facebooklikebutton.co

Mengendalikan Diri

Dalam mengarungi samudera hidup dan kehidupan, manusia tak lepas dari adanya hambatan, rintangan maupun tantangan. Dalam menghadapi itu semua, sikap seorang muslim selayaknya berpegang pada pedoman yang dicanangkan dalam QS 9:40, “Jangan merasa sedih, sesungguhnya Allah menyertai kita”. Sikap ini dapat mempersempit ruang gerak kesedihan, kekhawatiran, dan ketakutan. Sebaliknya akan memperluas pola pikir, pola kerja dan motivasi yang dilandasi semangat berserah diri kepada Allah Ta’la, yang pasti akan berbuah kinerja ekstra.

Jika ditilik dari asbabun-nuzul QS 9:40 di atas, akan terbabarlah di hadapan kita betapa indah pengejawantahan keagungan dan kekuasaan Allah. Ayat ini turun tatkala Muhammad saw., sang kekasih Tuhan itu, dalam situasi terancam hidup mati di tempat persembunyiannya di Gua Tsur, ditemani seorang pengikut setia, Abu Bakar r.a. Daya rohani (spiritual force) ayat ini membuat kekhawatiran dan ketakutan kedua hamba Allah itu berganti dengan kondisi batin yang tenteram damai, adem ayem lir siniram tirta wahyu sawindu lawase.

Dari peristiwa di Gua Tsur itulah akhirnya mulai terukir relief-relief kemenangan Islam, dan dari momentum ini pula bilangan kalender Islam diabadikan untuk selama-lamanya.

Soal bagaimana respon kita terhadap kehidupan, tanggung jawab kita mengendalikannya, serta bagaimana kita dapat memaksimalkan usaha untuk mencapai apa yang kita cita-citakan di dalam kehidupan ini, kita bisa bercermin pada respon Yusuf atas bujuk rayu yang datang kepadanya. Perkara ini diriwayatkan kembali oleh QS 12:32, “Yusuf berkata: Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada aku menuruti ajakan mereka kepada itu”.

Rangkaian ayat sebelumnya meriwayatkan peristiwa Nabi Yusuf, tatkala di masa belia ia dibuang oleh saudara-saudaranya, lantas ditemukan orang dan lalu dijual sebagai budak di Mesir, dan akhirnya menjadi pelayan Potifar, seorang pembesar di Kerajaan Mesir. Kisah serupa bisa kita baca dalam Perjanjian Lama.

Kedengkian dan kebusukan hati saudara-saudaranya itu dihadapi Yusuf dengan sikap tegar. Sikap yang tumbuh dari relung kalbunya, untuk melaksanakan perubahan positif dari dalam untuk mengubah apa yang ada di luar. Ia tidak meniru sifat dan sikap saudara-saudaranya, tetapi ingin menjadi lebih bernilai ketimbang mereka. Dia lebih rajin, lebih kreatif, dan lebih terampil dalam bekerja. Kelebihan inilah yang membuat Potifar menaruh kepercayaan kepadanya.

Sampai akhirnya, ia diperhadapkan dengan desakan istri Potifar, yang memintanya melayani hasrat cinta darinya, ia bersikap sabar, “penjara lebih aku sukai daripada menuruti ajakan itu!”

Zaman ini adalah zaman yang oleh orang Jawa dahulu disebut sebagai “jaman sungsang bawana balik”, dimana Dajjal, Yakjuj dan Makjuj mempromosikan neraka laiknya sorga. Karena itu, di zaman ini, sikap Yusuf seperti di atas perlu ditumbuhkan kembali, supaya kita menjadi waspada dan lebih terkendali.

Siapa pun di antara kita pasti menghadapi kendala-kendala, baik berupa gemerlapnya harta, nikmat dan empuknya tahta, maupun empedunya cinta. Ketiga tantangan ini telah dihadapi oleh Nabi Yusuf. Sama juga halnya dengan apa yang dihadapi oleh Nabi Muhammad saw., yang dengan tegar tak pantang mundur dalam mengemban tugas sucinya. “Andai matahari ditimpakan di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku, aku tetap melaju dalam misi suciku”, begitulah ucapnya. Inilah keteladanan utama yang pantas ditransformasikan di zaman ini.

Kunci pengendalian diri itu terletak dari bagaimana kita mengkondisikan jiwa atau batin kita. Dalam buku Wedharing Sabda Kawasa, Hazrat Mirza Ghulam Ahmad secara sistematis menguraikan soal tumbuh kembang jiwa manusia, berikut tiga sumber yang darinya memancar tiga macam derajat atau kondisi batin, yakni jasmani, budi pekerti, dan rohani manusia. Terlaksananya fungsi pengendalian diri sehingga manusia dapat mencapai puncak tingkat rohaniahnya, digambarkan dalam kondisi jiwa yang stabil (muthmainnah). Dalam kondisi semacam ini, manusia melaksanakan segala aktivitasnya sejalan dengan ridha Allah, karena telah terjalin cinta timbal balik antara dia dengan Allah. Manusia semacam ini adalah manusia berintegritas tinggi, yang sudah mencapai kehidupan sorgawi (QS 89:27-30).

Dalam buku Keesaan Ilahi, Soedewo P.K mengulas keterangan HMGA di atas dengan suatu kalam ibarat bahwa kehidupan manusia ini, dilihat dari daya potensial yang ada di dalam dirinya, bagaikan sebuah kereta yang ditarik oleh tiga ekor kuda. Kuda-kuda itu menggambarkan tiga kondisi batin atau jiwa (nafs) manusia, yakni nafsul-ammarah, nafsul-lawwamah, dan nafsul-muthmainnah. Wujud dari kondisi jiwa yang terkendali (nafsul-muthmainnah) adalah jiwa yang tak pernah mengikuti keinginan rendah (al-hawa), sehingga karenanya tidak pernah menyimpang dari kebenaran (QS 4:135).[Rakun Ahmadi Gunasasama]

Komentar

komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*