facebooklikebutton.co

Tag: indonesia

GAI dan Tantangannya

Kesalahpahaman terhadap GAI yang masih terdapat pada sebagian kecil orang, pada umumnya bukan disebabkan karena paham keagamaan yang dianut dan disebarluaskan oleh GAI, melainkan karena label Ahmadiyah yang melekat pada nama organisasi ini. Mereka mengira bahwa GAI tidak berbeda dengan organisasi lain yang kebetulan memiliki nama yang hampir sama dengan GAI.

Oleh: Mulyono | Sekretaris PB GAI | English Edition

Disampaikan dalam Silaturahmi Perwakilan Uni Eropa Peserta Indonesia Interfaith Scholarship (IIS) yang diprakarsai atas Kerjasama PKUB Kemenag RI, KBRI Belgia, Keharyapatihan Luxembourg dan Uni Eropa pada 26 Agustus 2013 di Sekretariat Pedoman Besar Gerakan Ahmadiyah Indonesia, Yogyakarta.

GERAKAN AHMADIYAH INDONESIA (GAI), atau yang populer dengan sebutan Ahmadiyah Lahore, adalah organisasi mandiri dan bukan bagian dari organisasi apa pun dan di mana pun. Organisasi ini sepenuhnya bergerak dalam usaha penyiaran Islam di Indonesia, antara lain melalui penerbitan buku-buku ke-Islaman dan penyelenggaraan pendidikan formal. Sebagai organisasi yang sah secara hukum dan eksistensinya diakui oleh negara, maka sejumlah buku ke-Islaman yang penting-penting, yang diterbitkan oleh GAI, mendapat izin resmi dari pemerintah, dan disebarluaskan secara terbuka kepada siapa pun. Demikian juga semua lembaga pendidikan yang diselenggarakan oleh GAI, yang secara teknis dikelola oleh Yayasan Perguruan Islam Republik Indonesia (PIRI), juga mendapat legalitas dari negara, yang siswa atau mahasiswanya berasal dari berbagai kelompok masyarakat, baik Muslim maupun non-Muslim. Melalui dua macam usaha inilah, ide-ide keagamaan GAI tersebar luas, sejak organisasi ini didirikan pada tahun 1928.

Oleh karena itu tidak heran jika banyak tokoh pergerakan nasional Indonesia dan tokoh-tokoh kemerdekaan yang mengambil manfaat dari ide-ide keagamaan GAI, seperti misalnya  Haji Agoes Salim, HOS Tjokroaminoto, dan Ruslan Abdul Ghani. Bahkan Bung Karno, proklamator dan presiden pertama Republik Indonesia, secara terbuka menyatakan besarnya manfaat buku-buku yang diterbitkan oleh GAI. Oleh karena itu jika sampai saat ini masih ada orang, atau kelompok orang, yang tidak memahami ide-ide keagamaan GAI, hampir pasti karena kemiskinan literatur atau kesalahpahaman belaka. Continue reading “GAI dan Tantangannya” »

Sekolah Titiek Puspa

KEGIATAN Ahmadiyah Lahore yang menonjol hanyalah di Yogya dan Purwokerto. Sebab di sini ada kompleks sekolah-sekolah PIRI (Perguruan Islam Republik Indonesia).

PIRI yang berbentuk yayasan itu didirikan 1 September 1947. Dimulai dengan SMP yang mendompleng di gedung SMP Negeri I Terban Taman, Yogya. Usaha ini terus membengkak. Kini Yayasan PIRI Yogya memiliki 14 sekolah: 1 Taman Kanak-kanak, 2 SD, 4 SMP, 2 SMA, 2 STM, 1 SPG, 1 SKKA dan 1 SMEA. Dan di Purwokerto SMP dan STM PIRI.

