facebooklikebutton.co

Sophia Latjuba Kenang Kehebatan Kakeknya di Ahmadiyah & Masyumi

Metrotvnews.com, Jakarta: Melalui akun Instagram-nya, aktris Sophia Latjuba kembali mengenang sosok sang kakek, Mahmud Lamako Latjuba, yang merupakan seorang tokoh bangsa.

Diceritakan Sophia, Mahmud Lamako Latjuba yang lahir di Una-una, Sulawesi Tengah, pada 2 Mei 1909 merupakan pendiri De Ahmadiyya Beweging pada 28 Desember 1928. Pada 1930, gerakan tersebut resmi bernama Ahmadiyah Indonesia Centrum Lahore.

Sophia pun kembali menceritakan bagaimana awal mula perjalanan sang kakek dalam menuntut ilmu.

“Mengenang kakek. Lahir pada tanggal 2 Mei 1909 di Una-una, Sulawesi Tengah. Beliau adalah anak keturunan Arab yang sudah sejak lama bermukim di Nusantara. Sejak muda, Latjuba meninggalkan kampung halamannya untuk menuntut ilmu di Yogyakarta. Mula pertama datang ke Yogyakarta, beliau tinggal di di rumah H.O.S. Tjokroaminoto,” tulis Sophia, beberapa waktu lalu.

Bersama dengan Mohammad Roem, Soekarno, Syarifudin Prawiranegara, Kasman Singodimedjo, Latjuba banyak menimba ilmu organisasi di rumah H.O.S. Tjokroaminoto.

Pada tahun 1932, Latjuba melanjutkan studi di Jurusan Sosial Politik Universitas Lahore, India. Tahun 1937, Latjuba pun kembali ke Yogyakarta dan tinggal di rumah H. Zarkasyi, salah satu tokoh Persyarikatan Muhammadiyah kala itu.

Sophia pun turut menceritakan bagaimana sang kakek akhirnya bertemu dengan wanita pujaannya, Siti Fatihah, dan dikaruniai lima orang anak.

Selain di Ahmadiyah, Latjuba juga aktif dalam kegiatan politik dengan mendirikan Partai Masyumi. Dia sempat bergabung di Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (BP KNIP) pada 3 Maret 1947.

Setelah itu, Latjuba mengenyam jabatan sebagai anggota DPR RI melalui Partai Masyumi. Dia salah satu tokoh yang memperjuangkan asas ius soli dan stelsel pasif bagi kewarganegaraan RI di tahun 1951. Perjuangannya didukung oleh banyak golongan, termasuk keturunan Arab.

Menjabat Duta Besar RI juga pernah dilakoni Latjuba. Pertama kali menjadi Dubes untuk Pakistan, Mesir dan Iran tahun 1952 yang ditandatangani oleh Presiden Soekarno dan Menteri Luar Negeri Ahmad Soebardjo.

Di akhir hidupnya, Latjuba menawarkan diri membantu Ketua Umum Gerakan Ahmadiyah Indonesia (GAI) H. M. Bachroen untuk menerjemahkan The Holy Qur’an karya Maulana Muhammad Ali, dari surat-surat juz amma.

“Namun sayang sekali, beliau tidak dapat melanjutkan pekerjaan itu, karena pada tahun 1975 beliau dipanggil oleh Allah Ta’ala. Mahmud Lamako Latjuba wafat pada tanggal 7 Desember 1975 di Jakarta dalam usia 66 tahun. Sumbangsih beliau bagi GAI dan bangsa Indonesia pada umumnya semoga selalu dikenang dan diteladani oleh kita semua,” papar Sophia mengakhiri tulisannya. (ELG)

Komentar

komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*