facebooklikebutton.co
ARTIKEL

Pemimpin yang Dinantikan

“Dan orang-orang yang berkata: Tuhan kami, berilah kepada kami istri-istri kami dan anak cucu kami yang menyejukkan pandangan mata, dan jadikanlah kami menjadi pemimpin bagi orang-orang yang taqwa.” (QS 25:74)

 

Pemimpin (leader) dalam bahasa Islam adalah “Imam”. Dia bukan hanya manajer yang hanya bisa memerintah orang lain saja, tetapi dia adalah manusia yang dapat menjadi panutan, tauladan dan bimbingan serta arah tujuan hidup yang sempurna.

Dunia dewasa ini sangat banyak manajer (kepala), tetapi sangat sedikit leader (pemimpin). Apa akibatnya? Mereka selalu ingin dihidupi, tak dapat menghidupi orang lain. Mereka ingin dicukupi, tetapi selalu membawa kesengsaraan dan penderitaan pihak lain. Pola hidupnya selalu kemewahan dunia, kekuasaan untuk menunjang pemuasan hawa nafsunya semata.

Pemaksaan kehendak menjadi sepak terjang dalam hidupnya sehari-hari, apalagi kalau sedang berkuasa. Metode dan sistemnya adalah “tujuan menghalalkan cara”, sebagaimana ajaran Maxiavelli (het doel helige de medellen). Akibatnya kerusakan terjadi di mana saja, di bidang apa saja.

Kerusakan itu mesti dimulai dari para pembesar. Mereka durhaka dan menipu rakyatnya. Melupakan kehidupan rohani, menggunakan agama sebagai permainan, bahkan sebagai alat penipuan, penindasan dan sebagai dalil penguat kedzaliman.

Allah telah memberi peringatan dalam Al-Quran sebagai berikut:

“Dan demikian Kami jadikan di dalam tiap-tiap negara beberapa pembesar mereka durhaka, untuk menipu daya dalam negara itu. Tetapi mereka tidak menipu kecuali menipu diri mereka sendiri, namun mereka tidak sadar.” (QS 6:1223)

“Orang-orang yang menjadikan agama mereka untuk senda gurau dan permainan semata, mereka telah ditipu oleh kehidupan duniawi. Maka pada hari ini Kami melupakan mereka, sebagaimana mereka melupakan pertemuan hari ini, sebab mereka mendustakan ayat-ayat Kami.” (QS 7:51)

“Dan apabila Kami kehendaki menghancurkan sesuatu negara, maka kami tentukan orang-orang yang kaya, yang hidupnya suka ria melebihi batas. Maka wajib bagi mereka keputusan (adzab) , lalu kami hancur-leburkan.” (QS 17:16)

Dari tiga ayat tersebut di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa kerusakan, kehancuran suatu negara telah menjadi suatu keharusan, apabila unsur-unsur tersebut telah terpenuhi, yaitu:

  1. Para pembesar negara menjadi durhaka dan menipu rakyatnya
  2. Memakai agama sebagai permainan dan terbelenggu dengan kemewahan dunia
  3. Orang-orang kaya hidup bersuka ria melebihi batas

Apabila keadaan seperti di atas telah mendunia, maka nafsu manusia telah tak terkendalikan. Akibatnya perang dunia tidak dapat dihindarkan, permukaan bumi diratakan.

Di mana kita telah mengetahui dengan jelas bahwa kebobrokan dunia di daratan dan lautan di kalangan umat la diniyah maupun diniyah adalah akibat perbuatan tangan manusia.

Allah telah memberi petunjuk yang jelas sebagai berikut:

“Telah terbukti nyata kebobrokan di bumi (daratan) dan lautan, akibat perbuatan tangan manusia. Dia membuat mereka merasakan sebagian akibat apa yang mereka kerjakan, agar mereka mau kembali.” (QS 30:41)

Secara lughawi (lahiriah), daratan dan lautan tidak ada yang rusak dan dirusak, bahkan dibangun dengan teknologi canggih (efferit). Semua perbaikan pembangunan untuk memenuhi hawa nafsu manusia. Bila tak memuaskan nafsunya, maka akan dihancurkan sendiri.

Secara majazi, istilah barri adalah menunjukkan daratan yang artinya umat tanpa agama (la diniyah). Mereka rusak karena memang tak memiliki pedoman wahyu Tuhan. Adapun tentang istilah bahri, yang artinya lautan (air), itu adalah umat beragama (diniyah) yang mengenal wahyu Allah.  Mereka ini juga rusak, karena mengubah wahyu Allah menurut kehendaknya sendiri. Kadang-kadang hanya untuk membenarkan perbuatannya, tidak berbuat menurut kebenaran wahyu Ilahi.

Kalau di kedua belah pihak tersebut telah sama-sama mengalami kerusakan, maka dunia ini sangat menantikan pimpinan (leader) atau Imam Zaman. Imam Zaman inilah yang mengetahui garis-garis besar program zamannya. Dia itu adalah manusia pilihan Allah SWT, manusia yang terbebas dari noda-noda kehidupan dunia, yang berhak menjadi Imamnya orang muttaqin, karena dia sendiri orang yang taqwa.

