facebooklikebutton.co

Tantangan dan Peluang GAI di Indonesia

ahmadiyah.org – Dalam perspektif GAI, Islam adalah agama yang mengajarkan manusia untuk memegang teguh prinsip kesatuan (wahidiyah), baik dengan tuhan (tauhid ilahiyah), maupun dengan sesama manusia (tauhid insaniyah) yang lebih dikenal dengan konsep ummatan wahidah.  Sebagai landasannya, Islam menekankan prinsip bagi penganutnya untuk mengutamakan perdamaian, secara vertikal berdamai dengan Tuhan, dan secara horisontal berdamai dengan sesama makhlukNya. Karenanya, kekerasan atas nama apapun pastilah bertentangan dengan ajaran Islam.

Tidak hanya itu, dalam kerangka kesatuan umat, Islam juga memerintahkan para penganutnya untuk mengimani semua nabi dari segala bangsa dan semua kitab suci yang dibawa serta oleh mereka. Meskipun secara definitif istilah “Islam” sebagai agama, baru dinyatakan pada era Muhammad, tetapi umat Islam harus meyakini bahwa pada dasarnya semua ajaran para Nabi, sejak Nabi pertama hingga Nabi Terakhir, yakni Nabi Muhammad, adalah Islam itu sendiri. Karena itulah, Islam mengajarkan umatnya untuk menghormati keyakinan-keyakinan lain, bahkan harus ikut melindungi dan menjaga para penganutnya untuk menjalankan peribadatan sesuai dengan keyakinannya itu.

Hal itu disampaikan oleh Mulyono, selaku sekretaris PB GAI, sebagai pengantar dalam acara silaturahmi dan dialog antara pengurus GAI dengan sekitar 40 peserta Studi Intensif tentang Islam (SITI) angkatan ke-13 pada Minggu siang, 23 Agustus 2015 kemarin. Dialog berlangsung selama dua jam lebih, bertempat di Aula Yayasan PIRI, Kompleks Yayasan PIRI Baciro, Yogyakarta.

SITI adalah sebuah program studi yang diselenggarakan oleh Pusat Studi Agama-agama (PSAA) Universitas Kristen Duta Wacana. Peserta SITI terdiri dari para pendeta dan mahasiswa pasca sarjana dari tiga institusi pendidikan, yakni Fakultas Teologi UKDW, UIN Sunan Kalijaga, dan Fakultas Teologi Universitas Sanata Dharma.

Dalam sambutannya di awal acara, Pdt. Dr. Wahyu Nugroho, Ketua Program PSAA UKDW, menerangkan bahwa SITI diselenggarakan untuk memberikan pengetahuan dari narasumber pertama tentang Islam, khususnya bagi para pemimpin umat Kristen, sehingga mereka memiliki pemahaman terbuka dan diharapkan menjadi agen dalam membuka kerja sama yang damai dengan saudara-saudara muslim di tempat mereka bertugas.

Dalam program SITI kali ini, menurut Wahyu, tema Islam dan keindonesiaan disoroti secara lebih mendalam dan kritis, dan digali dengan melibatkan empati. Empati yang dimaksud bukan sekedar perasaan dan emosi, melainkan terutama sebagai sebuah sikap dan kesadaran untuk menjadikan pengalaman hidup orang lain sebagai bagian dari pengalaman hidupnya.

Terkait dengan isu Ahmadiyah, peserta SITI berkunjung langsung ke rumah GAI, dengan maksud untuk menggali informasi dari sumber yang asli dan dipercaya. Mereka ingin mendengar langsung bagaimana warga GAI bergumul dalam isu ahmadiyah, dan cara menghadapi tantangan dan peluang terkait dengan hal itu dalam konteks keindonesiaan. Sebab, jika hanya mengandalkan informasi dari media, maka ada banyak informasi yang tidak bisa dipastikan kebenaran dan keabsahannya.

Dalam kaitannya dengan hal itu, Mulyono menjelaskan bahwa pada umumnya masyarakat memungkiri adanya kenyataan bahwa Ahmadiyah terdiri dari dua faksi, yakni Ahmadiyah-Lahore dan Ahmadiyah-Qadiyan. MUI sendiri, yang menganggap dirinya sebagai representasi umat Islam di Indonesia, menilai dua faksi itu secara sama rata.