Sekarang ini PIRI Yogya memiliki 5.304 murid, dengan guru 315 orang dan 86 orang karyawan. Lulusan PIRI tersebar di seluruh pelosok — termasuk Titiek Puspa, lulusan SGTK sekitar 1953. Mutunya pun tidak kalah dengan yang negeri, seperti dituturkan S. Ali Yasir, guru dan Sekretaris GAI Cabang Yogya.

Hidup PIRI bergantung pada uang sekolah dan donasi. “Motto pendiri: ‘kumpulan ini harus dihidupkan, jangan untuk hidup’, tetap kita pegang teguh,” kata Ny. Haji Djojosoegito, istri Almarhum R. Ng. H. Minhadjurrahman Djojosoegito pendiri GAI (dan penerjemah tafsir De Heilige Quraan karangan Maulana Muhammad Ali ke dalam bahasa Jawa) serta ibunda Prof. dr. H. Ahmad Muhammad, ketua PB GAI yang sekarang. “Bagi kita, yang diterima itu adalah uang Tuhan, untuk kepentingan sekolah dan agama Tuhan. Jadi kita tidak menggunakannya semau kita,” kata ibu 74 itu, Ketua Yayasan PIRI.

Kesulitan fasilitas yang merupakan persoalan umum bagi dunia pendidikan kita, terutama swasta, sudah tentu juga pernah menimpa PIRI. Kesulitan pergedungan dirasakan di tahun-tahun pertama dan kedua. Dompleng di sekolah-sekolah negeri. Baru setelah itu yayasan bisa menyewa tanah seluas kurang lebih 1,5 hektar di Baciro, Yogya. “Dengan kemurahan Tuhan, ndilalah ada seorang pemborong yang simpatisan pada kita. Dia yang membangun dengan uangnya sendiri,” ujar ibu dari 19 anak itu.

Ini terjadi tahun 1953 dan sekarang PIRI memiliki 3 kampus. Selain di Jalan Kemuning, juga di Jalan MT. Haryono dan Kemetiran Lor, Yogya. Jago-jago Kita. Didirikannya sekolah PIRI adalah untuk menunjang langkah dan tugas GAI menyiarkan Islam dan mempertahankan agama. Di balik itu, “niat dalam hati kita supaya murid-murid PIRI jadi jago-jago kita (Ahmadiyah — red.). Tapi kami tidak memaksa. Cuma, yang bisa saya anjurkan kepada anak didik PIRI, jadilah jago-jago Islam yang baik. Mau ikut Ahmadiyah, NU, Muhammadiyah, terserah,” tandas Ny. Djojosoegito. Sebab “Ahmadiyah, NU, Muhammadiyah dan lainnya cuma organisasi. Yang harus diperjuangkan ‘kan Islam.”

Memang di PIRI ini setiap minggunya ada 6 jam pelajaran agama. Walaupun demikian “jarang yang masuk Ahmadiyah. Tapi yang jelas mereka simpatisan,” sebut Ali Yasir.

Setidak-tidaknya, kesalah-pahaman terhadap Ahmadiyah berkurang.[]

http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/1980/01/12/AG/mbm.19800112.AG53217.id.html

Moehammad Bachroen

“Orang yang berusaha sekeras-kerasnya untuk bertemu dengan Allah, jiwanya berangsur-angsur menjadi peka, sehingga apabila mendengar nama Allah disebut, hatinya merasa “mak greg”, seperti pesawat radio, jika sudah pas dengan gelombang yang diinginkan ….”
(Moehammad Bachroen, Juni 1978)

Moehammad Bachroen. Lahir di Purwokerto, 12 Februari 1911. Wafat pada hari Ahad tanggal 6 Mei 1979.

