facebooklikebutton.co

Pembaharuan Pemikiran Islam

Dakwah Islam pada era ini, menurut Hazrat Mirza Ghulam Ahmad, harus dilakukan dengan semangat jihad, artinya harus dilakukan dengan usaha yang sungguh-sungguh. Secara teknis, pertama-tama orang Islam harus mampu mengendalikan hawa nafsunya (nafsu serakah terhadap harta dan kenikmatan duniawi lainnya, nafsu berbuat jahat, dll.), kemudian menyebarluaskan keindahan dan kebenaran Islam dengan sungguh-sungguh lewat tulisan-tulisan yang bermutu, yang merujuk langsung pada sumber ajarannya, yaitu Al-Qur’an.

Oleh: Mulyono | Sekretaris PB GAI

Di Jakarta, 26 Juli 2004 yang lalu di gelar sebuah seminar bertajuk Rethinking Islam: The Perspektive of British Diaspora dengan pembicara utama Prof. Ziauddin Sardar, seorang pemikir Muslim Inggris (Dialog Jum’at, 30 Juli 2004). Salah satu poin penting pemikirannya adalah perlunya pintu ijtihad dibuka kembali. Sebenarnya gagasan semacam ini bukan hal baru. Beberapa tokoh Muslim kenamaan telah melontarkan seruan itu, seperti Iqbal dan Sayyid Akhmad Khan. Tetapi, hingga sejauh ini seruan itu belum banyak menolong karena tampaknya belum menyentuh persoalan mendasar.

Sebenarnya ada tokoh lain yang hidup sezaman dengan kedua tokoh itu, yakni Hazrat Mirza Ghulam Ahmad, yang tanpa menghitung resiko, telah melakukan terobosan mendobrak pintu ijtihad yang terkunci rapat lebih dari seribu tahun. Sayangnya, tokoh ini diabaikan sebagian besar umat Islam. Agaknya, persoalannya terletak pada ketidaksiapan umat Islam untuk meninggalkan atau membuang pikiran-pikiran (paradigma) lama yang dianggap baku dan final, sehingga sulit untuk menerima pikiran-pikiran “baru”. Jadi, sebenarnya, bukan pintu ijtihad yang tertutup, melainkan pintu hati yang tertutup.

Sedikit contoh pembaharuan pemikiran yang dikemukakan oleh Hazrat Mirza Ghulam Ahmad, adalah tentang pengertian wahyu dan pemahaman jihad. Dalam konsepsi ‘lama’ tentang wahyu, yang antara lain dikatakan hanya diberikan kepada para nabi utusan Allah, ini akan menjauhkan manusia biasa dengan Tuhannya, maksudnya dalam pengertian wahyu seperti itu mengakibatkan manusia biasa menjadi mustahil melakukan hubungan (komunikasi) langsung dengan Tuhannya. Barangkali ini yang menyebabkan munculnya kelompok Muslim dengan konsep Washilah (perantara)-nya.

Dengan adanya kenyataan bahwa kenabian telah berakhir pada Nabi Muhammad saw., maka Allah pun berhenti melakukan kontak dengan manusia. Konsepsi seperti inilah yang diperbarui oleh Hazrat Mirza Ghulam Ahmad dengan mengatakan bahwa wahyu adalah kenyataan universal yang abadi, seabadi eksistensi Allah sendiri, akrena ini merupakan salah satu sifat Allah yang menyatu dengan Dzat-Nya(Esa). Singkatnya, kalau pada zaman dulu Allah berfirman, maka sekarang dan sampai kapanpun tetap akan berfirman. Memang benar bahwa firman yang berisi nubuat dan risalat tidak akan ada lagi, karena telah sempurna diberikan kepada Nabi Suci saw. Sesuatu yang sudah sempurna, tidak ada yang kurang atau lebih, pas, tentu tidak perlu ada perubahan, penambahan, atau pengurangan lagi. Tetapi mengingat wahyu adalah perwujudan kehendak Ilahi, maka selain yang berisi risalat seperti yang diberikan kepada Nabi Muhammad saw. (Al Qur’an), akan terus-menerus berlangsung semapi kapan pun.

