itu haruslah juga meluas dan berdampak pada keharusan kita taat dan patuh pada segala peraturan perundang-undangan yang kita sepakati dalam komunitas kecil maupun besar, baik sebagai warga masyarakat di lingkungan RT, sebagai warga bangsa dari suatu negara, dan lain sebagainya.

Lalu beriman kepada Kitab-kitab Allah, berarti kita harus mengaplikasikan ajaran yang terkandung di dalamnya. Beriman kepada Rasul-Nya berarti kita harus ittiba, mengikuti dengan tanpa reserve apa yang diajarkan dan dicontohkan oleh utusan itu.

Lantas, beriman kepada Akhirat dan Hukum Takdir berarti kita harus selalu berbuat baik, karena di akhirat kita harus mempertanggungjawabkan setiap ucapan, sikap dan perbuatan kita.  Dan karena menurut taqdir Allah, siapa menanam kebaikan akan menuai kebaikan, dan siapa menanam kejahatan akan menuai buah dari kejahatannya pula.

Jadi singkat kata, iman berhubungan dengan perbuatan baik.

Lantas soal arti kata taqwa, Maulana Muhammad Ali dalam tafsirnya mengartikannya sebagai “menjaga diri dari kejahatan,” meski kata itu mencakup pula arti “memenuhi kewajiban”.

Mungkin ada orang yang sudah berbuat baik, tetapi belum mampu menjaga diri dari kejahatan. Dia sudah beriman, tetapi belum bertaqwa!

Misalnya seperti yang hari-hari belakangan ini kita lihat atau baca di media massa: sejumlah orang membagi-bagikan kekayaannya kepada banyak orang, tetapi diduga harta itu hasil kejahatan.

Sebaliknya, mungkin ada orang yang mampu menjaga diri dari kejahatan tetapi enggan berbuat baik. Misalnya, tidak mau bersedekah karena merasa apa yang dimiliki adalah hasil jerih payahnya sendiri, dan oleh karena itu mutlak menjadi hak miliknya sendiri.

Yang dituju oleh ibadah puasa adalah agar orang-orang yang sudah berbuat baik itu, juga menghindari perbuatan jahat.

Kalau kita mampu beriman dengan benar, sekaligus bertaqwa dengan benar, Allah berjanji akan membukakan bagi kita pintu-pintu keberkahan yang ada di langit dan di bumi (QS 7:96).

Jadi, beriman saja tidak cukup. Bertaqwalah juga!

Comment here