Selama hampir sebelas tahun, Bachroen muda menghabiskan waktu belianya di Pondok Pesantren Jamsaren, Solo, dan menamatkan sekolah di Madrasah Mamba’ul ’Ulum. Selepas mondok, beliau kembali ke kampung halamannya, Purwokerto, dan mengabdikan diri sebagai ustadz di sana. Dari sinilah beliau mulai berkenalan dengan GAI, melalui keikutsertaannya dan mendampingi pengajian-pengajian yang diisi oleh Mirza Wali Ahmad Baig. Dari Mirza Wali Ahmad Biag inilah beliau memperdalam Islam serta bahasa Inggris. Pasca tahun 1930, Moehammad Bachroen bersama-sama Moehammad Irshad, mendampingi Mirza Wali Ahmad Baig yang mengisi pengajian rutin setiap hari Sabtu malam Minggu di rumah bapak Warnadi, Sokaraja.

Tahun 1933, Mirza Wali Ahmad Baig pindah ke Jakarta untuk membantu bapak Soedewo mempersiapkan terbitnya Quran Suci bahasa Belanda. Bachroen menggantikan beliau menggembleng kader-kader GAI yang dipusatkan di Masjid As-Salam Pejagalan, Purwokerto. Beliau juga aktif menulis artikel untuk Majalah “Muslim”, majalah berbahasa Jawa yang diterbitkan GAI Cabang Purwokerto. Beliau seringkali menggunakan nama samaran “Siti Radhiyah” dalam berbagai tulisannya.

Sejak usia muda, beliau menjadi pegawai pemerintah di Dinas Kesehatan Karesidenan Banyumas sebagai Manteri Malaria. Pekerjaannya beliau geluti hingga tahun 1942, sampai datangnya tentara Dai Nippon, Jepang. Di masa pendudukan Jepang ini, bersama Moehammad Irshad dan kawan-kawan lainnya, beliau masuk dinas militer tentara Pembela Tanah Air (PETA). Kariernya di dinas militer terus menanjak. Berikut catatan karier beliau di dinas militer:

1943-1945 : diangkat sebagai Gudanco Deidan dengan pangkat Kapten.
1945 -1946 : diangkat sebagai Komandan Resimen 15 dengan pangkat Letnan Kolonel.
1946-1948 : diangkat menjadi Komandan Resimen 16
1948-1949 : diangkat sebagai Komandan STC Banyumas merangkap Komandan WKL.
1950-1951: diangkat sebagai Kepala Staf Territorium IV, pangkatnya naik menjadi Kolonel.
1951-1956 : diangkat sebagai Panglima Territorium V Diponegoro, Semarang.
1957-1958 : diangkat sebagai Direktur Corps Intendan Angkatan Darat (CIAD).
1959: Pensiun dari Dinas Militer dengan pangkat Brigadir Jendral, dengan tugas terakhir sebagai Hakim Perwira pada Pengadilan Tinggi Militer.

Tahun 1960, Moehammad Bachroen menjadi Sekretaris Militer Presiden Republik Indonesia, Ir. Sukarno. Pada waktu itulah beliau menjadi ajudan dan mendampingi Presiden selama menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci Mekah. Pada tahun 1960-1966 beliau masuk dalam keanggotaan Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS).

Tahun 1966, beliau diangkat menjadi Ketua Umum GAI menggantikan bapak R. Ng. H. Minhadjoerahman Djojosoegito (w. 21 Juni 1966). Sejak tahun 1967, setiap bulan beliau rutin memberikan pengajaran agama di lingkungan Yayasan PIRI. Setiap Selasa memberikan pelajaran bahasa Arab, setiap Rabu memberi pelajaran keahmadiyahan, dan Minggu pagi memimpin kajian Tafsir Qur’an.

Pada tanggal 20 Oktober 1977, beliau dianugerahi Bintang Gerilya oleh Pemerintah RI karena jasa-jasanya membela dan memperjuangkan Negara RI. Pemerintah Daerah Purwokerto mengabadikan nama beliau sebagai nama jalan di Kota Purwokerto, yakni “Jalan Brigjend H.M. Bachrun”, yang membentang dari bunderan Berkah sampai Sinar Kasih, Mersi.

