facebooklikebutton.co
SENTUHAN RUHANI

Tataran Iman dan Sarana Lahiriah

 

Orang beriman yang begitu kuat imannya pada kemahakuasaan Allah, akan terhindar dari ketergantungan secara mutlak pada sarana atau penyebab lahiriah. Ketika manusia sempurna imannya kepada Allah Ta’ala, dia akan bergantung, berharap, dan bertawakal sepenuhnya pada Allah Ta’ala. Bila hamba Allah telah mencapai level ini, maka Allah Ta’ala akan menolongnya dalam beberapa perkara, dengan tanpa perantaraan sarana lahiriah.

Aku menyaksikan hal ini pada diriku sendiri. Sering kali Allah Ta’ala menganugerahkan kesembuhan padaku dari beberapa penyakit berbahaya tanpa penggunaan obat. Bila aku tidak menghargai dan menyia-nyiakan tanda (bukti) berdasarkan pengalamanku sendiri, hal itu termasuk ketidakpatuhan atau bahkan pengingkaran. Bagaimana mungkin aku bisa mengingkari tanda (bukti) yang diberikan padaku, seperti selamat atau terhindar dari wabah ta’un (pes)?

Nabi Muhammad saw. bersabda:

“Tidaklah Allah turunkan penyakit kecuali Allah turunkan pula obatnya.” (HR. Bukhari).

Memang benar, untuk setiap penyakit Allah Ta’ala ciptakan obatnya. Tetapi tidak tertulis baik dalam Quran maupun hadis, bahwa tanpa obat Allah Ta’ala tidak bisa menghilangkan suatu penyakit.

Kita tidak mengingkari efek obat. Karena kita yakin bahwa Allah Ta’ala menyajikan sedikit atau banyak faedah pada setiap sesuatu. Tetapi ketika Allah Ta’ala dengan ilmu-Nya yang sempurna memberikan satu tanda kepada kita, kita tidak mungkin meragukannya. Hadis yang tertulis itu benar dan ada pada posisinya. Tingkatan iman dan tawakal yang kita miliki ada pada posisi yang lain, yang bisa dilihat dengan pandangan ma’rifat. Oleh karena itu, kita tidak menolak hadis, tapi menghargainya.

Kita melibatkan perantara atau penyebab lahiriah hingga ada perintah atau petunjuk Allah Ta’ala. Namun ketika Allah memberikan satu perintah atau ketentuan secara langsung kepada kita, kita tidak dapat meninggalkannya.

Jadi pelibatan sarana lahiriah ada pada tempatnya. Kita tidak dapat meninggalkannya. Ia tidak terlarang bagi kita, dan kita tidak menganggapnya terlarang.

Allah berfirman:

“Dan Allah akan melindungi engkau (Muhammad) dari manusia.” (Al Maidah, 5:67).

Meskipun Nabi kita Muhammad saw. mendapat jaminan perlindungan dari Allah, beliau tidak meninggalkan sarana atau penyebab lahiriah untuk menjaga diri. Tidak ada nabi atau wali yang menganggap haram pelibatan sarana lahiriah. Memang benar, mereka menganggap dan menetapkan bahwa penolong sejati kehidupan mereka adalah Allah Ta’ala. Mereka tidak ingin menguji Allah dengan meninggalkan sarana lahiriah, karena hal itu merupakan kesombongan di hadapan-Nya.

Kita pun melibatkan sarana lahiriah, tetapi meniadakannya dalam kondisi iman. Hal ini merupakan rahasia halus, yang tidak setiap orang bisa memahami. Sudah menjadi sunatullah, selama seorang hamba semakin meningkat imannya, maka dia semakin berkurang keterikatannya pada sarana lahiriah,  dan padanya mengalir karunia dari Yang Ghaib.

(HM Ghulam Ahmad, Disarikan dari Malfuzat Ahmadiyyah, jld. 7, hlm. 507-509).

Comment here