ARTIKEL

Takabur dan Kambing Hitam

Barangkali kita sering, setidak-tidaknya pernah, mendengar ucapan, “untung ada saya, kalau tidak…”, atau “kalau bukan karena saya, mustahil bisa …”. Kelengkapan ucapan itu tentu sangat beragam, tergantung kasusnya. Misalnya untuk kalimat pertama, “untung ada saya, kalau tidak, dia pasti mati”. Sedangkan untuk kalimat yang kedua, “kalau bukan karena saya, mustahil lembaga (atau organisasi) itu bisa berkembang”.

Ada sikap batin yang ingin dibentuk oleh Islam melalui ajarannya. Di antaranya adalah sikap tawakal. Sikap ini tercermin dalam kalimat laa hawla wa laa quwwata illaa billaah, keyakinan bahwa sesungguhnya tidak ada daya dan kekuatan kecuali atas perkenan, izin atau pertolongan Allah semata.

Secara teoritis, sikap itu mudah dipahami. Allah adalah Tuhan, yang tidak ada selainNya, yang maujud sendiri dan segala sesuatu maujud karenanya (laa ilaaha illa huwal-hayyu al-qayyum). Apa saja yang ada di langit maupun di bumi adalah kepunyaanNya (lahuu maa fis-samaawaati wa maa fil ardl). Allah adalah satu-satunya tempat bergantung (ash-Shamad).

Boleh jadi karena itulah, maka setiap kali kita menyaksikan suatu peristiwa yang mengagumkan, ucapan-ucapan yang dituntunkan adalah subhaanallaah (Maha Suci Allah) atau allaahu akbar (Maha Besar/Agung Allah).

Jika melihat kesenangan, ucapannya alhamdulillaah. Jika kita tertimpa musibah atau berempati kepada seseorang, yang dituntunkan adalah kalimat inna lillaahi wa inna ilayhi raaji’uun: segala sesuatu, termasuk diri kita, berasal dari Allah. Dan segala sesuatu akan berpulang kepadaNya.

Maksudnya, bahwa apa saja yang terjadi pasti atas kehendak Allah. Maka jika terjadi sesuatu atas apa saja, itu pasti juga atas kehendak Allah. Maka kita harus menerima dengan penuh keikhlasan. Dengan asumsi bahwa semua peristiwa adalah dalam kerangka atau proses rabbul ‘aalamiin, akan menuju ke arah kebaikan dan kesempurnaan.

Berdasarkan pola pemikiran seperti itu, maka ucapan-ucapan seperti di awal tulisan ini dapat dikategorikan sebagai ungkapan takabur.

Dalam kamus bahasa Indonesia, kata ‘takabur’ diartikan ‘merasa diri mulia, hebat, pandai, dsb.’ Dalam istilah Islam, takabbur artinya memiliki kebesaran. Orang yang memiliki sifat atau sikap takabur disebut mutakabbur, atau tepatnya mutakabbir, artinya orang yang memiliki kebesaran (yang menyamai kebesaran Tuhan).

Padahal sudah sangat jelas, yang memiliki kebesaran seperti itu hanyalah Allah Ta’ala (Al-Mutakabbir). Jadi orang yang takabur berarti menganggap atau merasa dirinya memiliki kebesaran, seperti kebesaran Allah.

Dalam kehidupan sehari-hari, mungkin kita pernah atau bahkan sering dihinggapi oleh sikap seperti itu, entah kita sadari atau tidak. Dalam kehidupan rumah tangga, misalnya, mungkin kita memiliki istri atau suami yang baik, saleh/salehah. Pendek kata, memenuhi harapan atau keinginan kita. Mungkin juga kita memiliki anak-anak yang sehat, cerdas dan tampan/cantik.

Jika kita tidak waspada, keadaan seperti itu membuka peluang untuk takabur. Kita merasa hebat karena sukses mendidik anak, atau berhasil membina keluarga. Padahal, kesuksesan kita dalam hal ini boleh jadi berkat doa orangtua kita, doa teman-teman kita, doa bersama yang dipimpin oleh petugas KUA pada waktu akad nikah, atau doa orang-orang pada waktu acara walimatul-‘ursy.