Warisan beliau yang cukup fenomenal adalah Qur’an Suci: Terjemah dan Tafsir Bahasa Indonesia, hasil karya terjemah beliau dari The Holy Qur’an karya Maulana Muhammad Ali. Beliau menerjemahkannya hingga hampir sepuluh tahun lamanya, sebagai amanat Muktamar GAI tahun 1958 di Yogyakarta.

Sayang sekali, beliau tak sempat menyaksikan terbitnya Quran Suci yang sangat tinggi nilainya itu. Setelah menderita sakit beberapa minggu sebelumnya, pada hari Ahad tanggal 6 Mei 1979 pukul 18.30 di RSPAD Gatot Soebroto, beliau dipanggil oleh Allah SWT. Beliau wafat dalam usia 68 tahun, dan kemudian dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta.

Buku-buku yang lahir dari tangan beliau antara lain:

  1. Rahasia Hidup (terjemah dari The Gospel of Life karya Khawaja Kamaluddin)
  2. Peradaban Barat yang diletakkan oleh Sarjana Islam (terjemah dari The Arab Heritage of Western Civilization karya Rom Landau)
  3. Safinatu Nuh (terjemah dari Safinatu Nuh karya Hazrat Mizra Ghulam Ahmad)
  4. Barahini Ahmadiyah (terjemah karya Hazrat Mirza Ghulam Ahmad)
  5. Dajjal, Yakjuj wa Makjuj (terjemah dari Dajjal, Gog and Magog karya Maulana Muhammad Ali)
  6. Islamologi (Dinul-Islam) (terjemah dari The Religion of Islam karya Maulana Muhammad Ali)
  7. Quran Suci :Terjemah dan Tafsir Bahasa Indonesia (Terjemah dari The Holy Qur’an: Translation and Commentary karya Maulana Muhammad Ali.
  8. Kitab Hadits Pegangan (terjemah dari A Manual of Hadith karya Maulana Muhammad Ali).[]

Dasawindu GAI

Judul Buku
Dasawindu Gerakan Ahmadiyah Indonesia (1928-2008)

Penulis
Dr. H. Nanang Rahmatullah Ibnu Iskandar Ismullah

Penerbit
Darul Kutubil Islamiyah

Cetakan I, November 2008

 

KEDAULATAN ISAM, atau Kebangkitan Islam dimulai sejak Nabi Muhammad saw di Madinah dan berlangsung hingga selama 300 tahun. Kemudian Islam mengalami masa kemunduran selama 1000 tahun. Dan pada abad ke 20, atau abad ke 14 Hijriah ini, dimulailah awal Kebangkitan Islam kembali. Demikianlah bahwa setelah Islam mengalami kegelapan selama satu hari dalam perhitungan Allah (QS 32:5 dan QS 22:47), yang dalam perhitungan manusia bahwa 1 hari Allah adalah sama dengan 1000 tahun dalam perhitungan manusia, maka pada abad ke 14, atau awal abad ke 15 Hijriyah sesungguhnya ini adalah saat yang ditunggu-tunggu, yakni awal dimulainya era Kebangkitan Islam kembali, untuk yang kedua kalinya.

Masa jahiliyah akan lenyap, dan kemudian akan datang Kebangkitan Islam yang didambakan oleh hampir setiap manusia pencinta damai di dunia ini. Merebaknya perdamaian akan segera dinikmati oleh segenap umat manusia. Semua muslimin yang benar-benar memahami Islam, pasti akan berjuang dengan sungguh-sungguh, dengan penuh rasa cinta dan kasih sayang dan dengan segala daya upaya, waktu dan tenaga, untuk menegakkan perdamaian di bumi ini hanya karena cintanya kepada Allah SWT semata-mata.