Adapun tanda dan sifat hidupnya dapat dilihat dari hal-hal sebagai berikut:

  1. Kemukhlisan: bersih agamanya dan lurus pengabdiannya (QS 98:5). Kemukhlisan (kemurnian) di sini meliputi aspek-aspek yang fundamental, yaitu:
  2. Murni dalam akidah/tauhid (khaliishan fil ‘aqiidah)
  3. Murni dalam syariat/ibadah (khaliishan fisy-syari’ah)
  4. Murni dalam jalan yang ditempuh (khaliisan fith-thariiqah)
  5. Murni dalam perbuatan/amaliah (khaliisan fil ‘amaliyah)
  6. Murni dalam pekerjaan (khaliisan fil-‘amaaliyah)
  7. Murni dalam akhlaq/budi pekerti (khaliisan fil-khulqiyya)
  8. Murni dalam tabiat/tradisi (khaliisan fisy-syaakilatih)
  9. Murni dalam pelaksanaan hukum (khaliisan fil hukmiyyati)
  10. Keteladanan (QS 33:21). Seorang pemimpin adalah seorang contoh hidup yang mulia bagi umatnya, secara riil dapat dilihat dan diikuti jejak langkahnya, baik pikiran, perkataan maupun perbuatannya.
  11. Kebenaran (QS 3:60). Seorang pemimpin tidak ragu-ragu dalam kebenaran yang dibawanya. Karena kebenaran hakiki adalah dari Tuhannya. Kebenaran pasti menang. Bila benar telah datang, yang batil pasti lenyap. Apabila batil (kepalsuan) masih merajalela, maka pertanda bahwa kebenaran belum terwujud/datang. Allah SWT dalam al-Quran menyatakan, “Dan katakanlah: Telah datang kebenaran lenyaplah kepalsuan. Sungguh kepalsuan pasti lenyap.” (QS 17:81)
  12. Keadilan dan kejujuran (QS 16:90). Seorang pemimpin harus adil dan jujur (ihsan). Sifat adil dan jujur tidak dapat dipisahkan, bagaikan dua belah sisi dalam sau lembar mata uang. Adil dan jujur tidak memandang kedekatan golongan atau kerabat, tetapi melihat obyek permasalahan. Seorang pencuri dari anak sendiri, sama nilainya dengan pencuri dari bangsa lain. Hal ini ditegaskan oleh Rasulullah Muhammad saw., “Bila Fatimah (putri Rasul) mencuri, akan kupotong tangannya.

Allah memberi peringatan dalam al-Quran, “Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang menegakkan keadilan, menjadi saksi karena Allah, sekalipun terhadap dirimu sendiri, atau terhadap kedua orangtuamu atau kerabatmu. Bila dia kaya atau miskin, maka Allah lebih berhak atas mereka berdua. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, agar kamu tak menyimpang. Dan jika kamu memutar balik atau berpaling (dari kebenaran), maka sesungguhnya Allah Maha Waspada terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS 4:135)

  1. Kemanfaatan (QS 21:107). Seorang pemimpin hidupnya harus selalu bermanfaat bagi umat manusia, bahkan untuk alam semesta. Sebaik-baik manusia adalah dinilai dari seberapa kemanfaatannya bagi manusia (khairun-naas ‘anfauhum lin-naas).

Al-Quran memberi gambaran tentang kebenaran dan kepalsuan bagaikan air dan buih. Air bermanfaat, buih akan lenyap karena tak ada manfaatnya. Dalam surat Ar-Ra’du ayat 17, ditegaskan, “Maka adapun buih akan lenyap dengan sia-sia. Adapun apa yang berguna bagi manusia, akan berdiri teguh di muka bumi. Demikian Allah membuat perumpamaan.” (QS 13:17).

Mereka yang mengaku sebagai pemimpin, kalau ternyata tidak membawa manfaat bagi masyarakat, pasti akan lenyap. Karena tidak memiliki akan yang kokoh, maka robohlah dengan sendirinya, dan akan berfungsi sebagai kayu bakar saja.