Padahal, sudah nyata jelas keduanya adalah dua entitas yang berbeda, dipandang dari sudut apapun, baik sosiologis, historis, ideologis, apalagi teologis. Sebagai misal, dalam wilayah bahasan teologi, jika yang dipersoalkan oleh umat Islam pada umumnya adalah ihwal kenabian Hazrat Mirza Ghulam Ahmad, maka sudah jelas sekali Ahmadiyah-Lahore sejak awal berdirinya menentang pernyataan itu. Bahkan, secara historis, perpecahan di tubuh Ahmadiyah itu justru terjadi dikarenakan perbedaan prinsip teologis itu.

Secara ideologis-teologis, GAI mengamini keyakinan yang dianut oleh Ahmadiyah-Lahore. Meski demikian, secara stuktural-organisatoris, GAI tidak ada hubungannya sama sekali dengan organisasi Ahmadiyah-Lahore di negara mana pun, yang dikenal dengan Ahmadiyya Anjuman Isha’ati Islam Lahore (AAIIL). GAI adalah organisasi mandiri dan independen, yang bergerak dalam arus pemikiran yang berurat dan berakar dari dan dalam konteks Islam dan keindonesiaan.

Kesalahpahaman dan kekaburan orang dalam memandang GAI, yang dipersamakan dengan JAI (Jemaat Ahmadiyah Indonesia, sayap organisasi Ahmadiyah-Qadiyan), menurut Mulyono, antara lain karena kesamaan nama dan asal muasal kedua organisasi ini. Tetapi hal itu sebenarnya bisa diudar dengan cara menggali informasi dari sumber asli, seperti yang dilakukan oleh SITI kali ini.

Dalam kesempatan berikutnya, Anis Farikhatin, muslimat GAI yang aktif menjadi praktisi dialog lintas iman, menyampaikan pengalaman pergulatannya dalam berdialog dengan komunitas beragam iman. Menurutnya, ada tiga perkara yang selama ini menghantui proses dialog antar iman, yakni klaim kebenaran (truth claim), klaim keselamatan (salvation), dan sifat dakwah agama (missionary). Ketiga perkara itu akan selalu menjadi ancaman dalam dinamika sejarah umat beragama, selama ketiganya itu tidak dikelola dengan cantik dan baik oleh para pelakunya. Sebab, ketiganya perkara itu melahirkan sifat prejudice (prasangka) antar penganut keyakinan yang berbeda. Sifat prejudice melahirkan sikap beragama yang eksklusif, dan bisa berujung pada tindak terorisme.

Menghilangkan prejudice itu memang susah. Anis sendiri mencontohkan dirinya, yang pada mulanya teramat susah untuk bersifat terbuka terhadap pandangan yang berbeda. Namun, prosesi inklusi itu akhirnya dapat ia lakukan dengan cara terus menerus melakukan upaya dialog, baik secara internal dengan mengkaji ulang cara memahami ajaran agama sendiri dengan fikiran terbuka, maupun secara eksternal dengan mengkaji lebih mendalam keyakinan agama lain dengan cara terlibat dalam dialog yang bersifat empatik.

Dalam pergulatannya itulah, Anis menemukan kembali spirit dialog yang inklusif, yang justru ia temukan dari Al-Qur’an. Misalnya, merujuk surat Ali Imran ayat 113-115, Anis menyatakan bahwa pada dasarnya setiap pemeluk agama, baik itu Islam, Kristen, Katolik, Yahudi, dan lainnya, memiliki peluang untuk menjadi orang saleh yang mendapat perkenan Tuhan.

Terkait isu ahmadiyah di Indonesia, Anis bercerita mengenai dampak yang dialami warga GAI akibat label sesat dan menyesatkan yang dilekatkan pada Ahmadiyah. Anis mencontohkan beberapa tindak intoleransi yang terjadi, antara lain pembubaran Pengajian Tahunan GAI, penganiayaan siswa SMA PIRI 1 Yogyakarta, Guru-guru PAI Yayasan PIRI yang dipaksa menandatangani surat pernyataan tidak mengajarkan ajaran sesat, dan lain-lain.

Meskipun demikian, Anis menegaskan bahwa, meskipun secara faktual GAI berseberangan pandangan dengan JAI, tetapi GAI tetap ikut terlibat aktif dalam kegiatan advokasi dan pembelaan terhadap intoleransi yang dialami oleh JAI. Tidak hanya itu, GAI bahkan berulangkali ikut serta dalam kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan oleh JAI, sebagai wujud empati dan penghormatan atas keyakinan mereka.[bas]

Komentar

komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*