facebooklikebutton.co

Sekolah Pengelolaan Keragaman

Citra Yogyakarta sebagai “city of tolerance” di Indonesia belakangan diuji oleh sejumlah aksi kekerasan dan intoleransi. Dalam beberapa insiden, gejala menguatnya intoleransi di Yogyakarta  bahkan sudah menyasar dua fondasi keragaman di Yogyakarta, yakni akulturalasi budaya lokal dengan nilai keagamaan dan kebebasan akademik.

Yang pertama nampak misalnya dari aksi vandalisme terhadap pemakaman kesultanan Mataram di Imogiri.  Kejadian ini cukup mengejutkan karena menyasar salah satu elemen penting dari kultur Yogyakarta dan terjadi tanpa penindakan yang tegas terhadap para pelaku. Yang kedua terwujud dalam aksi intimidasi dan kekerasan terhadap dis-kusi ilmiah di Universtas Gadjah Mada (UGM) dan Lembaga Kajian Islam dan Masyarakat (LKiS) yang tidak bisa dihentikan oleh aparat yang berwenang. Tidak ada koreksi terhadap kejadian ini dalam bentuk penindakan terhadap pelaku kekerasan.

Untuk merespon perkembangan situasi tersebut, sejumlah akitivis sosial dan lintas-iman di Yogyakarta menggelar sejumlah pertemuan dan diskusi publik. Salah satu hasil pertemuan tersebut melahirkan setidaknya tiga rekomendasi, sebagai agenda kerja ber-sama jejaring antar iman, yakni:

  • pentingnya pemahaman yang mendalam terhadap fondasi multikulturalisme di Yogyakarta,
  • pemetaan terhadap situasi ancaman yang muncul, dan
  • pembentukan simpul yang bisa memperkuat koordinasi dan strategi respon untuk mempertahakan multikulturalisme di Yogyakarta.

Sebagai tindak lanjut rekomendasi itu, Program Studi Agama dan Lintas Budaya atau Center for Religious and Cross-Cultural Studies (CRCS) UGM, didukung oleh American Friends Service Committee (AFSC), dan bekerja sama dengan Lembaga Kajian Islam dan Sosial (LKiS), Jaringan Gusdurian Yogyakarta dan Aliansi Nasional Bhineka Tunggal Ika (ANBTI), menyelenggarakan sebuah program bertajuk Sekolah Pengelolaan Keragaman (SPK). Program ini dirancang tidak hanya sebagai upaya untuk memperkuat kapasitas para aktivis dan praktisi, tetapi juga menjadi ruang untuk melakukan refleksi dan koordinasi untuk mempertahankan citra Yogyakarta sebagai city of tolerance atau barometer multikulturalisme di Indonesia.

Gerakan Ahmadiyah Indonesia (GAI), mendapat kesempatan untuk ikut aktif terlibat dalam agenda kerja jejaring lintas iman tersebut. Dalam kesempatan itu, GAI cabang Yogyakarta mengutus Saudara Basyarat Asgor Ali dalam kapasitasnya sebagai anggota Angkatan Muda Ahmadiyah Indonesia (AMAI), untuk terlibat aktif sebagai peserta Kegiatan.

Sekolah Pengelolaan Keragaman

Program SPK dilaksanakan selama tiga hari tiga malam, sejak tanggal 24 hingga 27 April 2014 di Hotel Mawar Asri, Kaliurang. Kegiatan ini diikuti oleh sekitar 30 peserta yang berasal dari kalangan aktivis dan praktisi yang terkait dengan isu pengelolaan keragaman di Yogyakarta.

Secara garis besar, kegiatan SPK selama tiga hari itu membahas tiga agenda, yakni pemetaan basis keragaman di Yogyakarta beserta tantangan yang dihadapi, dan di hari terakhir membahas rumusan agenda dan pembagian peran setiap komunitas jejaring untuk mempertahankan dan memperkuat kehidupan multikultural di Yogyakarta.

Di hari terakhir, para peserta berkesempatan untuk berdialog face to face dengan Kanjeng Ratu Hemas. Permaisuri Sultan Hamengku Buwono X yang terpilih kembali menjadi anggota DPD RI itu, datang ke lokasi kegiatan sebagai wujud dukungannya bagi upaya aktivis jejaring lintas iman untuk menciptakan Yogyakarta sebagai rumah bersama bagi semua komunitas dan golongan.

Dalam kesempatan itu, beliau menyampaikan keprihatinannya atas kondisi intoleransi yang belakangan semakin menguat di Yogyakarta. Beliau juga menyampaikan kekecewaannya terhadap aparat penegak hukum yang terkesan melakukan pembiaran atas berbagai kasus intoleransi yang terjadi. Beliau juga menyampaikan permohonan maaf dan rasa empati secara khusus kepada berbagai pihak yang pernah mendapatkan kasus intoleransi, termasuk kepada GAI yang pernah mendapat kasus intoleransi pada awal tahun 2012 yang silam.[bas]

Komentar

komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*