Gerakan Ahmadiyah Indonesia adalah sebuah Gerakan Syiar Islam yang berjuang membela dan menyiarkan Islam melalui jalan damai, tanpa kekerasan. Pemahaman Islam yang dikenalkan oleh Gerakan Ahmadiyah, atau karya-karya tulis yang dihasilkan, pada umumnya berisi hal-hal yang bersifat membela Islam, atau mempertahankan Islam dari serangan-serangan yang telah dijalankan oleh mereka yang belum memahami Islam, atau yang secara nyata memusuhi atau bahkan berbuat jahat kepada Islam.

Syiar yang dilaksanakan adalah dengan memberikan pengertian-pengertian Islam yang sesuai dengan zaman akhir, dikemas dalam kesatuan pemahaman untuk tercapainya kebangkitan Islam kembali.

Buku ini adalah sekelumit kesaksian sejarah sepuluh windu misi syiar Islam yang telah dilaksanaan oleh Gerakan Ahmadiyah Indonesia, yang tetu saja tidak terlepas dari pengaruh dan peristiwa-peristiwa sejarah yang terjadi di Negara Kesatuan Republik Indonesia.[]

Baca Buku Selengkapnya di sini : DASAWINDU GAI


Menakar Masa Depan GAI

Segmen masyarakat tertentu boleh jadi tidak merasa berkepentingan terhadap klaim-klaim (dakwah) Hazrat Mirza Ghulam Ahmad. Yang lebih mereka perlukan adalah ajaran agama yang “fungsional”, yang mencerahkan, yang mensejahterakan, yang menolongnya ketika menghadapi kesulitan, dan lain sebagainya. Pendek kata, ajaran agama yang bisa meringankan beban, dan bukan sebaliknya, ajaran agama yang membebani, yang terpaksa harus mati-matian mencari-cari dalil pembenaran atas ajaran-ajaran itu.

Oleh: Mulyono | Sekretaris PB GAI

Ketika Bapak Minhadjurrahman Djojosugito bertanya kepada Mirza Wali Ahmad Baig soal apakah muballigh dari Lahore itu bermaksud mendirikan cabang Ahmadiyah Lahore di Indonesia, konon dijawab dengan kata “Tidak”. Boleh jadi oleh sebab itulah maka organisasi yang beliau dirikan (bersama kawan-kawan senasib), meskipun menggunakan nama “Ahmadiyah” dan masih ditambah keterangan “centrum Lahore” di antara dua tanda kurung, tidak memiliki hubungan struktural dengan Ahmadiyya Anjuman Ishaati Islam di Lahore (Pakistan).

GAI, dalam gambaran Djojosugito, adalah pohon mangga yang, meskipun biji (pelok)-nya diambil dari Lahore, tapi biji itu ditanam di bumi Indonesia, disiram dengan air Indonesia, dan dipupuk dengan pupuk Indonesia pula. Oleh karena itu meskipun pelok itu diambil dari pohon Ahmadiyah di Lahore, tetapi karena ditanam di lingkungan alam Indonesia, dan meskipun juga sama-sama disebut mangga (Ahmadiyah), tetapi tidak mustahil berbeda cita-rasanya. Perbedaan seperti ini sah-sah saja, karena bumi Indonesia tentu hanya mau menumbuhkan, lalu mengembangkan, dan akhirnya membuahkan biji-bijian yang mampu menyesuaikan diri dengan, atau tunduk kepada kondisi dan situasi alam Indonesia.

Sayangnya tidak ada penjelasan lebih jauh dari gambaran itu, sehingga kita bebas menduga-duga. Boleh jadi, yang beliau maksud dengan pelok itu adalah inti ajaran Ahmadiyah Lahore. Kalau dugaan ini benar, maka inti ajaran Ahmadiyah Lahore, sejauh pemahaman penulis, dapat dirumuskan dengan kalimat singkat, “Membela dan Menyiarkan Islam Dengan Keindahan”.

Continue reading “Menakar Masa Depan GAI” »