facebooklikebutton.co
ARTIKEL

Sikap Menghadapi Wabah

Maa ashaba min mushiibatin illaa bi idznillaah, waman yu’min billaahi yahdi qalbahu, wallaahu bi kulli syai in ‘aliim..

“Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS at-Taghaabun (64) : 11)

Ashaaba dari kata shaaba artinya mengalirkan, mengenai sasaran, menimpa. Mushiibat(un) artinya yang menimpa, musibah, bencana.

Ayat di atas dan QS 57:11 menegaskan bahwa semua yang menimpa makhluk-Nya, baik berupa kesenangan-kesedihan maupun suka-dukanya, tidak bisa lepas dari ketentuan dan izin-Nya. Bila seseorang atau sekelompok orang atau bangsa tertimpa musibah, misalnya suatu wabah, maka harus diyakini itu semua atas kehendah Allah swt dan harus disikapi dengan kesabaran.

Rasulullah saw. bersabda: “Seluruh urusan orang beriman itu begitu menakjubkan, karena pasti berujung pada kebaikan. Dan hal itu hanya terjadi pada diri orang beriman. Jika mengalami hal yang menyenangkan, dia bersyukur dan itu merupakan kebaikan. Dan jika mengalami hal yang menyedihkan, dia bersabar dan hal itupun merupakan kebaikan” (HR Muslim).

Tafsir Jalalain menyebutkan maksud “yahdi qalbahu atau memberi petunjuk kepada hatinya” adalah dengan memberikannya kesabaran dalam menghadapi musibah.

Asy-Syaikh Prof. Dr. Abdul Rozzaq al-Badr, Ulama Kota Madinah, memberikan 6 Nasehat dalam menghadapi wabah sbb.

  1. Memohon perlindungan kepada Allah SWT, bertawakkal kepada-Nya dan meyakini bahwa segala sesuatu adalah taqdirNya (QS 64:11, 33:17)
  2. Menjaga (agama) Allah SWT dengan cara taat kepada-Nya yaitu menjalankan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya (hadis)
  3. Mengambil sebab-sebab (pencegahan sebelum sakit) dan berobat (ketika sakit) dengan tetap tawakkal dan sesuai dengan syari’at Islam. Untuk pencegahan dianjurkan makan 7 butir kurma dan berdo’a di waktu pagi-petang
  4. Mewaspadai berita-berita palsu (hoax)
  5. Menghadapinya dengan kesabaran dan mengharap pahala dari Allah SWT
  6. Mengkhawatirkan musibah terbesar di dunia dan akhirat yaitu musibah yang menimpa agama (kerusakan akidah, ibadah dan akhlak)

Pada zaman Rasulullah saw. pernah terjadi wabah penyakit kusta yang menular dan mematikan sebelum diketahui obatnya. Beliau memerintahkan tidak dekat-dekat atau melihat orang yang mengalami lepra dengan sabdanya: “Jangan kamu terus menerus melihat orang yang menghidap penyakit kusta.” (HR al-Bukhari).

Bakteri penyebab kusta mudah menular antar manusia, sehingga Beliau meminta ummatnya jangan berada dekat wilayah yang terkena wabah dengan sabdanya: “Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu (HR al-Bukhari)”.

Hadis ini mirip metode karantina yang kini dilakukan untuk mencegah penyebaran wabah penyakit. Selain kusta, Rasulullah saw juga pernah menghadapi wabah di masa hijrah ke Madinah yang saat itu situasi kotanya sangat buruk dengan air yang keruh dan banyak penyakit. Beliau menghimbau ummatnya agar bersabar sambil berharap pertolongan dari Allah SWT dan sebagaimana diceritakan oleh Aisyah r.a. bahwa mereka yang bersabar dijanjikan syahid. Beliau bersabda : “Kematian karena wabah adalah surga bagi tiap muslim (yang meninggal karenanya)” (HR al-Bukhari).

Pada masa khalifah Umar bin Khaththab r.a. juga pernah terjadi wabah. Saat itu Umar sedang dalam perjalanan menuju ke Syam dan ada berita di sana terjadi wabah. Umar memutuskan tidak melanjutkan perjalanan dan kembali ke Madinah setelah mendengarkan usulan Abdurrahman bin Auf dengan mengingatkan adanya hadis di atas.

Keputusan Umat sempat disanggah oleh Abu Ubaidah, pimpinan rombongan, bahwa keputusan Umar itu bertentangan dengan ketentuan (takdir) Allah SWT. Umar menjawab bahwa dia tidak melarikan diri dari ketentuan Allah, tetapi menuju ketentuanNya yang lain. Maksudnya kalau Allah menakdirkan terjadinya wabah di suatu tempat, Allah juga menakdirkan keamanan di tempat lain.

Bila terjadi wabah tidak perlu panik yang berlebihan tetapi hadapi sesuai syari’at yaitu pengobatan preventif (pencegahan) dan kuratif (tindakan), karena setiap penyakit ada obatnya, jika cocok antara penyakit dan obatnya maka akan sembuh dengan izin Allah (likulli daain dawaaun faidzaa ushiiba dawaauddaai bara-a bi idznillaahi.” (HR Muslim).

 

Oleh: Drs. H. Asrori, M.A. | Anggota Tabligh & Tarbiyah PB GAI

Comment here