facebooklikebutton.co
ARTIKEL

Mengapa Kita Berpuasa?

Allah Ta’ala berfirman:

“Bulan Ramadhan ialah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan tanda bukti yang terang tentang petunjuk itu dan pemisah. Maka barangsiapa di antara kamu menyaksikan bulan itu, hendaklah ia berpuasa.” (QS 2:185).

Dalam firman Ilahi itu terdapat perintah Allah agar orang (beriman) yang menyaksikan atau menemui bulan Ramadhan, menjalankan puasa.

Orang yang menjalankan puasa pada bulan Ramadhan dengan tulus, sesuai dengan kehendak Allah dan sunah Rasulullah Muhammad saw. insyaAllah akan mendapatkan rahmat dan pengampunan dari Allah, serta terbebas dari neraka.

—–

Tujuan utama puasa adalah untuk mengurangi ketergantungan manusia pada materi, dan memperkuat tekad spiritualnya untuk bisa mencapai tataran iman dan takwa yang lebih tinggi.

Berpuasa selama Ramadhan adalah kesempatan emas untuk berkonsentrasi pada perbuatan baik dan menjauhkan diri dari keburukan.

Meskipun puasa ditentukan hanya selama sebulan setiap tahun, tetapi semangat dan pengaruh puasa bisa bertahan lebih lama.

Puasa membawa manusia lebih dekat dengan Tuhan. Puasa menunjukkan kepada manusia bagaimana cara menarik diri dari dunia, sedangkan dia masih menjadi bagian dari dunia. Puasa menunjukkan kepada manusia cara untuk memenuhi kewajiban spiritualnya, dalam kegaduhan dunia materialistik. Pendek kata, puasa Ramadhan merupakan salah satu cara untuk mencapai ketenangan jiwa.

——

Puasa hakikatnya bukan hanya sekedar meninggalkan kegiatan makan, minum dan hubungan seksual dari waktu subuh hingga matahari terbenam, tetapi lebih dari itu, yaitu melatih dan menyadarkan hati kita untuk bisa menahan diri dari segala macam keburukan, selama hidup kita.

Ketika kita berpuasa, ketika kita meninggalkan kegiatan makan, minum dan semua yang membatalkan puasa, pada waktu yang sama kita seharusnya juga bertanya pada diri sendiri:

Apakah kita sudah meninggalkan pikiran-pikiran negatif? Apakah kita sudah meninggalkan kebiasaan suka mengeluh?

Apakah kita sudah meninggalkan perkataan ghibah dan fitnah? Apakah kita sudah meninggalkan kebohongan? Apakah kita sudah meninggalkan kemarahan demi Allah? dsb.

——

Puasa berfungsi sebagai pelatihan untuk dua hal pada waktu yang sama, yaitu menanamkan semangat syukur dan menanamkan rasa takut kepada Allah dalam hati orang beriman.

Makanan dan minuman adalah karunia besar dari Allah. Pada saat berpuasa, orang beriman tidak menyentuh mereka meskipun merasakan lapar dan haus sepanjang pagi, siang, dan sore hari. Barulah pada waktu matahari terbenam, dia makan dan minum sampai hilang rasa lapar dan hausnya.

Dia kemudian menyadari melalui pengalamannya sendiri, betapa besar karunia Allah yang berupa makanan dan minuman. Pengalaman ini menghasilkan rasa syukur kepada Allah Ta’ala.

Selain itu, puasa juga berfungsi sebagai bentuk pelatihan untuk kehidupan yang takut akan Allah, yang diwujudkan dengan menjauhkan diri dari segala macam dosa dan perbuatan jahat yang dilarang Allah.

Berpantang sama sekali dari makanan, minuman dan hal-hal tertentu, mulai dari waktu subuh hingga matahari terbenam, selama bulan Ramadhan, adalah pelatihan sementara bagi orang beriman.

Diharapkan, pelatihan itu berimbas, selama masa hidupnya dia secara permanen bisa meninggalkan semua hal yang tidak dikehendaki dan dilarang oleh Allah.

Puasa pada dasarnya amalan kesabaran, termasuk kesabaran dalam menanggung segala macam kesulitan untuk melaksanakan perintah Allah. Hal ini membantu manusia untuk mencapai keadaan jiwa yang lebih dekat dengan Tuhan. Hanya orang yang menemukan Tuhan dan dekat dengan-Nya, yang mudah menyerahkan diri sepenuhnya kepada-Nya.

——

Perintah untuk berpuasa diikuti dengan perintah untuk tidak makan harta sesama manusia dengan cara yang tidak sah (QS 2:188).

Hal ini menunjukkan bahwa esensi puasa adalah untuk melahirkan perasaan tunduk dan patuh kepada Allah.

Puasa memberikan pelajaran kepada kita bahwa ketika Allah menginginkan kita untuk menjauhi hal-hal yang halal sekalipun, kita harus tidak ragu-ragu dalam mematuhi-Nya.

Contohnya, minuman teh itu halal. Tetapi bila Allah melarang kita minum teh di waktu siang karena kita sedang berpuasa, maka kita pun akan mematuhi Allah, dan tidak akan meminum teh itu.

Bagi orang yang bisa menjauhkan diri dari hal yang halal, tentu tidak akan mengalami kesulitan untuk menjauhkan diri dari hal-hal yang haram.

Semoga hati kita dicondongkan untuk merasa ringan dan senang menjalankan ibadah puasa. Sehingga kita bisa dekat dengan Allah. Sesungguhnya prestasi terbesar bagi manusia adalah kedekatannya dengan Allah. Semoga berkat puasa, kita mempunyai kepekaan sosial dan kedekatan dengan sesama manusia. Aamiin.

                                        —–