Ingat, doa untuk pasangan yang baru menikah, antara lain agar Allah memberkahi pernikahan itu dan menyatukan atau mengumpulkan kedua mempelai dalam kebaikan. Dari ratusan bahkan ribuan orang yang mengucapkan doa itu, boleh jadi ada sebagian atau bahkan seluruhnya yang dikabulkan oleh Allah. Sehingga, yang kita alami hanyalah wujud dari terkabulnya doa itu.

Barangkali memang betul bahwa untuk mencapai keadaan seperti itu kita harus berusaha keras. Dan memang tidak tertutup kemungkinan bahwa keadaan seperti itu merupakan hasil dari usaha kita. Tapi harus pula kita ingat bahwa kita mampu berusaha keras dll. itu karena diperkenankan oleh Allah.

Jika sikap batin ini dapat mempribadi, maka yang akan terjadi hanyalah rasa syukur yang mendalam, yang diwujudkan dalam perbuatan.

Dalam kaitan hidup berkeluarga, Allah Ta’ala telah memberikan peringatan agar kita senantiasa waspada. Sebab, anak-istri bisa menjelma musuh, atau bisa juga menjadi fitnah atau ujian (lihat QS 64:14-15).

Contoh lain lagi. Misalnya dalam hal pengelolaan lembaga atau organisasi, atau yang sejenisnya. Peluang munculnya sikap takabur juga cukup besar, jika tidak berhati-hati.

Misalnya, ketika kita belum berada di dalamnya, lembaga atau organisasi itu tidak berkembang, amburadul, dsb. Tetapi setelah beberapa lama kita berada di dalamnya, lembaga atau organiasi itu menjadi maju dan berkembang.

Dalam hal ini, jika kita lengah, akan melahirkan sikap takabur, yakni kita merasa bahwa karena usaha kitalah, lembaga atau organisasi itu maju dan berkembang. Padahal tidak tertutup kemungkinan maju dan berkembangnya lembaga atau organsiasi itu berkat doa orang-orang sebelumnya, yang oleh Allah baru dikabulkan ketika kita berada di dalamnya.

Atau bisa jadi berkat doanya orang-orang yang di mata kita tidak berarti, orang-orang yang kita pandang rendah, tetapi berhati bersih, berniat tulus, sehingga dikabulkan doanya oleh Allah Ta’ala.

Mungkin memang benar bahwa secara harfiah kita telah mencurahkan segala kemampuan kita, baik tenaga, pikiran dan bahkan mungkin harta kita. Pendek kata, kita memberikan kontribusi terbesar dalam pengembangan lembaga atau organisasi itu.

Tetapi bukankah apa-apa yang kita berikan untuk lembaga atau organisasi itu milik Allah? Sementara kita sesungguhnya hanya sebagai media saja. Bukankah apa saja yang ada di langit dan di bumi milik Allah?

Ada baiknya jika kita belajar dari perangai bunga mawar atau melati. Ia akan memberikan miliknya yang paling berharga, yakni bau harum dan mewangi, kepada siapa pun, bahkan kepada orang yang tidak memintanya. Ia akan memberikan bau wanginya terus-menerus sepanjang ia masih mampu berbuat seperti itu, tanpa berharap imbalan. Karena ia sadar bahwa yang ia miliki pada hakikatnya adalah milik Allah.

Perangai para nabi pun rupanya juga demikian. Tidak sedikit pun tersisa pada dirinya, apa-apa yang mereka dapatkan dari Tuhan.

Nabi Suci Muhammad saw. telah mengalami puncak kesempurnaan ruhaniahnya (liqaullaah), antara lain seperti yang tergambar dalam peristiwa Isra Mi’raj. Kalau beliau berpikir untuk kepentingan pribadi, boleh jadi tidak bakal kembali lagi ke dunia ini.

Orang-orang yang dihinggapi sikap takabur, apabila ia mengalami kegagalan, hampir dapat dipastikan akan menimpakan kesalahan pada orang lain atau mencari kambing hitam. Wallaahu a’lam.

 

Oleh: Mulyono | Fathi Islam, No. 2 Tahun VI/2001

Comment here