Konsepsi seperti ini memungkinkan kedekatan hubungan antara manusia dan Tuhannya, karena memang manusia sangat memerlukan itu. Dan dengan demikian akan mendorong manusia berusaha melakukan kontak langsung dengan Allah untuk mendapatkan Petunjuk-Nya terhadap setiap pemecahan masalah yang dihadapi. Allah sendiri berjanju melalui sejumlah ayat Qur’an kepada manusia untuk memberi pertolongan langsung melalui firman-Nya dalam bentuk ilham, atau kasyaf, ru’yah, dlsb.

Kalimat Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’iin yang kemudian diikuti dengan kalimat Ihdina-sh shirotho-l mustaqiim, dalam Surat Al-Fatikhah, jika menggunakan pemahaman seperti ini, akan sangat terasa bahwa pernyataan dan permintaan itu langsung ditujukan kepada Allah, apalagi ketika sedang sholat, dimana kita harus berasumsi bahwa Allah berada di hadapan kita, atau kita sedang berdiri di hadapan Allah. Maka hidayah, atau petunjuk/pimpinan/bimbingan yang serupa shirotho-l mustaqim itu sebenarnya mencakup semua urusan sehari-hari kita.

Kemudian tentang pemahaman jihad. Hazrat Mirza Ghulam Ahmad berpendapat bahwa jihad dipahami sebagai perang fisik merupakan pemerkosaan arti. Pada zaman dulu, perang menjadi bagian dari penyiaran Islam memang bisa dipahami, karena musuh-musuh Islam pun beusaha menghancurkan Islam dengan senjata fisik. Tetapi untuk zaman sekarang, senjata fisik seperti bom dan lain-lain, tidak diperlukan lagi. Pasalnya musuh-musuh Islam pada zaman ini tahu betul Islam tidak mungkin bisa dikalahkan dengan senjata fisik. Kondisi dan situasi zaman tidak memungkinkan lagi untuk melakukan penghacuran Islam dengan senjata fisik, misalnya meledakkan tempat-tempat ibadah agama lain, atau apa pun, dengan bom atau bentuk-bentuk kekerasan fisik lainnya.

Dalam praktik, cara-cara yang digunakan musuh-musuh Islam untuk menghancurkan Agama Allah ini, pada zaman akhir ini melalui tulisan-tulisan dan bentuk-bentuk lain, misalnya melalui pola hidup materialistik, peredaran narkotika, pornografi, dsb. Pola hidup yang berorientasi pada mareri adalah berlawanan dengan nilai-nilai ajaran Islam yang lebih berorientasi kepada spiritualitik. Paham marerialisme akan membawa kecenderungan jauh dari tuhan. Karena adanya perasaan mampu mencukupi kebutuhannya sendiri tanpa bantuan Tuhan. Sementara itu tentang peredaran narkotika dan pornografi ada sementara orang yang menegarai sebagai usaha kaum Yahudi untuk memperlemah generasi muda Muslim, khususnya, sehingga menjauhkan mereka dari agama.

Dakwah Islam pada era ini, menurut Hazrat Mirza Ghulam Ahmad, harus dilakukan dengan semangat jihad, artinya harus dilakukan dengan usaha yang sungguh-sungguh. Secara teknis, pertama-tama orang Islam harus mampu mengendalikan hawa nafsunya (nafsu serakah terhadap harta dan kenikmatan duniawi lainnya, nafsu berbuat jahat, dll.), kemudian menyebarluaskan keindahan dan kebenaran Islam dengan sungguh-sungguh lewat tulisan-tulisan yang bermutu, yang merujuk langsung pada sumber ajarannya, yaitu Al-Qur’an. Inilah jihad yang harus dilakukan oleh setiap Muslim sekarang ini.[]

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>