  1. Kebijaksanaan (QS 16:125). Pemimpin yang bijaksana sajalah yang dapat membawa masyarakat ke jalan kebenaran. Walaupun seorang pemimpin memiliki otoritas (kewenangan), namun dalam menjalankan kepemimpinannya harus bijak, dengan nasehat yang baik untuk menumbuhkan nalar pemikiran yang sehat, konstruktif, produktif dan aktif. Penolakan gagasan, ide atau rencana yang kurang baik atau mungkin salah, harus dilakukan dengan cara yang lebih baik (bil hikmah). Dengan demikian tidak membuat manusia lain kecewa dan mendendam. Pemimpin yang banyak membuat tekanan, tidak tahan lama, karena tidak dicintai rakyat.
  2. Keamanahan (QS 23:8). Seorang pemimpin adalah pemegang amanah (kepercayaan), bukan pemilik warisan nenek moyang. Pada waktu menerima amanah (tugas) pasti mengucapkan sumpah dan janji. Sumpah ditunjukkan kepada Allah, sedang janji kepada manusia. Ingkar janji berarti melanggar sumpahnya. Ini berarti manusia telah berbuat kejam terhadap dirinya, mengkhianati hati dan jiwanya sendiri. Terjadilah kekacauan dalam batinnya, hidupnya tidak akan tenang, gelisah, akhirnya terjadilah stres dalam jiwanya. Banyak pemimpin yang stres, karena melanggar sumpah dan janjinya. Biasanya ia selalu memperkaya diri sendiri, melupakan nasib umatnya, dan pembohong dan penipu.
  3. Kesabaran (QS 103:3). Seorang pemimpin memang harus memberi nasehat kepada umat dan berpesan untuk tetap dalam kebenaran (al-haq). Untuk menganjurkan, mengajak dan menjalankan kebenaran dibutuhkan sifat mulia, yaitu kesabaran. Tanpa kesabaran, kebenaran akan kandas. Emosi, nafsu rendah, tak dapat bersatu dengan kesabaran. Kunci dari Al-Falah (kemenangan) adalah sabar.

Allah memberi garis dalam al-Quran sebagai berikut: “Hai orang yang beriman, bersabarlah dan tingkatkanlah kesabaran, dan kuatkanlah serta berbaktilah kepada Allah, agar supaya kamu mendapat kejayaan.” (QS 3:200).

Untuk pelaksanaan sabar, manusia diperintah agar mencontoh kehidupan para Utusan Allah, para Nabi, Ulul Azmi, dimana para Rasul dalam menegakkan kebenaran penuh bala’, derita dan penganiayaan. Penjelasan Al-Quran sebagai berikut, “Maka bersabarlah seperti sabarnya orang yang teguh hatinya dari para Utusan (Rasul), dan janganlah engkau minta segera turun (adzab) bagi mereka.” (QS 46:35).

Rasulullah Muhammad saw. telah memberi peringatan, tentang siapa saja orang yang mendapat ujian, cobaan (bala) yang paling berat sebagai berikut: “Dari Sa’ad, Nabi Muhammad saw. bersabda: Manusia yang mendapat ujian (cobaan) paling berat adalah para Nabi, kemudian orang-orang yang mengikutinya. Maka yang mengikutinya itu diuji berdasar tingkat agamanya. Apabila dalam agamanya kuat, maka berat juga ujiannya.” (HR Bukhari).

  1. Ketawakalan (QS 65:3). Tawakal artinya bersandar atau bergantung. Seorang pemimpin harus bersandar kepada Allah. Bila bergantung kepada yang lain selain Allah, dia akan kecewa. Siapa pun selain Allah adalah lemah dan menipu. Kekuatan massa, pendukung, fisik dan power politik adalah fatamorgana, bagaikan buih di waktu hujan. Kekuatan hakiki adalah kebenaran. Karena kebenaran itu dari Allah, maka kalau berjalan dalam kebenaran untuk kebenaran, karena kebenaran, maka akan dijamin oleh Allah, dengan dijaga oleh ribuan malaikat Allah.
  2. Ketaatan (QS 33:71). Seorang pemimpin harus mencapai tingkat loyalitas (ketaatan) yang tinggi dan mutlak yaitu kepada Allah dan UtusanNya. Ini berarti hanya patuh kepada hukum, aturan, undang-undang yang dibuat dan disepakati bersama, tanpa memandang untung dan rugi bagi pribadinya. Ketaatan kepada manusia hanya dalam kebaikan, bukan dalam kemaksiatan dan kejahatan. Sesuai dengan petunjuk Nabi Muhammad saw., “Tak ada ketaatan di dalam maksiat kepada Allah. Sesungguhnya ketaatan itu hanya di dalam kebaikan.” (HR Muslim).

 

Setelah kita melihat tanda-tanda kepribadian seorang pemimpin, maka kita perlu melihat program hidup dan kerjanya sehari-hari, yang meliputi hal-hal sebagai berikut:

  1. Meratakan kesejahteraan umat (‘amru bi shadaaqatin, memerintah untuk bersedekah), artinya mengentaskan kemiskinan dan mengangkat penderitaan rakyat.
  2. Meratakan keadilan (kebaikan) dan memberantas kejahatan (amar ma’ruf nahyi munkar)
  3. Meratakan kedamaian umum (aw ishlaahu baynan-naas), atau membuat perdamaian antara manusia (QS 4:144 dan QS 3:104)

Tiga program tersebut merupakan program jangka pendek, untuk menuju tercapainya program janga panjang, yaitu “menuju masyarakat tauhid”, yang berwujud “Dunia yang suci, dengan penuh pengampunan dari Tuhan Rabbul ‘Alamin” (QS 34:15).[]

 

Oleh : Drs. KH Sayid Ahmad Yazid Burhany

 

Comment here