facebooklikebutton.co
Kolom

Prestasi Gemilang: Kembali Ke Fitrah

baby child father fingers

Umat Islam mempunyai semboyan “Kembali kepada Fitrah”.

Disambut baik oleh Al-Qur’an “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama, yang FITRAH ciptaan Allah, sebagaimana Ia telah menciptakan manusia. Tak ada perubahan dalam ciptaan Allah. Itulah agama yang benar. Tetapi BANYAK MANUSIA YANG TIDAK TAHU” (QS 30:30).

“Banyak manusia yang tidak tahu”, tetapi Nabi Besar SAW memberi petunjuk “Anak dilahirkan fitrah”. Maka orang tua dapat melihat kepada anak kecil fitrah itu seperti apa.

Anak kecil “pasrah mbabarpisani” kepada orang tua, maka manusia ASLAMA serah diri total kepada Tuhan. Anak kecil teramat polos dalam hati, pikir dan ucapnya, maka manusia ISTIGHFAR supaya benar-benar menjadi suci bersih lahir batin, dan selalu terjaga kesuciannya.

Anak kecil percaya yang membuta kepada orang tua, maka manusia IMAN kepada Tuhan. Anak kecil menempel bahagia kepada  orang tua, khususnya sang ibu. Maka manusia “menempel” kepada Tuhan, itulah TAQWA, suatu keadaan manusia “manunggal dengan Tuhan”.

Maka manusia yang terjaga fitrahnya berada dalam  ASLAMA, ISTIGHFAR, IMAN dan  TAQWA.

Untuk mencapai keempat unsur fitrah itu, bagian manusia ialah Aslama dan Istighfar, sedang Tuhanlah yang mula-mula menurunkan Iman kepadanya, dan barulah kemudian Taqwa.

Ibarat gedung, aslama dan istighfar ialah pondasinya, iman dan taqwa bangunannya. Jika pondasi lemah, hanyalah dapat dibangun rumah yang amat sederhana. Jika pondasi amat kuat, dapat dibangun gedung bertingkat.

Demikian juga jika aslama dan istighfar sudah kokoh menjiwa mendarah daging, insya Allah Tuhan membangun Iman dan taqwa manusia yang menjulang ke langit, yaitu manusia diterima oleh Tuhan sebagai WALIYULLAH.

“Maka para WALIYULLAH tak bakal takut dan susah, Yaitu mereka yang IMAN dan TAQWA. Bagi mereka BUSYRO atau kabar-kabar baik di dunia dan di Akhirat. Tak ada perubahan dalam sabda (janji) Allah. Itulah PRESTASI YANG GEMILANG” (QS 10:62-64).

Iman dan taqwa yang dimaksud ialah iman dan taqwa di KALBU, bukan iman dan taqwa yang formal ucapan.

Tanda sudah beriman ialah jika salat khusyuk. “Sungguh aflaha (sukses lahir batin di dunia dan di akhirat) mereka yang beriman, yang khusyuk dalam salatnya” (QS 23:1,2).

Adapun tanda sudah bertaqwa ialah “busyro” atau kabar-kabar baik dari Tuhan (QS 10:64).

Iman dan Taqwa diberikan oleh Tuhan di KALBU manusia. “Inilah mereka yang Tuhan telah goreskan iman di KALBU mereka” (QS 58:22).

Demikian juga Nabi Besar SAW menuding tempat taqwa di kalbu (HR At-Tarmudzi dan Kanzul Umal I/747). Itulah sebabnya kalbu manusia haruslah sudah benar-benar suci bersih oleh Aslama dan Istighfar.

Teramat jelas pula jika manusia  salatnya belum khusyuk dan belum pernah mendapat sabda Tuhan, ia belum saja beriman dan belum bertaqwa di kalbu, yaitu Aslama dan Istighfarnya belum berhasil dalam menyuci bersihkan kalbu.

Kiranya banyak manusia tidak sadar betapa VITAL DAN URGENNYA Aslama dan Istighfar sebagai unsur-unsur Fitrah,  maka benarlah Tuhan “Banyak manusia yang tidak tahu”.

Jika sudah beriman insya Allah manusia bakal dituntun oleh Tuhan kepada Taqwa dengan sabda-sabda melalui NAFS atau JIWA manusia.

“Demi NAFS dan kesempurnaannya. Maka Tuhan memberi ilham kepadanya tentang jalan sesat dan jalan taqwa. Sungguh aflaha orang yang menumbuhkannya. Dan sungguh gagal orang yang menguburnya” (QS 91:7:10).

Teramat jelas bahwa manusia haruslah sudi kepada jiwanya. Bukankah ada hadis Nabi SAW “Man ‘arofa nafsahu, faqod ‘arofa Robbah” (Barangsiapa mengenal nafsnya, pasti ia mengenal Tuhan).

Manusia teramat mengenal jasmaninya dalam berpikir, melihat, berbicara, berbuat apapun. Maka seperti itulah manusia diharapkan untuk mengenal diri nafsnya dalam  apapun yang manusia perbuat DALANG-nya ialah Tuhan melalui Nafs.

Maka “Wahai manusia, carilah Tuhanmu dengan sekuat tenaga sampai kamu menjumpai-Nya” (QS 84:6), insya Allah Tuhan berkenan manusia melaksanakanya dengan “Carilah nafs anda dengan sekuat tenaga sampai anda menyadarinya sebagaimana anda sadar akan jasmani anda”. (Mardiyono)

Comment here