facebooklikebutton.co

Menyucibersihkan Kalbu

Oleh: Mardiyono

|| “Tidak, kiranya apa yang telah mereka dapatkan adalah karat di kalbu mereka. Tidak, pada hari itu mereka tertutup dari Tuhan mereka. Lalu sungguh mereka akan masuk kedalam Api yang membakar” (QS 83:14-16). Maka Tuhan memberi tahu bahwa kesalahan, kekurangan dan dosa yang telah diperbuat oleh manusia telah mengotori kalbunya. Insya Allah dapat  menggugah manusia untuk berdoa, sudilah Tuhan menyuci bersihkan kalbunya, maka ia memerlukan untuk ber-istighfar, disertai dengan aslama serah diri sepenuhnya kepada Tuhan, sebab boleh jadi ia sudah tidak tahu lagi kesalahan, kekurangan atau dosa apa  yang telah ia perbuat.

Dengan ayat tersebut di atas manusia  sadar sepenuhnya, bahwa Tuhan amat berkenan untuk melindungi manusia dari api neraka. Yaitu NERAKA berupa Tuhan Maha Jauh, gangguan kesehatan, gangguan keselamatan, lahir batin stagnasi tiada peningkatan. Itulah sebabnya manusia tergugah untuk tidak henti-hentinya ASLAMA dan ISTIGHFAR.

Merasa Tuhan jauh membuat manusia amat gelisah, sepertinya manusia belum selesai dengan pembersihannya lahir batin. Apa lagi jika juga kesehatannya terganggu. Nabi Besar SAW tidak pernah sakit selama hidup beliau, kecuali dua kali. Yang pertama karena diracuni oleh seorang wanita Yahudi, dan yang kedua sakit sebagai awal  wafatnya beliau. Sifat negatip, umpama suka marah,  yang telah menjadi watak mengubah manusia lahir maupun batin, membuat otot-otot muka dan leher menjadi tegang permanen, membuat gerak jantung dan peredaran darah tidak normal, pencernaan makanan tidak beres, apalagi sekresi hormon-hormon menjadi peracunan. Itulah gejala bakal terjadinya penyakit psikosomatik, yaitu yang sakit jasmani (soma), penyebabnya jiwa (psyche). Dokter hanya mengobati simtom-simtomnya lahiriah. Adapun ketidak beresan jiwanya seorang psikiaterlah yang dapat mengobati, yang rupa-rupanya dewasa ini laris sekali. Namun sekali lagi, resep Nabi Besar SAW pasti mujarab, yaitu ASLAMA dan ISTIGHFAR.

Pengalaman rohani amat berharga sebagai perlindungan dan tuntunan Tuhan. Umpama mengalami bahwa Tuhan Maha Dekat, disertai dengan rasa Tuhan Maha Dahsyat yang membuat manusia menggigil takut mati, namun yang sesudahnya membuat manusia kangan untuk mengalaminya lagi. Kiranya seperti Nabi Besar SAW sewaktu beliau menerima wahyu “Iqro’” di gua Ghiro’, terbirit-birit pulang karena takut dan minta Siti Khadijah sang istri untuk menyelimutinya. Dan pasti Nabi SAW kangen untuk mengalaminya lagi. Pengalaman lain seperti mi’rajnya Nabi SAW, yaitu jiwa naik keluar dari badan dan melihat badan ditinggalkan dibawah, membuat manusia haqqul yaqin bahwa yang dapat mengalami mi’raj ialah jiwa. Juga ada impian-impian yang adalah petunjuk Tuhan menjadi pegangan hidup manusia. Lailatul Qodr pasti amat mengesankan, dapat dialami di akhir Ramadhan. Semua pengalaman itu membuat manusia amat bersyukur kepada Tuhan dengan ingin yakin bahwa  itu semua adalah  perlindungan Tuhan, cinta kasih Tuhan, tuntunan Tuhan di jalan yang benar menuju kepada Tuhan (QS 4:175), maka Islam adalah agama yang indah, agung dan sempurna. Sudah tentu semua itu yang dialami oleh Nabi SAW adalah lebih besar lagi, lebih sempurna, bahkan masih beraneka macam lagi pengalaman rohani Muhammad SAW sebagai Nabi Besar.

Ada lagi yang manusia amat memerlukan Tuhannya, yaitu evolusi dirinya, khususnya yang ROHANIAH. Sebab lahiriah mungkin saja manusia sudah dapat mengatur  dirinya sendiri dengan baik, apalagi jika pengetahuannya luas, dan inteligensi serta peradabannya tinggi. Sebaliknya rohaniah tak bakal ada evolusi selain dengan pertolongan Tuhan, sebab akhirnya yang didambakan oleh manusia ialah IMAN dan TAQWA di KALBU yang adalah melulu level Tuhan. Iman, Tuhanlah yang menanamkannya di Kalbu (QS 23:1,2), dan Taqwa, Tuhanlah yang mengilhamkannya kepada Nafs atau Jiwa manusia (QS 91:7,8). Taqwa dituding oleh Nabi Besar SAW tempatnya juga di kalbu (At Tarmidzi dari Abi Hurairoh dan Kanzul-Umal I/747). Maka bukankah kalbu haruslah sudah disuci bersihkan dari karat-karat dosa, kekurangan dan kesalahan. Maka itulah sebabnya manusia dapat gandrung kepada ASLAMA dan ISTIGHFAR.[]                                                 

Komentar

komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*